Cermin (refleksi atas tragedi zakat Pasuruan)

Puluhan tahun lalu, mendengar dan menyaksikan ada puluhan orang tewas karena antri sembako dan bantuan hanya bisa disaksikan di TVRI, dengan latar belakang gambar danau yang mengering dan iringan suara dalam Iwan Fals menyanyikan lagunya, Ethopia. Tapi, Tuhan “memperkenankan” adegan itu berlangsung di depan hidung kita. 21 orang tewas terinjak-injak di Pasuruan dalam sebuah antrian pembagian zakat.

Maka, sebagaimana biasanya, para tokoh berbicara, media menurunkan timnya, para analis membeberkan analisanya. Di sebuah negeri dimana kambing hitam adalah makhluk yang paling dicari, sangatlah mudah menebak kelanjutan kisahnya. Ada yang menyalahkan si kaya yang membagikan zakat, ada yang menyudutkan si miskin yang “menggadaikan” harga diri dan nyawanya untuk uang 30 ribu rupiah, ada yang memojokkan amil zakat yang kurang profesional sehingga menimbulkan ketidakpercayaan para muzakki, ada yang menyalahkan para tokoh agama yang hanya sekedar memberikan ceramah-ceramah yang “kering, dangkal dan bersifat ritual”, ada yang mencorengkan arang ke muka pemerintah yang nyata-nyata gagal melaksanakan tugasnya menyejahterakan rakyatnya terlebih dahulu, baru dirinya.

Dan saya jadi latah, ikut-ikutan berbicara dan menulis.

Setelah bersimpati dan berbelasungkawa terhadap para korban, mendoakan mereka insyaAllah dihapus penderitaannya dan mendapat surga (tentunya setelah kita terlebih dahulu masuk ke dalamnya, bukan?), ijinkan saya menyelam lebih dalam lagi, sebab sudah terbukti nyata bahwa sehitam apapun yang namanya kambing hitam tak akan menyelesaikan persoalan, apalagi menghidupkan kembali para korban, atau sekedar mengusap air mata kesedihan mereka yang ditinggalkan.

Saya hanya sekedar mengajak untuk mendaftari peristiwa yang bisa menyebabkan peristiwa itu bisa terjadi. Ada si kaya yang alhamdulillah berlebih sehingga menggerakkan niatnya untuk berbagi kelebihannya itu. Ada si miskin yang jangankan 30 ribu, 5 ribu saja bisa menyebabkan sebilah pisau menancap di dada seorang miskin lainnya. Ada amil zakat yang sedang dalam proses menjadi tumbuh menjadi dewasa sehingga ada daerah-daerah yang tak mungkin dijangkaunya. Ada pemerintah yang, jujur saja, saya tak tahu apa yang dilakukannya –dalam pengertian sebuah aktivitas dan kebijakan langsung yang ada hubungannya dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat yang memberi amanah kepadanya.

Tapi tolong jangan berhenti di situ saja, sebab itu hanya sekedar “aktor-aktor” teater tragedi Pasuruan itu. Kita perluas cakrawalanya dengan melihat dekorasi dan tata panggungnya. Ada iklan di televisi dan koran. Ada baliho di sepanjang jalan. Ada poster dan spanduk di mulut-mulut gang. Menukiklah ke dalam “ruh” semua itu, niscaya akan kita temukan “provokasi” teramat sangat kuat yang mengajak untuk melampiaskan, untuk menghamburkan, untuk mengeluarkan. Anda bisa disebut tidak gaul jika anda tidak menggunakan hp merk A. Anda belum layak menyandang ‘alim kalau Anda belum mengikuti pelatihan X,Y,Z. Intelektualitas Anda belum cerdas jika Anda belum menjadi alumni training B. Spiritualitas Anda belum tercerahkan kalau Anda tidak berlangganan sms C. Anda belum afdhal berhari raya kalau Anda tidak mengenakan sarung D, baju E, jam tangan F. Belum sempurna lebaran Anda kalau di meja belum terhidang kue G, minuman H. Anda belum sukses ketika mudik belum mengendarai kendaraan I, J, K. Dan sebagainya, silahkan Anda daftari semuanya.

Maka, tragedi Pasuruan hanyalah sebuah letusan dari gunung api sejarah yang memendam dapur magma di bawah lipatan kelam hidupnya. Berapa banyak kita saksikan berjubel dan berdesakannya manusia pada antrian semacam di Pasuruan? Seberapa sering kita lihat semangat berapi-api para mustahiq yang sedang antri itu laksana mujahid di perang Afghanistan? Dan, 21 korban akhirnya menemui sang maut di Pasuruan.

Maka sangat tidak mudah mengambil keputusan apakah kesalahan pada tragedi Pasuruan adalah di pundak si kaya, si miskin, amil zakat, pemerintah atau milik kita bersama. Juga menjadi tidak gampang menelurkan diagnosa apakah itu sebuah “penyakit sistem”, “penyakit manusia” ataukah sebuah “penyakit kebudayaan” dari sebuah tatanan masyarakat yang terjebak dalam sebuah sistem dan keseharian yang sama gelapnya. Jika demikian adanya, tak adil untuk serta merta menyimpulkan bahwa tragedi Pasuruan adalah sebuah perkecualian –dalam artian ia berdiri sendiri, ataukah tragedi semacam itu telah memiliki janin dalam rahim kehidupan masyarakat kita. Janin semacam itu boleh jadi sudah menjadi peradaban, bukan lagi sekedar tatanan budaya. Janin yang “asupan gizi”nya adalah kebingungan yang absurd pada pola berfikir, cara memahami, cara pandang, cara merasakan dan bagaimana melaksanakan iman.

Maka apabila tragedi itu mencapai maqam yang canggih, rumit dan kompleks semacam ini, kita yang menyaksikan tragedi itu di layar televisi, membacanya di koran atau mendengarkannya di radio, tidak secara otomatis bebas dari kemungkinan bahwa kita juga adalah aktor-aktor dari tragedi semacam itu. Hanya saja, kita –saya paling tidak, sedang berada dalam posisi dimana saya sedang berkata,”kalau saya kaya nanti, saya akan begini .. begitu ..” sedang kenyataannya saya sedang terlilit hutang luar biasa besar, sementara saya sedang dikepung kata-kata persuasi untuk membeli, demokrasi, reformasi, bahkan ayat suci. Maka, dalam masyarakat yang begitu permisif seperti saat ini, “maklum” kalau saya menjadi kehilangan orientasi. Saya kehilangan arah, tak tahu dan mengerti lagi dimana atas, kanan, kiri, bawah. Keniscayaan semacam itu pasti akan melemparkan saya pada sebuah koordinat ruang dan waktu dimana saya adalah pak haji Syaikhoni yang membagikan zakat itu, saya adalah seorang anak kecil yang terjepit dalam antrian itu, saya adalah aparat yang terlambat datang, saya adalah amil zakat yang menyesal, saya adalah pak Pemrentah yang masih saja bingung musti ngapain.

Sementara banjir bandang kemewahan, hedonisme yang gebyar dan gemerlap masih belum surut, kita belum juga bersedia menancapkan jangkar dalam-dalam. Kita, adalah kita yang untuk membayar pajak saja membutuhkan “apa kata dunia … ?”, yang untuk tidak telanjang di depan umum membutuhkan Undang-Undang, hanyut dengan sukses oleh banjir bandang itu.

Maka, kalau Anda setuju dengan semua itu, maka inilah puasa. Puasa adalah mengasah kemampuan menahan diri. Maka puasa menjadi antitesis dari arus deras banjir bandang itu. Puasa adalah menahan diri bukan karena terpaksa. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Puasa adalah kemampuan menahan diri ketika seluruh syarat memungkinkan untuk melampiaskan. Puasa bukan memilih tidak makan dan minum karena tidak ada makanan atau minuman, melainkan karena kesadaran terdalam bahwa memang kita membutuhkan puasa, bahwa memang obat bagi penyakit kita adalah puasa. Maka, menjadi manusia puasa bukanlah ia yang tidak mau korupsi karena tidak ada kesempatan, melainkan karena sadar bahwa korupsi akan menghancurkannya. Bukanlah ia yang tidak bersedia menjadi seorang presiden karena tak ada partai dan dana yang cukup, melainkan karena ia bisa mengukur kadar kepantasan dirinya. Manusia puasa ialah Muhammad yang dengan santunnya “menolak” tawaran Tuhan untuk menjadikannya Raja dan meng-emas-kan bukit Uhud untuknya, meskipun semua syarat dan kepantasan ada pada pribadi beliau yang agung.

Dan ujian terakhir bagi pelaku puasa justru adalah di penghujung Ramadhan, ketika atmosfir Lebaran melambaikan lambaian tangannya dari pasar-pasar, mal-mal, plaza-plaza. Ketika wangi memabukkan suasana Lebaran berhembus dari iklan dan reklame.

27 ramadhan 1429 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s