Qurban

Setiap tahun di putaran hari raya kurban, selalu saja terpampang pemandangan sama: deretan manusia yang membetahkan diri mematung, dalam sebuah deretan panjang, menanti giliran menyemai predikat layak menerima kurban. Miris dan ironis.

Maka sudah seharusnya kurban adalah benar-benar berqurban. Mendatangi satu persatu, menyerahkannya sendiri, bertatap muka, bersentuhan rasa kemanusiaannya

Menyorong Rembulan

( transkrip bebas dari Menyorong Rembulan – Emha Ainun Nadjib )

Panas terik yang memayungi sebuah kedai di ujung sebuah jalan lurus pematang sawah, seolah memberi sebuah tanda seru. Tegas, dan apa adanya. “Panas dan sumuk, tak pernah berbohong,” ujar Ki Janggan sambil memandangi hamparan sawah yang saat ini dipenuhi bibit impor, bibit yang di-rekayasa genetic di laboratorium-laboratorium korporasi bawah-tangan. “Panas dan sumuk seolah mengingatkan kita bahwa tak ada yang bisa kita sembunyikan di hadapan Tuhan. Ia juga mensimulasi sepersekian bagian dari apa yang sering disebut dalam ceramah-ceramah sebagai padang mahsyar, sebuah ‘tempat’ dimana ternyata kita menyadari kembali kebodohan, ketololan dan kedhaliman kita sendiri. Ya, terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, terhadap alam, dan bahkan sangat bisa jadi, terhadap Tuhan,” lanjut Ki Janggan, masygul, sambil menghela nafas panjang. Ki Lurah Sangkan, yang juga pemilik kedai, menyimak kata-kata Ki Janggan dengan dalam. Ki Lurah Sangkan, yang mengikhlaskan seluruh hak-nya sebagai kepala desa untuk kas desa, dan hanya mencukupi diri dan keluarganya dari kedai di ujung jalan ini. Ki Lurah Sangkan, yang menjadikan kedainya sebagai ‘kantor desa’, tempat dimana seluruh warganya dengan mudah menemuinya untuk menyampaikan hajat dan keperluan kepada kepala desanya. Dan, metode Ki Lurah Sangkan sangat efektif untuk menjalankan tugasnya sebagai pengayom masyarakatnya.

“Tapi gak enak buanget Ki, panas dan sumuk begini. Jadi malas mau ngapa-ngapain. Enaknya cangkruk di kedai. Lihatlah hamparan sawah itu. Hampir seperti kuburan. Lengang, tak ada yang bekerja. Hampir semua orang sudah enggan dan malas menjadi petani. Maunya semuanya mejadi seperti saya, pegawai pemerintah. Kan enak, terjamin pemasukannya hingga sebulan ke depan. Jadi, aman buat cari sampingan,” sambung Pak Polisi Gaspol, yang siang itu juga menyempatkan berteduh di kedai Ki Lurah Sangkan. “Naaahhh, itu! Itu dia!,” sahut Pak Jangkep dengan keras, cukup membuat burung gereja yang sedang mampir di teras kedai, kembali terbang. “Semua orang sudah tak memiliki kesanggupan mental untuk menjadi petani, di semua bidang. Tak ada lagi yang dengan lapang dada, jembar, untuk nandur, menanam. Etos nandur sudah menjadi dongeng menjelang tidur. Semuanya berbondong-bondong mengabdi kepada hasil – hasil – hasil dan hasil. Manusia sudah panas jiwanya diperangkap penjara kata-kata kemiskinan, kegagalan, kesusahan, penderitaan. Manusia sudah umep hatinya akan kata-kata mentereng yang disebut sukses, keberhasilan, kekayaan, posisi sosial, aciv … aciv apa lah itu …”. “Achievement,” menyahut Alex Sarpin”. “Achievement, menurut ensiklopedia, adalah pencapaian atau sebuah keberhasilan di titik-titik tertentu dalam sebuah fase panjang,” Alex membaca sebuah buku usang yang selalu melekat laksana pakaian di tubuhnya. “Ya, itu dia,” memlanjutkan kembali Pak Jangkep. “Manusia sudah tanpa sadar menggelincirkan cara berpikirnya kepada hasil. Tak tahu apakah memang sedemikian adanya, ataukah memang sudah melupakan bahwa tugas dan dharma manusia hanyalah sekedar nandur, menanam kebaikan dan manfaat, sambil di sela-selanya mementaskan kemesraan paseduluran di antara sesamanya. Saling menjaga harkat dan martabat nilai kemanusiaan satu sama lain. Hmmmhhh ….,” pungkas Pak Jangkep dengan menarik nafas panjang.

Kemudian hening. Semuanya terdiam menerjemahkan panas, sumuk, dan bias fatamorgana yang melayang di atas rerumputan sebagai akibat panas yang menyengat.

Dan hening itu pecah seketika! Suara terompet dan gemerincing memenuhi udara, menantang panas dan sumuk yang sedari mula menguasai hamparan waktu. Di ujung suara terompet, adalah suara tertawa sangat keras “Hahahaha, hahaha, manusia merasa panas. Sumuk. Panas dan sumuk jiwanya, hatinya, nuraninya. Ya, demikianlah kejujuran menebaskan pedangnya. Panas dan sumuk tak pernah berbohong. Sampeyan lerres, Guru,” suara yang ternyata milik Ruwat Sengkolo, yang datang entah dari mana, takdzim menyembah di hadapan gurunya, Ki Janggan. “Bagi manusia yang mengisi hari-harinya dengan kebohongan dan rekayasa-rekayasa, kejujuran memang akan mendatangkan panas dan sumuk. Tak betah hidupnya ketika kejujuran datang dan memberitahukan kepadanya akan kebodohan dan ketololannya!”

“Tapi apakah manusia harus pandai semuanya, pinter seluruhnya, agar ia tidak panas dan tidak sumuk?” sinis Pak Jangkep.

“Hahaha. Salah! Salah! Salah! Manusia tidak wajib dan tidak akan pernah bisa menjadi pintar dan pandai, sebab itu milik Tuhan. Kata-kata pintar dan pandai, sekarang sudah menjadi lipsetik, pemerah bibir yang sebenarnya pucat! Kata-kata itu menjadi jubah bagi ke-makin tidak tahu-an manusia ketika ia sedang (merasa) mempelajari sesuatu. Yang menjadikan panas dan sumuk bukanlah kejujuran. Yang mengundang panas dan sumuk adalah kesombongan manusia untuk tidak mau mengakui kebodohannya, ketololannya. Bahkan ketika kebodohannya itu nampak sangat jelas di hadapan MATANYA! Hahaha … Kita semua berat untuk mengakui dan men-dlosor-kan kesomobongan dan egoisme pribadi hingga ke titik paling dasar! Tidak berhenti disitu, kita menaburkan hasud satu sama lain. Kita menebarkan kebencian menjadi pupuk yang menumbuh-besarkan kesombongan kita. Kita membenci sesuatu dan megajak banyak orang untuk ikut membencinya. Kita mencuri dan mengajak banyak orang untuk ikut mencuri. Kita melakukan pelanggaran-pelanggaran sambil dengan tenangnya membiarkan orang lain meniru pelanggaran-pelanggaran itu. Maka, manusia saat ini sedang dalam pelarian abadi dikejar fir’aun-fir’aun, dalam pekat murakkab di dalam perut ikan paus masa kini bernama fenomena global.  Kita gagal menemukan tawhid di dalam rintihan Nabi Adam as ‘Rabbana dzhalamna anfusana …” Kita gagap di hadapan rintihan Nabi Yunus as ‘ … inni kuntu minadzh-dzhalimin,” Ruwat meneruskan “tangisannya”.

Sour grape phenomenon,” sahut Alex Sarpin sambil membuka ensiklopedianya. “Alkisah, ada seekor serigala yang sangat menginginkan buah anggur yang sudah matang. Tapi apa daya, dia tidak bisa meraihnya. Buah anggur terlalu tinggi untuknya. Tapi tidak demikian dengan si kera. Si kera dengan sangat mudahnya bisa makan buah anggur itu. Melihat kenyataan itu, serigala sakit hatinya dan membenci si kera dan buah anggurnya. Tak cukup di situ, serigala pun menggelar kampanye di seantero hutan dengan berulang-ulang menyebut ‘anggur kecut, anggur masam, anggur tidak enak’. Situasi psikologis si serigala inilah yang disebut oleh ilmu psikologi modern sebagai sour grape personality. Salah satu gangguan kepribadian,” tutup Alex Sarpin.

“Dan sepertinya bukan hanya kepribadian individual, tapi sudah menjadi kepribadian sosial,” sambung Pak Jangkep, miris.

“Panas dan sumuk akan terus mengulangi dirinya, melakukan repetisi-repetisi. Dan akan sedemikian seterusnya hingga manusia ndlosor mengakui kebodohannya, secara sukarela ataupun terpaksa. Bukan mengakui di hadapan orang lain dan sesama manusia. Bukan! Tetapi mengakuinya di hadapan dirinya-sendiri, mengakuinya di hadapan Tuhan! Tidak dengan kata-kata, tidak dengan puisi dan rangkaian bait lagu. Tapi, dengan kejujuran!,” Ruwat kembali meniup terompetnya, mirip suara lengkingan, tinggi dan menyayat.

“Dalam keadaan panas dan sumuk sedemikian, orang saling menjegal satu sama lain. Atau bahkan sengaja saling menjegal. Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut namun ajarannya kita biarkan hidup subur dalam aliran darah dan jiwa kita. Kita mengutuk perampok, dengan cara mengincarmya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian, kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa lalim, dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan, yakni melarangnya untuk insaf dan bertaubat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana iblis yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri. Siapakah selain setan, iblis dan dajjal, yang menolak husnul khatimah manusia?” jerit Ruwat Sengkolo sambil tubuhnya bergetar hebat.

Dan langitpun menjawabnya. Mendung gelap pekat datang seolah diundang tiupan terompet Ruwat Sengkolo. Dan kemudian ikut menangiskan hujan lebat bersama tangisan Ruwat.

“Aku … hilang. Aku … hilang. Tersaput kabut malam, terbiasnya harapan …………”

Akustika memainkan lagu yang suaranya hampir tak terdengar, hilang ditelan derasnya hujan dan lengkingan terompet Ruwat Sengkolo. []

 

(selalu) terulang (lagi)

seperti halnya keriuhan awal ramadhan, selalu saja aku jengkel setengah mati ketika Ramadhan tiba. Belakangan keriuhan di awal Ramadhan sudah menyiksaku. Dulu, aku masih bisa menemukan tempat untuk bersunyi dan menyapa Ramadhan dalam suasana yang sangat privat. Tapi sekarang, Ramadhan sudah seperti sebuah bola sepak di lapangan sebuah peradaban teknologi, komunikasi, religius, atau oplosan dari silang sengkarut peradaban yang tak tentu arahnya. “ah, terlalu berlebihan. mendramatisir !!,” demikian kata seorang teman ngopi dari jauh. tapi justru itulah yang membuatku jengkel. kekalahanku begitu sempurna. aku seorang pemimpi barangkali, yang enggan bangun dari tidur, karena tahu pasti bahwa realitas begitu membuatku terasing, dari diriku sendiri. ya, aku seorang pecundang. yang derap dan laju langkahku tak mampu mengimbangi realitas. aku hanya punya kecepatan, sementara fenomena peradaban saat ini melangkahi otak manusia dengan percepatan.

mungkin memang katuranggan seorang pecundang untuk terus menerus menyebut kata “dulu”. Ramadhan, yang sekian puluh tahun lalu bisa kudekap dan kusayang-sayang, seolah dengan kasarnya direnggut oleh sms, broadcast, media sosial, iklan, baliho, spanduk, televisi, sidang itsbat, ru’yah dan hisab. ah, akupun kesepian. Ramadhan seperti manekin mewah di etalase gemerlap.

mungkin itulah nasib seorang pecundang. dan aku jengkel setengah mati.

maka tak punya aku pilihan lain selain kembali bermimpi menemui Ramadhan sebagai seorang Resi yang mengajariku tentang kesunyian, kejujuran, kemesraan dalam satu bahasa, diam.

tapi yang paling menjengkelkan dari semua itu adalah bahwa Ramadhan selalu saja menelanjangi aku-ku yang sejati. tak cukup disitu saja, ia dengan jelasnya menunjukkan bahwa aku tak (pernah) memiliki kepantasan untuk dikunjungi Ramadhan.

Posted from WordPress for Android

Behind the Kurungan : serakan catatan Pergelaran Nabi Darurat Rasul Ad-hoc

(1)

Teman-teman BangbangWetan yang mendapat kehormatan menggelar panggung untuk pergelaran Nabi Darurat Rasul Ad-hoc di Surabaya, mungkin tidak seberuntung saudara-saudaranya di Yogyakarta yang berkali-kali mengikuti latihan dan gladi resik di Kadipiro untuk pergelaran di TBY. Mungkin juga tidak seberuntung saudara-saudaranya di Jakarta yang mendapatkan karunia sebuah sesi khusus Gladi Resik di Gedung GKJ sehingga pada saat acara, bisa fokus pada teknis pelaksanaanya. Saya dan teman-teman BangbangWetan hanya bisa “mencuri pandang” dan “mencuri dengar” pergelaran yang berlangsung selama 2 hari di Gedung Cak Durasim Surabaya, sebab harus membagi konsentrasi pada pelaksanaan.

Maka tidak adil jika serakan catatan ini bercerita tentang lakon pergelaran tersebut. Lagipula, reportase tentang pergelaran ini sudah tersebar di media massa, seperti Kompas, Republika, Surya, JawaPos, Sindo, MetroTV, SCTV dan beberapa TV lokal. Meskipun secara substantif, kandungan nilainya hanya sekitar 20%-30% saja yang terliput.

(2)

Perjalanan persiapan Pergelaran Nabi Darurat Rasul Ad-hoc Surabaya ini bukannya tanpa adanya hambatan. Bahkan hingga H-1 semua hal untuk pergelaran masih serba samar-samar. Rentetan permasalahan terentang sejak dari persiapan teknis pelaksanaan acara maupun hal-hal lain di luar teknis yang juga adalah masalah tersendiri. Kalau anda pernah ada di dalam kepengurusan sebuah Event Organizer, atau minimal kepanitiaan 17 Agustus-an di RT anda, maka saya berani bertaruh anda akan putus asa menyaksikan bagaimana teman-teman panitia Nabi Darurat Rasul Ad-hoc disusun, diurus, dijalankan dan bagaimana teman-teman panitia Nabi Darurat Rasul Ad-hoc bekerja.

Dan ketika beban mengenai persiapan pelaksanaan acara sudah sedemikian absurdnya, maka kesuksesan pelaksanaannya adalah jalan buntu yang tidak bisa dihindarkan. Dan itulah pilihan satu-satunya yang dimiliki oleh Panitia, yang untuk itu dibutuhkan kekuatan mental yang luar biasa besarnya, yang hampir saja mustahil “diperkenankan” oleh Allah, kalau saja tidak memiliki sedikit pengetahuan tentang cinta segitiga Allah-Muhammad-kita.

(3)

Dan berdasarkan jarak, sudut dan posisi pandang saya terhadap permasalahan ini, saya menemukan potongan-potongan gambar puzzle jawabannya saat konferensi pers acara ini.

Alex Sarpin:

Panitia macam apa ini? Kepanitiaan sebuah event organizer seharusnya di-manage dengan baik. Pembagian struktur organisasinya harus efisien, efektif dan memenuhi tugas-tugas yang harus dilakukan. Pembagian job description, dan beban kerjanya juga harus professional, tidak boleh ada tumpang tindih. Bagaimana mungkin bagian publikasi harus mengurusi konferensi pers? Apa jadinya bagian perlengkapan harus menjamin konsumsi para pelakon? Bagaimana bisa orang-orang yang tidak dari sedari awal dalam kepanitiaan, tiba-tiba harus menjalankan tugas kepanitiaan tanpa adanya arahan sama sekali?

Menurut ensiklopedia, baik online maupun offline, baik resmi maupun bajakan. Jika sebuah kepengurusan sebuah organisasi, apalagi sebuah organisasi pelaksanaan acara -event organizer- tidak di-manage dengan baik, maka dipastikan berjalannya tugas-tugas kepanitiaan pasti akan tersendat dan tersekat. Tidak akan bisa ! Tidak !

Mbah Soimun:

Mungkin Ruwat “panitia” Sengkolo cucuku ini, bukanlah sebuah panitia, nak Alex. Ini hanya sekumpulan tangan, kaki, badan, kepala, yang masing-masing bersedia untuk menyediakan dirinya demi bergeraknya sebuah tubuh besar yang kau maksudkan dengan “panitia”

Pak Jangkep:

Dhuh, Ruwat “panitia” Sengkolo anakku

Gaspol:

Saya diperintahkan membubarkan Ruwat “panitia” Sengkolo! Sebab jika acara pergelaran ini diurusi oleh sebuah kepanitiaan se-darurat Ruwat “panitia” Sengkolo, maka dipastikan pergelaran akan menimbulkan banyak masalah!

Ki Janggan:

Ruwat “panitia” Sengkolo. Pernahkah gurumu ini mengajarkanmu untuk bekerja dengan seruduk sana seruduk sini semacam ini?

Pak Lurah Sangkan:

Demi keamanan dan kebaikan semuanya, saya harap nak Ruwat “panitia” Sengkolo menyerahkan tugas kepanitiaannya kepada yang lebih memiliki kompetensi dan profesionalisme.

Brah Abadon:

Siapa kamu semua! Yang merasa berhak untuk menilai tentang Ruwat “panitia” Sengkolo ? Mestinya kau mendobrak dan membebaskan diri dari kekerdilan berpikir makhluk-makhluk di Bumi. Kalian manusia Bumi tidak pernah paham karakter Ruang di atas Waktu, dan karakter Waktu di atas Ruang. Tidak mempelajari perspektif Cahaya dan koordinat-koordinat Cinta. Maka puncak pencapaian kalian adalah kebuntuan. Kalian terpuruk dan melayang-layang di ruang hampa Kemudian mendengar jawaban dari Tuhan seperti dulu kepada Malaikat yang ragu atas kekhalifahan manusia: “Kalian tak tahu, Aku yang tahu!”

Tahukan kalian ? Bagi para pencari, pergelaran ini akan memberikan air segar sebagai jawaban atas dahaga pencarian yang dilakukan. Dan bagi mereka yang mengurung pemikiran bahwa pergelaran ini hanyalah tontonan di atas panggung, pergelaran ini akan memeberikan hadiah pertanyaan-pertanyaan yang akan mereka bawa pulang. Dan dua-duanya adalah laba pergelaran ini, yang nilainya jauh lebih bernilai daripada sebanyak apapun tiket yang terjual!

Ruwat “panitia” Sengkolo:

Aku ini lemah, dan bukan siapa-siapa. Dan pergelaran ini. Pergelaran ini bukan sebuah pertunjukan kesenian, melainkan sebuah perjalanan ruhani. Dan kepanitiaan semacam aku, hanyalah ubo rampe belaka.

Ini Lelaku
Tidak untuk mencari kegagahan
Ini hanya jalan mematuhi kerinduan
Kepada ilmu dan pengetahuan

Ini Nenepi
Tidak untuk membangun kehebatan
Ini langkah-langkah sangat kecil
Untuk menyadari kekerdilan

(4)

Dan akhirnya, Teater Perdikan, Letto, sound crew, lighting, dan ia sang penulis naskah, mengunjungi Gedung Cak Durasim sebagai persiapan terakhir untuk pergelaran besok hari. Teater Perdikan dan Letto memainkan beberapa potongan adegan untuk mengukur keselarasan dan keserasian dengan sound dan lighting. Selama ujicoba ini, Cak Nun sebagai penulis naskah amat sangat terlihat melakukan pengukuran-pengukuran terhadap semua hal, khususnya tentang efektifitas adegan-adegan yang nantinya akan dilakukan. Beberapa modifikasi dilakukan terhadap beberapa adegan.

Malam semakin larut, dan para pejuang veteran Teater Perdikan harus terlebih dahulu kembali ke penginapan untuk menghemat tenaga dan energi. Yang tinggal di venue adalah hanya Letto dan Penulis Naskah. Sang penulis naskah sangat serius mengarahkan Letto melakukan beberapa adegan, sampai-sampai ia harus melepas baju luarnya dan hanya memakai kaos dalam saja saat mengarahkan Letto. Keseriusan dan perhatiannya terhadap detail, menerbangkan aku ke beberapa waktu silam, di Kadipiro, ketika seusai MS sempat berbincang-bincang dengan sang penulis naskah dan beberapa orang lainnya. Dalam perhubungan kemanusiaan semacam itu, aku dapat melihat dengan jelas, raut mukanya yang begitu penuh dengan beban-beban yang mungkin seharusnya tidak dipikulnya. Usia sepuh-nya sangat kentara subuh itu. Ia, sah saja untuk tidak ikut menanggungkan keresahan-keresahan itu. Sah-sah saja untuk tidak turut menyediakan pundak bagi keluh-kesah dunia yang sudah sedemikian renta. Tetapi tidak, ia malah “menanggalkan baju luarnya” dan hanya dengan “kaos dalam putih tanpa kerah” yang menempel di badannya, ia menumpahkan seluruh perhatian dan keseriusannya untuk mendedahkan keresahan-keresahan itu melalui pergelaran ini.

Dan adakah jalan yang lebih sunyi dan sepi, dibandingkan ketika engkau memiliki sebuah pengetahuan dan informasi yang amat sangat penting tentang sesuatu, tetapi engkau tidak mungkin menyampaikannya, tetapi engkau tidak memiliki bahasa yang presisi untuk menyebutkannya.

Dan inilah sebenarnya yang menjadi tulang belakang mental panitia teman-teman BangbangWetan untuk juga melakukan bagiannya, yakni menumpahkan seluruh perhatian dan keseriusan untuk sukses dan lancarnya pergelaran ini. At all cost !

(5)

Pergelaran, pun digelar !

Dan alam tidak tinggal diam. Meskipun pada malam pertama, alam masih melakukan sedikit verifikasi terhadap pergelaran ini namun secara umum, pergelaran malam pertama berjalan dengan lancar. Dan puncaknya adalah pada malam kedua, ketika Ruwat “panitia” Sengkolo dan Ruwat “Joko Kamto” Sengkolo menyempurnakan pertalian ruhani yang memancar bi ruhin ‘abadan, alam bersama para penonton malam kedua “duduk” dengan khusyu’ mengendarai keresahan-keresahan sang penulis naskah, untuk menuju ke dalam diri masing-masing, menemukan keresahan yang sama dan sekaligus merumuskan beberapa hal yang pasti akan menjadi jawabannya.

Pergelaran ini, dari sudut, posisi dan jarak pandangku pribadi, tidak bisa dipisahkan dengan pergelaran sebelumnya, terutama dengan Presiden Balkadaba dan Tikungan Iblis.

Jika siklus lima millenium photon belt adalah sebuah rakaat sempurna shalat kehidupan, maka pergelaran Nabi Darurat Rasul Ad-hoc ini adalah saat-saat dimana shalat ini sedang pada posisi duduk diantara dua sujud di rakaat terakhir, menuju persiapan sujud terakhir. Semua rumusan-rumusan yang terkumpul sejak Presiden Balkadaba hingga Nabi Darurat Rasul Ad-hoc ini, akan menjadi mantra ruhani saat sujud nanti. Sesungguhnya yang kita lakukan adalah wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad.

Dan ketika tiba saat-saat mendebarkan itu dimulai, pelan-pelan harus kita sujudkan semua diri kita sendiri, melafalkan mantra ruhani tadi saat tiba dua hari gelap gulita tanpa surya tanpa cahaya, dingin merasuk hingga ke pusat sukma, semua manusia sirna kepercayaan dirinya, menatap dengan sangat gamblang kebodohannya, dan hatinya ambruk dalam penyesalan yang tak terkira-kira.

Dan ketika dua hari berikutnya, semburat bangbang wetan memulai sapaannya, cahaya temaram fajar yang menyiratkan harapan, pelan-pelan khusyu’ bangkit dari sujud menuju tahiyat akhir. Dan ketika sampai pada syahadat, saat itulah garis lurus tawhid kepada Sang Maha Ganjil yang paling Genap ditegakkan. Muncul garis lurus, cahaya dari inti bumi, melalui kelamin kita, aura prana qalbun fana, membelah ruang kosong diantara kedua otak kita, lurus alif, memuncak di alcyon pusat semesta.

Dan tahiyyat akhir kita sempurnakan dalam dua hari dimana cahaya memancar tanpa menciptakan senja sebagai proses pembersihan. Yang setelahnya kita ucapkan salam ke arah kanan semesta dan ke arah kiri semesta, untuk kemudian kita siap untuk fantasyiru fil ‘ardhl.

al-fatihah !

Nenek penjual bunga cempaka

Born_in_Kaba

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai shalat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa.

Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu: ”Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

( D. Zawawi Imron )

Majelis Baradah Januari 2012

suasana majelis baradah di desa kedungsumur

( sebuah catatan )

Sebuah desa kecil di bibir Kali Porong di kaki Penanggungan, malam itu, larut dalam kehangatan paseduluran. Ribuan orang duduk dalam atmosfir kekhusyuk’an, kegembiraan dan jembar yang menenangkan. Rintik hujan yang sesekali datang menyapa tidak menyurutkan ribuan orang itu dalam bersama merajut kedekatan hati sesama manusia. Suasana yang aku dramatisir dalam diriku seolah aku berada di tepi sebuah bandar sungai yang cukup hangat, sebuah bandar dari sebuah imperium besar, Majapahit. Desa itu adalah Kedung Sumur, sebuah desa kecil yang hampir seluruh penduduknya adalah pembuat jajanan tradisional yang mensuplai pasar jajanan hingga ke Surabaya.


Dua orang di panggung yang berada di titik temu titik silang pertigaan bergantian menggembalakan seluruh jamaah shalawat demi shalawat. Cak Zainul KiaiKanjeng dan Gus Im menghamburkan kekayaan jenis shalawat yang dikenal, sampai ia yang ditunggu oleh jamaah, akhirnya tiba di tempat acara. Cak Nun terlambat datang di tempat karena kemacetan yang terjadi di ruas arteri Porong malam itu. Jarum jam hampir menyapa angka 21.30 ketika suara mistis Cak Nun (bahasa Ega Julaeha) menyapa setiap jamaah yang hadir malam itu. Dan ketika setiap niat dan rasa sudah tersambung, Cak Nun memberikan gambaran tentang kondisi pasar yang sudah sedemikian “memelaratkan” orang kecil. “Tetapi, kita harus terus bersyukur,” demikian lanjut Cak Nun. “Sebab melarat itu datang ketika kita menginginkan sesuatu seperti yang tetangga kita miliki. Tetapi, kalau kita bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki, maka tidak akan ada masalah dengan kemelaratan”. Berkaitan dengan desa Kedung Sumur sebagai sentra penghasil jajanan pasar, Cak Nun membuktikan kekayaan kreatifitas manusia Jawa (dalam artian luas) melalui beragamnya nama-nama jajanan pasar yang seringkali terdengar agak saru, seperti misalnya konthol kambing, turuk bintul, dan nama lainnya. “Hal ini,” urai Cak Nun “menjadi sebuah bukti bahwa segala sesuatu itu memiliki hubungan dengan yang lainnya, seperti halnya nama jajanan yang tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosio-psikologis masayarakat saat nama itu lahir”

Bersama Cak Zainul, Cak Nun kemudian berinteraksi dengan jamaah dengan membagi tiga jamaah yang hadir, yakni yang di kanan panggung, di kiri panggung, dan yang ada di depan panggung. Setiap kelompok jamaah tadi diminta memberi nama masing-masing kelompoknya sendiri-sendiri dengan nama jajanan yang dikenal, yang akhirnya muncul nama-nama kucur, onde-onde dan jemblem. Ketiga kelompok ini kemudian melantunkan shalawat “alhamduliLlah, wasysyukruliLlah, azka shalati wa salami li rasuliLlah” bergantian dan akhirnya bersama-sama. Dan di ujung simulasi ini, Cak Nun menyebut bahwa ini adalah salah satu upaya kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Kedekatan dengan Allah bisa menjadi alat kita untuk “menawar” fenomena alam yang terjadi, sebagai bentuk “jaminan” dari Allah atas hidup kita, seperti misalnya menghindarkan hama yg merusak dari sawah kita, atau hujan yg menyebabkan banjir dari sawah kita. Metode ini sebenarnya bukan barang baru, melainkan telah menjadi tradisi leluhur kita, tapi telah kita lupakan. Malah Amerika saat ini gencar membuka fakultas Metafisika di universitas2 disana.

Contoh yang lain lagi adalah soal santet, yang meskipun terkesan tidak masuk akal, namun diakui keberadaannya oleh dunia medis. Sebenarnya santet juga salah satu tradisi leluhur yang disalahgunakan oleh beberapa orang. Mahapatih Gajah Mada dalam setiap ekspedisi prajurit Majapahit keluar negeri, juga telah memperhitungkan masalah logistik (makanan) bagi para prajuritnya. Dari kepentingan ini, kemudian diciptakan teknologi pemadatan makanan, yakni berbagai jenis makanan dalam satu porsi dipadatkan sehingga ukurannya bisa sekecil tablet (kapsul), yang apabila prajurit nguntal kapsul ini, bisa merasa kenyang. Namun, lambat laun seiring semakin jauhnya ekspedisi, teknologi ini dirasa belum cukup. Maka, beliau Gajah Mada mengumpulkan orang-orang dengan kemampuan terpilih untuk “mengirimkan” makanan dari Majapahit langsung ke perut setiap prajurit. Ketika Majapahit surut, beberapa orang ini menyalahgunakan kemampuannya dengan tidak hanya “mengirimkan” makanan, tetapi juga mengirimkan paku, jarum, pasir, dll ke dalam tubuh orang lain, yang akhirnya kita kenal dengan santet.

Hipotesa yang disampaikan oleh Cak Nun memang belum bisa dibuktikan kebenarannya, sebagaimana juga tidak bisa dibuktikan ketidak-benarannya. “Jadi, yang bisa kita lakukan adalah terus menerus belajar, sebelum akhirnya bisa meng-iya-kan (membenarkan) atau men-tidak-kan (menyalahkan) sesuatu,” demikian urai Cak Nun. Dan berkaitan dengan banyaknya klaim sepihak akan kebenaran Islam, Cak Nun menegaskan bahwa yang paling dan pasti benar adalah Islam-nya Muhammad. Semua yang ada saat ini, Sunni, Syiah, NU, Muhammadiyah, LDII, Persis, dll adalah jalan menuju Islam-nya Muhammad. Yang tidak menjaga niat menuju Islam-nya Muhammad maka pasti akan kesasar. “Dan Muhammad tidak mati,” tegas Cak Nun lagi. “Al-Quran telah menyatakan bahwa mereka yang syahid tidaklah mati, melainkan masih hidup. Tetapi bukan lagi secara fisik. Sebab jika yang kita anggap hidup adalah secara fisik belaka, maka Allah dengan sifatnya Yang Maha Hidup pasti akan dianggap nisbi”

“Umat Islam sekarang sebenarnya sedang dijauhkan “sambungan hati“nya dengan RasuluLlah saw, dengan jalan dijauhkannya umat Islam dengan romantisme shalawat, baik melalui tradisi shalawatan maupun ziarah ke Madinah. Mekkah dan Madinah saat ini sejatinya telah dikuasai oleh Israel, ya dengan jalan “menjauhkan hati” dengan RasuluLlah saw. Yaitu melalui pemerintah Arab Saudi yang mengharamkan dan melarang kita untuk menangis di pusara RasuluLlah saw”, lanjut Cak Nun.

“Romantisme seorang hamba juga tampak dari “panggilan” kita saat meminta sesuatu kepada Allah. Secara umum, ada tiga panggilan yang kita gunakan saat meminta, yakni Ilahi, Rabbi/Rabbana, dan Allahumma. Ilahi, dari susunan hurufnya yang semuanya tegak berdiri, lebih tepat digunakan ketika mengakui kebesaran atau kegagahan Allah, yang artinya mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan kita sebagai hamba. Adapun Rabbi / Rabbana, yang dari susunan hurufnya yang seperti perahu, lebih pas dengan sifat Allah yang Rahman Rahim, berkaitan dengan ke-pengasuh-an Allah. Dan Allahumma bersifat komprehensif yang mencakup keduanya” urai Cak Nun. “Sedangkan pengajian bukanlah sekedar ngaji belaka, melainkan bagaimana memberikan manfaat yang lebih kepada para jamaahnya”

Sebelum memberikan kesempatan kepada Pak Camat, Pak Lurah dan Pak Kapolsek, Cak Nun juga menceritakan awal mula training pembuatan kue yang siangnya diadakan di desa ini. Bahwa pelatihan pembuatan kue sebenarnya berawal dari perbincangan Cak Nun dengan direksi Bogasari di Jakarta, yang akhirnya bisa berlanjut menjadi kegiatan pelatihan tersebut. Khusus untuk Pak Kepala Desa, Cak Nun menyarankan agar ada tindak lanjut dan upaya lebih jauh lagi dari pelatihan tersebut agar menjadi berkelanjutan dan nilai manfaatnya optimal.

Setelahnya, Pak Camat dipersilahkan untuk menyapa jamaah, yang kemudian dilanjutkan oleh Pak Kepala Desa, yang secara khusus berterima kasih kepada Cak Nun atas kegiatan pelatihan pmebuatan kue siang tadi. “Sebenarnya saya sudah berkali-kali mengirimkan proposal untuk kegiatan ini, tapi tak pernah berhasil. Dan hari ini, dengan bantuan Cak Nun, akhirnya kegiatan ini bisa terlaksana di desa kami”, demikian Pak Kepala Desa, yang sesudahnya dilanjutkan dengan Pak Kapolsek menyapa jamaah yang hadir.

Dengan demografi penduduk yang mayoritas adalah pembuat jajanan pasar, Cak Nun berbagi keprihatinannya tentang makin berkurangnya para pemuda kita yang mau menjadi petani. “Sebab masa depan Indonesia dan dunia adalah pada pertanian,” ungkap Cak Nun. “Maka, sudah saatnya kita beralih pada Islam Madinah yakni ‘alaykum bil-ghiratsah. Menanamlah kamu sekalian!. Demikian kata RasuluLlah ketika sampai di Madinah. Dan yang memilih tempat untuk tempat tinggal RasuluLlah juga adalah unta beliau, yang mana secara instingtif, unta akan menyukai daerah yang subur dan dekat sumber air.”

“Tidak perlu melihat segala teori-teori”, tambah Cak Nun “Bertani itu menanam, nanduro!. Teori itu lahir dari praktek. Bukan sebaliknya. Bisa kita lihat berjuta sarjana dan profesor pertanian yang ternyata mencangkul saja tidak bisa. Bagaimana menanam padi saja tidak tahu.” Kemudian Cak Nun sedikit menceritakan bahwa CNKK besok akan ikut mengenang seorang syahid pertanian Indonesia, Russ Dilts, di Jakarta.

“Sampeyan semua ini mulia dan besar derajatnya. Dengan bersahaja terus membuat jajanan pasar, tanpa perlu ikut-ikutan korupsi, sampeyan semua bisa menikmati hidup dan “berdamai” dengan penderitaan yang sampeyan alami setiap hari” pungkas Cak Nun membesarkan hati jamaah.

Shalawat ‘indal qiyam dipimpin Cak Zainul KK dan doa penutup oleh Gus Im kemudian menutup Majelis Baradah di Desa Kedung Sumur, Kecamatan Krembung, Sidoarjo, Jumat malam 20 Januari 2012 itu.

*) mohon maaf, foto2 hanya diambil melalui kamera HP yang pas2an :D

silahkan untuk mendownload versi pdf-nya disini