Wajah Kemanusiaan (1)

Damn, harus bangun pagi lagi. Bahkan harus lebih pagi dari biasanya. Hari ini bakal ada site visit dari pihak lembaga donor ke proyek yang sedang aku supervisi. So, pagi itu di kantor, langsung samber form mobil, mengisinya, dan langsung berangkat ke site. Tapi dasar “a truly ignorant”, sepanjang sisa hari itu, malah seneng aja bawaanku. This is the last day of my assignment, akhirnya kontrakku abis juga dan bisa cari lagi new place, new environment, meet new people. Can’t wait to end this day soon. Up till now, aku gak pernah nemuin jawaban kenapa aku gak bisa seperti yang lain, betah di satu kerjaan, menerima saja perpanjangan kontrak, kenaikan salary atau assignment baru. Samar namun berat kuakui, bahwa kemungkinan besar karena aku terlalu penakut dan pengecut.

Huff, at last. The dusk comes, embracing the silence of the night. It is always hard to say goodbye, and I hate it so much. Terima kasih untuk Nanggroe Aceh Darussalam, for letting me be there for an unknown reason. I just felt I had to go there, somehow, somewhat. And this is it, the end.

Sampai di Cengkareng, nungguin lagi pesawat ke Surabaya. Plus delay lagi (once my friend said,”makanya kalo mau naek angkutan, pake taksi jangan angkot, biar gak delay”. Miss you, dear … ). Dari jam 4 sore sampai jam 8 malem bukan waktu yang singkat, hanya karena delay. Untunglah, “ditemani” cangkrukan dengan personil Kiai Kanjeng yang baru dateng dr Abu Dhabi dan mau nerusin perjalanan ke Yogya di Cengkareng, cukup “membayar” delay pesawat itu. “Oleh-oleh” cerita dari perjalanan KiaiKanjeng di Belanda dan Uni Emirat Arab, mungkin lain kali saja aku ceritakan. Akhirnya, sampai juga di Surabaya jam 10 malem, go straight ke Bungurasih. Huff, rupanya delay menjadi sahabatku kali ini. Bis ke Madura yang biasanya 24 jam, eh … malem itu tidak ada sama sekali. Padahal penumpangnya lumayan juga untuk hitungan hari-hari biasa (bukan saat “toron” bagi orang Madura).

2 jam menunggu bus di sebuah terminal bus adalah sebuah klangenan tersendiri setelah 2 tahun menghabiskan waktu di Aceh. Teriakan kasar para makelar penumpang, yang mencari penumpang. Seret sana seret sini, teriak sana teriak sini, lontaran-lontaran khas Jawa Timur-an. Mohon maaf- jangkrik, juancuk, nggathel … menjadi amat sangat ngangeni. Ini jam 12 malem, dan begitu hidup suasana di terminal ini. Duh Gusti, bagaimana mungkin aku tak mensyukuri keberadaanku tengah malam disini, ditawan kelelahan fisik akibat perjalanan panjang.

Oh Allah, sekeras inikah hidup itu? Begitu susahkah menjadi manusia?

Lihatlah para sopir itu, keneknya, makelar yang berteriak-teriak mengalahkan suara para muazzin. Lihatlah malam itu, yang bukannya “peak hour” untuk transportasi. Kalau pasar penumpang sedang sepi seperti ini, para sopir, kernet dan para makelar itu dengan sopan merunduk-runduk mempersilahkan kita para calon penumpang untuk memilih bus yang disukai. Untuk jurusan Surabaya-Kalianget, silahkan naik meski hanya “numpang” sebentar sampai di Bangkalan. Dan di saat yang sama, mereka siap berkelahi setiap saat dengan sesama sopir, kernet dan makelar untuk mempertahankan penumpangnya. Dan sebaliknya, kalau penumpang sedang ramai-ramainya, mereka menjadi sejeli dan seteliti para auditor proyek. Jangan sampai ada calon penumpang yang lolos ke atas bus padahal tujuannya hanya “numpang” sampai Kamal atau bahkan Bangkalan. Kecuali kalau dia adik istri sendiri, boleh lah.

Lihatlah para pengamen yang masih memaksakan diri memainkan dawai gitarnya di tengah malam itu, sementara suaranya sendiri sudah tidak begitu jelas apakah bariton ataukah maraton. Maklum, sudah seharian suara itu dilepaskan ke udara bersama asap knalpot bus kota yang warnanya seringkali adalah jelaga dosaku jua. Saksikanlah para pedagang asongan yang barang dagangannya telah “sukses” laku terjual 5 biji sejak pagi tadi. Padahal harga satu dagangannya adalah 2000 rupiah. Atau juga ibu itu, yang setia menunggui gorengannya yang menggigil malam itu di belakang knalpot bus-bus yang antri.

Di tengah semuanya, sebuah kerinduan datang menghampiri dalam senyap. Sebuah kerinduan menyaksikan misalnya Tung Desem Waringin, Ary Ginanjar Agustian, Mario Teguh, dan sahabat-sahabat motivatorku datang kesini dan menyapa saudara-saudaraku di terminal ini. Sebab aku sendiri di sini adalah sampah, yang lemah, penakut, pengecut, dan tak memiliki secuilpun keberanian untuk sekedar tersenyum. Apalagi memberi motivasi. Aku menjadi tak ada artinya. Menjadi telanjang malam itu di emperan pool bus ke Madura di Bungurasih.

Malam itu, di terminal itu, tak terlihat satuan manusia dalam artian universal, kecuali hanya segelintir tegur sapa dan tawa keras dimana para penghuninya tetap berusaha bertahan hidup sebagai manusia di tengah “hukum terminal” yang seringkali meng a-manusia-kan.

Akan semakin jelas terasa ketika bus dengan tujuan yang sama, sopirnya ngebut tancap gas saling mendahului seolah-olah jalan di depannya adalah shirathal mustaqim, jalan yang lempang dan aman. Sebab bagi mereka, deretan calon penumpang yang mengalir ke dalam terminal dan yang sedang menunggu bus sepanjang perjalanan adalah deretan angka-angka rupiah (untuk membeli mimpi, mungkin?). Mungkin mirip denganku yang melihat proyek sebagai deretan angka-angka mata uang, sehingga tak pernah ada kata cukup untuk terus-terusan memasukkan penawaran dan mendapatkan proyek.

Tak usah marah. Jadi sopir, kernet, makelar penumpang, pengamen, asongan sudah amat sangat susah. Apalagi menjadi manusia !!! Mungkin sah-sah saja aku merasa lebih bersih dan suci karena tak perlu sampai berkelahi seperti para makelar yang berebut penumpang, atau bahkan menancapkan sebilah pisau sesama asongan hanya karena ada penumpang yang lebih memilih membeli barang dagangan kawannya yang hanya berselisih harga 200 rupiah saja.

Begitulah kalau manusia musti bersaing. Begitulah kalau manusia adalah makhluk kompetitif, dan menjadi pemenang dan harus lebih baik dari manusia lainnya. Mustinya persaingan bebas hanya boleh terjadi antar mahasiswa teladan, pedagang, olahragawan, atau kuda. Jangan manusia.

Sopir mengkalkulasi dan menjadi estimator atas jumlah setoran hari itu. Maka penumpang adalah tingkat-tingkat penawaran. Sopir mengatur berapa km/jam sampai Pelabuhan Ujung, dan seberapa cepat antara Bangkalan dan Sampang. Berapa yang harus disediakan untuk kas negara yang sudah siap di beberapa tikungan tertentu. Apakah hari ini bisa memenuhi janji tadi pagi untuk membayar uang sekolah anaknya. Itulah sopir.

Sedangkan manusia, bernyanyi sunyi mendendangkan kata-kata penuh keterharuan: kebersamaan, toleransi, tolong-menolong, kebaikan hati, tenggang rasa …

Itu baru sopir. Belum lagi kalau kita jadi teroris, anggota mafia atau yakuza. Kita sering di fet a kompli untuk bertindak tak manusiawi di tengah pertentangan-pertentangan nilai sejarah. Karena kepepet, terpaksa maling ayam atau jemuran pakaian atau apa saja sekenanya. Jangankan yang terpaksa, yang tak terpaksa saja pun korupsi.

Tidak, aku tidak sedang mengajak untuk terpojok dan murung kemudian melihat dunia ini sebagai sebuah jelaga yang hitam legam, kelabu dan busuk baunya. Justru di terminal seperti ini, segalanya terasa begitu manusiawi. Keterhimpitan, keterpaksaan, kelemahan, ke-apabolehbuat-an, perkelahian, kecurigaan, kecemasan, keterburuan, kebingungan, mabuk dan kepasrahan.

Mohon maaf kepada sahabat-sahabatku di terminal itu, aku benar-benar tidak sedang menjadikan keadaan buruk itu sebagai sebuah ‘reason to excuse’. Justru keindahan yang ingin kutangkap malam itu. Aku menatap kalian, sahabat, saling tersenyum, berkelakar, bersenda gurau, tertawa berkepanjangan, sesekali menyumpah –justru dalam sebuah situasi paradoksal –yang menurutku, mustahil untuk selalu kuat tersenyum.

Mungkin sebabnya adalah karena kemanusiaan manusia tak pernah bisa sungguh-sungguh hilang.

One thought on “Wajah Kemanusiaan (1)

  1. rera says:

    saya setuju dengan kalimat terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s