Sesat membawa nikmat

Layar digelar. Terlihat di layar, ada masjid dibakar. Ada ruang pertemuan dirusak massa. Ada sekumpulan rumah juga turut dirusak massa. Teriakan “ahmadiyah sesat” ditingkahi takbir menggema mencoba menerobos asap pekat dari kobaran api yang menghitam. Penghuni rumah hanya bisa menggigil mencoba memahami adegan diatas pentas.

Sekarang pupuh (babak) kedua. Massa belum bubar. Namun kali ini, teriakan demokrasi ditingkahi Islam agama kasih sayang memenuhi udara di bundaran dengan air mancur ditengahnya.

Layar belum juga digulung, babak ketiga harus mulai. Puluhan orang lari tunggang langgang dikejar-kejar pentungan, batang bambu.

Sementara dari surau, masjid, meunasah, rumah-rumah, mengalun merdu sepotong ayat Al-Quran,”…inna khalaqnal insana fil ajal …”. Sungguh Aku ciptakan manusia cenderung bersikap tergesa-gesa.

Ah, secuil adegan yang mungkin berawal dari sebuah kata “sesat”. Menjadi semakin membingungkan bahwa kata “sesat” menjadi milik siapa. Siapa yang berhak mengayunkan mata pedang “sesat” ke leher siapa, menjadi semakin tidak menentu. Sama misteriusnya dengan kenaikan harga BBM, dicabutnya subsidi. Ada BLT, namun dengan pendidikan layak dan kesehatan layak yang kian melambung di angan-angan.

Bertanya pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, “sesat” didefinisikan 1)tidak melalui jalan yang benar; salah jalan 2)salah (keliru) benar; berbuat yang tidak senonoh; menyimpang dari kebenaran (tentang agama dsb).

Maka, Ahmadiyah adalah sesat karena menyimpang dari jalur kebenaran. Ketika jalur kebenaran menuju ke sebuah tujuan yang rupanya tidak sama jalannya dengan si ahmadiyah.

Dan …. kun fayakun. Ketika jutaan orang dalam kesadarannya yang nyata sedang memilih jalan yang sesat, maka bertaburanlah kesesatan. Salah jalan (yang bahkan disengaja) dalam mengaduk campuran beton untuk jembatan. Salah jalan dalam memilih makanan, sehingga tersesat ke arah hipertensi, jantung koroner, stroke atau asam urat. Tersesat dan termangu-mangu menemui kenyataan rakyat tak menemukan pengayom untuk keluh kesah anaknya tak bayar uang sekolah atau salah seorang keluarganya kebagian busung lapar. Salah pilih pemimpin untuk diberi amanah, akhirnya mengkhianati amanah. Tersesatnya dana bantuan, kayu hasil penebangan hutan, air dan minyak hasil tambang. Parade kesesatan yang repetisinya terus berulang-ulang, bertumpuk-tumpuk. Diam-diam dalam hati saya bersyukur juga, karena daftar kesesatan hidup saya ini tidak banyak yang tahu. Dan tolong jangan lapor pada MUI, FPI, AKKBB, Pemerintah.

Dan Ahmadiyah (dan yang lain semacam al-Qiyadah, ustadz Roy) tergelincir kesesatannya di wilayah “tabu”, wilayah “suci”, wilayah “keramat dan angker”. Wilayah fiqih. Wilayah teologi/aqidah. Walaupun sebenarnya aqidah dan teologi seharusnya menemukan tempat aktualisasinya dalam kemaslahatan sosial bersama, menciptakan masyarakat yang madani. Andaikan Ahmadiyah, Al Qiyadah dan ustadz Roy memfatwakan diri sebagai parpol, gelimang uang, korupsi dan pencurian menguntungkan macam pembalakan liar, maka antrian para simpatisan pasti akan menyemut.

Sebab, sesat ternyata membawa nikmat. Parade kesesatan menyuguhkan hingar bingar sebuah karnaval. Parade kesesatan menawarkan kemudahan, kenyamanan, kemapanan, dukungan massa, popularitas, dan seribu satu macam narkoba kebudayaan yang terkadang membikin air liur tak henti menetes. Beraneka macam kostumnya, berjenis-jenis caranya, berduyun-duyun dalam satu terowongan cita-cita: menjadi eksis, kaya, berkuasa, dan lebih dari yang lain. Eksis, kaya, berkuasa, superioritas, menyumbat ujung terowongan kesesatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s