Indonesia Raya

Gonjang ganjing dan heboh lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza yang ada di situs You Tube memang sudah sekian waktu berlalu. Polemik dan perdebatan keaslian video yang ada di situs tersebut juga sudah mulai mereda. Jadi, bukan maksud saya untuk mengangkat kembali perdebatan tentang keaslian tersebut. Dari gonjang ganjing berita itu, saya teringat guru bahasa daerah saya semasa saya sekolah SD, yang pernah mengajarkan saya lagu Indonesia Raya 3 stanza itu pertama kali. Jadi, gonjang ganjing itu malah membawa saya kembali bernostalgia ke masa kecil saya. Dan di tulisan ini, ijinkan saya menuliskan kembali teks dari Indonesia Raya 3 stanza itu. Mohon bersabar, bukan maksud saya menghabiskan jatah tulisan ini. Sebab, nanti kita bersama-sama mencoba belajar dari WR.Supratman tentang Indonesia.

Versi 1

Indonesia, tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negeriku
Bangsaku, rakyatku, semuanya

Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka merdeka
Tanahku, negeriku yang kucinta
Hiduplah Indonesia Raya

Versi 2

Indonesia tanah yang mulya
Tanah kita yang kaya
Disanalah aku berdiri
Untuk selama-lamanya

Indonesia tanah pusaka
Pusaka kita semuanya
Marilah kita mendoa
Indonesia bahagia

Suburlah tanahnya
Suburlah jiwanya
Bangsanya rakyatnya semuanya

Sadarlah hatinya
Sadarlah budinya
Untuk Indonesia Raya

Versi 3

Indonesia tanah yang suci
Tanah kita yang sakti
Disanalah aku berdiri
Menjaga ibu sejati

Indonesia tanah berseri
Tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji
Indonesia abadi

Slamatlah rakyatnya
Slamatlah putranya
Pulaunya, lautnya, semuanya

Majulah negerinya
Majulah pandunya
Untuk Indonesia Raya

Terus terang, sejak gonjang ganjing Indonesia Raya 3 stanza itu, saya sering rengeng-rengeng –menggumam sendiri, lagu Indonesia Raya 3 stanza itu. Pada versi 1, versi yang sering kita nyanyikan, saya lebih merasa seperti seorang pejuang era kemerdekaan, clash fisik dengan Belanda. Rangkaian kata dari WR.Supratman pada versi 1 lebih bermakna sebagai sebuah ikrar dan janji sejarah seorang anak bangsa terhadap bunda pertiwi, tanah airnya. Janji dan ikrar sejarah untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Atau lebih singkatnya, sebagai sebuah ideologi yang dogmatis. Catatlah kata-kata “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku” seolah-olah menyiratkan sebuah kesaksian seorang anak bangsa atas bangsanya, sebuah kata seru untuk kaum penjajah,”disini aku dilahirkan, maka akan aku perjuangkan kemerdekaan atas bangsaku hingga darahku tumpah”. Saya merasa susunan bait ini lebih tepat dan menemukan momentumnya dinyanyikan sebelum bangsa ini meraih kebebasannya dari belenggu penjajahan Belanda. Entahlah kalau darah yang terus kita tumpahkan hingga saat ini, mulai dari Malari, Tanjung Priok, Kedungombo, Waduk Nipah, Papua, Alas tlogo, Aceh, Jakarta 1998, juga adalah sebuah ‘bentuk’ lain dari janji kita.

Pada versi 2, saya seolah-olah menjadi seorang murid, yang begitu bodoh di hadapan seorang WR.Supratman. Pada susunan bait di versi ini, WR.Supratman saya bayangkan sedang tersenyum arif sedang membukakan cakrawala berfikir saya, sedang melepas selubung kebodohan saya. WR.Supratman sedang menceritakan bagaimana kayanya tanah air saya ini. “Indonesia tanah yang mulya, Tanah kita yang kaya, Disanalah aku berdiri, Untuk selama-lamanya”. Bagaimana tidak berdiri untuk selama-lamanya, sedang ia begitu mulya dan kaya. Namun, WR.Supratman pula yang mengajari saya dengan arif bijaksana agar memanfaatkan kekayaan tanah air ini sebaik-baiknya (bukan dengan memperkosanya) demi kebahagiaan bersama. “Indonesia tanah pusaka, Pusaka kita semuanya, Marilah kita mendoa, Indonesia bahagia”. Dan tidak hanya berhenti disini. WR.Supratman juga memaparkan kesadaran ekologis terhadap lingkungan dengan “suburlah tanahnya, suburlah jiwanya, bangsanya, rakyatnya semuanya”, hingga pentingnya untuk berperilaku santun dan terpuji dengan “sadarlah hatinya, sadarlah budinya, untuk Indonesia Raya”. Tapi, sekarang? Bagaimana kesuburan tanah kita? Bagaimana pula kesuburan jiwa (baca: ketentraman batin, kedamaian hati) rakyatnya sebagai pemilik sah ? Adakah kesuburan tanah ini mendatangkan pula kesuburan jiwa bagi bangsa dan rakyatnya? Atau malah mendatangkan kesuburan bagi bangsa dan rakyat yang lain? Jangankan lagi kesadaran hati dan budi (baca: akhlaq komponen bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara), yang kian lama kian pantas dipertanyakan.

Dan pelajaran berikutnya dari WR.Supratman, adalah tentang masa depan bangsa ini. “Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti” adalah sebuah papan peringatan (warning sign) bagi siapapun yang mencoba-coba untuk berbuat sesuatu yang menodai kesuciannya. “Di sanalah aku berdiri, menjaga ibu sejati” adalah sebuah ungkapan cinta tanah air. Bangsa ini adalah seorang ibu bagi segenap rakyatnya, seluruh anak bangsa. Seorang ibu akan memberikan segalanya demi kebahagiaan sang anak. Namun, sudah kewajiban sang anak untuk tegak berdiri menjaga kehormatan dan keselamatan ibunya. Sebab kalau tidak, maka durhakalah ia sebagai anak. “Marilah kita berjanji, Indonesia abadi” adalah sebuah cita-cita luhur tentang kedaulatan sebuah bangsa, yang di dalamnya terikat erat semua unsur hidupnya sebagai bangsa. Hal ini berarti “slamatlah rakyatnya, slamatlah putranya, pulaunya, lautnya semuanya”. Lalu, bagaimana rakyat dan putra bangsa ini yang kelaparan di rumahnya sendiri? Bagaimana rakyat dan putra bangsa ini saling sikut, saling serobot, saling iri saling dengki, memperebutkan sesuatu yang sebenarnya milik ibu sejarah-nya sendiri? Bagaimana rakyat dan putranya yang seolah ‘terusir’ mencari penghidupan dan pendidikan yang layak di ‘bangsa seberang’? Adakah selamat itu rakyat dan putranya? Lalu, pulau-pulau terluar yang tidak terurus (atau tidak diurus?)? Kapal-kapal nelayan Kupang yang dibakar Australia karena laut tempat mereka mencari ikan adalah wilayah Australia, katanya? Adakah selamat itu pulau dan lautnya?

Saya sempat menyaksikan cuplikan musikalisasi puisi Gus Mus diiringi nada-nada minor yang mengejutkan dan menghunjam dari gesekan biola Idris Sardi. Dan merinding kesadaran saya, membayangkan Idris Sardi berduet dengan WR.Supratman memainkan nada-nada minor mengiringi lagu kebangsaan kita ini, Indonesia Raya lengkap 3 stanza., di peringatan 63 tahun kemerdekaan Indonesia ini. Saya juga merinding membayangkan jutaan anak sekolah serempak menyanyikan lagu kebangsaan ini.

Dan dari 3 stanza Indonesia Raya itu, saya hanya merapal mantra:

Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Marilah kita mendoa
Indonesia bahagia
Marilah kita berjanji
Indonesia abadi

Memang benar, harus “kita” yang berseru, mendoa dan berjanji. Bukan hanya aku, atau kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s