Muhammad ‘kan Nabi, sedang saya bukan!

Belum habis asap dari pembuatan dan pemuatan karikatur RasuluLlah saw di Denmark, dunia sudah terbakar lagi oleh publikasi film (atau film sangat pendek, tepatnya) yang berjudul “Fitna”, yang dibuat seorang anggota parlemen dari Belanda, Geert Wilders. Atas nama demokrasi dan kebebasan, Wilders menggunakan mata pedang demokrasi untuk mengiris hati jutaan muslim yang lukanya akibat pembuatan dan pemuatan karikatur Nabi saw, belum sembuh. Wilders mengatasnamakan kebebasan menyuarakan pendapat, menggunakannya menguak luka dan dendam lama muslim di seluruh dunia yang perih hati terpendamnya akibat peristiwa di Afghanistan, Iraq, Palestina, Thailand, belum juga mereda.

Maka bisa dimaklumi, reaksi umat muslim di seluruh dunia menghujat dan menggugat. Semua insiden tersebut sudah divonis sebagai penghinaan terhadap RasuluLlah saw dan al-Quran. Saya sendiri sebagai seorang (yang sok mengaku-aku) muslim, terus terang saja, juga merasa amat sangat terhina dan terluka. Namun, jujur pula saya akui, bahwa keterhinaan dan keterlukaan ini sebenarnya adalah sesuatu yang pasti terjadi. Islam telah mengukuhkan kegemilangannya sebagai avant garde peradaban semesta. Islam sebagai cahaya peradaban makin menunjukkan kecemerlangannya, la yu’la ‘alayh. Tak ada yang melebihi kesempurnaan Islam. Maka dari itu, Islam harus dicarikan kambing hitam untuk bisa dijustifikasi sebagai biang permasalahan dunia. Dan, agen paling sempurna untuk itu adalah umat Islam sendiri. Tidak ada yang lain. Dogma dan stigma bahwa orang Islam adalah sangar, gampang marah, gampang mengmuk, tidak boleh hilang. Dan jika ada segelintir dan tanda-tanda bahwa muslim menawarkan kedamaian –rahmatan lil ‘alamin- harus ada sebuah insiden yang bisa mengukuhkan “identitas” umat Islam yang mudah tersinggung dan mudah marah tadi.

Yang sebenarnya paling mengganjal dalam otak dan pikiran saya adalah, kenapa bisa sebegitu gampangnya umat Islam dilecehkan habis-habisan seperti ini? Itu saja. Umat Islam sudah kehilangan kewibawaannya, sehingga orang dengan santai dan iseng, melecehkan dan menertawakan. Dalam segala hal. Politik sampai ekonomi. Sosial hingga budaya. Al Islamun mahjubun bil muslimin. Kegemilangan dan kecemerlangan cahaya Islam terhijab oleh kelabunya perilaku umat Islam sendiri. Teringat apa yang pernah disampaikan Syaikh Rasyid Ridha, seorang ulama besar Mesir, ketika belajar di Paris, Perancis. Beliau berkata,”di Mesir saya melihat muslim, namun tidak melihat Islam. Dan di Perancis, saya melihat Islam namun tidak melihat muslim”

Di lain pihak, seringkali muncul sebuah pemikiran othak-athik-gathik di kepala saya yang enggan istirahat berpikir aneh. Saya jadi teringat kisah hidup RasuluLlah saw, apalagi di bulan-bulan maulid (Rabi’ul Awwal) seperti kemarin. Yang paling “mengganggu” adalah pada kisah-kisah penghinaan dan pelecehan terhadap RasuluLlah. Muhammad yang disebut gila, diboikot posisi politik sosial ekonomi beliau dan keluarganya, dilucuti posisi politik sosial ekonomi beliau dan keluarganya dalam tatanan sosiologis dan antropologis masyarakat Mekkah, diludahi muka suci beliau, dilempari kotoran binatang. Dan yang paling terukir adalah saat beliau dalam kebingungan manusiawinya akan kemajuan dakwahnya di Mekkah, beliau mencoba dan mencari peluang ke Tha’if untuk menyebarkan rahmat yang bernama Islam. Jangankan sambutan, yang beliau dapatkan adalah lemparan batu dan kerikil yang oleh Tuhan diperkenankan untuk melukai kening beliau. Yang akhirnya dengan wajah berlumur darah, beliau terpaksa bersembunyi di sebuah kebun milik seorang Yahudi. Saat itu, jangankan umatnya, bahkan Jibril as menawarkan untuk membalaskan perlakuan mereka –kaum Thaif- kepada Nabi saw dengan menimpakan bukit Uhud kepada kaum Thaif. Dan dalam rasa perih akibat luka di keningnya, Rasul yang mulia ini masih bisa tersenyum dan dengan halus menolak tawaran Jibril. “Aku diutus untuk membawa rahmat, bukan azab,” kata beliau bijak. Bahkan sekuntum doa beliau panjatkan demi kebaikan kaum Thaif yang melempari beliau. Pemikiran othak-athik-gathuk saya adalah –dengan kurang ajarnya- membayangkan Rasul hidup saat sekarang, saat ada pembuatan karikatur beliau serta film “Fitna” ini. Saya mencoba mengira-ngira, apa yang akan RasuluLlah lakukan.

Saya juga seringkali merasa khawatir dengan diri saya. Jangan-jangan saya ini mengidap inferioritas complex. Keterbatasan dan kebodohan saya melihat bahwa seringkali perlakuan umat Islam, khususnya saya, terhadap Muhammad dan Al-Quran, lebih menyerupai perlakuan terhadap jimat, atau berhala. Memuja-mujanya sedemikian rupa, meletakkannya sedemikian hingga, memposisikannya sesuci-sucinya, namun hanya seperti memperlakukan keris pusaka. Setiap bulan tertentu, keris pusaka dicuci dan diupacarai. Namun, tak pernah keris pusaka ini keluar dari warangkanya untuk kita fungsikan keris pusaka itu sebagaimana fitrahnya sebagai keris. Muhammad seringkali dicuci dan diupacarai setiap maulid di bulan Rabiul Awwal dan al-Quran dipusakai setiap nuzulul Quran di bulan Ramadhan. Namun, sangat jarang Muhammad dan al-Quran kita “fungsikan” sebagai imam dan petunjuk bagi umat Islam, setidaknya (:sebab saya bekeyakinan bahwa Muhammad dan al-Quran diturunkan oleh Tuhan untuk seluruh semesta, bukan hanya manusia). Dan saya termasuk diantara mereka. Bahkan mungkin saya lebih kejam dari mereka. Saya “melarang” Rasul yang mulia ini menjadi seorang manusia biasa, dalam artian bahwa seringkali ketika saya mencoba meneladani kisah RasuluLlah Muhammad ini, saya cenderung berkata pada diri saya sendiri,”ya itu kan Nabi, sedang saya kan bukan Nabi”. Dan sialnya, saya menemukan pembenaran dengan mengatakan hal seperti itu. Saya seringkali gunakan pembenaran itu ketika saya tidak sanggup untuk tidak menyuap untuk menjadi PNS, menerima tawaran kontraktor yang lebih bermakna suap, misalnya. Atau, untuk membenci tetangga saya yang kebetulan dapat hadiah mobil mewah. Benar-benar sebuah inferioritas complex yang cukup parah. Sehingga, saya membutuhkan semacam jimat untuk menutupi inferioritas dalam diri saya itu. Dan Muhammad dan al-Quran “memenuhi syarat” untuk itu, apalagi untuk “memperoleh” jimat ini, tidak perlu bayar alias gratis. Saya sih dengan harap-harap cemas, khawatir juga bahwa Muhammad dan Allah akan marah sama saya, tapi toh saya tak kekurangan akal. Allah dan Muhammad kan begitu sayang dan pengasihnya sama saya, umatnya. Masa begitu saja, marah. Dua tiga kali naik haji, sering-sering umrah, bikin yayasan anak yatim, menyumbang masjid. Ah, masa Tuhan marah sama saya?

Maka, anda sedang menyaksikan dua kutub besar yang masing-masing sedang menggumpal. Di satu sisi anda sedang menyaksikan orang-orang yang tidak beragama Islam sedang berusaha melecehkan Islam dengan caranya sendiri. Dan di satu sisi yang lain, anda sedang menyaksikan saya, yang mengaku sebagai muslim, namun sedang menempatkan keIslaman saya sebagai sebuah identitas semata, Muhammad dan al-Quran sebagai jimat belaka. Tapi, jangan coba-coba mengatakan saya sedang melecehkan Islam. ‘Ndak terima saya!!.

Tapi, kalau RasuluLlah sedang bersama kita sekarang ini, saya tidak berani menggunakan asas praduga tak bersalah dengan menganggap bahwa Muhammad akan lebih marah kepada mereka, orang-orang yang bukan Islam yang sedang melecehkan saya, daripada kemarahan dan kejengkelan Muhammad terhadap saya, yang mengaku-aku umatnya namun enggan dan berat hati berperilaku seperti Muhammad. Ya itu tadi, Muhammad kan Nabi, sedangkan saya tidak.

Semoga penyakit saya ini tidak menimpa anda semua.

2 thoughts on “Muhammad ‘kan Nabi, sedang saya bukan!

  1. […] Muhammad ‘kan Nabi, sedang saya bukan! 30 June 2008 by acang on a c a n g …  yang lukanya akibat pembuatan dan pemuatan karikatur Nabi saw, belum sembuh. Wilders mengatasnamakan kebebasan menyuarakan pendapat, …  kisah-kisah penghinaan dan pelecehan terhadap RasuluLlah. Muhammad yang disebut gila, diboikot posisi politik sosial ekonomi beliau dan … Tags: Current Affairs, catatan jahil […]

  2. gulajawa says:

    Good..
    Different way to analyse that case.
    Maybe Gusti ALLAH make that happen to remind us about ukhuwah islamiyah.
    With that case we could know who is our truly enemies.
    I’m sick if we always declare war among us (moslem people).
    We need to be one as moslem people in the name of ALLAH and Muhammad as HIS prophet.

    supported by : http://www.indoonlineshop.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s