Lingkaran Setan part 2

Masih tentang lingkaran setan. Bermula dan berpijak dari lingkaran setan pada tulisan sebelumnya, yang berangkat dari dunia ketekniksipilan yang aku tahu, mungkin ada baiknya kalau kita memperluas dan memperlebar cakrawala tafsir, mengembarai realitas, menyapa peristiwa keseharian di sekitar kita.

Tapi, tunggu dulu. Ada satu hal yang perlu ditabayyunkan, perlu diluruskan, diklarifikasi kata para bintang televisi. Bahwa apa yang aku tuliskan bukan untuk mengajak menjadi pesimis atau menyudutkan diri sendiri, meringkuk di sebuah sudut bernama “mau bagaimana lagi”. Tidak. Sungguh-sungguh tidak. Aku mohon, lihatlah semua ini sebagai sebuah kenyataan sejarah, yang mustahil untuk diberi warna sekedar hitam dan putih. Sejarah tidak pernah melahirkan pahlawan atau musuh. Sejarah hanya melahirkan para pelaku sejarah. Apakah pahlawan atau seorang musuh, sangat tergantung dari sisi sebelah mana engkau membidiknya.

Maka, bukalah lebar-lebar jantung kehidupanmu. Biarkan semua gelombang udara memasukinya. Tariklah nafas dalam-dalam.

Ada sebuah cerita yang mengenaskan. Sebuah realitas yang bisu, mungkin. Ada sebuah keluarga yang teramat miskinnya sehingga menyekolahkan anaknya (mungkin hanya sekedar agar bisa dapat pekerjaan yang layak) adalah mimpi, yang mungkin bisa terjadi hanya dalam tidur. Maka sang kepala keluarga, ketika menjelang ajal karena sakitnya tak mendapatkan peluang sembuh di rumah sakit, menjumpai sebuah keniscayaan di ujung sejarahnya, hanya berwasiat dalam bisu dan mewariskan kemiskinan yang mungkin hanya menjadi satu-satunya hal yang bisa diwariskan untuk anak-cucunya. “Ayah tak punya apa-apa selain kemiskinan ini. Maka jagalah baik-baik satu-satunya harta ini,” mungkin demikian wasiatnya. Terlalu dramatis bukan? Harap maklum saja, sebab ini cerita sinetron saja.

Maka karena sang ayah tidak mendapat pendidikan dan pelayanan kesehatan yang layak, karena miskin, maka hanya bisa menjadi miskin dan sakit-sakitan. Keluarganya pun mendapatkan perlakuan yang egaliter, yakni tetap miskin (sehingga tidak mendapat pelayanan kesehatan dan pendidikan yang layak). Dan ketika resmi label miskin tersemat di dadanya, menjadi semakin kecil (kalau tidak mau dikatakan “tertutup”) akses untuk bisa berkompetisi secara adil (dalam tafsirnya yang luas) di semua aspek kehidupan. Sebuah lingkaran setan, bukan ??

Miskin – bodoh – tertutup akses untuk pandai – menganggur – miskin
Miskin – sakit – tertutup akses untuk sehat – sakit – miskin

Miskin disini, bisa kita tambahkan beberapa objek penderita (maf’ul bih). Misalnya, kontraktor miskin, mahasiswa miskin, dan seribu yang lainnya.

Lalu, apakah menjadi miskin adalah sebuah kutukan sejarah, yang kata MDG harus diakhiri? (to end poverty).

Bagiku, tidak !!!. Kemiskinan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup, sebuah keadaan yang secara sukarela dan ikhlas dipilih oleh orang-orang pilihan seperti para Nabi, Yesus, Siddharta. Maka, mustahil mengakhiri kemiskinan.

Bukanlah miskin benar yang menusuk kalbu, sahabat (mengutip Chairil Anwar).

Kemiskinan, selain yang secara ikhlas dipilih, adalah anak kandung dari sebuah sistem dan proses yang memiskinkan. Sebuah pemiskinan. Adalah sebuah kedhaliman besar jika kemiskinan menjadi satu-satunya “tiket masuk” untuk menikmati pelayanan kesehatan dan pendidikan yang layak. Maka, lingkaran proses dan sistem -yang meskipun baik dan bagus- pemiskinan harus diakhiri. Maka, akan lebih masuk akal kalau bahasanya dibuat “to end impoverishment” daripada “to end poverty”. Once impoverishment disappears, so that the poverty. insyaAllah.

Maka ketika para pelaku pertanian (petani, buruh tani, tengkulak) mengalami ketidakadilan sistem yang mengakibatkan para petani menjadi pihak yang dimiskinkan, maka tidaklah haram untuk memepertanyakn sistem pertaniannya. Mungkin juga perikanan, pendidikan atau di bidang yang lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s