duhai,
apa yang kupunya untuk mengundangMu hadir ?
bukanlah aku, ya Kekasih, yang bersayap jubah kesabaran
bukanlah aku, ya Kekasih, yang berselendang raja’ dan khauf
bukanlah aku, ya Kekasih, yang bermahkota tawaddhu’
langkahku tersandung-sandung
dan suaraku masih tersendat-sendat
sedang jiwaku …
oh Kekasih, jiwaku dihunjam rindu pendam
remuk redam
aku hanyalah seorang fakir, ya Kekasih
fakir papa tak punya apa dan siapa
bahkan juga kecerdasan
di negeri ini, ya Kekasih
kecerdasan bukanlah harta orang fakir
kecerdasan intelektual
kecerdasan emosional
kecerdasan spiritual
hanya bisa menjadi khayal
jiwaku yang dihunjam rindu pendam
masih saja terjerat kesementaraan
terhijab oleh penjara yang kubuat sendiri
aku hanyalah seorang fakir, ya Kekasih
kekayaanku satu-satunya adalah kefakiran
itupun kalau masih boleh kuakui sebagai milikku
maka apakah yang membuat seorang fakir
pantas mendekat dan berbaring di sejuk cahaya cintaMu
selain hanya berharap pada sejuk cahaya cintaMu jua
{ banda aceh | 10.09.08 }









