… memoar tsunami

26 12 2008


Izinkan kuhaturkan rangkaian bunga ini saudaraku
Di tiga tahun setelah kepergianmu

Tiga tahun setelah tsunami, kepergianmu
Kata dan janji ditabur
Membanjiri keseharian
Janji membangunkan rumah
Janji membuatkan jembatan
Janji memperbaiki sekolah
Janji melicinkan jalanan
Janji untuk bertaubat
Janji untuk berubah dari kufur menjadi syukur
Janji untuk berubah dari serakah menjadi qanaah
Janji untuk kembali menjadi hamba Tuhan, setelah sekian lama menjadi hamba uang
Janji untuk ilaihi raji’un
Janji untuk inna liLlahi

Janji yang dihamburkan di hadapan air laut hitam bernama tsunami
Janji yang dipersaksikan guncangan gempa

Namun, saudaraku …
Tsunami janji-janji
Banjir kata-kata
Hingga detik ini, saudaraku
Masih saja membanjiri hari-hari
Menggenangi rawa menjadi kubangan
Yang kian busuk saja baunya

Sepulang menziarahimu, saudaraku
Aku terus merapal mantra
Tiga tahun yang lalu
Tiga tahun yang lalu
Tiga tahun yang lalu
Tiga tahun yang
Lalu … ?

(meulaboh; 30.12.07 … rewrite 26.12.08)





ketakutan

22 11 2008

sebuah ketakutan terbesar yang akhir-akhir ini selalu menghantui aku adalah kalau apa yang sedang aku jalani adalah bukan kehendakNya, bukan mauNya. aku sangat ingin untuk tak ingin. ingin kubaringkan keinginanku di altar persembahan Ibrahim tatkala membaringkan cintanya pada Ismail di altar cinta Tuhan.
sebab jika semua karena inginku, aku tak punya apa-apa untuk menghidupinya.
dan jika semua ini karena inginku, aku tak punya kekuatan apa-apa untuk memanggulnya.

(ingin) kuserahkan semua hanya pada inginNya, sebab jika Ia yang menginginkan, dipinjamkannya pula kekuatan memanggulnya dan diamanahkannya cahaya untuk menghidupinya.
…. 

sungguh aku takut kalau ini hanya inginku,
inginMu … hanya inginMu …

( dzulhijjah )





Cermin (refleksi atas tragedi zakat Pasuruan)

25 10 2008
Puluhan tahun lalu, mendengar dan menyaksikan ada puluhan orang tewas karena antri sembako dan bantuan hanya bisa disaksikan di TVRI, dengan latar belakang gambar danau yang mengering dan iringan suara dalam Iwan Fals menyanyikan lagunya, Ethopia. Tapi, Tuhan “memperkenankan” adegan itu berlangsung di depan hidung kita. 21 orang tewas terinjak-injak di Pasuruan dalam sebuah antrian pembagian zakat.

Maka, sebagaimana biasanya, para tokoh berbicara, media menurunkan timnya, para analis membeberkan analisanya. Di sebuah negeri dimana kambing hitam adalah makhluk yang paling dicari, sangatlah mudah menebak kelanjutan kisahnya. Ada yang menyalahkan si kaya yang membagikan zakat, ada yang menyudutkan si miskin yang “menggadaikan” harga diri dan nyawanya untuk uang 30 ribu rupiah, ada yang memojokkan amil zakat yang kurang profesional sehingga menimbulkan ketidakpercayaan para muzakki, ada yang menyalahkan para tokoh agama yang hanya sekedar memberikan ceramah-ceramah yang “kering, dangkal dan bersifat ritual”, ada yang mencorengkan arang ke muka pemerintah yang nyata-nyata gagal melaksanakan tugasnya menyejahterakan rakyatnya terlebih dahulu, baru dirinya.

Dan saya jadi latah, ikut-ikutan berbicara dan menulis.

Setelah bersimpati dan berbelasungkawa terhadap para korban, mendoakan mereka insyaAllah dihapus penderitaannya dan mendapat surga (tentunya setelah kita terlebih dahulu masuk ke dalamnya, bukan?), ijinkan saya menyelam lebih dalam lagi, sebab sudah terbukti nyata bahwa sehitam apapun yang namanya kambing hitam tak akan menyelesaikan persoalan, apalagi menghidupkan kembali para korban, atau sekedar mengusap air mata kesedihan mereka yang ditinggalkan.

Saya hanya sekedar mengajak untuk mendaftari peristiwa yang bisa menyebabkan peristiwa itu bisa terjadi. Ada si kaya yang alhamdulillah berlebih sehingga menggerakkan niatnya untuk berbagi kelebihannya itu. Ada si miskin yang jangankan 30 ribu, 5 ribu saja bisa menyebabkan sebilah pisau menancap di dada seorang miskin lainnya. Ada amil zakat yang sedang dalam proses menjadi tumbuh menjadi dewasa sehingga ada daerah-daerah yang tak mungkin dijangkaunya. Ada pemerintah yang, jujur saja, saya tak tahu apa yang dilakukannya –dalam pengertian sebuah aktivitas dan kebijakan langsung yang ada hubungannya dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat yang memberi amanah kepadanya.

Tapi tolong jangan berhenti di situ saja, sebab itu hanya sekedar “aktor-aktor” teater tragedi Pasuruan itu. Kita perluas cakrawalanya dengan melihat dekorasi dan tata panggungnya. Ada iklan di televisi dan koran. Ada baliho di sepanjang jalan. Ada poster dan spanduk di mulut-mulut gang. Menukiklah ke dalam “ruh” semua itu, niscaya akan kita temukan “provokasi” teramat sangat kuat yang mengajak untuk melampiaskan, untuk menghamburkan, untuk mengeluarkan. Anda bisa disebut tidak gaul jika anda tidak menggunakan hp merk A. Anda belum layak menyandang ‘alim kalau Anda belum mengikuti pelatihan X,Y,Z. Intelektualitas Anda belum cerdas jika Anda belum menjadi alumni training B. Spiritualitas Anda belum tercerahkan kalau Anda tidak berlangganan sms C. Anda belum afdhal berhari raya kalau Anda tidak mengenakan sarung D, baju E, jam tangan F. Belum sempurna lebaran Anda kalau di meja belum terhidang kue G, minuman H. Anda belum sukses ketika mudik belum mengendarai kendaraan I, J, K. Dan sebagainya, silahkan Anda daftari semuanya.

Maka, tragedi Pasuruan hanyalah sebuah letusan dari gunung api sejarah yang memendam dapur magma di bawah lipatan kelam hidupnya. Berapa banyak kita saksikan berjubel dan berdesakannya manusia pada antrian semacam di Pasuruan? Seberapa sering kita lihat semangat berapi-api para mustahiq yang sedang antri itu laksana mujahid di perang Afghanistan? Dan, 21 korban akhirnya menemui sang maut di Pasuruan.

Maka sangat tidak mudah mengambil keputusan apakah kesalahan pada tragedi Pasuruan adalah di pundak si kaya, si miskin, amil zakat, pemerintah atau milik kita bersama. Juga menjadi tidak gampang menelurkan diagnosa apakah itu sebuah “penyakit sistem”, “penyakit manusia” ataukah sebuah “penyakit kebudayaan” dari sebuah tatanan masyarakat yang terjebak dalam sebuah sistem dan keseharian yang sama gelapnya. Jika demikian adanya, tak adil untuk serta merta menyimpulkan bahwa tragedi Pasuruan adalah sebuah perkecualian –dalam artian ia berdiri sendiri, ataukah tragedi semacam itu telah memiliki janin dalam rahim kehidupan masyarakat kita. Janin semacam itu boleh jadi sudah menjadi peradaban, bukan lagi sekedar tatanan budaya. Janin yang “asupan gizi”nya adalah kebingungan yang absurd pada pola berfikir, cara memahami, cara pandang, cara merasakan dan bagaimana melaksanakan iman.

Maka apabila tragedi itu mencapai maqam yang canggih, rumit dan kompleks semacam ini, kita yang menyaksikan tragedi itu di layar televisi, membacanya di koran atau mendengarkannya di radio, tidak secara otomatis bebas dari kemungkinan bahwa kita juga adalah aktor-aktor dari tragedi semacam itu. Hanya saja, kita –saya paling tidak, sedang berada dalam posisi dimana saya sedang berkata,”kalau saya kaya nanti, saya akan begini .. begitu ..” sedang kenyataannya saya sedang terlilit hutang luar biasa besar, sementara saya sedang dikepung kata-kata persuasi untuk membeli, demokrasi, reformasi, bahkan ayat suci. Maka, dalam masyarakat yang begitu permisif seperti saat ini, “maklum” kalau saya menjadi kehilangan orientasi. Saya kehilangan arah, tak tahu dan mengerti lagi dimana atas, kanan, kiri, bawah. Keniscayaan semacam itu pasti akan melemparkan saya pada sebuah koordinat ruang dan waktu dimana saya adalah pak haji Syaikhoni yang membagikan zakat itu, saya adalah seorang anak kecil yang terjepit dalam antrian itu, saya adalah aparat yang terlambat datang, saya adalah amil zakat yang menyesal, saya adalah pak Pemrentah yang masih saja bingung musti ngapain.

Sementara banjir bandang kemewahan, hedonisme yang gebyar dan gemerlap masih belum surut, kita belum juga bersedia menancapkan jangkar dalam-dalam. Kita, adalah kita yang untuk membayar pajak saja membutuhkan “apa kata dunia … ?”, yang untuk tidak telanjang di depan umum membutuhkan Undang-Undang, hanyut dengan sukses oleh banjir bandang itu.

Maka, kalau Anda setuju dengan semua itu, maka inilah puasa. Puasa adalah mengasah kemampuan menahan diri. Maka puasa menjadi antitesis dari arus deras banjir bandang itu. Puasa adalah menahan diri bukan karena terpaksa. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Puasa adalah kemampuan menahan diri ketika seluruh syarat memungkinkan untuk melampiaskan. Puasa bukan memilih tidak makan dan minum karena tidak ada makanan atau minuman, melainkan karena kesadaran terdalam bahwa memang kita membutuhkan puasa, bahwa memang obat bagi penyakit kita adalah puasa. Maka, menjadi manusia puasa bukanlah ia yang tidak mau korupsi karena tidak ada kesempatan, melainkan karena sadar bahwa korupsi akan menghancurkannya. Bukanlah ia yang tidak bersedia menjadi seorang presiden karena tak ada partai dan dana yang cukup, melainkan karena ia bisa mengukur kadar kepantasan dirinya. Manusia puasa ialah Muhammad yang dengan santunnya “menolak” tawaran Tuhan untuk menjadikannya Raja dan meng-emas-kan bukit Uhud untuknya, meskipun semua syarat dan kepantasan ada pada pribadi beliau yang agung.

Dan ujian terakhir bagi pelaku puasa justru adalah di penghujung Ramadhan, ketika atmosfir Lebaran melambaikan lambaian tangannya dari pasar-pasar, mal-mal, plaza-plaza. Ketika wangi memabukkan suasana Lebaran berhembus dari iklan dan reklame.

27 ramadhan 1429 H





Junun (2)

16 10 2008

Di atas meja di depanku masih ada terhidang kue dan panganan kecil sisa Lebaran kemarin. Sambil ringan mengunyahnya, di layar televisi dan di hamparan koran masing-masing berurutan menampilkan krisis keuangan global yang diramalkan bisa memicu krisis ekonomi, krisis kepercayaan dimana-mana dari kepercayaan pasar sampai kepercayaan suami istri. Krisis moral yang kian parah. Semuanya saling bergantian tampil di panggung televisi dan media.

Dan aku tetap tenang mengunyah panganan kecil sisa lebaran kemarin.

Tiba-tiba saja ada suara menggelegar, kue kecil dan panganan berserakan, televisi menggigil dan koran menciut nyalinya menjadi seonggok sampah.

“Sialan,” umpatku dalam hati. “Pasti dia lagi”.

“Krisis, krisis dan krisis lagi,” begitu suara itu menggelegar. Dan kemudian dilanjutkan dengan tertawanya yang keras. Suara tertawa inilah yang menerbangkan kue dan panganan kecil itu, membuat televisi menggigil dan koran menciut menjadi seonggok sampah.

“Tidakkah kau lihat betapa sangat disiplinnya Tuhan? Setelah kau diperkenankan untuk mengikuti pelatihan sebulan penuh bernama Ramadhan, Dia mempersilahkanmu untuk mengikuti ujiannya. Krisis ‘alaa krisis, krisis demi krisis, krisis murakkab, diijinkanNya datang menyapamu untuk menguji apa yang kau dapat selama pelatihan sebulan penuh bernama Ramadhan itu”

Sambil berkata demikian, Junun dengan lahapnya menghirup semua udara, dan menyisakanku sesak nafas saja.

“Kau telah ber-idul fitri. Telah saling mendoakan taqabbalallahu minna wa minkum, minal ‘aidin wal faizin. Telah saling memohon maaf dan meminta ridha. Maka sama sekali tak layak kau ketakutan oleh hal-hal yang sebenarnya tak pantas kau takuti. Ke-fitri-anmu telah meniadakan segalanya, sehingga Tuhan menjadi jelas bagimu. Bahwa Ia yang hanya pantas kau takuti, pantas kau bergantung. Bukan yang lain!,” sembur Junun laksana Bung Tomo di 10 November 1945.

Dan sambil mengeplak ndhasku dengan kupluk bututnya itu, dia pergi entah kemana dengan menyisakan gaung,”kecuali kau selama sebulan penuh kemarin hanya bermain-main saja”





Junun (1)

24 09 2008

Jujur, sebenarnya tidurku tak nyenyak malam itu. Pre-installed program di otakku yang sebenarnya berkata aku harus tidur.

Dan ia tiba-tiba datang, si Junun itu. Besar badannya bagai Bima menghalangi sinar rembulan sampai ke wajahku, serak dalam suaranya menghunjam laksana jangkar di tengah samudera.
Sehingga belum sempat ia bersuara, kedatangannya saja sangat menyakitkan. Seolah-olah setiap kedatangannya disertai aji-aji kedigadayaan. Kedatangannya membuat bintang gemintang memilih menyembunyikan diri, arakan awan dan mendung pergi entah kemana, dan hanya meninggalkan rembulan pucat yang menggigil sendirian.

“Bukalah matamu. Matamu !!. Ya, matamu itu! Lihatlah kenyataan di sekelilingmu, pembalakan liar, penambangan liar, kasus-kasus korupsi, pembunuhan, penculikan, nuklir Iran, perang Iraq, Afghanistan, Irlandia Utara, Pakistan. Afalaa tatafakkarun? Afalaa yatadabbaruun? Tidakkah kamu berfikir? Tidakkah kamu renungkan? Tak kau gunakan itu matamu !!! Pantas saja kalau Tuhan mengijinkan 21 orang tewas terinjak-injak pada pembagian zakat itu, tepat di depan matamu !!!”

“Tidakkah kau lihat bahwa semua kenyataan itu bermuara pada satu hal, bahwa jelas-jelas bahwa manusia begitu tak bisa menahan diri? Butuh berapa banyak lagi korban?”

Bagai banjir bandang, kata-kata si Junun ini deras membanjir tak tertahankan

“Bukankah ini Ramadhan? Bukankah ini “alamat” dari puasa? Apa karena Tuhan berkata bahwa ibdaha puasa khusus untukNya, lalu kau pikir bisa sesukamu memperlakukan puasa? Lantas kau anggap kau tak perlu memetik mutiara puasa, karena toh ibadah puasa untuk Tuhan? Besar kepala-mu tak tertanggungkan lagi! Kau berlapar-dahaga sambil cengengesan mengubur kesucian makna puasa!”

Si Junun kumat!. Ia sudah tak terbendung lagi. Sialnya, semakin ia kumat semakin pucat rembulan, dan aku terjungkal lagi.

“Kau! Kau memang pantas bersyukur tidak ada diantara kerumunan orang-orang itu. Aku berani jamin bahwa kau tidak akan pernah ada disana. Kepandaian otakmu tak memerlukanmu untuk berdesak-desakan disana. Penghasilanmu tak kan membuatmu terlempar ke kolam keringat dan keluh kesah mereka. Kesibukanmu memberikan upeti buat pemilik proyek, menyisihkan uangmu untuk koleksi gadget, membeli baju lebaran, memuaskan lidahmu untuk hidangan berbuka dan sahur. Itu semua aku jamin tak akan memberikan waktu dan kesempatan bagimu untuk menjadi pak Haji yang membagikan zakatnya itu. Kau telah bersekolah tinggi, sehingga kau menjadi pandai dan mampu mengelola kehidupan secara lebih rasional. Sedang mereka itu! Dalam kekalutan hidupnya, mereka lari ke kuburan, kau tuduh syirik dalam ceramah-ceramahmu. Mereka pergi ke dukun, kau tuduh murtad! Dan salahkah kalau mereka pergi ke pembagian zakat itu? Setelah mereka datang kepadamu dan tak mendapatkan apa-apa kecuali ceramah-ceramah dan khotbah-khotbah?”

Sialan! Kurang ajar betul si Junun ini. Tak bisakah ia lihat aku sudah menggigil dan gemetaran? Tak punya perasaan dia! Celanaku sudah basah pula!

“Tadarrus !!! tadarrus ! Iqra’! Khatamkan tadarrus kehidupanmu sendiri! Kehidupanmu sendiri! Pandanglah kisah hidupmu, lihatlah bagaimana apa yang kau punya saat ini kau dapatkan! Ejalah catatan hidupmu, bagaimana engkau menggusur, membongkar, menindas, mendhalimi tidak hanya orang lain melainkan dirimu sendiri!. Kalau kau beruntung, kelak kau akan bertanya,”Kenapa aku ternyata sedemikian tidak mampu menahan diri?” Tadarrus!”

“Jangan kau gede rumongso hanya kau yang puasa. Ketika Allah mengatakan ibadah puasa khusus untukNya, Allah sudah melakukannya. Beliau sudah sejak lama berpuasa menahan diri!!! Dengan dosa-dosamu yang sedemikian bertumpuk -baik dosa individual maupun dosa sosialmu, tak pantaskah kalau sejak dulu Allah murka dan menghancurkanmu laksana bukit di hadapan Musa ketika Musa khalwat di bukit Katrina (Jabal Catherine)? Tidak! Allah tetap memperkenankanmu menghirup udaraNya, meminum airNya. Mengizinkanmu tertawa-tawa cengengesan –seolah-olah Ia menutup mripatNya pada tingkah polahmu yang begitu maling, begitu munafik dan begitu kufur?”

Setelah kalimatnya yang terakhir itu, nafasnya tersengal-sengal menemani nafasku yang sedari tadi sudah tersengal-sengal. Aku jadi berfikir, siapakah yang sebenarnya lebih pantas menyandang “junun” ini sehingga disebut “majnun”. Ia atau aku?

“Nun,”ujarku sambil tetap tersengal-sengal. “Maaf. Tak adakah peluang untukku …!”

Dan banjir bandang terus saja menerjang. Dan rembulan pucat masih terus menggigil. Sendirian.

(24 ramadhan 1429)