Bunda

Sang senja dengan anggunnya menurunkan tirai jingganya menyapu cakrawala. Lalu perlahan wajah mentari berbinar cerah turut menghias senja.
Sosok yang bersahaja -yang di wajahnya ribuan peristiwa telah diurainya, di getar nadinya kisah kehidupan telah diejanya- itupun membuka penutup kendi dan mulai mengalirkan air bening -sebening cermin hatinya, sesuci kasih cintanya- pada telapak tangan, berkumur, mengusap hidung, wajah, tangan, sebagian rambut, telinga, kakinya, serta seluruh kekhilafan yang menghiasi kesehariannya. Hingga lunturlah semua noda bersama diturunkannya tirai senja. Sosok damai itupun membungkus dirinya dengan kafan, dan terbanglah ruhnya mi’raj mendaki titian langit, tinggalkan deru perang batin, mencandai kemesraan dan kerinduan yang mengharu biru. Seribu satu keluh kesah yang ditabungnya sejak pagi tadi, pun terlepas lugas teradu pada Sang Maha Pembuka hingga terangkat seluruh beban yang seharian mampir di pundak yang renta namun harum mewangi aromanya. Pun setelah bermesraan dengan Sang Kekasih Sejatinya, tangan yang terbalut kerja keras menyalakan lentera minyaknya yang apinya meliuk mesra mengikuti alunan irama hembusan angin berayun seolah melantunkan dzikir abadi. Dan sejurus kemudian, diiringi dengan tersenyumnya bintang gemintang, jemari yang beranjak keriput lincah menari memintal benang dan mulai merajut harapan dan doa tentang esok hari. Diselipkannya pula satu-satu, asa dan rasa syukur tak terhingga ke dalam sanubari buah hatinya demi memaknai kehidupan layaknya yang dijalaninya.
Hanya dengan satu pengharapan dan keinginan agar penglihatannya -yang mulai kabur, perih dan memerah- sempat menyaksikan sang buah hati tertempa laksana Dzulfiqar menebas keangkuhan diri yang membayangi setiap langkah manusia.

“Wahai anakku, merahnya mata ini dan mata air air matanya telah menyalakan segenap doaku untukmu. Bersucilah … lalu kenakanlah rajutan harapan yang bunda pintal dari benang-benang perjalanan melintasi ruang mengarungi waktu. Senantiasalah engkau bersyukur, sebab kehidupan ini adalah mensyukuri apa yang diberikanNya. Apa yang telah Dia berikan untukmu, selalu dan terus saja lebih dari apa yang kau minta. Kala engkau rasa asamu terhuyung di ujung terjalnya tebing, tetaplah bersyukur, dan cukuplah engkau berbahagia dengan tatapanNya.”

demikianlah bisikan lirih hati sang ibunda sembari ditatapnya paras lugu sang buah hati yang sedang tertidur lelap memeluk bantal dingin pinggiran masa, sesaat sebelum nyala lentera minyak beranjak meredup tergantikan sinar lembut mesra sang purnama yang saling bersahutan kilaunya dengan cahya gemintang di kubah angkasaNya.

Dan sepintas lalu, seuntai senyum tulus menghiasi bibir sang buah hati yang mengigau lirih,” Terima Kasih, Bunda.”

( 21.03.99 ; rewrite on 22.12.08 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s