cerita menjelang tidur seorang petani

Seorang petani, dengan kisah lusuh cemerlang hidupnya, dengan bersahaja mengantarkan buah hatinya pergi menjemput mimpi. Mimpi yang emnjadi kenyataan bukanlah mimpi yang sejati, tatapnya. Mimpi akan menghiasi tidurmu, buah hatiku. Menemanimu menghabiskan waktu tidurmu. Tidurlah tenang, tidurlah damai. Seseorang masih mampu tidur walau dalam himpitan duka, tapi ia yang menciptakan duka, tak kan pernah bisa tidur.

Lupakan Dewi Sri, anakku. Di tanah ini, sang dewi telah mencapai titik paling bingung dalam sejarah ke-dewi-annya. Telah ia tunaikan segala kewajibannya sebagai seorang dewi. Memberikan kesuburan, menjaga hamparan sawah dan padi, tersenyum kepada setiap petani. Namun, sebentuk makhluk yang tak kasat mata telah membenamkan pertanian di tanah ini. Petani tak lagi memiliki akses dan kebebasan terhadap sawah ladang miliknya. Ia tak bisa lagi menanam sesuai dengan apa yang dia inginkan, melainkan harus sesuai titah sang makhluk baru itu. Petani tak lagi bisa merasakan gurih harum padi yang ia tanam, melainkan makan hanya beras raskin, bahkan tak jarang nasi aking harus memasuki perutnya. Petani tak bisa lagi mensinergikan antara kerbau, tlethong, kerbau, tanah, dan batang padi, melainkan menyambut datangnya Urea, ZN, XXX, dan entah apalaagi namanya, sesuai titah sang makhluk baru itu.

Terkadang perih hati ini mengakui sebuah kenyataan bahwa kita, para petani, telah menjadi budak di sawah ladang kita sendiri.

Kalau di zaman sayyidina Umar, aku bisa pura-pura memasakkan batu dalam kuali dengan kayu bakar, maka maafkanlah anakku, untuk saat ini di tanah itu, semua itu hal yang mustahil kita lakukan. Batang kayu telah habis, air bersih menjadi komoditas perdagangan, batu material bawaan banjir bandang -pun telah menjadi kapling-kapling makhluk baru itu.

Tidur, tidurlah tenang anakku, lupakanlah sejenak makhluk baru yang bisa saja bernama kapitalisme, globalisme, demokrasi, dan sekian nama yang kedengarannya aneh dan asing di telinga kita itu. Sebab, hanya dalam dunia mimpi, engkau bisa melupakannya ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s