Junun (2)

Di atas meja di depanku masih ada terhidang kue dan panganan kecil sisa Lebaran kemarin. Sambil ringan mengunyahnya, di layar televisi dan di hamparan koran masing-masing berurutan menampilkan krisis keuangan global yang diramalkan bisa memicu krisis ekonomi, krisis kepercayaan dimana-mana dari kepercayaan pasar sampai kepercayaan suami istri. Krisis moral yang kian parah. Semuanya saling bergantian tampil di panggung televisi dan media.

Dan aku tetap tenang mengunyah panganan kecil sisa lebaran kemarin.

Tiba-tiba saja ada suara menggelegar, kue kecil dan panganan berserakan, televisi menggigil dan koran menciut nyalinya menjadi seonggok sampah.

“Sialan,” umpatku dalam hati. “Pasti dia lagi”.

“Krisis, krisis dan krisis lagi,” begitu suara itu menggelegar. Dan kemudian dilanjutkan dengan tertawanya yang keras. Suara tertawa inilah yang menerbangkan kue dan panganan kecil itu, membuat televisi menggigil dan koran menciut menjadi seonggok sampah.

“Tidakkah kau lihat betapa sangat disiplinnya Tuhan? Setelah kau diperkenankan untuk mengikuti pelatihan sebulan penuh bernama Ramadhan, Dia mempersilahkanmu untuk mengikuti ujiannya. Krisis ‘alaa krisis, krisis demi krisis, krisis murakkab, diijinkanNya datang menyapamu untuk menguji apa yang kau dapat selama pelatihan sebulan penuh bernama Ramadhan itu”

Sambil berkata demikian, Junun dengan lahapnya menghirup semua udara, dan menyisakanku sesak nafas saja.

“Kau telah ber-idul fitri. Telah saling mendoakan taqabbalallahu minna wa minkum, minal ‘aidin wal faizin. Telah saling memohon maaf dan meminta ridha. Maka sama sekali tak layak kau ketakutan oleh hal-hal yang sebenarnya tak pantas kau takuti. Ke-fitri-anmu telah meniadakan segalanya, sehingga Tuhan menjadi jelas bagimu. Bahwa Ia yang hanya pantas kau takuti, pantas kau bergantung. Bukan yang lain!,” sembur Junun laksana Bung Tomo di 10 November 1945.

Dan sambil mengeplak ndhasku dengan kupluk bututnya itu, dia pergi entah kemana dengan menyisakan gaung,”kecuali kau selama sebulan penuh kemarin hanya bermain-main saja”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s