Sesat membawa nikmat


Sungguh menyenangkan panggung dan pentas Indonesia Raya. Demonstrasi demi demonstrasi bukti demokrasi. Unjuk rasa wujud dinamikanya. Ada mahasiswa berbondong-bondong, ibu-ibu menggelombang diantara wajah kusut masai korban bencana –baik yang benar-benar bencana alam maupun bencana yang alam menjadi kambing hitamnya- yang sudah jatuh tertimpa kesulitan ekonomi. Dan belum tuntas layar digulung sang dalang, pentas berikutnya adalah kobaran api yang masih menyala membakar masjid. Kepul asap hitamnya menjadi jelaga zaman, meninggalkan jejak hitam, menyisakan ibu dan anak yang termangu menatap rumahnya yang habis terbakar. Terdengar paduan suara di belakang nyala api “Bubarkan Ahmadiyah, bubarkan aliran sesat”. Belum habis asap hitam di pagi itu, nyaring terdengar “demi demokrasi, Ahmadiyah berhak hidup” menelusup diantara kabut yang belum sempat bangun dari tidurnya semalam. Dan ketika sempurna kabut menunaikan tugas mengantar sang matahari, terlihat jelas di bawah cahaya matahari yang tajam, puluhan orang tunggang langgang menyelamatkan diri dari pentungan, batang kayu, tanpa sempat mengerti. Ada ibu dan anak yang termangu di depan kenyataan yang makin nanar. Dan dari mesjid di seberang jalan, masih nyaring terdengar sepotong ayat dari kitab suci “ … inaa khalaqnal insana fil ‘ajal …”. Sesungguhnya kuciptakan manusia cenderung bersifat dan bersikap tergesa-gesa.

Maka kata-kata “sesat“ menjadi pisau guillotine, memancung siapa dan apa saja yang ada di depannya. Ayunannya menderu menakutkan. Ia terus saja menebas dan memancung lagi, tak pernah ada jeda dan sekedar kontemplasi untuk sekedar memahami kata sesat. Sementara gema sabda Tuhan masih terus membahana “tak ada yang bisa memberi petunjuk kepada siapapun yang Kusesatkan, sebagaimana tidak ada yang bisa menyesatkan siapapun yang Kuberi petunjuk”.

Dan tumpukan lusuh di sela perpustakaan yang sudah berdebu, Kamus Besar Bahasa Indonesia, membisikkan arti kata sesat dengan 1)tidak melalui jalan yang benar; salah jalan 2) salah (kliru) benar; berbuat yang tidak senonoh; menyimpang dari kebenaran (tentang agama dsb).

Dan sim salabim !! … Disingkapkan oleh Tuhan itu cakrawala, dikuakkan itu hijab peradaban yang menjadi selaput halus namun pekat di akal dan hati manusia. Masya Allah, sebuah parade kesesatan yang begitu nyata. Dhulmun adhim. Parade kesesatan yang hingar bingar, penuh hura-hura pelampiasan konsumtif yang begitu primitif. Dan inna liLlah, aku dapati hanya ada satu wajah peserta parade dan karnaval kesesatan ini. Wajahku sendiri, wajah peradabanku yang kian kebingungan mempertanyakan nilai kemanusiaanku sendiri.

Kesesatan sistem, kesesatan moral, kesesatan berbangsa bernegara. Bahkan hingga makan di sebuah warung pun, seringkali tersandung pada kesesatan. Sesat makan hingga ke posisi hipertensi, jantung koroner, gagal ginjal, selaput getah bening, emphysema, anemia, leukimia, mamamia. Dalam keseharian berkutat di proyek, tender sesat sehingga salah pilih pemenangnya. Sesat desain, sehingga ketika waktunya pelaksanaan konstruksi harus melakukan desain ulang yang makan uang makan waktu. Salah jalan mencampur adukan beton dan adukan aspal. Sesat mencari keuntungan dari proyek dengan memaksa, mengintimidasi, menculik, mengaburkan kebenaran-kebenaran. Proyek bukan lagi untuk kemaslahatan dan kemanfaatan, melainkan proyek adalah kran uang yang mengucur deras. Pemilu dan pilkada salah pilih pemimpin dan wakil, sehingga kesejahteraan rakyat sebagai majikan sebuah negara menjadi gincu demokrasi saja. Sesat menafsirkan kenaikan harga minyak dunia dan membaca realitas sosial melahirkan kebijakan ekonomi yang absurd, yang kontraproduktif dengan keniscayaan sebuah pembangunan. Sesat sosial. Sesat ilmu. Sesat budaya. Kebudayaan disesatkan jalannya menjadi komoditas perdagangan semata. Tarian, lagu tradisional, ritual kemasyarakatan turun derajatnya di pamflet dan poster-poster. Bantuan Langsung Tunai, dana hibah, dana pinjaman, sesat jalannya hanya karena data yang menjadi dasarnya juga sedang tersesat mencari jalannya. Maka yang seharusnya mendapatkan bantuan, menjadi tetap termangu, tepat di sebelah istana megah hasil komisi mengatur lalu lintas dana hibah dan pinjaman. Atau para suku asli di sebuah daerah menjadi tidak tahu jalan pulang ke rumahnya, karena di tanah yang turun temurun dipunyainya sekarang telah dipagari kokoh oleh hukum dan undang-undang yang mengijinkan orang lain menguras janin masa depan di rahim bunda bumi di tanahnya.

Sesat moral dan akhlaq di segala wilayah: undang-undang, perda, petisi, bahkan desir niat yang paling sirri. Lihatlah baliho dan iklan-iklan, lelaki dan wanita tersesat posisi kemanusiaannya pada hanya jenis kelamin saja, beralamat di kelurahan syahwat, hilang universalitas kemanusiaannya. Khalifah Umar bin Abdul Azis meratap memohon ampun kepada Tuhan hanya karena seekor unta jatuh terpeleset disebabkan terpeleset dalam lubang di sebuah ruas jalan di wilayahnya sebagaimana Umar al Farouq menyesal dan menangisi dirinya yang telah memakan sekerat roti lezat, setelah tahu masih ada rakyatnya yang tak pernah memiliki kemampuan merasakan kenikmatan yang sama. Sementara dalam keseharian kita, jumlah para penganggur yang semakin menyesaki zaman tak ada yang merasa bersalah, jalanan yang terus meminta korban jiwa tak pernah ada yang merasa tersentuh, dilema kesengsaraan para korban bencana yang tak terselesaikan menumpuk menjadi bara dendam sejarah, pun tak ada yang merasa berhutang.

Maka aku yang berjuta-juta jumlahnya itu berbondong-berbondong sambil terus tertawa-tawa, tersesat hanya ke satu terowongan meraih satu cita-cita dan obsesi: kaya dan kaya, eksis dan berkuasa, dan pengakuan semu. Jalannya beraneka ragam, profesi dan pekerjaannya berbagai macam, ikon dan lambang sosialnya berwarna-warni. Namun menuju satu terowongan itu juga akhirnya. Sebab ternyata sesat itu membawa nikmat. Sesat membawa dan menawarkan kemudahan, popularitas.

Dan aku benar-benar tak tahu. Benar-benar tak tahu, dan tak mau tahu apakah berbagai macam kesesatan yang sedang kualami ini tidak lebih berbahaya dari apa yang sering kita ributkan tentang kesesatan Ahmadiyah ataupun al-Qiyadah.

Mungkin karena spesies kesesatan yang dikandung Ahamadiyah dan al-Qiyadah adalah suatu jenis kesesatan di ranah yang “suci”, “tabu”, “keramat dan angker”, “pamali”. Yakni ranah teologi/aqidah. Sebuah wilayah yang disucikan sesuci-sucinya, sedalam-dalamnya. Yang mungkin karena begitu suci dan sakralnya, seringkali sulit menemukan jalan untuk mengaktualisasikan diri di wilayah sosial kemasyarakatan, jangankan lagi di wilayah akhlaq, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Nabi terkasih “tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlaq”. Kesempurnaan akhlaq adalah puncak pencapaian prestasi sang Nabi mulia, sekaligus menandakan paripurnanya umat manusia. Aqidah dan teologi seharusnya menemukan tempat mengaktualisasikan dirinya dalam sosial kemasyarakatan menciptakan masyarakat yang madani, baldataun thayyibatun wa rabbun ghafur. Aqidah dan teologi adalah akar tunggang sekaligus akar serabut yang kuat menghunjam, menjadi instrumen bagi tegaknya pohon yang teduh dan menaungi peradaban dalam sebuah kemaslahatan bersama, dimana tidak ada pihak yang terdhalimi, sebagaimana Nabi yang mulia dalam peristiwa Fath Makkah. Saling ber-assalamualaikum. Saling menebarkan keselamatan, menjadi rahmat bagi sesamanya maupun bagi lingkungannya. Aqidah dan telogi niscayanya menjadi tiang pancang yang terpancang kuat dan kokoh bagi sebuah bangunan megah dan damai, dimana semua penghuninya merasa aman dan damai di dalamnya, saling mencintai dan berebut saling memberi manfaat satu sama lain, dan bukannya saling berusaha memanfaatkan (:mengeksploitasi) satu sama lain demi kepentingannya sendiri.

Seandainya saja Ahmadiyah atau al-Qiyadah menawarkan fasilitas kemudahan dan keamanan korupsi, maka ia pasti akan punya banyak sahabat yang mengelilinginya. Hidupnya akan tenteram adem ayem. Seandainya saja kesesatan ahmadiyah dan al-qiyadah mengenakan kostum organisasi yang menawarkan akses menjadi dirut BUMN, wakil rakyat dan penghuni birokrasi ring satu, kemungkinan besar ia akan menjadi organisasi besar dan mengakar. Sebab bagi paradigma dan pola berfikir yang umum: Tuhan dan Rasul itu adalah satu hal, sedangkan uang-korupsi-kekuasaan adalah hal yang lain lagi. Tidak ada hubungannya Tuhan dan Rasul di satu pihak dengan uang-korupsi-kekuasaan di sisi lain. Maka, tidak aneh menemukan seorang tokoh agama yang mencabuli santrinya sebagaimana wajar saja haji dan umrah berkali-kali, lebih rajin dari Nabi yang hanya sekali naik haji, dengan ONH hasil mengakali proyek dan komisi. Yang dengan nada getir, Zawawi Imron pernah berkelakar,”susah menemukan koruptor yang tidak haji”.

Dan aku diam-diam bersyukur karena daftar kesesatan-kesesatanku tadi tak ada yang mengetahuinya. Dan ketika anda mengetahuinya, tolong tak perlu merepotkan diri dengan melaporkannya kepada MUI, KPU, FUI, UI, Polisi, FPI, AKKBB, Menteri, ataupun Mantri, baik mantri sekolah apalagi mantri kesehatan. Oleh karenanya, aku tak pernah memiliki keberanian untuk mempengaruhi orang lain, apalagi mengajaknya, memberikan baiat.

Terngiang-ngiang di telingaku, Adam meraung-raung tangisnya dalam selimut “… rabbana dhalamna anfusana … “. Menggema memukul-mukul dinding jiwaku, Yunus mendayung hidup matinya di lautan “ … inni kuntu minadh-dhalimin …”. Maka, siapa dan apakah aku, yang berani mematut-matut diri, meyakin-yakinkan diri, untuk tidak menyaksikan diriku sedang tidak tersesat? Bahkan tak jarang, untuk meyakini bahwa diriku adalah seorang manusia, aku terus ditelan gelombang keraguan. Bukankah manusia itu adalah makhluk avant garde, masterpiece Tuhan, yang bertugas sebagai khalifah di buminya, memantulkan sifat-sifat Tuhan menabur manfaat bagi diri sesama dan lingkungannya? Sedangkan aku?

Dan ketika sabda Tuhan masih bergema “barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkan … “ insyaAllah itu adalah Anda. Dan ketika sabda Tuhan itu berlanjut “… barangsiapa yang disesatkan olehNya, tak ada yang bisa memberinya petunjuk”, maka itulah aku. Dan tak ada yang bisa kulakukan selain berusaha istiqamah “merayu” Tuhan agar memberiku petunjuk sebagaimana Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s