No title

Mungkin hanya sekedar berbagi cerita, berbagi sebuah perjalanan. Sebenarnya yang mulai menggelitik adalah sebuah sms yang masuk ke hpku. Ada seorang temen yang mengeluh tentang statusnya yang saat ini sedang menjadi seorang “penganggur” setelah sempat hampir 2 tahun bekerja pada sebuah konsultan. Dan begitu proyek usai, usai pula riwayat pekerjaannya. Secara umum, keluhan tentang betapa tidak enaknya menjadi seorang “penganggur”. Demikian kurang lebihnya.

Terus terang, ada semacam kebingungan yang kemudian tiba-tiba merayap dalam senyap, untuk kemudian melihat kembali ke sekian waktu berselang, saat aku juga dengan sukarela memilih menjadi seorang “penganggur” selama hampir 3 bulan. Mungkin karena bawaan memang tidak bisa berdiam diri, dan ada semacam rasa kerinduan melakukan sebuah perjalanan lagi, dus aku kembali “menantang diri sendiri” untuk melakukannya. Perjalanan tanpa tujuan, karena memang tidak ada yang dituju.

Jujur, pada awalnya sempat kualami segala sesuatu yang mungkin kutafsirkan sebagai gegar budaya, cultural shock. Sebelum resmi bertitel “penganggur”, di pekerjaan sebelumnya, kemana-mana selalu ada kendaraan Eropa yang mengantar, harus dengan sopir, dan shock breaker untuk meredam jerawat-jerawat yang bertebaran di jalanan. Timbul juga jengah-diri ketika harus dipaksa berfikir keras menyesuaikan dana yang tersedia dengan pilihan tansportasi yang tersedia, yang jawaban akhirnya adalah pilihan terakhir, naik angkutan murah meriah. Berangkat dari Madura ke Surabaya dengan menumpang truk barang. Dari Surabaya ke Tuban, juga harus dengan ikhlas naik angkutan L300 bersama dengan para penjual ikan dan nelayan. Sambil tersenyum sendiri, aku ingat beberapa tahun yang lalu, sempat menemani seorang kawan ke Tuban, yang sebelumnya belum pernah naik angkutan umum. Melihatnya salah tingkah di dalam angkutan yang suasana dan aromanya lebih pas disebut pasar ikan, adalah sebuah amsal dan i’tibar tersendiri. Ngobrol dengan beberapa nelayan yang -entah mengeluh entah menagduh- bercerita tentang betapa sulitnya mencari ikan di Laut Jawa dan Selat Madura yang katanya sudah “over fishing”, yang membuatnya terpaksa merantau ke Laut Selatan untuk kemudian bertengkar dengan nelayan di Popoh, Tulungagung. Entah justifikasi, entah sebuah keluhan -sambil tersenyum, dia sempat berkata harusnya ikan-ikan punya KTP yang untuk melintasi sebuah wilayah harus mengurus administrasi terlebih dahulu. Dalam sebuah perenungan, muncul iseng, bahwa terbuka luas kemungkinan tafsir ikan-ikan itu dengan air, udara, minyak bumi, gas alam, atau apapun saja yang diberi amanah oleh Tuhan untuk mencukupi kebutuhan makhlukNya yang bernama manusia. Untuk minyak bumi, penambang tradisional yang turun temurun menambang di Cepu, harus ngungun di hadapan Undang-Undang. Kemudian gas, batu bara. Dan yang paling terakhir adalah air minum. Sebuah ironi, ketika di beberapa desa di dekat sebuah industri air minum dalam kemasan, harus kekurangan air atau menurun kualitas airnya. Dan penduduk pun harus membeli air yang memancar dari tanahnya sendiri. Belum lagi minyak, gas, kayu, dan hasil alam lainnya. Mungkin bukan pada tempatnya untuk “menggugat” macam ini, namun adalah sebuah ironi jika status sosial dan ekonomi akhirnya menjadi satu-satunya akses untuk bisa menikmatinya. Bukan tidak mungkin besok-besok kita akan menyaksikan orang-orang di jalanan menggendong tabung Oksigen, karena udara juga sudah sedemikian komersial sifatnya.

Istirahat di mesjid, tidur di terminal, mungkin adalah kenangan. Tapi entahlah, ada semacam rasa “comfort” dan ketenangan yang luar biasa. Menyaksikan makelar yang saling berebut penumpang di Joyoboyo, mendengarkan sumpah serapah dan pisuhan. Mungkin terasa agak mengganggu. Namun, wajah kemanusiaan begitu jujur dan telanjang tampil disana. Rasa keterhimpitan ekonomi, keterdesakan, begitu nanar disajikan oleh kenyataan. Jujur, telanjang.

Orang Madura yang dengan pede-nya berteriak-teriak dengan rekannya di luar pagar Monas siang itu, memunguti sisa-sisa sejarah, sampah sisa-sisa demonstrasi pagi tadi mungkin.

Anak kecil yang tertidur pulas di sampingku. Yang ketika botol minumanku jatuh mengenainya, dan dia terbangun. Buru-buru sambil menahan rasa bersalah yang tak terkira, aku meminta maaf. Dia hanya tersenyum, dan beringsut sedikit. Untuk kemudian pulas lagi tertidur. Kalau tidak ada kerjaan, tidak ada salahnya kita berlomba menebak apa kira-kira yang diimpikan anak kecil dalam tidurnya itu.

Ibu setengah tua penjual nasi, yang sempat pula singgah di kursi di sebelahku. Yang dengan senyumnya memberikan sebungkus nasinya padaku. “Tak perlu bayar,” katanya. “Nasi ini sudah dari tadi pagi, mungkin satu jam lagi basi. Daripada terbuang percuma,” lanjutnya lagi. Dan masih dalam rasa gumun, aku mencoba menerka apa kira-kira isi pikiran mereka mengingat seminggu lagi harga BBM akan naik. Mungkinkah ibu ini akan kusaksikan ada di antrian penerima BLT, yang kemudian “diharuskan” memasang stiker “MISKIN” di muka gubuknya??? Tidak cukupkah gubuk sempit dan reyot itu menjadi stiker “MISKIN”, sehingga ia harus menempelkan lagi stiker itu?

Tapi, banyak juga kejadian lucu. Salah satu yang paling aku ingat adalah apa yang menimpaku. Entah kenapa, mungkin karena terlalu lama tidak berurusan dengan public transport, aku jadi lupa bagaimana cara berlari mengejar bus kota yang sedang melaju. Aku juga lupa bagaimana berdesakan berdiri dalam bus kota yang sudah melebihi daya tampungnya. Walhasil, sempat aku terjatuh ketika bus kota berhenti mendadak.

Dan mengalami semua peristiwa itu, aku tak pernah menemukan alasan untuk berhenti bersyukur, bahkan ketika aku terjatuh dan menjadi penganggur. Sesekali mengeluh, seringkali menyemaikan rasa bersalah dan jengah di hamparan ladang batinku. Entah kepada siapa. Tuhan, mungkin. Atau kepada diri sendiri, barangkali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s