Majelis Baradah Januari 2012

suasana majelis baradah di desa kedungsumur

( sebuah catatan )

Sebuah desa kecil di bibir Kali Porong di kaki Penanggungan, malam itu, larut dalam kehangatan paseduluran. Ribuan orang duduk dalam atmosfir kekhusyuk’an, kegembiraan dan jembar yang menenangkan. Rintik hujan yang sesekali datang menyapa tidak menyurutkan ribuan orang itu dalam bersama merajut kedekatan hati sesama manusia. Suasana yang aku dramatisir dalam diriku seolah aku berada di tepi sebuah bandar sungai yang cukup hangat, sebuah bandar dari sebuah imperium besar, Majapahit. Desa itu adalah Kedung Sumur, sebuah desa kecil yang hampir seluruh penduduknya adalah pembuat jajanan tradisional yang mensuplai pasar jajanan hingga ke Surabaya.


Dua orang di panggung yang berada di titik temu titik silang pertigaan bergantian menggembalakan seluruh jamaah shalawat demi shalawat. Cak Zainul KiaiKanjeng dan Gus Im menghamburkan kekayaan jenis shalawat yang dikenal, sampai ia yang ditunggu oleh jamaah, akhirnya tiba di tempat acara. Cak Nun terlambat datang di tempat karena kemacetan yang terjadi di ruas arteri Porong malam itu. Jarum jam hampir menyapa angka 21.30 ketika suara mistis Cak Nun (bahasa Ega Julaeha) menyapa setiap jamaah yang hadir malam itu. Dan ketika setiap niat dan rasa sudah tersambung, Cak Nun memberikan gambaran tentang kondisi pasar yang sudah sedemikian “memelaratkan” orang kecil. “Tetapi, kita harus terus bersyukur,” demikian lanjut Cak Nun. “Sebab melarat itu datang ketika kita menginginkan sesuatu seperti yang tetangga kita miliki. Tetapi, kalau kita bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki, maka tidak akan ada masalah dengan kemelaratan”. Berkaitan dengan desa Kedung Sumur sebagai sentra penghasil jajanan pasar, Cak Nun membuktikan kekayaan kreatifitas manusia Jawa (dalam artian luas) melalui beragamnya nama-nama jajanan pasar yang seringkali terdengar agak saru, seperti misalnya konthol kambing, turuk bintul, dan nama lainnya. “Hal ini,” urai Cak Nun “menjadi sebuah bukti bahwa segala sesuatu itu memiliki hubungan dengan yang lainnya, seperti halnya nama jajanan yang tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosio-psikologis masayarakat saat nama itu lahir”

Bersama Cak Zainul, Cak Nun kemudian berinteraksi dengan jamaah dengan membagi tiga jamaah yang hadir, yakni yang di kanan panggung, di kiri panggung, dan yang ada di depan panggung. Setiap kelompok jamaah tadi diminta memberi nama masing-masing kelompoknya sendiri-sendiri dengan nama jajanan yang dikenal, yang akhirnya muncul nama-nama kucur, onde-onde dan jemblem. Ketiga kelompok ini kemudian melantunkan shalawat “alhamduliLlah, wasysyukruliLlah, azka shalati wa salami li rasuliLlah” bergantian dan akhirnya bersama-sama. Dan di ujung simulasi ini, Cak Nun menyebut bahwa ini adalah salah satu upaya kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Kedekatan dengan Allah bisa menjadi alat kita untuk “menawar” fenomena alam yang terjadi, sebagai bentuk “jaminan” dari Allah atas hidup kita, seperti misalnya menghindarkan hama yg merusak dari sawah kita, atau hujan yg menyebabkan banjir dari sawah kita. Metode ini sebenarnya bukan barang baru, melainkan telah menjadi tradisi leluhur kita, tapi telah kita lupakan. Malah Amerika saat ini gencar membuka fakultas Metafisika di universitas2 disana.

Contoh yang lain lagi adalah soal santet, yang meskipun terkesan tidak masuk akal, namun diakui keberadaannya oleh dunia medis. Sebenarnya santet juga salah satu tradisi leluhur yang disalahgunakan oleh beberapa orang. Mahapatih Gajah Mada dalam setiap ekspedisi prajurit Majapahit keluar negeri, juga telah memperhitungkan masalah logistik (makanan) bagi para prajuritnya. Dari kepentingan ini, kemudian diciptakan teknologi pemadatan makanan, yakni berbagai jenis makanan dalam satu porsi dipadatkan sehingga ukurannya bisa sekecil tablet (kapsul), yang apabila prajurit nguntal kapsul ini, bisa merasa kenyang. Namun, lambat laun seiring semakin jauhnya ekspedisi, teknologi ini dirasa belum cukup. Maka, beliau Gajah Mada mengumpulkan orang-orang dengan kemampuan terpilih untuk “mengirimkan” makanan dari Majapahit langsung ke perut setiap prajurit. Ketika Majapahit surut, beberapa orang ini menyalahgunakan kemampuannya dengan tidak hanya “mengirimkan” makanan, tetapi juga mengirimkan paku, jarum, pasir, dll ke dalam tubuh orang lain, yang akhirnya kita kenal dengan santet.

Hipotesa yang disampaikan oleh Cak Nun memang belum bisa dibuktikan kebenarannya, sebagaimana juga tidak bisa dibuktikan ketidak-benarannya. “Jadi, yang bisa kita lakukan adalah terus menerus belajar, sebelum akhirnya bisa meng-iya-kan (membenarkan) atau men-tidak-kan (menyalahkan) sesuatu,” demikian urai Cak Nun. Dan berkaitan dengan banyaknya klaim sepihak akan kebenaran Islam, Cak Nun menegaskan bahwa yang paling dan pasti benar adalah Islam-nya Muhammad. Semua yang ada saat ini, Sunni, Syiah, NU, Muhammadiyah, LDII, Persis, dll adalah jalan menuju Islam-nya Muhammad. Yang tidak menjaga niat menuju Islam-nya Muhammad maka pasti akan kesasar. “Dan Muhammad tidak mati,” tegas Cak Nun lagi. “Al-Quran telah menyatakan bahwa mereka yang syahid tidaklah mati, melainkan masih hidup. Tetapi bukan lagi secara fisik. Sebab jika yang kita anggap hidup adalah secara fisik belaka, maka Allah dengan sifatnya Yang Maha Hidup pasti akan dianggap nisbi”

“Umat Islam sekarang sebenarnya sedang dijauhkan “sambungan hati“nya dengan RasuluLlah saw, dengan jalan dijauhkannya umat Islam dengan romantisme shalawat, baik melalui tradisi shalawatan maupun ziarah ke Madinah. Mekkah dan Madinah saat ini sejatinya telah dikuasai oleh Israel, ya dengan jalan “menjauhkan hati” dengan RasuluLlah saw. Yaitu melalui pemerintah Arab Saudi yang mengharamkan dan melarang kita untuk menangis di pusara RasuluLlah saw”, lanjut Cak Nun.

“Romantisme seorang hamba juga tampak dari “panggilan” kita saat meminta sesuatu kepada Allah. Secara umum, ada tiga panggilan yang kita gunakan saat meminta, yakni Ilahi, Rabbi/Rabbana, dan Allahumma. Ilahi, dari susunan hurufnya yang semuanya tegak berdiri, lebih tepat digunakan ketika mengakui kebesaran atau kegagahan Allah, yang artinya mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan kita sebagai hamba. Adapun Rabbi / Rabbana, yang dari susunan hurufnya yang seperti perahu, lebih pas dengan sifat Allah yang Rahman Rahim, berkaitan dengan ke-pengasuh-an Allah. Dan Allahumma bersifat komprehensif yang mencakup keduanya” urai Cak Nun. “Sedangkan pengajian bukanlah sekedar ngaji belaka, melainkan bagaimana memberikan manfaat yang lebih kepada para jamaahnya”

Sebelum memberikan kesempatan kepada Pak Camat, Pak Lurah dan Pak Kapolsek, Cak Nun juga menceritakan awal mula training pembuatan kue yang siangnya diadakan di desa ini. Bahwa pelatihan pembuatan kue sebenarnya berawal dari perbincangan Cak Nun dengan direksi Bogasari di Jakarta, yang akhirnya bisa berlanjut menjadi kegiatan pelatihan tersebut. Khusus untuk Pak Kepala Desa, Cak Nun menyarankan agar ada tindak lanjut dan upaya lebih jauh lagi dari pelatihan tersebut agar menjadi berkelanjutan dan nilai manfaatnya optimal.

Setelahnya, Pak Camat dipersilahkan untuk menyapa jamaah, yang kemudian dilanjutkan oleh Pak Kepala Desa, yang secara khusus berterima kasih kepada Cak Nun atas kegiatan pelatihan pmebuatan kue siang tadi. “Sebenarnya saya sudah berkali-kali mengirimkan proposal untuk kegiatan ini, tapi tak pernah berhasil. Dan hari ini, dengan bantuan Cak Nun, akhirnya kegiatan ini bisa terlaksana di desa kami”, demikian Pak Kepala Desa, yang sesudahnya dilanjutkan dengan Pak Kapolsek menyapa jamaah yang hadir.

Dengan demografi penduduk yang mayoritas adalah pembuat jajanan pasar, Cak Nun berbagi keprihatinannya tentang makin berkurangnya para pemuda kita yang mau menjadi petani. “Sebab masa depan Indonesia dan dunia adalah pada pertanian,” ungkap Cak Nun. “Maka, sudah saatnya kita beralih pada Islam Madinah yakni ‘alaykum bil-ghiratsah. Menanamlah kamu sekalian!. Demikian kata RasuluLlah ketika sampai di Madinah. Dan yang memilih tempat untuk tempat tinggal RasuluLlah juga adalah unta beliau, yang mana secara instingtif, unta akan menyukai daerah yang subur dan dekat sumber air.”

“Tidak perlu melihat segala teori-teori”, tambah Cak Nun “Bertani itu menanam, nanduro!. Teori itu lahir dari praktek. Bukan sebaliknya. Bisa kita lihat berjuta sarjana dan profesor pertanian yang ternyata mencangkul saja tidak bisa. Bagaimana menanam padi saja tidak tahu.” Kemudian Cak Nun sedikit menceritakan bahwa CNKK besok akan ikut mengenang seorang syahid pertanian Indonesia, Russ Dilts, di Jakarta.

“Sampeyan semua ini mulia dan besar derajatnya. Dengan bersahaja terus membuat jajanan pasar, tanpa perlu ikut-ikutan korupsi, sampeyan semua bisa menikmati hidup dan “berdamai” dengan penderitaan yang sampeyan alami setiap hari” pungkas Cak Nun membesarkan hati jamaah.

Shalawat ‘indal qiyam dipimpin Cak Zainul KK dan doa penutup oleh Gus Im kemudian menutup Majelis Baradah di Desa Kedung Sumur, Kecamatan Krembung, Sidoarjo, Jumat malam 20 Januari 2012 itu.

*) mohon maaf, foto2 hanya diambil melalui kamera HP yang pas2an :D

silahkan untuk mendownload versi pdf-nya disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s