Menimbang Uang

Mungkin aku tidak dalam kapasitas yang tepat untuk menulis tentang hal ini. Mengingat bahwa meletakkan uang diatas semua timbangan saat ini, adalah sangat jelas hasilnya. Anak timbangan dimana terletak uang akan memberat dan melambungkan anak timbangan lainnya hingga lenyap. Timbangan itu yang paling utama tentunya adalah timbangan akal sehat, common sense, sebuah piranti lunak yang dianugerahkan khusus oleh Tuhan untuk mengangkat derajat manusia menjadi diatas segalanya, bahkan diatas uang. Tentunya banyak dasar dan pedoman lainnya untuk bisa dijadikan timbangan, misalnya kepentingan, kebutuhan, dan lain lain.

Mungkin aku tidak dalam kapasitas yang tepat untuk berada dalam posisi menimbang uang. Yang bisa dan terus kucoba lakukan hanya mencoba untuk jujur -sebab kata ibuku, jujur lebih mahal dari nyawamu-, terutama untuk jujur menyapa hati nurani dan akal kita sendiri, dan kemudian dengan jujur pula mengakui hal-hal yang sebenarnya sangat tidak kita harapkan.

Dan satu hal yang aku dapatkan, bahwa -entah secara sadar atau tidak- ada sebuah lingkaran setan dimana uang menjadi “ruh”nya. Dimana uang sudah dalam posisi begitu primernya dalam melandasi segala macam proses dalam lingkaran setan itu sendiri.

Air laut menguap, menggumpal menjadi awan, diterbangkan angin ke daratan, turun kembali menjadi hujan, diserap tanah, kembali lagi ke laut, menguap lagi, dan seterusnya. Sebuah siklus yang tidak terputus. Keterputusan siklus ini di satu mata rantai saja akan menghentikan siklus ini. Maka coba aku bayangkan siklus ini didasari sebuah alsan bernama “uang”. Bahwa air laut enggan menguap kalau tidak ada uang, enggan menjadi hujan kalau belum jelas uang-nya. Siklus ini bisa kita cari masing-masing di setiap detik hembusan nafas kita. Mulai dari sarapan, sekolah, pekerjaan, pemberdayaan masyarakat, pekerjaan karikatif, proyek dan tender, demo kenaikan BBM, keputusan menaikkan BBM, pemberian ijin usaha, dan berjuta dialektika sejarah keseharian manusia sekarang ini.

Ada sedikit “sindiran” mungkin. Cak Nun mengatakan pergeseran “paradigma” pelaku teater kita. tahun 70-an awal, para pemain teater rajin berlatih, tanpa reserve. Tahun 70-an, hanya rajin berlatih jika ada kejelasan pentasnya kapan. Tahun 80-an, hanya rajin berlatih jika ada kejelasan pentas dan honornya. Tahun 90-an, hanya rajin berlatih jika sudah jelas berapa besar jumlah honornya. Tahun 2000-an, hanya akan berlatih jika honornya “diatas UMR”.

Tentu bukan hakku dan kapasitasku untuk menafikan uang. Kebudayaan dan agama-pun menganjurkan agar kita tidak kekurangan dan menjadi kuat ekonomi (yang mungkin terjemahan bebas-nya: menjadi kaya dan banyak uang). Tidak. Silahkan kaya, kemudian amal shalihkanlah, dan tempatkan uang pada posisi fithrahnya.

Menjadi tersenyum sendiri seandainya Tuhan sekali-kali bermain komedi (Divine Comedy, kata Dante). Mbok ya sekali-kali Tuhan itu membuat siklus hidrologi tadi, tapi dengan uang menjadi causa primanya. Jadi, siklus hidrologi itu dibuat oleh Tuhan agar tunduk kepada “kehendak” uang, dan bukannya tunduk kepada kehedak Tuhan. Sekali-kali saja, gitu lho.

Atau memang sudah sedemikian adanya???

(banda aceh, 25 May 2008)

One thought on “Menimbang Uang

  1. Adi N says:

    Nice Blog
    Please visit me back at http://www.adminkidnet.co.cc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s