puasa dan per(maaf)an [1]


Begitu banyak hal yang menjadi “laris” justru setelah Ramadhan tiba. Salah satunya adalah taburan ayat, hadits, atsar dan i’tibar tentang Ramadhan. Dan ada dua kutipan hadits yang menjadi “favorit” dan santapan saya ketika Ramadhan tiba untuk terus dikunyah dan difermentasi hingga menjadi makanan yang lezat. Salah satu dari yang dua itu adalah “monopoli “ Tuhan atas ibadah puasa. Tuhan mengatakan bahwa ibadah puasa itu adalah untuk-Ku. Dari satu firman Tuhan mampu melahirkan ribuan jilid buku, jutaan jam tayang untuk ustadz A dan kyai B.

Tapi, bagi saya secara pribadi, monopoli Tuhan ini adalah sebuah romantisme Tuhan. Sebuah lambaian Tuhan memanggil-manggil kekasih-kekasihnya untuk mengembarai Ramadhan, tadarus kehidupan.

Sejak saya memiliki handphone, setiap menjelang Ramadhan, selalu penuh dengan sms-sms permohonan maaf karena akan memasuki Ramadhan. Saling meminta maaf dan memohon ridha sebelum memasuki Ramadhan, bagi saya, bukanlah hal yang aneh. Sejak kecil di kampung di ujung timur Pulau Madura itu, sebelum memasuki Ramadhan –pada 15 Sya’ban tepatnya- sebagian besar orang sehabis maghrib melaksanakan shalat sunnah tasbih, dilanjutkan dengan membaca Yasin tiga kali, kemudian shalat Isya’. Dan setelah shalat Isya’ 15 Sya’ban itu, suasanya akan mirip Idul Fitri. Semua orang saling berkunjung untuk bertatap muka, meminta maaf dan ridha. Pokoknya mirip Idul Fitri lah. Dan 15 hari yang tersisa menuju Ramadhan lebih disibukkan dengan mulai membiasakan diri untuk menambah kuantitas –dan diharapkan kualitas juga- ibadah mahdhah.

Maka, sms-sms permohonan maaf yang saling membanjiri piranti kecil yang sekarang menjadi nyawa peradaban bernama handphone itu, sangat saya syukuri karena berarti Ramadhan akan berkilau sebab para shaimin (pelaku puasa) sudah bersih dari khilaf dan salah. Namun, ada juga semacam kebingungan –kekhawatiran lebih pantasnya. Ketika saya kembali membalas sms tersebut, atau mengirimkan sms permohonan maaf, ada semacam rasa jengah karena semua hanya terkesan basa-basi dan forward sana forward sini. Juga ada semacam perasaan aneh ketika di-maaf-kan adalah semata-mata menjadi tujuannya. Bukan maksud saya mengecilkan maaf-memaafkan ini. Sebab, buat apa kita memohon maaf jika tidak kita raih per-maaf-annya, bukan? Tapi, yang saya maksudkan adalah jika banyaknya khilaf dan kesalahan yang menjadi mesin pendorong permohonan maaf ini, maka bagi saya, yang paling pantas untuk saya mintai –mengemis, tepatnya- permohonan maaf-nya adalah Tuhan sendiri, yang menggenggam puasa di lipatan kekuasaanNya sendiri. Khilaf dan kesalahan kepada Tuhan mungkin sudah terlampau tak terhitung, baik jumlah dan kualitasnya.

Namun, Tuhan pasti akan berkata,”pasti Kuampuni semua khilaf dan salahmu, asalkan engkau sudah mendapatkan ridha dari sesama manusia yang pernah engkau sakiti hati dan hidupnya”. Maka, pergilah kita berkeliling kehidupan meminta ridha dan maaf sesama manusia. Bukan demi permohonan maaf itu sendiri, melainkan agar Tuhan mengampuni dan memberikan maafNya. Sebab, jika langkah kita terhenti pada permaafan kepada sesama manusia saja, lalu bagaimana pertanggungjawaban atas khilaf dan kesalahan kepada Tuhan? Atau memang per-maaf-an Tuhan tidaklah lebih penting dibandingkan per-maaf-an atasan kita, pasangan kita, atau bahkan orang tua kita? Ataukah karena Tuhan itu sudah pasti Maha Pengampun, sedangkan manusia tidak? Sehingga sedemikian pastinya saya merasa akan diampuni dosa dan khilaf saya oleh Tuhan, tanpa perlu “membayar” sesuatu sebagai “mahar”nya? Toh, Tuhan tidak butuh apa-apa kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s