Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Sebuah potret terhadap realitas masyarakat. Menyuguhkan sebuah
pemikiran yang begitu ndeso, namun dengan kearifan yang tersembunyi.
Paling tidak membuatku harus berfikir ulang tentang hitam dan putih,
terlebih tentang apa yang tak terlihat.

Pergulatan batin dan “pernyataan sikap” dari warga Dukuh Paruk sebagai
sebuah entitas dan debur ombak gelombang Srinthil, sang ronggeng,
adalah sebuah “sajian” cerdas Ahmad Tohari. Setidaknya untuk
“menyembunyikan” realitas sosial kemasyarakatan (politik juga?) di masa
65-an.

Novel yang begitu Indonesia namun dengan muatan nilai yang universal, yang hingga saat ini tak henti (coba) diperjuangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s