puasa dan per(maaf)an [2]


Saya punya seorang teman baik. Teman ini yang sukses memprovokasi saya hingga menyukai kegiatan naik turun gunung. O’ik namanya. Pengalamannya naik turun gunung rupanya menjadi provokasi yang cukup jitu. Salah satu hal yang amat saya berterima kasih pada teman satu ini adalah melihat cara dia packing, mengemas semua barang dalam sebuah rucksack / carrier, tas yang biasanya digunakan untuk naik turun gunung itu. Masih jelas waktu pertama kali saya “nekat” ikut ke Semeru, teman saya ini yang mencarikan sebagian besar perlengkapan yang dibutuhkan. Dan tidak hanya berhenti disitu saja, dia juga memberi workshop gratis cara packing barang-barang bawaan ke dalam rucksack. Dengan kata lain, dia juga yang mengemas semua barang bawaan ke dalam rucksack. Dan satu hal yang aku pelajari, bahwa untuk sebuah pendakian, packing menjadi sebuah kata kunci, karena packing yang baik tidak hanya berhenti tentang memeilih mana yang perlu dibawa atau tidak, namun juga mengaturnya sedemikian rupa sehingga mempermudah penggunaan (fungsional) dan kenyamanan (comfort). Benar bahwa mendaki gunung itu adalah “art of packing”. Persiapan yang benar sudah berarti 50% keberhasilan pendakian.

Ternyata ‘seni’ memilih (atau menyeleksi tepatnya) sesuatu yang perlu dan tidak perlu bukan hanya masalah packing untuk naik gunung. Tapi untuk pengecoran beton pun demikian. Agregat kasar dan halus idealnya adalah dicuci sebab kandungan lumpur dan bahan organik di dalamnya tidak perlu ikut berperan serta dalam mortar beton. Kalau terjadi, maka kekuatan beton tidak akan bisa mencapai yang diharapkan. Atau merencanakan sebuah struktur misalnya, mereduksi faktor-faktor yang akan menyebabkan pertambahan beban yang sebenarnya tidak perlu juga akan memberikan hasil yang lebih hemat dan efisien.

dan bagi yang pernah merasakan naik turun gunung, hanya ada dua efek sampingnya. Ketagihan atau kapok. Tapi yang ketagihan, maka ada jaminan bahwa ia akan bergembira kalau akan naik turun gunung lagi.

Maka dalam konteks Ramadhan pun, saya paling tidak, menemukannya demikian. Ramadhan adalah sebuah gunung tinggi, terjal nan curam. Namun di puncaknya Tuhan dengan tersenyum bersabda, ”ibadah puasa khusus untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya”. Hati siapa yang tak akan terpana dengan puncak ibadah di bulan Ramadhan ini? Maka, persiapan mendaki ketinggian dan kesucian nilai-nilai yang dikandung Ramadhan adalah kunci keberhasilan “merayu” Tuhan kekasih kita untuk mengizinkan kita mencapai puncak Ramadhan. Reach the summit. “the art of packing” dalam memilih bekal pendakian Ramadhan ini adalah sama dan sebangun dengan art of packing pada mountaineering. Kita memilih dan memilah apa yang memang perlu dan penting untuk kita bawa, dan apa yang sebenarnya tidak penting dan hanya akan menambah beban pendakian ini. Mungkin adagium “begitu banyak orang yang berpuasa ketika bulan Ramadhan, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga belaka” adalah sebuah papan peringatan untuk tidak membawa hal-hal yang hanya akan menjadi tambahan beban. Pendakian ini tidaklah mudah, jangan menambah beban yang akan menghambat langkah-langkah kita sendiri, demikian yang tertera di pintu masuk Ramadhan.

Silahkan Anda mengembarai ufuk Ramadhan dengan cinta yang tulus. Kita sendiri yang mengetahui mana yang memang harus dan pantas kita bawa dan mana yang tidak. Namun, satu hal yang saya tahu pasti adalah, bahwa segala khilaf dan kesalahan saya yang menyebabkan orang yang saya salahi tidak ridha –yang dengan demikian Tuhan juga tidak ridha- adalah beban teramat berat yang sebenarnya bisa saya tanggalkan.

Maka saya mohon maaf sebesar-besarnya atas segala khilaf dan kesalahan saya. Dan kalau memang ada “harga” yang harus saya bayar, tolong sebutkanlah. insyaAllah akan saya bayar semampu saya, kalau tidak mampu saya bayar lunas, ijinkan saya membayar dengan mencicilnya. Tapi yang pasti, tolong ringankanlah beban di pundak saya dengan memberikan saya maaf.

Sebab, saya sudah menjadi “korban” dari merasakan nikmatnya sebuah pendakian yang diprovokasi oleh teman saya diatas. Dan doakanlah bahwa saya termasuk yang beruntung dengan bergembira menyambut datangnya Ramadhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s