Menyorong Rembulan

( transkrip bebas dari Menyorong Rembulan – Emha Ainun Nadjib )

Panas terik yang memayungi sebuah kedai di ujung sebuah jalan lurus pematang sawah, seolah memberi sebuah tanda seru. Tegas, dan apa adanya. “Panas dan sumuk, tak pernah berbohong,” ujar Ki Janggan sambil memandangi hamparan sawah yang saat ini dipenuhi bibit impor, bibit yang di-rekayasa genetic di laboratorium-laboratorium korporasi bawah-tangan. “Panas dan sumuk seolah mengingatkan kita bahwa tak ada yang bisa kita sembunyikan di hadapan Tuhan. Ia juga mensimulasi sepersekian bagian dari apa yang sering disebut dalam ceramah-ceramah sebagai padang mahsyar, sebuah ‘tempat’ dimana ternyata kita menyadari kembali kebodohan, ketololan dan kedhaliman kita sendiri. Ya, terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, terhadap alam, dan bahkan sangat bisa jadi, terhadap Tuhan,” lanjut Ki Janggan, masygul, sambil menghela nafas panjang. Ki Lurah Sangkan, yang juga pemilik kedai, menyimak kata-kata Ki Janggan dengan dalam. Ki Lurah Sangkan, yang mengikhlaskan seluruh hak-nya sebagai kepala desa untuk kas desa, dan hanya mencukupi diri dan keluarganya dari kedai di ujung jalan ini. Ki Lurah Sangkan, yang menjadikan kedainya sebagai ‘kantor desa’, tempat dimana seluruh warganya dengan mudah menemuinya untuk menyampaikan hajat dan keperluan kepada kepala desanya. Dan, metode Ki Lurah Sangkan sangat efektif untuk menjalankan tugasnya sebagai pengayom masyarakatnya.

“Tapi gak enak buanget Ki, panas dan sumuk begini. Jadi malas mau ngapa-ngapain. Enaknya cangkruk di kedai. Lihatlah hamparan sawah itu. Hampir seperti kuburan. Lengang, tak ada yang bekerja. Hampir semua orang sudah enggan dan malas menjadi petani. Maunya semuanya mejadi seperti saya, pegawai pemerintah. Kan enak, terjamin pemasukannya hingga sebulan ke depan. Jadi, aman buat cari sampingan,” sambung Pak Polisi Gaspol, yang siang itu juga menyempatkan berteduh di kedai Ki Lurah Sangkan. “Naaahhh, itu! Itu dia!,” sahut Pak Jangkep dengan keras, cukup membuat burung gereja yang sedang mampir di teras kedai, kembali terbang. “Semua orang sudah tak memiliki kesanggupan mental untuk menjadi petani, di semua bidang. Tak ada lagi yang dengan lapang dada, jembar, untuk nandur, menanam. Etos nandur sudah menjadi dongeng menjelang tidur. Semuanya berbondong-bondong mengabdi kepada hasil – hasil – hasil dan hasil. Manusia sudah panas jiwanya diperangkap penjara kata-kata kemiskinan, kegagalan, kesusahan, penderitaan. Manusia sudah umep hatinya akan kata-kata mentereng yang disebut sukses, keberhasilan, kekayaan, posisi sosial, aciv … aciv apa lah itu …”. “Achievement,” menyahut Alex Sarpin”. “Achievement, menurut ensiklopedia, adalah pencapaian atau sebuah keberhasilan di titik-titik tertentu dalam sebuah fase panjang,” Alex membaca sebuah buku usang yang selalu melekat laksana pakaian di tubuhnya. “Ya, itu dia,” memlanjutkan kembali Pak Jangkep. “Manusia sudah tanpa sadar menggelincirkan cara berpikirnya kepada hasil. Tak tahu apakah memang sedemikian adanya, ataukah memang sudah melupakan bahwa tugas dan dharma manusia hanyalah sekedar nandur, menanam kebaikan dan manfaat, sambil di sela-selanya mementaskan kemesraan paseduluran di antara sesamanya. Saling menjaga harkat dan martabat nilai kemanusiaan satu sama lain. Hmmmhhh ….,” pungkas Pak Jangkep dengan menarik nafas panjang.

Kemudian hening. Semuanya terdiam menerjemahkan panas, sumuk, dan bias fatamorgana yang melayang di atas rerumputan sebagai akibat panas yang menyengat.

Dan hening itu pecah seketika! Suara terompet dan gemerincing memenuhi udara, menantang panas dan sumuk yang sedari mula menguasai hamparan waktu. Di ujung suara terompet, adalah suara tertawa sangat keras “Hahahaha, hahaha, manusia merasa panas. Sumuk. Panas dan sumuk jiwanya, hatinya, nuraninya. Ya, demikianlah kejujuran menebaskan pedangnya. Panas dan sumuk tak pernah berbohong. Sampeyan lerres, Guru,” suara yang ternyata milik Ruwat Sengkolo, yang datang entah dari mana, takdzim menyembah di hadapan gurunya, Ki Janggan. “Bagi manusia yang mengisi hari-harinya dengan kebohongan dan rekayasa-rekayasa, kejujuran memang akan mendatangkan panas dan sumuk. Tak betah hidupnya ketika kejujuran datang dan memberitahukan kepadanya akan kebodohan dan ketololannya!”

“Tapi apakah manusia harus pandai semuanya, pinter seluruhnya, agar ia tidak panas dan tidak sumuk?” sinis Pak Jangkep.

“Hahaha. Salah! Salah! Salah! Manusia tidak wajib dan tidak akan pernah bisa menjadi pintar dan pandai, sebab itu milik Tuhan. Kata-kata pintar dan pandai, sekarang sudah menjadi lipsetik, pemerah bibir yang sebenarnya pucat! Kata-kata itu menjadi jubah bagi ke-makin tidak tahu-an manusia ketika ia sedang (merasa) mempelajari sesuatu. Yang menjadikan panas dan sumuk bukanlah kejujuran. Yang mengundang panas dan sumuk adalah kesombongan manusia untuk tidak mau mengakui kebodohannya, ketololannya. Bahkan ketika kebodohannya itu nampak sangat jelas di hadapan MATANYA! Hahaha … Kita semua berat untuk mengakui dan men-dlosor-kan kesomobongan dan egoisme pribadi hingga ke titik paling dasar! Tidak berhenti disitu, kita menaburkan hasud satu sama lain. Kita menebarkan kebencian menjadi pupuk yang menumbuh-besarkan kesombongan kita. Kita membenci sesuatu dan megajak banyak orang untuk ikut membencinya. Kita mencuri dan mengajak banyak orang untuk ikut mencuri. Kita melakukan pelanggaran-pelanggaran sambil dengan tenangnya membiarkan orang lain meniru pelanggaran-pelanggaran itu. Maka, manusia saat ini sedang dalam pelarian abadi dikejar fir’aun-fir’aun, dalam pekat murakkab di dalam perut ikan paus masa kini bernama fenomena global.  Kita gagal menemukan tawhid di dalam rintihan Nabi Adam as ‘Rabbana dzhalamna anfusana …” Kita gagap di hadapan rintihan Nabi Yunus as ‘ … inni kuntu minadzh-dzhalimin,” Ruwat meneruskan “tangisannya”.

Sour grape phenomenon,” sahut Alex Sarpin sambil membuka ensiklopedianya. “Alkisah, ada seekor serigala yang sangat menginginkan buah anggur yang sudah matang. Tapi apa daya, dia tidak bisa meraihnya. Buah anggur terlalu tinggi untuknya. Tapi tidak demikian dengan si kera. Si kera dengan sangat mudahnya bisa makan buah anggur itu. Melihat kenyataan itu, serigala sakit hatinya dan membenci si kera dan buah anggurnya. Tak cukup di situ, serigala pun menggelar kampanye di seantero hutan dengan berulang-ulang menyebut ‘anggur kecut, anggur masam, anggur tidak enak’. Situasi psikologis si serigala inilah yang disebut oleh ilmu psikologi modern sebagai sour grape personality. Salah satu gangguan kepribadian,” tutup Alex Sarpin.

“Dan sepertinya bukan hanya kepribadian individual, tapi sudah menjadi kepribadian sosial,” sambung Pak Jangkep, miris.

“Panas dan sumuk akan terus mengulangi dirinya, melakukan repetisi-repetisi. Dan akan sedemikian seterusnya hingga manusia ndlosor mengakui kebodohannya, secara sukarela ataupun terpaksa. Bukan mengakui di hadapan orang lain dan sesama manusia. Bukan! Tetapi mengakuinya di hadapan dirinya-sendiri, mengakuinya di hadapan Tuhan! Tidak dengan kata-kata, tidak dengan puisi dan rangkaian bait lagu. Tapi, dengan kejujuran!,” Ruwat kembali meniup terompetnya, mirip suara lengkingan, tinggi dan menyayat.

“Dalam keadaan panas dan sumuk sedemikian, orang saling menjegal satu sama lain. Atau bahkan sengaja saling menjegal. Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut namun ajarannya kita biarkan hidup subur dalam aliran darah dan jiwa kita. Kita mengutuk perampok, dengan cara mengincarmya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian, kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa lalim, dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan, yakni melarangnya untuk insaf dan bertaubat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana iblis yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri. Siapakah selain setan, iblis dan dajjal, yang menolak husnul khatimah manusia?” jerit Ruwat Sengkolo sambil tubuhnya bergetar hebat.

Dan langitpun menjawabnya. Mendung gelap pekat datang seolah diundang tiupan terompet Ruwat Sengkolo. Dan kemudian ikut menangiskan hujan lebat bersama tangisan Ruwat.

“Aku … hilang. Aku … hilang. Tersaput kabut malam, terbiasnya harapan …………”

Akustika memainkan lagu yang suaranya hampir tak terdengar, hilang ditelan derasnya hujan dan lengkingan terompet Ruwat Sengkolo. []

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s