sabang (lagi)

Sebenernya perjalanan ke Sabang kali ini bukan yang pertama kalinya. Mungkin sama seperti yang lain yang belum pernah ke Sabang, dialam kepalaku Sabang adalah dimana titik 0 km Indonesia dimulai. Maka, asosiasinya adalah selalu tugu 0 kilometer. Tidak salah memang. Namun, bagi yang sudah pernah ke Sabang dan benar-benar mengetahui kecantikannya, pasti akan ada keiniginan untuk kembali, setidaknya sampai puas menikmati kecantikan itu. Sebagaimana tempat lain yang lokasi geografisnya berbatasan dengan laut, maka kecantikan Sabang adalah kecantikan laut dan pesisirnya. Sabang sendiri sebenarnya adalah nama sebuah kota. Sedangkan pulaunya bernama Pulau Weh.

Untuk mencapai Sabang, yang merupakan salah satu kabupaten/kota dalam wilayah administrasi propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dari Banda Aceh harus ditempuh dengan menyeberangi laut. Ada dua jenis kapal laut yang melayani rute penyeberangan dari Banda Aceh-Sabang. Yang pertama adalah dengan kapal cepat, dan yang kedua adalah dengan ferry (atau orang disana lazim menyebutnya kapal lambat). Kedua jenis kapal ini sama-sama berangkat dari Pelabuhan Ulhee Lheue yang nampak cukup bersih dan bagus setelah tidak terlihat bentuknya dihantam tsunami 2004 silam. Sementara di Pulau Weh, pelabuhan tempat merapatnya kapal penyeberangan ini adalah Pelabuhan Balohan. Sesuai dengan namanya, kapal cepat membutuhkan waktu tempuh yang singkat, yakni antara 45 – 60 menit. Sedangkan kapal lambat membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai Pelabuhan Balohan. Keuntungan kapal lambat adalah kita bisa membawa kendaraan sendiri, sedangkan kapal cepat hanya khusus melayani penumpang saja. Apabila beruntung, kita akan bisa melihat sekelompok ikan lumba-lumba.

Sesampainya di Balohan, sudah banyak angkutan yang akan membawa ke tempat yang akan kita tuju. Untuk mencapai Kota Sabang sendiri, hanya dibutuhkan waktu 30-60 menit saja dari Pelabuhan Balohan. Kondisi kotanya sendiri ada di tepi sebuah teluk, teluk Sabang namanya. Kotanya cukup kecil, namun tertata cukup baik dan bersih. Rindangnya pepohonan besar di pinggir jalan seolah menjadi kanopi alam yang menaungi jalanan di Kota Sabang. Kota Sabang dibagi menjadi dua bagian, yakni Kota Atas dan Kota Bawah, yang sesuai namanya, satu terletak di atas dan yang satunya terletak di bawah di tepi teluk Sabang. Di Kota Sabang ini ada sebuah pantai yang disebut Paradiso. Dari sini, bisa dinikmati panorama sunset yang cukup indah.

Tujuanku kali ini adalah langsung ke Iboih. Iboih ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam perjalanan dari Kota Sabang. Iboih sendiri terletak antara Kota Sabang dan tugu 0 km itu. Kondisi jalanannya sendiri cukup menanjak, mirip kondisi jalan ke Ranupane (Semeru) atau ke Penanjakan (Bromo). Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi hutan tropis di sebelah kiri dan lautan lepas di sisi sebelah kanan. Di tengah jalan menuju Iboih ini, ada sebuah area yang disebut tanjakan monyet. Disebut tanjakan monyet karena di sepanjang tanjakan ini adalah habitat bagi spesies monyet. Usahakan mencari pisang untuk makan monyet-monyet ini. Sebelum sampai di Iboih, kita melewati dulu kawasan pantai Gapang. Gapang ini adalah sebuah kawasan resort yang sudah lebih tertata dibandingkan dengan Iboih. Penginapan dan tempat makan di Gapang juga lebih lengkap dari Iboih. Letaknya juga pas di pinggir jalan menuju 0 km. Dengan tarif sekitar 250rb, kita sudah bisa mendapatkan cottage yang cukup bagus dan bersih dengan kamar mandi di dalam dan dua bed. Tentunya, banyak juga kamar yang tarifnya lebih murah dari cottage tersebut. Posisi penginapan dan cottage di Gapang ini terletak tepat di pantai, karena morfologi pantai di Gapang cukup landai.

Berbeda dengan Iboih. Iboih terletak agak jauh dari jalan utama Sabang-0 km. Lebih terisolasi daripada Gapang dan baru berkembang beberapa tahun belakangan ini. Iboih ini terletak di teluk dan garis pantai yang sama dengan Gapang. Namun, morfologi pantai di Iboih adalah berupa bukit terjal. Jadi, penginapan di Iboih pada umumnya terletak di lereng perbukitan ini. Dan cottage yang aku tempati selama kunjungan kali ini adalah Iboih Inn. Dari gerbang masuk kawasan Iboih, aku berjalan kaki sekitar 300 m dengan melalui track yang sudah ada. Lumayan buat pemanasan. Cottage di Iboih Inn juga bersih dan bagus, 2 bed dengan kamar mandi di dalam. Cottage ini bisa disewa dengan tarif 250rb, termasuk breakfast. Di cottage ini juga ada cafe yang bernama Camoe Restaurant. Juga menyewakan alat-alat snorkelling. Posisinya yang strategis sangat tepat sebagai untuk kontemplasi dan meredakan diri dari rutinitas. Kondisi terumbu karang di depan Iboih Inn cukup bagus dengan beragam jenis ikan karang. Sekitar 100 meter di depan Iboih ini ada sebuah pulau, Rubiah, yang terkenal dengan taman lautnya. Dengan tinggal di Iboih Inn, kita bisa memanjakan diri dengan snorkelling di daerah depan penginapan sendiri. Atau kalau mau, kita bisa berenang menyeberang ke Pulau Rubiah. Kondisi terumbu karang dan ikan-ikan di sepanjang pesisir Pulau Rubiah sangat menakjubkan. Kedalamannya yang cukup dangkal adalah sebuah berkah sekaligus bencana. Berkah karena dengan snorkelling sudah bisa melaihat dengan jelas terumbu karang dan ikan-ikan yang ada. Bencana karena kita harus sigap bermanuver menghindari terumbu karangnya. Selain dikhawatirkan merusak terumbu karangnya, kita juga bisa terluka. Seperti yang aku alami, hehehe. Beberapa jenis ikan yang aku temui selama snorkelling disini antara lain, angelfish (dori), lionfish, lobster, clownfish (nemo),. Ada juga cumi-cumi tutul dan ular laut. Sedangkan untuk terumbu karangnya, khususnya yang di Pulau Rubiah, adalah laksana taman Jepang/Cina yang ada di bawah laut. It is real breathtaking. Airnya yang bening menyebabkan tingkat vsisbilitas di tempat ini cukup bagus, bahkan bisa mencapai 20 m. That is why I plan to find an underwater housing for my camera … hehehe

Dengan kondisi seperti itu, tentu daerah ini juga menjadi surga bagi pecinta scuba diving. Di Iboih, sepanjang aku tahu, hanya ada satu operator diving. Sedangkan di Gapang, ada tiga operator diving.

Oh iya, jalan ke Iboih dan Gapang sudah jauh lebih baik kondisinya daripada 3 tahun lalu.

Kali ini, aku berkesempatan menyusuri lagi perjalanan 3 tahun yang lalu. Aku juga kembali ke daerah pesisir timur Pulau Weh. Kali ini ke Sumur Tiga, Benteng Jepang, dan Anoi Itam. Ketiga tempat ini sebenarnya masih satu garis pantai. Morfologi Sumur Tiga adalah pantai berpasir putih yang lembut dan landai yang bentangannya cukup panjang. Benteng Jepang dan Anoi Itam terletak berdampingan. Benteng Jepang adalah bangunan tua bekas benteng tentara Jepang pada masa penjajahan. Letaknya yang diatas tebing, cukup strategis untuk mengamati lautan lepas Selat Malaka. Sedangkan Anoi Itam adalah pantai berpasir, yang meskipun tidak seputih dan selembut Sumur Tiga menawarkan pemandangan yang cukup bagus. Anoi Itam sendiri bermakna Pasir Hitam. Dari kondisi pantai dan airnya, aku menduga kalau agak ke tengah, kondisi terumbu karangnya masih bagus. Namun, minimnya informasi dan tidak adanya orang yang snorkel dan diving disini membuatku berfikir dua kali untuk mencoba hehehe. Daerah pesisir timur Pulau Weh ini letaknya cukup dekat dengan Kota Sabang. Jadi, dengan menginap di Kota Sabang, kita bisa berkeliling pesisir timur Pulau Weh ini.

pelabuhan balohan

iboih inn

beranda kamarku

pagi di depan kamarku

bintang laut dan seekor angelfish (bening aernya bikin ketagihan nyebur) – di depan kamar nih

seekor cumi-cumi yang mampir pagi itu (aernya bening kali) – di depan kamar nih

kamarku

camoe restaurant

sumur tiga

anoi itam

4 thoughts on “sabang (lagi)

  1. andreas says:

    oho beruntungnya beberapa kali mengunjungi sabang yang luar biasa indah. saya menikmati foto-fotonya

  2. bakauhiyon says:

    it was a fascinating story which concern to touristic spot of weh island, tell more about sabang and pictures

  3. Wah, indah sekali. Sayang saya tidak menemukan alasan kunjungan ke Sabang ini. Saya sungguh ingin.

  4. acang says:

    mator sakalangkong Gus Faizi, sudah mampir di “sabang (lagi)” heheh …

    mari kita sama2 cari lagi alasan untuk ke Sabang. Cari mobil mewah afkir Singapur mungkin ?? hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s