Wajah Kemanusiaan (1)

27 12 2008

Damn, harus bangun pagi lagi. Bahkan harus lebih pagi dari biasanya. Hari ini bakal ada site visit dari pihak lembaga donor ke proyek yang sedang aku supervisi. So, pagi itu di kantor, langsung samber form mobil, mengisinya, dan langsung berangkat ke site. Tapi dasar “a truly ignorant”, sepanjang sisa hari itu, malah seneng aja bawaanku. This is the last day of my assignment, akhirnya kontrakku abis juga dan bisa cari lagi new place, new environment, meet new people. Can’t wait to end this day soon. Up till now, aku gak pernah nemuin jawaban kenapa aku gak bisa seperti yang lain, betah di satu kerjaan, menerima saja perpanjangan kontrak, kenaikan salary atau assignment baru. Samar namun berat kuakui, bahwa kemungkinan besar karena aku terlalu penakut dan pengecut.

Huff, at last. The dusk comes, embracing the silence of the night. It is always hard to say goodbye, and I hate it so much. Terima kasih untuk Nanggroe Aceh Darussalam, for letting me be there for an unknown reason. I just felt I had to go there, somehow, somewhat. And this is it, the end.

Sampai di Cengkareng, nungguin lagi pesawat ke Surabaya. Plus delay lagi (once my friend said,”makanya kalo mau naek angkutan, pake taksi jangan angkot, biar gak delay”. Miss you, dear … ). Dari jam 4 sore sampai jam 8 malem bukan waktu yang singkat, hanya karena delay. Untunglah, “ditemani” cangkrukan dengan personil Kiai Kanjeng yang baru dateng dr Abu Dhabi dan mau nerusin perjalanan ke Yogya di Cengkareng, cukup “membayar” delay pesawat itu. “Oleh-oleh” cerita dari perjalanan KiaiKanjeng di Belanda dan Uni Emirat Arab, mungkin lain kali saja aku ceritakan. Akhirnya, sampai juga di Surabaya jam 10 malem, go straight ke Bungurasih. Huff, rupanya delay menjadi sahabatku kali ini. Bis ke Madura yang biasanya 24 jam, eh … malem itu tidak ada sama sekali. Padahal penumpangnya lumayan juga untuk hitungan hari-hari biasa (bukan saat “toron” bagi orang Madura).

2 jam menunggu bus di sebuah terminal bus adalah sebuah klangenan tersendiri setelah 2 tahun menghabiskan waktu di Aceh. Teriakan kasar para makelar penumpang, yang mencari penumpang. Seret sana seret sini, teriak sana teriak sini, lontaran-lontaran khas Jawa Timur-an. Mohon maaf- jangkrik, juancuk, nggathel … menjadi amat sangat ngangeni. Ini jam 12 malem, dan begitu hidup suasana di terminal ini. Duh Gusti, bagaimana mungkin aku tak mensyukuri keberadaanku tengah malam disini, ditawan kelelahan fisik akibat perjalanan panjang.

Oh Allah, sekeras inikah hidup itu? Begitu susahkah menjadi manusia?

Lihatlah para sopir itu, keneknya, makelar yang berteriak-teriak mengalahkan suara para muazzin. Lihatlah malam itu, yang bukannya “peak hour” untuk transportasi. Kalau pasar penumpang sedang sepi seperti ini, para sopir, kernet dan para makelar itu dengan sopan merunduk-runduk mempersilahkan kita para calon penumpang untuk memilih bus yang disukai. Untuk jurusan Surabaya-Kalianget, silahkan naik meski hanya “numpang” sebentar sampai di Bangkalan. Dan di saat yang sama, mereka siap berkelahi setiap saat dengan sesama sopir, kernet dan makelar untuk mempertahankan penumpangnya. Dan sebaliknya, kalau penumpang sedang ramai-ramainya, mereka menjadi sejeli dan seteliti para auditor proyek. Jangan sampai ada calon penumpang yang lolos ke atas bus padahal tujuannya hanya “numpang” sampai Kamal atau bahkan Bangkalan. Kecuali kalau dia adik istri sendiri, boleh lah.

Lihatlah para pengamen yang masih memaksakan diri memainkan dawai gitarnya di tengah malam itu, sementara suaranya sendiri sudah tidak begitu jelas apakah bariton ataukah maraton. Maklum, sudah seharian suara itu dilepaskan ke udara bersama asap knalpot bus kota yang warnanya seringkali adalah jelaga dosaku jua. Saksikanlah para pedagang asongan yang barang dagangannya telah “sukses” laku terjual 5 biji sejak pagi tadi. Padahal harga satu dagangannya adalah 2000 rupiah. Atau juga ibu itu, yang setia menunggui gorengannya yang menggigil malam itu di belakang knalpot bus-bus yang antri.

Di tengah semuanya, sebuah kerinduan datang menghampiri dalam senyap. Sebuah kerinduan menyaksikan misalnya Tung Desem Waringin, Ary Ginanjar Agustian, Mario Teguh, dan sahabat-sahabat motivatorku datang kesini dan menyapa saudara-saudaraku di terminal ini. Sebab aku sendiri di sini adalah sampah, yang lemah, penakut, pengecut, dan tak memiliki secuilpun keberanian untuk sekedar tersenyum. Apalagi memberi motivasi. Aku menjadi tak ada artinya. Menjadi telanjang malam itu di emperan pool bus ke Madura di Bungurasih.

Malam itu, di terminal itu, tak terlihat satuan manusia dalam artian universal, kecuali hanya segelintir tegur sapa dan tawa keras dimana para penghuninya tetap berusaha bertahan hidup sebagai manusia di tengah “hukum terminal” yang seringkali meng a-manusia-kan.

Akan semakin jelas terasa ketika bus dengan tujuan yang sama, sopirnya ngebut tancap gas saling mendahului seolah-olah jalan di depannya adalah shirathal mustaqim, jalan yang lempang dan aman. Sebab bagi mereka, deretan calon penumpang yang mengalir ke dalam terminal dan yang sedang menunggu bus sepanjang perjalanan adalah deretan angka-angka rupiah (untuk membeli mimpi, mungkin?). Mungkin mirip denganku yang melihat proyek sebagai deretan angka-angka mata uang, sehingga tak pernah ada kata cukup untuk terus-terusan memasukkan penawaran dan mendapatkan proyek.

Tak usah marah. Jadi sopir, kernet, makelar penumpang, pengamen, asongan sudah amat sangat susah. Apalagi menjadi manusia !!! Mungkin sah-sah saja aku merasa lebih bersih dan suci karena tak perlu sampai berkelahi seperti para makelar yang berebut penumpang, atau bahkan menancapkan sebilah pisau sesama asongan hanya karena ada penumpang yang lebih memilih membeli barang dagangan kawannya yang hanya berselisih harga 200 rupiah saja.

Begitulah kalau manusia musti bersaing. Begitulah kalau manusia adalah makhluk kompetitif, dan menjadi pemenang dan harus lebih baik dari manusia lainnya. Mustinya persaingan bebas hanya boleh terjadi antar mahasiswa teladan, pedagang, olahragawan, atau kuda. Jangan manusia.

Sopir mengkalkulasi dan menjadi estimator atas jumlah setoran hari itu. Maka penumpang adalah tingkat-tingkat penawaran. Sopir mengatur berapa km/jam sampai Pelabuhan Ujung, dan seberapa cepat antara Bangkalan dan Sampang. Berapa yang harus disediakan untuk kas negara yang sudah siap di beberapa tikungan tertentu. Apakah hari ini bisa memenuhi janji tadi pagi untuk membayar uang sekolah anaknya. Itulah sopir.

Sedangkan manusia, bernyanyi sunyi mendendangkan kata-kata penuh keterharuan: kebersamaan, toleransi, tolong-menolong, kebaikan hati, tenggang rasa …

Itu baru sopir. Belum lagi kalau kita jadi teroris, anggota mafia atau yakuza. Kita sering di fet a kompli untuk bertindak tak manusiawi di tengah pertentangan-pertentangan nilai sejarah. Karena kepepet, terpaksa maling ayam atau jemuran pakaian atau apa saja sekenanya. Jangankan yang terpaksa, yang tak terpaksa saja pun korupsi.

Tidak, aku tidak sedang mengajak untuk terpojok dan murung kemudian melihat dunia ini sebagai sebuah jelaga yang hitam legam, kelabu dan busuk baunya. Justru di terminal seperti ini, segalanya terasa begitu manusiawi. Keterhimpitan, keterpaksaan, kelemahan, ke-apabolehbuat-an, perkelahian, kecurigaan, kecemasan, keterburuan, kebingungan, mabuk dan kepasrahan.

Mohon maaf kepada sahabat-sahabatku di terminal itu, aku benar-benar tidak sedang menjadikan keadaan buruk itu sebagai sebuah ‘reason to excuse’. Justru keindahan yang ingin kutangkap malam itu. Aku menatap kalian, sahabat, saling tersenyum, berkelakar, bersenda gurau, tertawa berkepanjangan, sesekali menyumpah –justru dalam sebuah situasi paradoksal –yang menurutku, mustahil untuk selalu kuat tersenyum.

Mungkin sebabnya adalah karena kemanusiaan manusia tak pernah bisa sungguh-sungguh hilang.





meulaboh to takengon

15 09 2008

Nanggroe Aceh Darussalam, berdasarkan geografisnya -menurutku, terbagi menjadi 3 bagian besar. Yakni Aceh pesisir utara/timur, Aceh Tengah, dan Aceh pesisir barat/selatan. Pesisir Utara/Timur membentang mulai dari Banda Aceh sampai Aceh Tamiang. Pesisir Barat/Selatan membentang mulai dari Aceh Jaya hingga Aceh Singkil. Dan Aceh Tengah membentang di punggung bukit barisan dari Aceh Tengah hingga Aceh Tenggara. Kemudian ada dua pulau yang memiliki wilayah administratif sendiri, yakni Pulau Weh dan Pulau Simeulue. Secara umum, suku bangsa yang hidup di NAD adalah Suku Aceh yang tersebar hampir di seluruh wilayah Aceh. Kemudian ada Suku Gayo dan Suku Alas di Aceh Tengah. Ada suku Tamiang di Aceh Tamiang. Ada suku Kluet, Aneuk Jamee, dan suku Singkil di pesisir barat/selatan. Dan suku Simeulue di pulau Simeulue.

Kali ini, aku berkesempatan ke kota Takengon, ibukota Kab. Aceh Tengah yang terletak di tepian Danau Lut Tawar, sebuah danau bekas kawah vulkanik di punggung bukit barisan. Karena waktu yang tersedia sangat sedikit, terpaksa berangkat pada Jumat malam. Setelah shalat maghrib, aku dan dua orang temenku berangkat dari Meulaboh (ibukota Kab. Aceh Barat). Jalan menuju Takengon dari Meulaboh adalah lewat Kabupataen Nagan Raya. Namun di simpang tiga Jeuram, lurus saja. Kalau ke kanan, ke arah Balng Pidie. Saat itu musim hujan. Awalnya langit cukup cerah, namun setelah melewati jembatan Krueng Isep (batas perkampungan terakhir), mendung mulai menutupi langit. Dan satu jam kemudian, hujan pun turun. Sekedar informasi, perjalanan dari pesisir barat Aceh ini (Meulaboh) ke Takengon adalah perjalanan naik ke bukit barisan. Jadi, kondisi jalannya selain menanjak, juga berkelok-kelok. Jadi, dengan motor sebagian besar hanya bisa bermain di gigi 1 dan gigi 2. Antara Krueng Isep dengan puncak Singgah Mata (puncak tertinggi antara Meulaboh-Takengon), jalanan sudah beraspal mulus, namun perlu ekstra hati-hati sebab di samping kalau tidak jurang, adalah tebing tinggi yang sebenarnya mungkin rawan longsor. Bahkan, menjelang Singgah Mata, jalanan aspal hampir seluruhnya tertutup oleh kerikil dan tanah dari longsoran tebing di sampingnya. Perjalanan dukup lambat, sebab di samping hujan, kabut juga turun menemani perjalanan kali ini. Dengan lampu motor yang masih baru pun, jarak pandang terbatas hanya sampai 10-20 meter. Di Singgah Mata sempat istirahat sejenak, kemudian meneruskan lagi perjalanan menuju Beutong Ateuh. Dari informasi yang didapat sebelumnya, kondisi jalan antara Singgah Mata dan Beutong Ateuh ini masih berupa tanah dan makadam, jadi harus lebih hati-hati. Ditambah lagi, kata orang lokal, jalur ini masih sering jadi perlintasan hewan liar di hutan Leuser ini. Gajah, beruang dan harimau sumatera masih sering terlihat di jalur ini. Maka pesan masyarakat  lokal, jangan pernah berhenti di jalur sejauh ± 15 km ini, apapun yang terjadi. Wah!


Selain belum beraspal, kondisi jalan juga menurun tajam dengan belokan-belokan yang tak terduga. Akhirnya, dengan mengerahkan keterampilan crosser, sampai juga di Beutong Ateuh jam 1 malem. Sekedar informasi, kalau pernah membaca Tempo / Gatra tentang pelanggaran HAM 1999 terhadap pesantren Tgk. Bantakiah oleh TNI, di Beutong Ateuh inilah tempatnya. Beutong Ateuh ini sendiri hanya sebuah desa dengan 4 dusun di tepi sebuah sungai besar. Dulu, Beutong Ateuh terkenal dengan daun surga-nya. Dari Beutong Ateuh pun, perjalanan diteruskan menuju Takengon. Kondisi jalan dari Beutong Ateuh hingga ke Takengon pada umummnya sudah beraspal bagus. Namun, ada beberapa titik dimana jalanan menyempit dan belum beraspal.

Akhirnya, dengan sekali tersesat (ditambah tidak ada orang yang bisa ditanya), sampai juga di Takengon pada jam 4 pagi. Di pintu masuk menuju Takengon ini, sempat ada pemeriksaan oleh polisi yang bersenjata lengkap. Setelah tahu kami baru melewati Beutong Ateuh, kami pun akhirnya “dilucuti”. Sebab, image Beutong Ateuh sebagai ladang ganja yang kualitas dan harganya cukup baik masih belum sepenuhnya hilang. Hasilnya, kami sukses menggigil jam 4 pagi di pintu masuk Takengon.

Sejenak kebingungan karena belum tahu jalan, akhirnya kami bersyukur karena kebaikan hati seorang teman yang “mengutus” adiknya untuk mengajak kami menginap di rumahnya. Setelah berbasa-basi sejenak dengan tuan rumah, kami sempatkan sebentar untuk istirahat. Setelah istirahat sekitar 3 jam, pagi itupun kami teruskan dengan mencoba berkeliling danau lut tawar. Asumsi awal kami, dengan waktu yang terbatas, maka hari Sabtu harus bisa kami manfaatkan dengan baik untuk menjelajahi Takengon dengan asumsi setengah hari berkeliling danau lut tawar, dan setengah hari berikutnya, menjelajahi Kota Takengon. Namun, Danau Lut Tawar rupanya sangat luas. Waktu setengah hari ternyata hanya benar-benar bisa cukup untuk berkeliling di tepian danau. Tidak ada waktu untuk berhenti dan menikmati panorama, apalagi untuk naik perahu menjelajahi danaunya sendiri. Kami hanya berhenti cukup lama untuk shalat dhuhur di mushalla di daerah Bintang.

 

Dalam pengamatan singkat, banyak keindahan yang ditawarkan oleh Danau Lut Tawar. Ada beberapa penginapan di tepi danau, seperti Hotel Rengganis. Selain keindahan panorama alamnya, kondisi sosial budaya masyarakat setempat, yang umumnya suku Gayo, sangat ramah dan menyenangkan. Inilah sebuah permata di pedalaman Nanggroe Aceh Darussalam. Setidaknya, butuh waktu minimal dua hari untuk bisa benar-benar menikmati keindahan Danau Lut Tawar ini. Dari kondisi morfologisnya secara umum, pasti menyenangkan melihat matahari terbit dari balik pengunungan. Kalau boleh mencari persamaan, mungkin sunrise disini mirip dengan sunrise di Ranu Kumbolo (Semeru). Namun, pasti akan lebih bagus disini, dengan danaunya yang mungkin 10 kali lebih luas dari Ranu Kumbolo. Danau Lut Tawar ini dikelilingi oleh beberapa perbukitan hampir di seluruh tepiannya, yang di beberapa titik, tebingnya seperti menyampaikan tantangan abadi untuk dipanjat. Danau ini adalah bekas kawah vulkanik yang terbentuk entah berapa juta tahun yang lalu, sama morfologisnya dengan Danau Toba. Dan danau ini benar-benar menjadi nyawa bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.

 


Kami kembali ke Takengon tepat jam 4 sore. Setelah makan siang dan shalat ashar, oleh keluarga tuan rumah yang sangat baik, kami diajak naik ke salah satu bukit di sisi kanan kota Takengon, untuk menikmati Kota Takengon dari atas. Sangat indah, benar-benar Tuhan sangat murah hati menganugerahi Indonesia dengan keindahan semacam ini. Dari bukit (yang kami semua tidak tahu namanya) ini, Kota Takengon tepat di hadapan kami, sedang Danau Lut Tawar ada di sisi kanan yang terhalang oleh punggung bukit. Dari sini, aku kira sunsetnya sangat bagus. Matahari yang berpamitan turun ke balik pegunungan akan mewarnai Kota Takengon dan Danau Lut Tawar dengan warna keemasan. Sayang, mendung cukup tebal senja itu.


Setelah shalat maghrib, kami sempatkan untuk sekedar ngobrol dengan keluarga tuan rumah. Setelah shalat isya’, kami sempatkan berkeliling Kota Takengon. Kotanya sendiri tidak terlalu besar, namun karena letaknya di daerah perbukitan, maka jalannya pun naik turun. Kota ini pada jaman penjajahan dulunya menjadi sebuah kota tempat peristirahatan bagi para perwira Belanda dan Jepang. Ini menjadikan tata kota Takengon sendiri jauh lebih baik dibandingkan dengan kota-kota lain yang ada di Aceh, setidaknya menurut pendapatku. Kotanya pun bersih dan teratur, dan memiliki kemiripan dengan Kota Sabang, mengingat keduanya sama-sama dimanfaatkan sebagai tempat peristirahatan.

Mungkin karena kelelahan, malam itu kami sukses tertidur lelap dan bangun kesiangan. Baru sekitar jam 9, kami benar-benar siap utnuk acara hari itu, hari terakhir kami di Takengon. Rencana awalnya sih, karena keterbatasan informasi, berkeliling kota dan mencoba kopi Gayo yang terkenal itu. Namun, rupanya tuan rumah kami kali ini (yang tidak ikhlas kalau kami nginap di hotel) sangat baik. Si tuan rumah ini menghadiahi kami dengan mengajak ke Pantan Terong untuk melihat Kota Takengon dan Danau Lut Tawar dari ketinggian. Jalan naik ke Pantan Terong ini cukup sempit tapi sudah teraspal dengan baik. Di sepanjang perjalanan, di sela-sela hutan hujan tropis, banyak kebun-kebun kopi yang bunga dan buahnya sudah mulai tersenyum lagi, setelah sekian lama terlantar karena konflik antara GAM dan TNI. Namun, sesampainya di Pantan terong, bukannya lansekap Kota Takengon dan Danau Lut Tawar yang terhidang, melainkan kabut dan mendung tebal yang membuat kami harus menghela nafas panjang. Pantan Terong ini sebenarnya adalah puncak salah satu bukit yang mengelilingi Kota Takengon, yang letaknya sangat strategis sebab tepat di depan terhampar Kota Takengon dan Danau Lut Tawar, sedangkan kanan kirinya terhampar kebun kopi. Mirip dengan daerah Payung di kota Batu, Malang, tempat kita biasanya menikmati kota Batu yang terhampar di bawah.


Kalau saja masih banyak waktu yang tersedia, kami akan tunggu kabut dan mendung berpamitan. Namun, rupanya kami yang harus terlebih dahulu berpamitan dari Pantan Terong. Kamipun turun untuk kembali ke Kota Takengon dan bersiap packing untuk kembali ke Meulaboh. Dan syukurlah, di tengah perjalanan turun, kabut dan mendung rupanya “mengizinkan” kami untuk mengintip keindahan lansekap Kota Takengon dan Danau Lut Tawar dari ketinggian ini. Benar-benar indah. Seharusnya kami menginap di Pantan Terong untuk menunggu sunrise, seperti halnya banyak orang yang rela menginap di Penanjakan untuk menunggu sunrise dari balik Semeru. Di tengah perjalanan, kami sempatkan untuk membeli kopi Gayo di pasar Kota Takengon.


Dan sesampai di rumah, setelah packing, kamipun berpamitan dengan tuan rumah. Terima kasih banyak, atas semuanya selama dua hari kami di Takengon. Kami harus benar-benar berterima kasih atas keramahan tuan rumah dan Kota Takengon ini.

Perjalanan kembali ke Meulaboh di siang hari rupanya menyingkapkan cadar yang menyelimuti keindahan bukit barisan ini. Sepanjang perjalanan dari Takengon ke Beutong Ateuh kami tak henti menikmati panorama alam yang dibentangkan Tuhan di ujung Sumatera ini. Begitupun dalam perjalanan dari Beutong Ateuh hingga ke Singgah Mata. Hutan hujan tropis yang masih perawan, pohon-pohon yang menjulang tinggi dengan diameter batangnya diatas 1 meter. Lumut dan anggrek di sekujur batangnya. Benar-benar sebuah anugerah. Sesampainya di Singgah Mata, kami sempatkan untuk beristirahat sebentar. Namun, rupanya kabut tebal sudah kembali menyapa kami, yang membuat jarak pandang hanya sekitar 50 meter, padahal saat itu masih jam 3 siang. Kata orang yang kami temui di Singgah Mata, jika kondisi cerah, dari Singgah Mata ini akan bisa terlihat Kota Meulaboh dan garis pantainya, serta Samudera Hindia. Bahkan, jika beruntung, jika pembiasan atmosfir bisa minimal, Kota Calang dan Blangpidie juga bisa terlihat dengan jelas. Mungkin mirip kalau kita melihat garis pantai Jawa Timur dan Pulau Madura dari puncak Gunung Welirang.


Akhirnya, kami sampai di Meulaboh sekitar jam 6 sore, dengan membawa kegembiraan dan rasa terima kasih tak terhingga. Kepada Tuhan tentunya yang telah menyediakan semua ini, untuk kita jaga dan dan kita nikmati. Juga kepada tuan rumah kami selama di Takengon.

Credits: Maiman’s family, Takengon; Mas Shuvchenko, Fadhlul





sabang (lagi)

31 08 2008

Sebenernya perjalanan ke Sabang kali ini bukan yang pertama kalinya. Mungkin sama seperti yang lain yang belum pernah ke Sabang, dialam kepalaku Sabang adalah dimana titik 0 km Indonesia dimulai. Maka, asosiasinya adalah selalu tugu 0 kilometer. Tidak salah memang. Namun, bagi yang sudah pernah ke Sabang dan benar-benar mengetahui kecantikannya, pasti akan ada keiniginan untuk kembali, setidaknya sampai puas menikmati kecantikan itu. Sebagaimana tempat lain yang lokasi geografisnya berbatasan dengan laut, maka kecantikan Sabang adalah kecantikan laut dan pesisirnya. Sabang sendiri sebenarnya adalah nama sebuah kota. Sedangkan pulaunya bernama Pulau Weh.

Untuk mencapai Sabang, yang merupakan salah satu kabupaten/kota dalam wilayah administrasi propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dari Banda Aceh harus ditempuh dengan menyeberangi laut. Ada dua jenis kapal laut yang melayani rute penyeberangan dari Banda Aceh-Sabang. Yang pertama adalah dengan kapal cepat, dan yang kedua adalah dengan ferry (atau orang disana lazim menyebutnya kapal lambat). Kedua jenis kapal ini sama-sama berangkat dari Pelabuhan Ulhee Lheue yang nampak cukup bersih dan bagus setelah tidak terlihat bentuknya dihantam tsunami 2004 silam. Sementara di Pulau Weh, pelabuhan tempat merapatnya kapal penyeberangan ini adalah Pelabuhan Balohan. Sesuai dengan namanya, kapal cepat membutuhkan waktu tempuh yang singkat, yakni antara 45 – 60 menit. Sedangkan kapal lambat membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai Pelabuhan Balohan. Keuntungan kapal lambat adalah kita bisa membawa kendaraan sendiri, sedangkan kapal cepat hanya khusus melayani penumpang saja. Apabila beruntung, kita akan bisa melihat sekelompok ikan lumba-lumba.

Sesampainya di Balohan, sudah banyak angkutan yang akan membawa ke tempat yang akan kita tuju. Untuk mencapai Kota Sabang sendiri, hanya dibutuhkan waktu 30-60 menit saja dari Pelabuhan Balohan. Kondisi kotanya sendiri ada di tepi sebuah teluk, teluk Sabang namanya. Kotanya cukup kecil, namun tertata cukup baik dan bersih. Rindangnya pepohonan besar di pinggir jalan seolah menjadi kanopi alam yang menaungi jalanan di Kota Sabang. Kota Sabang dibagi menjadi dua bagian, yakni Kota Atas dan Kota Bawah, yang sesuai namanya, satu terletak di atas dan yang satunya terletak di bawah di tepi teluk Sabang. Di Kota Sabang ini ada sebuah pantai yang disebut Paradiso. Dari sini, bisa dinikmati panorama sunset yang cukup indah.

Tujuanku kali ini adalah langsung ke Iboih. Iboih ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam perjalanan dari Kota Sabang. Iboih sendiri terletak antara Kota Sabang dan tugu 0 km itu. Kondisi jalanannya sendiri cukup menanjak, mirip kondisi jalan ke Ranupane (Semeru) atau ke Penanjakan (Bromo). Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi hutan tropis di sebelah kiri dan lautan lepas di sisi sebelah kanan. Di tengah jalan menuju Iboih ini, ada sebuah area yang disebut tanjakan monyet. Disebut tanjakan monyet karena di sepanjang tanjakan ini adalah habitat bagi spesies monyet. Usahakan mencari pisang untuk makan monyet-monyet ini. Sebelum sampai di Iboih, kita melewati dulu kawasan pantai Gapang. Gapang ini adalah sebuah kawasan resort yang sudah lebih tertata dibandingkan dengan Iboih. Penginapan dan tempat makan di Gapang juga lebih lengkap dari Iboih. Letaknya juga pas di pinggir jalan menuju 0 km. Dengan tarif sekitar 250rb, kita sudah bisa mendapatkan cottage yang cukup bagus dan bersih dengan kamar mandi di dalam dan dua bed. Tentunya, banyak juga kamar yang tarifnya lebih murah dari cottage tersebut. Posisi penginapan dan cottage di Gapang ini terletak tepat di pantai, karena morfologi pantai di Gapang cukup landai.

Berbeda dengan Iboih. Iboih terletak agak jauh dari jalan utama Sabang-0 km. Lebih terisolasi daripada Gapang dan baru berkembang beberapa tahun belakangan ini. Iboih ini terletak di teluk dan garis pantai yang sama dengan Gapang. Namun, morfologi pantai di Iboih adalah berupa bukit terjal. Jadi, penginapan di Iboih pada umumnya terletak di lereng perbukitan ini. Dan cottage yang aku tempati selama kunjungan kali ini adalah Iboih Inn. Dari gerbang masuk kawasan Iboih, aku berjalan kaki sekitar 300 m dengan melalui track yang sudah ada. Lumayan buat pemanasan. Cottage di Iboih Inn juga bersih dan bagus, 2 bed dengan kamar mandi di dalam. Cottage ini bisa disewa dengan tarif 250rb, termasuk breakfast. Di cottage ini juga ada cafe yang bernama Camoe Restaurant. Juga menyewakan alat-alat snorkelling. Posisinya yang strategis sangat tepat sebagai untuk kontemplasi dan meredakan diri dari rutinitas. Kondisi terumbu karang di depan Iboih Inn cukup bagus dengan beragam jenis ikan karang. Sekitar 100 meter di depan Iboih ini ada sebuah pulau, Rubiah, yang terkenal dengan taman lautnya. Dengan tinggal di Iboih Inn, kita bisa memanjakan diri dengan snorkelling di daerah depan penginapan sendiri. Atau kalau mau, kita bisa berenang menyeberang ke Pulau Rubiah. Kondisi terumbu karang dan ikan-ikan di sepanjang pesisir Pulau Rubiah sangat menakjubkan. Kedalamannya yang cukup dangkal adalah sebuah berkah sekaligus bencana. Berkah karena dengan snorkelling sudah bisa melaihat dengan jelas terumbu karang dan ikan-ikan yang ada. Bencana karena kita harus sigap bermanuver menghindari terumbu karangnya. Selain dikhawatirkan merusak terumbu karangnya, kita juga bisa terluka. Seperti yang aku alami, hehehe. Beberapa jenis ikan yang aku temui selama snorkelling disini antara lain, angelfish (dori), lionfish, lobster, clownfish (nemo),. Ada juga cumi-cumi tutul dan ular laut. Sedangkan untuk terumbu karangnya, khususnya yang di Pulau Rubiah, adalah laksana taman Jepang/Cina yang ada di bawah laut. It is real breathtaking. Airnya yang bening menyebabkan tingkat vsisbilitas di tempat ini cukup bagus, bahkan bisa mencapai 20 m. That is why I plan to find an underwater housing for my camera … hehehe

Dengan kondisi seperti itu, tentu daerah ini juga menjadi surga bagi pecinta scuba diving. Di Iboih, sepanjang aku tahu, hanya ada satu operator diving. Sedangkan di Gapang, ada tiga operator diving.

Oh iya, jalan ke Iboih dan Gapang sudah jauh lebih baik kondisinya daripada 3 tahun lalu.

Kali ini, aku berkesempatan menyusuri lagi perjalanan 3 tahun yang lalu. Aku juga kembali ke daerah pesisir timur Pulau Weh. Kali ini ke Sumur Tiga, Benteng Jepang, dan Anoi Itam. Ketiga tempat ini sebenarnya masih satu garis pantai. Morfologi Sumur Tiga adalah pantai berpasir putih yang lembut dan landai yang bentangannya cukup panjang. Benteng Jepang dan Anoi Itam terletak berdampingan. Benteng Jepang adalah bangunan tua bekas benteng tentara Jepang pada masa penjajahan. Letaknya yang diatas tebing, cukup strategis untuk mengamati lautan lepas Selat Malaka. Sedangkan Anoi Itam adalah pantai berpasir, yang meskipun tidak seputih dan selembut Sumur Tiga menawarkan pemandangan yang cukup bagus. Anoi Itam sendiri bermakna Pasir Hitam. Dari kondisi pantai dan airnya, aku menduga kalau agak ke tengah, kondisi terumbu karangnya masih bagus. Namun, minimnya informasi dan tidak adanya orang yang snorkel dan diving disini membuatku berfikir dua kali untuk mencoba hehehe. Daerah pesisir timur Pulau Weh ini letaknya cukup dekat dengan Kota Sabang. Jadi, dengan menginap di Kota Sabang, kita bisa berkeliling pesisir timur Pulau Weh ini.

pelabuhan balohan

iboih inn

beranda kamarku

pagi di depan kamarku

bintang laut dan seekor angelfish (bening aernya bikin ketagihan nyebur) – di depan kamar nih

seekor cumi-cumi yang mampir pagi itu (aernya bening kali) – di depan kamar nih

kamarku

camoe restaurant

sumur tiga

anoi itam





Pesona Madura dari Udara

14 08 2008
dari Kompas

Foto dan Naskah :
Kompas / Iwan setiyawan

Madura selama ini telah dikenal dengan pesona budaya dan masyarakatnya. Mulai karapan sapi, berbagai jenis tarian dan musik tradisional, bekas-bekas kerajaan di Sumenep, dan sebutan sebagai pulau penghasil garam.

Wilayahnya yang menghadap langsung ke Laut Jawa menjadikan sebagian penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Hamparan puluhan pulau di ujung timur dan utara Pulau Madura menjadikan wilayah ini juga kaya pesona alam dan keragaman budaya oleh akulturasi budaya dari pelaut-pelaut tradisional yang menyinggahinya.

Pesona geografis Pulau Madura dan pulau-pulau di sekitarnya juga menarik jika dinikmati dari udara. Dari dalam pesawat nomad dari Skuadron Udara 800 Intai Taktis Wing Udara Komando Armatim, pesona tersebut dapat terekam jelas.

Pesawat yang biasa digunakan untuk tugas rutin patroli maritim TNI AL atau membantu SAR laut diterbangkan oleh pilot Kapten Laut (P) M Ramdhan dan kopilot Letda Indra Kurniawan. Karena terbang dengan kecepatan rata-rata 100 knot, ketinggian antara 50-200 feet, serta manuver patroli, membutuhkan ketahanan fisik dan mental untuk bisa menikmati penerbangan. Semua ketegangan terbayar sudah oleh keindahan pesona alam laksana karya seni tak ternilai.

Hamparan pantai di pesisir utara Pulau Madura, bentangan tanah berwarna merah di Pulau Puteran, dan petak-petak sawah pascapanen bagaikan lembaran permadani yang tergelar. Hamparan tambak garam seolah menguatkan sebutan Madura sebagai pulau garam. Deretan perahu-perahu nelayan dan dermaga yang menjorok ke laut menghiasi pesisir selatan Pulau Madura.

Puluhan pulau yang tersebar di sekitar Pulau Madura juga memiliki pesona tersendiri. Dari pulau-pulau yang besar seperti Kangean dan Sapudi hingga pulau-pulau kecil tanpa penghuni. Masih banyak pesona keindahan alamnya yang belum diungkap dan dimanfaatkan. Sungguh suatu potensi besar yang terabaikan di tengah kemiskinan yang masih melanda sebagian besar penduduknya.

Foto & teks : Iwan setiyawan





Kepulauan Masalembu

14 08 2008

from Kendari Pos

Kabupaten Selayar merupakan salah satu Kabupaten diantara 24 Kabupaten/Kota di Propinsi Sulawesi Selatan yang letaknya di Ujung Selatan dan memanjang dari Utara ke Selatan. Daerah ini memiliki kekhususan, yakni satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Selatan yang seluruh wilayahnya terpisah dari daratan Sulawesi Selatan dan lebih dari itu wilayah Kabupaten Selayar terdiri dari gugusan beberapa pulau sehingga merupakan wilayah kepulauan.

Kepulauan Masalembu adalah salah satu wilayah Ke camatan di Kabupaten Sumenep letaknya disebelah utara pulau Madura

Penduduk Pulau Masalembu merupakan campuran berbagai etnis, termasuk Suku Madura dan Suku Bugis. Di Pulau Masalembu terdapat fasilitas pendidikan hingga tingkat SLTA.

Secara ekologis-geografis, Pulau Masalembu terletak pada posisi lintang : 5 derajat 31 menit ? 5 derajat 35 menit LS. Dengan posisi ini, secara geografis kedudukan Pulau Masalembu mendekati posisi ekuatorial (garis khatulistiwa) dengan ciri-ciri lingkungan yang spesifik, yaitu mempunyai daya tampung yang sangat tinggi terhadap struktur biodiversitas habitat, seperti terumbu karang, mangrove, telu, pesisir litoral, rumput algae/seaweed dan daerah umbalan (upwelling area) yang menjadi penopang sumberdaya ikan dan non ikan dengan nilai ekonomis yang tinggi.

Lebih lanjut, dalam profil pesisir dan pulau-pulau kecil yang diterbitkan Departemen Kelautan dan Perikanan disebutkan, secara administratif Pulau Masalembu termasuk dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Masalembu ? Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Posisi Pulau Masalembu berada di bagian utara wilayah Kabupaten Sumenep dikelilingi oleh perairan (laut bebas), berjarak sekitar 112 mil dari Pelabuhan Kalianget (Sumenep Daratan). Kondisi ini menyebabkan Pulau Masalembu langsung berbatasan dengan perairan bebas (laut lepas).

Di bagian utara pulau Masalembu terdapat pulau Masakambing dan pulau Keramaian. Pulau Masakambing berjarak sekitar 10 mil dari arah utara pulau Masalembu. Luas wilayah pulau Masakambing adalah sekitar 3,18 km2 dihuni satu desa (desa Masakambing) dengan jumlah penduduk pada tahun 2000 mencapai 1.268 jiwa penduduk. Adapun pulau Keramaian berjarak sekitar 29 mil dari arah utara pulau Masalembu, mempunyai luas wilayah sekitar 9,79 km2 dan dihuni oleh satu desa, yaitu Desa Keramaian dengan jumlah penduduk pada tahun 2000 mencapai 3.287 jiwa.

Untuk menjangkau pulau Masalembu dapat ditempuh dari pelabuhan Kalianget (Sumenep Daratan) dengan menggunakan kapal perintis selama 12-13 jam (pada kondisi perairan laut tenang/normal atau tidak ada badai) yang melayani pelayaran dari dan menuju pulau Masalembu setiap 5 (lima) hari sekali. Selain itu, dapat pulau ditempuh dari Surabaya dengan menggunakankapal perintis dengan waktu tempuh sekitar 16-17 jam. Sarana transportasi laut merupakan urat nadi perekonomian masyarakat pulau Masalembu yang penting, terutama dalam kaitannya dengan akivitas arus lalu lintas barang dan penumpang. Dengan frekuensi pelayaran kapal perintis 5 hari sekali dinilai sebagaian besar masyarakat pulau Masalembu sudah mencukupi dan berharap pelayanan pelayaran kapal perintis ini dapat dipertahankan atau lebih ditingkatkan lagi.

Tinjauan posisi geografis pulau Masalembu yang mendekati garis khatulistiwa ke arah selatan, emberi ciri (karakteristik) pada pola iklim setempat yang cenderung kering (curah hujan rata-rata per tahun kurang dari 2000 mm/tahun).

Jumlah bulan basah (curah hujan lebih dari 200 mm per bulan) terdapat 3 bulan, yaitu pada bulan Desember, Januari dan Februari. Jumlah bulan lembab (curah hujan 100 ? 200 mm per bulan) tercatat sebanyak 5 bulan, yaitu pada bulan Oktober, November, Maret, April dan Mei. Sedangkan bulan kering (curah hujan kurang dari 100 mm per bulan) tercatat sebanyak 4 bulan, yaitu pada bulan uni, Juli, Agustus dan September.

Ketersediaan air tawar di tingkat lokal (dalam jumlah, kualitas dan penyebarannya) bagi penduduk di kawasan pesisir pulau-pulau kecil, seperti halnya di pulau Masalembu merupakan kebutuhan pokok dan memegang peranan penting dalam menunjang aktivitas domestik (rumah tangga) dan kegiatan sosial-ekonomi penduduknya.

Salah satu cara untuk mengetahui potensi air tawar (sumber air bersih) di pulau kecil adalah dengan melihat sumber air tawar yang digunakan penduduk sehari-hari, mengukur kedalaman sumur penduduk, melihat kualitas (sifat fisik dan kimia contoh air sumur penduduk) serta menanyakan ada tidaknya gangguan kesehatan yang dialami penduduk sebagai akibat dari mengkonsumsi air sumur (air tawar) penduduk, serta catatan lain berkenaan dengan kondisi air bersih yang mereka gunakan sehari-hari.

Pulau Masalembu mempunyai potensi air tanah yang relatif sedang hingga besar, yag diketemukan pada lapisan breksi dengan matriks kasar pada aliran lava atau pada daerah rekahan. Hampir seluruh penduduk pulau Masalembu yang berjumlah lebih dari 15 ribu jiwa, menggunakan sumur timba sebagai sumber air tawar (air bersih) bagi kegiatan MCK dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Ada sebagian kecil (sekitar 5%) penduduk pulau Masalembu yang memanfaatkan mesin pompa listrik (di tingkat local biasa disebut “sanyo”) untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya, terutama ada kelompok masyarakat yang tergolong mampu (berkecukupan) dan memiliki tenaga listrik (diesel) sendiri.

Kedalaman sumur penduduk bervariasi dari 5 m s/d 13 m. Di bagian selatan pulau Masalembu, seperti di Kp. Raas dan Kp. Baru kedalaman sumur penduduknya rata-rata kurang dari 10 m, sedangkan di bagian utara pulau Masalembu (Kp. Mandar) kedalaman sumurnya rata-rata berkisar dari 7 ? 13 m. Berdasarkan informasi penduduk ketersediaan air tawar dinilai mencukupi, artinya sumur penduduk pada musim kemarau masih belum kering, meskipun jumlahnya tidak sebesar pada musim penghujan. Disamping menggunakan air sumur, pada musim penghujan ada sebagian kecil penduduk pulau Masalembu juga ada yang memanfaatkan air hujan dengan cara menampung pada drum-drum kosong atau bak.

Selain itu, penduduk pulau Masalembu menginformasikan tidak ada gangguan kesehatan yang disebabkan oleh penggunaan air sumur. Namun demikian, pada beberapa daerah, (terutama di bagian timur dan barat P. Masalembu) diindikasikan adanya intrusi air laut yang menyebabkan beberapa sumur penduduk yang berjarak kurang dari 50 m dari garis pantai, rasanya terawa basa (payau), terutama pada musim kemarau.

Data pola penggunaan lahan saat ini (present land use) di wilayah pulau Masalembu dapat dikemukakakn bahwa sebagian besar areal di wilayah (daratan) pulau Masalembu didominasi oleh penggunaan lahan untuk ladang dan kebun campuran dengan cakupan areal sekitar 78,12%. Bentuk penggunaan lahan lain yang teridentifikasi di pulau Masalembu adalah lahan tambak, lahan pekarangan dan pemukiman penduduk, areal eks pengelolaan PT. ARCO dan sarana prasarana pelabuhan Masalembu, Kantor Kecamatan Masalembu, Kantor Desa Sukajeruk, pasar, Puskesmas, kantor pelayanan TELKOM, gedung sekolah, masjid, lapangan olah raga, areal bekas landasan pesawat terbang, serta penggunaan lainnya.

Aktivitas usaha tani penduduk Desa Masalima dan Sukajeruk banyak dilakukan pada musim penghujan yang jatuh pada periode bulan Oktober s/d Maret atau hampir bersamaan dengan datangnya periode musim angin barat. Pada periode musim angin barat, umumnya ditandai oleh banyak hujan, bahkan sering disertai dengan angin kencang dan badai, sehingga sebagian besar nelayan setempat pada periode musim angin barat tersebut umumnya tidak ?melaut?, dan alokasi waktu tenaga kerja dalam keluarga (rumah tangga) banyak dicurahkan untuk berladang, memperbaiki jaring, perahu, mesin perahu atau mencri lapangan usaha baru (mencari usaha sambilan) ke Sumenep daratan dan sekitarnya.

Komoditas usahatani yang banyak diusahakan penduduk pulau Masalembu adalah bertanam jagung, ubi kayu, kacang tanah, kedelai, pisang, pepaya, mangga, kelapa dan lain sebagainya. Usaha ternak yang menjadi andalan sebagian besar petani di pulau Masalembu adalah ternak sapi. Selain itu, ada sebagian petani yang mengusahakan ternak kambing/domba dan ayam. Sapi bagi petani Masalembu adalah “tabungan” yang mempunyai nilai penting, terutama untuk kebutuhan hajatan keluarga (perkawinan, sunatan anak, dsb), biaya pengobatan serta kebutuhan yang sifatnya mendesak.

Berdasarkan pengamatan lapangan dapat ditunjukkan pula bahwa potensi lahan kritis/rusak akibat abrasi (erosi) pantai, pengambilan pasir pantai untuk bahan bangunan, pembukaan areal mangrove untuk lahan tambak, tempat pendaratan kapal atau bentuk penggunaan lainnya, diprakirakan mencapai luasan sekitar 120,0 hektar tersebar hampir merata di wilayah pesisir pulau Masalembu. Dijumpai pula hamparan lahan tambak rakyat yang terlantar akibat keterbatasan modal dan penguasaan teknologi petani tambak/nelayan setempat, yang potensial dapat berkembang menjadi lahan kritis, yang pada gilirannya dapat berkembang menjadi permasalahan lingkungan yang harus diupayakan penanganan dan penanggulangannya.

Dalam konteks alokasi ruang dan pengembangan wilayah, di wilayah pulau Masalembu belum tersedia rencana penataan ruang yang dirumuskan dalam kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau-Pulau Kecil. Ketiadaan rencana penataan ruang yang jelas dan tegas ini menyebabkan aktivitas pemanfaatan sumber daya alam di kawasan pesisir dan perairan (laut) kurang memperhatikan aspek konservasi dan kelestarian lingkungan. Hal ini dicerminkan oleh aktivitas penambangan pasir pantai untuk bahan bangunan, pengambilan batu karang untuk pondasi bangunan, pembukaan areal mangrove untuk lahan tambak, pemukiman, pendaratan kapal dan kebutuhan lainnya, serta kegiatan penangkapan ikan dan biota laut lainnya dengan cara merusak lingkungan (penggunaan bom dan racun potassium).

DIKELILINGI LAUT JAWA

Wilayah pulau Masalembo dikelilingi perairan laut jawa sehingga pantainya berhadapan langsung dengan laut. Daerah perairan Masalembu didominasi oleh daerah karang yang banyak mengalami kerusakan akibat pengambilan batu karang (terumbu karang massive) untuk pondasi bangunan dan keperluan lainnya, serta penggunaan bom dan racun potassium dalam penangkapan ikan dan biota laut lainnya yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Kerusakan pada ekosistem terumbu karang ini dinilai mempunyai korelasi yang erat dengan laju abrasi (erosi pantai) yang terjadi di pesisir pulau Masalembu, terutama di pesisir bagian timur dan barat pulau Masalembu.

Dilihat dari posisi sumberdaya kelautan, jenis ikan yang banyak dihasilkan oleh nelayan di kepulauan Masalembu adalah jenis-jenis ikan pelagis (permukaan) seperti ikan layang (Decapterus russeli) dan ikan tongkol (Euthynnus sp). Jenis-jenis ikan pelagis lain yang pernah ditangkap nelayan Masalembu antara lain tengiri (Scomberomorus), kembung (Ratrelliger spp), lemuru (Sardinella longiceps), tembang (Sardinella fimbriata), selar (Selaroides spp), Cakalang (Katsuwonus pelamis), Japuh (Dussmeiria spp), layur (Trichiusrus spp) dan bawal hitam (Pampus argenteus). Selain ikan pelagis, perairan Masalembu juga mempunyai potensi jenis ikan karang (demersal) seperti peperek (Leiognathidae), bambangan (Lutjanus spp), bawal putih (Sphyraena spp), kakap (Lates calcarifer), kerapu (Ephinephelus spp), cucut (Carchahinidae), manyung (Tachysurus spp), belanak (Cypselurus spp), ekor kuning (Caesio spp) dan Tigawaja (Sciaenidae), juga cumi-cumi, rajungan (Portunus spp), kepiting (Scylla serrata), udang barong (Panulirus spp), udang windu (Paneus monodon) dan teripang.

Alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan Masalembu adalah jaring payang, gillnet dan pancing tonda. Sementara itu, armada yang banyak digunakan nelayan Masalembu adalah perahu mesin berkapasitas 2-4 GT dengan mesin perahu berkekuatan 12-16 PK. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir ini (1995 – 2000), alat tangkap jenis payang dan pancing menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. Pada tahun 1995 jaring payang di Masalembu teridentifikasi sebanyak 274 unit, kemudian meningkat menjadi 376 pada tahun 2000. Alat tangkap pancing pada tahun 1995 teridentifikasi sebanyak 2.060 unit, kemudian meningkat menjadi 9.622 unit pada tahun 2000. Armada perahu pun menunjukkan kecenderungan yang bertambah untuk kurun waktu yang sama. Jika pada tahun 1995 tercatat sebanyak 959 unit, maka jumlah perahu di perairan Masalembu tercatat sebanyk 1.098 unit.

Selain ikan pelagis, wilayah perairan Masalembu juga dihuni oleh berbagai jenis ikan karang (demersal), diantaranya yang potensial diusahakan nelayan setempat adalah ikan peperek (petek), bambangan, anyung, kakap merah, kerapu, kurisi, tigawaja dan belanak. Kondisi tersebut bagian yang berkarang dengan kedalaman 40 ? 60 meter. Potensi budidaya yang dapat dikembangkan di perairan Masalembu adalah usaha tambak (tambak udang atau bandeng, juga garam) dan usaha budidaya (pembesaran) kan kerapu dan lobster, serta budidaya rumput laut.

Aadapun usaha tambak rakyat yang terdapat di wilayah pesisir pulau Masalembu adalah tambak payau dengan jenis ikan yang dominan diusahakan adalah ikan mujair, udang, bandeng, dan usaha tambak garam dengan luas keseluruhan diprakirakan sekitar 6-8 hektar tersebar terutama di bagian utara pesisir pulau Masalembu.

Kondisi ekosistem terumbu karang di perairan Masalembu telah mengalami kerusakan dari tingkat rendah sampai sangat berat. Ekosistem terumbu karang di perairan Masalembu yang tergolong masih cukup baik diprakirakan kurang dari 25%.

Keadaan ini terutama disebabkan oleh masih berlangsungnya praktek pengeboman dan penggunaan racun potassium dalam penangkapan ikan-ikan karang serta pencemaran lingkungan perairan laut oleh sampah dan limbah oli dan ceceran minyak dari kapal-kapal yang beroperasi di perairan Masalembu. Wilayah penyebaran ekosistem terumbu karang yang mengalami kerusakan cukup berat sampai berat, terutama terdapat di perairan bagi selatan (dekat Kp. Raas), perairan bagian bara daya (dekat Kp. Baru), perairan bagian timur (dekat Kp. Labusada) dan perairan bagian utara (sekitar perairan eks kompleks PT. ARCO).

Terumbu karang di lokasi ini tergolong sedang yang dicirikan oleh nilai LCC (Living Coral Cover/Penutupan Karang Hidup) antara 22% s/d 45%. Kematian alami. Ini terlihat dari dominasi kerapatan tutupan dasar oleh subtrat/sedimen keras, dan tidak tampak adanya penggalian atau lobangan terumbu. Berdasarkan hasil temuan jenisnya, maka akan terlihat bahwa terdapat korelasi antara tutupan karang hidup dengan jumlah jenis yang ditemukan. Namun demikian pada tiap-tiap lokasi masih menunjukkan tingginya dominasi jenis-jenis tertentu terutama adalah Porites dan Acropora. Secara keseluruhan berdasarkan nilai indeks keanekaragaman yang ditemukan yaitu <2, sehingga berdasarkan kriteria Stoddart (1985) kondisi demikian memberikan indikasi terumbu karang yang ada kurang produktif.

Produktivitas perairan memberikan gambaran mengenai kemampuan biota untuk dapat melakukan aktivitas hidupnya. Kajian terhadap produktivitas perairan dapat didekati dengan mengkaji profil beberapa biota laut, terutama plankton, benthos dan nekton. Untuk menduga tingkat kesuburan (produktivitas) perairan laut dapat didekati dengan melakukan analisis fisika, kimia dan biologi perairan yang bersangkutan. Pendugaan kesuburan perairan dengan pendekatan ini akan lebih akurat bila diikuti dengan pengamatan langsung (visual) kondisi perairan di lapangan, terutama untuk mendukung hasil analisis parameter biologi perairan.

Bagi lingkungan perairan, phytoplankton merupakan faktor biologi yang mempunyai peranan sangat besar. Peran tersebut tidak saja berkaitan dengan fungsinya sebagai strata dasar dari perilaku makan di perairan tetapi juga mempunyai peran terhadap perubahan lingkungan. Oleh peran tersebut, maka organisme ini kerapkali dapat dipergunakan sebagai bio indikator terhadap kualitas lingkungan. Keistimewaan ini juga tidak lepas dari perilaku organisme ini sendiri yang cenderung tidak mampu bergerak atau mempunyai gerakan yang sangat lemah, sehingga perubahan lingkungan sangat mempengaruhi hidup dan perkembangbiakannya.

Strata kedua dari dasar dalam hirarki kehidupan akuatik adalah zooplankton. Kelompok ini dapat hidup selamanya sebagai plankton, juga dapat berkembang selanjutnya baik ukuran maupun perilakunya sebagai organisme non planktonik. Zooplankton yang ditemukan di perairan Masalembu antara lain adalah dari kelompok Cipepoda yang lebih menonjol keberadaannya dibandingkan dengan kelompok lain.