Commemoration Days -a contemplation way

Beberapa hari terakhir ini, di Indonesia sedang memperingati beberapa hari penting dalam kehidupannya. Mulai dari Hari Kartini di tgl 21 April, kemudian Hari Bumi 22 April, 1 Mei dengan Hari Buruh, dan 2 Mei dengan Hari Pendidikan Nasional. Terlepas dari beragam sinisme dan skeptisisme tentang banyaknya hari-hari peringatan di Indonesia, aku mencoba untuk mencari kesibukan dengan mencoba kontemplasi (berlagak intelek, lebih tepatnya) di setiap hari-hari peringatan semacam itu, setidaknya sebagai tonggak-tonggak tertentu, mirip galangan-galangan di hamparan pematang sawah (tabun, bahasa maduranya). Hari Kartini, sebuah penghargaan jujur dan tulus sebuah bangsa terhadap kreativitas seorang wanita biasa dalam isolasi adat dan aristokrasi lingkungannya di Rembang, yang tak lelah menyuarakan nuraninya dan menjadi dirinya sendiri. Tidak demi cita-cita ke-Kartini-annya sendiri, melainkan lebih dari itu. Kemudian lagi Hari Bumi. Sebuah kebetulan, bahwa Bumi sering diidentikkan dengan perempuan, yang dalam bahasa Inggris kita sebut Mother Earth. Mungkin kemampuan dan kesabaran serta kelapangan bumi menampung manusia dan beragam tingkah polahnya yang begitu bengalnya, yang bahkan tak jarang menyakiti bumi itu sendiri. Bumi menjadi lebih sebagai sosok seorang Ibu yang begitu lapangnya memahami kekurangajaran anak-anaknya. dan terus menerus kita mendendangkan dan menarikan lagu dan tarian seorang anak durhaka.

Sebagaimana seorang Kartini yang tak jarang merasakan kepedihan, mungkin sedemikian pula bumi. Tapi hukum alam akan selalu membuktikan bahwa siapa yang menanam, dia pula yang mengetam. Tingkah laku (=akhlak) kita terhadap bunda bumi kita entah sudah separah apa, sehingga cuaca dan musim kehilangan momentumnya masing-masing. Kita terus menerus memaksa bnda bumi untuk memahami dan mengerti kita (atau lebih tepat, menuntut?), tanpa sekalipun kita sebagai anak-anaknya mencoba memahami bunda bumi kita. Mungkin sebagaimana Kartini memahami perempuan dan keperempuanan, yang terkadang perempuan enggan memahami Kartini sebagaimana Kartini adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s