ah, dasar gila !

Menjadi aneh, terasing, unik, berbeda dari yang lain. Atau –jangan-jangan- gila? Mungkin hal-hal itu yang lebih tepat untuk menggambarkan apa yang aku rasakan belakangan ini. Setelah aku memutuskan resign dari pekerjaan sekarang, yang bagi sebagian banyak orang, bergaji besar, maka asumsi yang hinggap di kepala setiap orang adalah bahwa aku mendapatkan tempat dan pekerjaan yang bergaji lebih besar dari yang aku dapatkan sekarang ini. Dan ketika akhirnya aku lakukan hal yang sebenarnya agak malas aku lakukan, yakni menjelaskan (alasan) resign ini, tatapan ketidakpercayaan dan keheranan yang aku dapatkan. Bahwa aku resign hanya semata-mata karena aku ngerasa bahwa ini saatnya resign, adalah alasan yang tidak masuk akal. Bahwa aku berkali-kali katakan bahwa aku untuk sementara menjadi pengangguran (dalam definisi yang umum), juga menjadi tidak masuk akal kuadrat. Seolah-olah menjadi pengangguran (dalam definisi yang umum, lagi) adalah sebuah dosa besar, lebih aneh dan tidak masuk akal dibanding korupsi atau membunuhi pepohonan di hutan, mengencingi sungai-sungai, menyumpah-serapahi udara. Mungkin resiko paling besar yang dihadapi penganggur adalah tidak tersedianya duit untuk melakukan panggilan jarak jauh baik dengan program talkmania, tarif murah, dan apapun namanya itu. Mungkin saja.

Maka, di hadapan tatapan penuh tanda tanya dan pertanyaan penuh keheranan dari orang-orang tersayang di keseharianku, aku menjadi terdakwa. Maka, sekalian deh, sekalian melengkapi perasaan “gila”ku, aku tambah di sana sini dengan senyum misterius, seperti senyum Alpa Cino di Devil’s Advocate.

Tapi, benar kok. Berkali-kali juga aku mencoba mencari alasan yang lebih masuk akal, marketable, atau layak tayang, tapi tak juga kutemukan. Sekali lagi, aku hanya dan hanya ngerasa bahwa ini sudah saatnya berhenti. Bukan karena apa-apa, hanya karena memang sudah waktunya. Seperti matahari yang harus terbit di pagi hari atau tenggelam di sore hari. Seperti saat aku makan. Jika sudah kenyang, maka sudah menjadi kewajiban untuk berhenti makan, bahkan ketika meja di depanku terhidang beraneka menu makanan yang lain. Bukan karena menolak makanan yang tersedia, bukan juga karena ada makanan lain di luar sana. Tapi semata-mata memang sudah waktunya berhenti makan. Dan untuk berhenti makan, cukup perut yang memberitahukannya. Jangan lidah, sebab lidah tak mengenal batas, kecuali lidah sudah bertulang. Bukankah Rasul juga pernah mengatakan, makanlah hanya jika engkau lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Dan mungkin karena aku gila tadi, entah kenapa aku juga menfasirkan dawuh Rasul tadi bukan hanya sekedar makan, tapi juga kepemilikan ekonomi, kekuasaan, jabatan, atau segala apapun dalam sisi kehidupan. Bagiku, ini sebuah kesadaran batas, menyadari batas-batas. Sebab bagiku, kelebihan manusia adalah kemampuan dirinya membatasi segala sesuatu pada garis batas yang sepantasnya. Manusia bisa menjadi kaya dan lebih kaya lagi, namun kekuatannya sebagai manusia adalah saat ia bisa “berhenti” menjadi lebih kaya lagi ketika terbuka kemungkinan baginya untuk menjadi lebih kaya, sebab ada batas yang harus dipatuhi, entah itu sebuah kepantasan sosial, sebuah hutang sejarah atau apapun namanya. Makan dan minum yang kurang dan atau melebihi batas menyebabkan sakit. Menebangi kayu di hutan kurang dari batasnya, menyebabkan terganggunya keseimbangan ekologis yang ada, karena pepohonan yang besar akan “menghabiskan” jatah nutrisi pepohonan dan vegetasi yang lebih kecil. Menebangi kayu di hutan melebihi batasnya, juga menyebabkan terganggunya keseimbangan ekologis yang ada, mulai banjir bandang sampai banjar banding. Menjadi seorang presiden (baca: berkuasa) kurang dari batas ruang dan waktu yang ditentukan akan menyebabkan kurang terurusnya negara (baca: pemerintahan), rakyat apalagi. Melebihi batas ruang dan waktunya juga akan menghancurkan negara (baca: pemerintahan), rakyat apalagi.

Ah, dasar gila !

Ada seorang yang begitu aku hormati yang kepadanya aku banyak belajar, terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama,”pindah kerja kemana sih?” atau “dapat kerjaan dimana sih”. Dan berkali-kali pula aku jawab bahwa masih banyak kerjaan (dalam artian banyak yang bisa dikerjakan), tapi tidak ada yang mau membayar. Tergantung dari pertanyaannya juga, golek kerjo (mencari kerja) atau golek bayaran (mencari bayaran)? Kalau aku mencari kerja, insyaAllah pasti banyak lowongan pekerjaan. Tapi akan lain lagi permasalahannya, jika aku mencari bayaran, haqqul yakin bin percaya binti fulanah, takkan tersedia lowongan pembayaran. Mungkin ini sekedar gurauan dan guyonan semata. Dan (sekali lagi), karena aku gila tadi, aku memperluasnya (atau mentransformasikannya) menjadi bukan lagi guyonan. Sebab nawaitu mencari kerja atau mencari pembayaran bisa mempengaruhi atmosfir udara dan gerak badanku. Kalau mencari kerja, insyaAllah (seharusnya) aku akan terus menerus belajar memperbaiki kualitas dan kuantitas pekerjaanku, tanpa henti. Dan bayaran otomatis menjadi sekunder, menjadi sebuah konsekuensi moral dari pekerjaan itu. Kalau mencari bayaran, sangat terbuka kemungkinan aku menjadi malas untuk terus memperbaiki kemampuan demi kualitas dan kuantitas pekerjaanku. Selama bayaran itu terus ada, maka kemungkinan aku bekerja hanya untuk menjaga keamanan dan ketertiban serta stabilitas pembayaran itu saja. Bahkan, terus terang saja, jujur manjur, aku akan sangat menjadi senang kalau aku terus dibayar tanpa aku harus melakukan pekerjaan apapun. Maka, posisi bekerja di galaksi batinku menjadi persis seperti posisi Tuhan. Kuseret Tuhan hanya ketika aku rasa aku membutuhkannya. Dan terus terang saja, jujur manjur hancur lebur jadi bubur, asal aku bisa terus makan enak, sehat, istriku bisa terus shopping atau anakku bisa terus sekolah, ada biaya untuk ke dokter jika sekali-kali sakit, niscaya Tuhan aku gadaikan di Pegadaian, baik yang umum maupun syariah. Itupun kalau Pegadaian masih mau menerimanya. Dan kalau tidak, paling-paling kuletakkan Tuhan persis seperti letak mushalla di sebuah supermall, yakni di sebuah sudut kecil, yang tidak ada dalam denahnya, berhimpitan dengan selang AC, pipa air, dan kabel listrik.

Ah, dasar gila !

Tuh kan, masih ada pekerjaan yang bisa kulakukan yakni berdiri di perempatan jalan, berorasi seperti kerasukan roh Bung Karno atau Bung Tomo, berteriak-teriak bahwa Kiamat Sudah Dekat atau berpidato panjang lebar tentang degradasi moral maupun degradasi kupu-kupu!! jadi, tak perlu aku khawatir aku akan jadi pengangguran …..

Ah, dasar gila !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s