Junun (1)


Jujur, sebenarnya tidurku tak nyenyak malam itu. Pre-installed program di otakku yang sebenarnya berkata aku harus tidur.

Dan ia tiba-tiba datang, si Junun itu. Besar badannya bagai Bima menghalangi sinar rembulan sampai ke wajahku, serak dalam suaranya menghunjam laksana jangkar di tengah samudera.
Sehingga belum sempat ia bersuara, kedatangannya saja sangat menyakitkan. Seolah-olah setiap kedatangannya disertai aji-aji kedigadayaan. Kedatangannya membuat bintang gemintang memilih menyembunyikan diri, arakan awan dan mendung pergi entah kemana, dan hanya meninggalkan rembulan pucat yang menggigil sendirian.

“Bukalah matamu. Matamu !!. Ya, matamu itu! Lihatlah kenyataan di sekelilingmu, pembalakan liar, penambangan liar, kasus-kasus korupsi, pembunuhan, penculikan, nuklir Iran, perang Iraq, Afghanistan, Irlandia Utara, Pakistan. Afalaa tatafakkarun? Afalaa yatadabbaruun? Tidakkah kamu berfikir? Tidakkah kamu renungkan? Tak kau gunakan itu matamu !!! Pantas saja kalau Tuhan mengijinkan 21 orang tewas terinjak-injak pada pembagian zakat itu, tepat di depan matamu !!!”

“Tidakkah kau lihat bahwa semua kenyataan itu bermuara pada satu hal, bahwa jelas-jelas bahwa manusia begitu tak bisa menahan diri? Butuh berapa banyak lagi korban?”

Bagai banjir bandang, kata-kata si Junun ini deras membanjir tak tertahankan

“Bukankah ini Ramadhan? Bukankah ini “alamat” dari puasa? Apa karena Tuhan berkata bahwa ibdaha puasa khusus untukNya, lalu kau pikir bisa sesukamu memperlakukan puasa? Lantas kau anggap kau tak perlu memetik mutiara puasa, karena toh ibadah puasa untuk Tuhan? Besar kepala-mu tak tertanggungkan lagi! Kau berlapar-dahaga sambil cengengesan mengubur kesucian makna puasa!”

Si Junun kumat!. Ia sudah tak terbendung lagi. Sialnya, semakin ia kumat semakin pucat rembulan, dan aku terjungkal lagi.

“Kau! Kau memang pantas bersyukur tidak ada diantara kerumunan orang-orang itu. Aku berani jamin bahwa kau tidak akan pernah ada disana. Kepandaian otakmu tak memerlukanmu untuk berdesak-desakan disana. Penghasilanmu tak kan membuatmu terlempar ke kolam keringat dan keluh kesah mereka. Kesibukanmu memberikan upeti buat pemilik proyek, menyisihkan uangmu untuk koleksi gadget, membeli baju lebaran, memuaskan lidahmu untuk hidangan berbuka dan sahur. Itu semua aku jamin tak akan memberikan waktu dan kesempatan bagimu untuk menjadi pak Haji yang membagikan zakatnya itu. Kau telah bersekolah tinggi, sehingga kau menjadi pandai dan mampu mengelola kehidupan secara lebih rasional. Sedang mereka itu! Dalam kekalutan hidupnya, mereka lari ke kuburan, kau tuduh syirik dalam ceramah-ceramahmu. Mereka pergi ke dukun, kau tuduh murtad! Dan salahkah kalau mereka pergi ke pembagian zakat itu? Setelah mereka datang kepadamu dan tak mendapatkan apa-apa kecuali ceramah-ceramah dan khotbah-khotbah?”

Sialan! Kurang ajar betul si Junun ini. Tak bisakah ia lihat aku sudah menggigil dan gemetaran? Tak punya perasaan dia! Celanaku sudah basah pula!

“Tadarrus !!! tadarrus ! Iqra’! Khatamkan tadarrus kehidupanmu sendiri! Kehidupanmu sendiri! Pandanglah kisah hidupmu, lihatlah bagaimana apa yang kau punya saat ini kau dapatkan! Ejalah catatan hidupmu, bagaimana engkau menggusur, membongkar, menindas, mendhalimi tidak hanya orang lain melainkan dirimu sendiri!. Kalau kau beruntung, kelak kau akan bertanya,”Kenapa aku ternyata sedemikian tidak mampu menahan diri?” Tadarrus!”

“Jangan kau gede rumongso hanya kau yang puasa. Ketika Allah mengatakan ibadah puasa khusus untukNya, Allah sudah melakukannya. Beliau sudah sejak lama berpuasa menahan diri!!! Dengan dosa-dosamu yang sedemikian bertumpuk -baik dosa individual maupun dosa sosialmu, tak pantaskah kalau sejak dulu Allah murka dan menghancurkanmu laksana bukit di hadapan Musa ketika Musa khalwat di bukit Katrina (Jabal Catherine)? Tidak! Allah tetap memperkenankanmu menghirup udaraNya, meminum airNya. Mengizinkanmu tertawa-tawa cengengesan –seolah-olah Ia menutup mripatNya pada tingkah polahmu yang begitu maling, begitu munafik dan begitu kufur?”

Setelah kalimatnya yang terakhir itu, nafasnya tersengal-sengal menemani nafasku yang sedari tadi sudah tersengal-sengal. Aku jadi berfikir, siapakah yang sebenarnya lebih pantas menyandang “junun” ini sehingga disebut “majnun”. Ia atau aku?

“Nun,”ujarku sambil tetap tersengal-sengal. “Maaf. Tak adakah peluang untukku …!”

Dan banjir bandang terus saja menerjang. Dan rembulan pucat masih terus menggigil. Sendirian.

(24 ramadhan 1429)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s