4E

4E, judul yang agak aneh rupanya. Sebab, memang gak dapet judul yang pas, biarlah berjudul 4E. 4E ini aku ambil dari lontaran salah dua E itu sendiri. 4E ini dia sebut untuk melabelkan empat orang yang di tahun 70an “hidup” bersama di salah satu kontrakan dr E tersebut. 4E ini yakni Ebiet G. Ade, EH Kartanegera, Eko Tunas dan Emha Ainun Nadjib. Dan lontaran 4E itu tadi dikemukakan oleh Ebiet dan Karta. Sebenarnya sudah sejak lama aku tahu bahwa 4E itu hidup se-“zaman” menggelandang di Malioboro, dan juga sejak lama tahu kedekatan Ebiet dengan Emha dan Karta melalui website Ebiet sendiri (http://www.ebietgade.com).

Namun, ada satu hal lagi yang baru aku ketahui lewat penuturan tiga tokohnya saat secara ajaibnya mereka bisa bertemu di Surabaya malam itu, setelah sekian lama terpisah. Emha dan Karta bertemu terakhir tahun 1977, sedangkan Ebiet bertemu Karta terakhir tahun 1978 sebelum masing-masing akhirnya menempuh hidupnya. Malam itu, sebenarnya ditambah lagi seorang tokoh (dia maunya disebut sebagai anak manusia), yakni Halim HD, salah seorang dari “zaman” itu juga.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ke-seniman-an Ebiet sangat dipengaruhi oleh tiga E yang lain ini semasa masih di Yogyakarta, sebagaimana diceritaka Ebiet sendiri di websitenya. Begitu “dimanja”nya Ebiet oleh tiga E yang lain, sampai-sampai yang lain rela kelaparan asal Ebiet bisa terus makan. Karta bercerita bahwa di tempat mereka dulu, hanya ada 2 piring dan 2 gelas. Setiap kali makan, Ebiet mendapat piring dan gelas sendiri, sedangkan yang lain menggunakan jurus sepiring bertiga (yang juga seporsi bertiga). Pendek kata, semuanya demi Ebiet. Sebabnya tidak lain adalah karena Ebiet ini “anak emas” dan klimis. Ebiet yang terhitung rajin mandi sedangkan yang lain yang terhitung rajin tidak mandi.

Mungkin kacamata demokrasi akan melihat perlakuan itu adalah perlakuan diskriminatif dan tidak adil. Tapi tidak, kata Emha, cinta tidak pernah mengenal diskriminatif dan seringkali definisi adil menjadi absurd di hadapan cinta, kata Jalaluddin Rumi. Semua yang mereka lakukan adalah sebuah keadilan dalam wajahnya yang mungkin agak kejam. Ebiet adalah yang paling memiliki talenta dan kemungkinan untuk “bersinar”. Dan mereka menyadari itu semua sehingga memberikan Ebiet ruang dan waktu untuk bisa mengaktualisasikan dirinya. Sebuah persahabatan yang indah.

Ada satu hal lagi yang aku sedikit gumun. Yakni konsistensi generasi ini pada apa yang diyakininya, dalam bentuk ekpresi dan aktualisasinya masing-masing. Orang-orang yang kutemui malam itu adalah “alumni” Malioboro di bawah presidennya di tahun 70an, Umbu Landu Paranggi. Emha, Karta, Eko Tunas, Ebiet, Linus AG, Halim HD, Toto Rahardjo adalah beberapa nama yang bisa kusebut. Dan konsistensi mereka bisa dilihat sampai saat ini. Emha sudah bisa kita lihat bersama, Ebiet pun demikian. Karta yang akhirnya meninggalkan jabatan salah seorang PimRed Republika dan “rela” menjadi penjual nasi di kampungnya di Pekalongan. Banyak yang bertanya tentang hal itu, dan dari kesimpulan subjektif yang bisa aku tangkap adalah mereka bisa dan tidak segan mencecap rasa sakit dalam kenikmatan.

Maka, mengalunlah malam itu Nobody (puisi Emily Dickinson) dan Kubakar Cintaku (puisi Emha), dua lagu pertama yang digubah Ebiet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s