Hoping for a nonviolence movement in Palestine (Jakarta Post)

19 01 2009

Achmad Munjid ,  Philadelphia   |  Sun, 01/18/2009 12:40 PM  |  Opinion

Since I was a small child, I have been taught that the powerless party
always deserves “affirmative action” in any unbalanced conflict before
a true resolution can be settled. As a Muslim who now lives in the
West, I keep trying very hard to understand why the mainstream West
always assumes that the much more powerful Israel is the “good guy”,
while the powerless Palestinian is the “bad guy” in the Palestinian
crisis.

Is it compensation by the West for their “guilty feeling” over the
Holocaust? Is it more about the power of Jewish money? Is it related to
skin-color? How are we to understand that 200 “home-made” rockets sent
by Hamas to Israel during the first week of the crisis deserve more
attention as a proof of terrorism than over 700 lives, mostly
Palestinian civilians, who were taken by sophisticated Israeli weapons
in the same week?

Many of my fellow Muslims and I have never agreed with Hamas who
perceives every single Jew as the villain and whose blood is halal
(permissible by God) to shed. We also disagree with some Muslims,
including Hamas and Iranian President Mahmoud Ahmadinejad, who want to
wipe Israel from the map. A true “two-state” solution is the most
reasonable option.

Moreover, I completely understand that any attack on the Jews should
remind all of us of the Holocaust as the most horrible crime against
humanity. Everyone should work to prevent that from happening again in
our history, not only to the Jews but also to every human being. And
surely, let us acknowledge that since 1948 the Palestinians have been
suffering from a deep wound as a displaced and dispossessed people for
a crime that neither they nor their ancestors have committed against
the Jews.  

However, in this satanic circle of violence, arguments for justified
killings by either side or why some people should support one party or
the other are both endless and useless, if not creating an even larger
crisis. Clearly, the situation in Gaza today is much more complicated.

The temptation to continue to use weapons on both sides is terribly
strong, either in the name of self-defense, justice, dignity, revenge
or even God. I have no capacity whatsoever to tell them what is the
right thing to do. For over 60 years, the use of weapons by the
Palestinians has only provided justification for the Israelis to kill
more and to grab more land.

If the Palestinians ceased using weapons, if Arab leaders and the
Muslim world in general could help Hamas and other radical groups to
stop the shooting, then Israel’s justification to kill would cease to
exist.

Let friends of the Israeli tell the same story. Only when Israel as the
more powerful group with many privileges stops using weapons, will
those Muslim radicals, including Hamas that was initially created by
Israel,  have no legitimacy and lose Palestinian support.  Israel
should stop calling Hamas “terrorist” and the Palestinians should stop
thinking of Israel as the “evil people” by definition. Both sides
should agree that the other can change substantially and that they can
change their perception of each other. They can talk and work together
to make peace. 

While every possible step for peacemaking should be taken by leaders
around the world, we — common global citizens — should share the
responsibility. Beside the various efforts that have been made thus
far, from prayer to humanitarian efforts, we Muslims especially need to
react more properly and strategically and let others do the same. So
far, many Muslims around the world have reacted in ways that increase
the violence. Yes, we have been sharing our responsibility through
prayers, fundraising, press releases, discussions, protests, art works
and news exchanges.

However, most actions are shaped within the framework of “justification argument”.  

For example, in Indonesia, the largest Muslim country and where I
come from, Muslim protesters shut down the only synagogue there last
week based on the assumption that there is an automatic connection
between Israel, Judaism and the Jews. Some Indonesian Muslim groups,
such as the Islamic Defender Front, (FPI) are even ready to send
untrained voluntary troops to Gaza to fight back.

Instead of helping the crisis, these kinds of reaction only spill
out and magnify the waves of hate, vengeance and atrocity from Gaza
globally. With Gaza as the epicenter of violence, many Muslims around
the world position themselves with the Palestinians. They identify
themselves as the oppressed Palestinian who is looking for the “evil
Israeli” and their friends to fight.

Whoever identifies as “the other” is the “Israel” and thus the enemy.

Condemnation of the massacre and helping the victims in whatever form
are very important. It is also equally important for Muslim leaders
around the world to present the Gaza crisis not primarily as a conflict
between “us” Muslims against “them” Jews.  Both the Israeli government
and Hamas deserve condemnation and both sides are responsible for the
increasing number of casualties, many of whom are children, women and
the elderly.

We need to speak and act not as a particular national or religious
group, but as an inter-religious global community. Instead of
suspecting every Jew and Christian around us, we Muslims outside of
Palestine need to collaborate with each and every morally concerned
individual — Muslim, Jew, Christian, black, white, color, female, male
and others — to take care of the victims and work effectively for the
same purpose: Peace.

By working together, not only can we isolate the Gaza violence mainly
around its epicenter, but we can also send our greater sympathy,
support and hope by pushing the message of peace from our side.

The writer is President of Nahdlatul Ulama Community in North
America and a PhD candidate in Religious Studies at Temple University,
Philadelphia.





Makhluk Dari Planet Mana Israel Ini?

16 01 2009

Oleh Emha Ainun Nadjib

Makhluk dari mana Israel ini, adigang adigung adiguna, boleh melakukan apa saja, pembunuhan massal, penggusuran besar-besaran, pemberangusan dan pemusnahan atas umat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, kapan saja dia mau, tanpa sanksi yang memadai dari pihak manapun di muka bumi.
Nama kelompok kebangsaannya disebut paling banyak di Alquran, bahkan dipakai sebagai nama Surah. Beberapa identifikator sejarah penciptaan oleh Tuhan menyimpulkan yang disebut ‘’Dajjal’’, perusak dunia kelas wahid, berasal dari suku Yahudi ini dan berambut keriting. Tapi orang tidak benar-benar berani mengutuknya karena mereka keturunan Nabi Besar yang amat kita takdzimi, yakni Ibrahim AS, entah dari beliau Ismail atau Ishaq. Dan kemah ajaran beliau, millah Ibrahim, adalah induk segala ajaran, teologi monotheisme, nama beliau kita sebut pada rakaat salat kita semulia kekasih Allah, Muhammad SAW junjungan kita semua.
Mayoritas aset moneter global dan segala jenis modal perekonomian, bank dunia dan institusi-institusi keuangan primer dunia dipegang oleh turunan beliau dan strategi pengelolaannya sampai ke Kongres Amerika Serikat berada di genggaman turunan yang lain dari beliau juga. Sejumlah futurolog ekonomi menganjurkan anak-anak kecil sekarang mulailah diajari berbahasa Arab karena akan menjadi bahasa utama dunia: pergilah cari kerja ke Negeri koalisi 16 Pangeran di Jazirah Arab. Bahasa Ibrani tak perlu dipelajari, karena para fungsionaris dari Israel mungkin lebih pandai berbahasa Arab dibanding Raja Saudi dan lebih mlipis berbahasa Indonesia dibanding orang Indonesia.
*
Anda tidak akan paham menemukan peta Indonesia Raya dijadikan center display di sebuah web Israel dan Amerika Serikat. Juga agak miris melihat tanda warna merah pada daerah tertentu dari Nusantara. Di Belanda, November 2008 saya ngobrol panjang dengan pemimpin Yahudi internasional Rabi Awraham Suttendorp yang sangat mengenal Indonesia lebih detail dari kebanyakan orang Indonesia sendiri, sebagaimana di kantor Perdana Menteri Israel Anda bisa dolan ke sana dan melirik ruangan khusus yang berisi segala macam data tentang Indonesia segala bidang yang di-update setiap pekan.
Israel juga punya situs berbahasa Indonesia. Kepada Rabi saya tanyakan kenapa disain tengah atas atau puncak mahkota keagamaan yang beliau pakai memimpin peribadatan di Synagoge sama dengan disain bagian atas rumah-rumah Pulau Jawa bagian utara. Kenapa ibukota Israel tidak Tel Aviv saja tapi Java Tel Aviv. Kenapa kantor-kantor Yahudi di berbagai negara pakai kata Java. Apa pula hubungan dua konsonan yang sama itu: J dan W. Jewish dan Jawa. Mana yang lebih tua: Jewish atau Jawa. Kalau Sampeyan keturunan Nabi Ibrahim, apakah nenek moyang kami manusia Nusantara yang seluruhnya berpuluh abad yang lalu disebut Jawa atau Jawi adalah ‘’keponakan’’-nya Ibrahim ataukah lebih tua dari Ibrahim.
Dari dunia Jawa dimunculkan sedikit informasi bahwa beberapa waktu yang akan datang akan terjadi hasil ‘’taruhan’’ antara Yahudi (Jewish) dengan Jawa (bukan Jawa non-Sunda non-Batak dalam pengertian 100 tahun terakhir): Kalau Yahudi yang memenangkan persaingan memimpin dunia, maka mereka akan ajak Jawa menjadi rekanan kerja. Kalau Jawa yang ‘’juara’’ mereka akan berguru kepada Jawa.
Apa-apaan itu? Dari bidang ilmu dan teknologi diberitakan bahwa revolusi invensi atau penemuan-penemuan baru akan mengubah geo-ekonomi, geo-politik dan kebudayaan dunia dari Cina, Brazil, Jepang dan Indonesia.
Bangsa Indonesia memasuki 2009 sebagai ‘’orang lugu’’ dan tidak perduli pada dirinya sendiri karena habis waktu dan enerjinya untuk urusan kotak suara. Padahal sejumlah makhluk Tuhan di luar manusia yang ditugasi menemani pertumbuhan peradaban ummat manusia sudah menyiapkan dibukanya sejumlah penemuan di bidang telekomunikasi, energi dan pertanian.
Sengaja saya tuturkan kepada sidang pembaca hal-hal yang ‘’tidak-tidak’’. Nanti kita akan sampai ke yang lebih ‘’tidak-tidak’’ lagi: Lemorian, banjir Nuh, Parikesit, terciptanya pulau-pulau Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dst. Dan akan saya sambung pada tulisan berikutnya pekan depan.
Tapi kita jangan bilang tidak masuk akal dulu sebelum kita bisa menjawab seberapa masuk akal kelakuan Israel sekarang ini: Dengan lancar dan mulus-mulus saja menghajar Palestina di depan rumah saudara-saudaranya sendiri sesama bangsa Arab, di depan hidung PBB.
Berdasarkan sejumlah ‘’khayalan’’ saya di atas, ucapkan: ‘’Ayo, Israel! Kalau berani jangan hanya berantem sama anak kemarin sore. Datang ke Indonesia, sini kamu, carok kita!’’.

(Sumber : Riau Pos, 09 Januari 2009)





… memoar tsunami

26 12 2008


Izinkan kuhaturkan rangkaian bunga ini saudaraku
Di tiga tahun setelah kepergianmu

Tiga tahun setelah tsunami, kepergianmu
Kata dan janji ditabur
Membanjiri keseharian
Janji membangunkan rumah
Janji membuatkan jembatan
Janji memperbaiki sekolah
Janji melicinkan jalanan
Janji untuk bertaubat
Janji untuk berubah dari kufur menjadi syukur
Janji untuk berubah dari serakah menjadi qanaah
Janji untuk kembali menjadi hamba Tuhan, setelah sekian lama menjadi hamba uang
Janji untuk ilaihi raji’un
Janji untuk inna liLlahi

Janji yang dihamburkan di hadapan air laut hitam bernama tsunami
Janji yang dipersaksikan guncangan gempa

Namun, saudaraku …
Tsunami janji-janji
Banjir kata-kata
Hingga detik ini, saudaraku
Masih saja membanjiri hari-hari
Menggenangi rawa menjadi kubangan
Yang kian busuk saja baunya

Sepulang menziarahimu, saudaraku
Aku terus merapal mantra
Tiga tahun yang lalu
Tiga tahun yang lalu
Tiga tahun yang lalu
Tiga tahun yang
Lalu … ?

(meulaboh; 30.12.07 … rewrite 26.12.08)





Bunda

22 12 2008
Sang senja dengan anggunnya menurunkan tirai jingganya menyapu cakrawala. Lalu perlahan wajah mentari berbinar cerah turut menghias senja.
Sosok yang bersahaja -yang di wajahnya ribuan peristiwa telah diurainya, di getar nadinya kisah kehidupan telah diejanya- itupun membuka penutup kendi dan mulai mengalirkan air bening -sebening cermin hatinya, sesuci kasih cintanya- pada telapak tangan, berkumur, mengusap hidung, wajah, tangan, sebagian rambut, telinga, kakinya, serta seluruh kekhilafan yang menghiasi kesehariannya. Hingga lunturlah semua noda bersama diturunkannya tirai senja. Sosok damai itupun membungkus dirinya dengan kafan, dan terbanglah ruhnya mi’raj mendaki titian langit, tinggalkan deru perang batin, mencandai kemesraan dan kerinduan yang mengharu biru. Seribu satu keluh kesah yang ditabungnya sejak pagi tadi, pun terlepas lugas teradu pada Sang Maha Pembuka hingga terangkat seluruh beban yang seharian mampir di pundak yang renta namun harum mewangi aromanya. Pun setelah bermesraan dengan Sang Kekasih Sejatinya, tangan yang terbalut kerja keras menyalakan lentera minyaknya yang apinya meliuk mesra mengikuti alunan irama hembusan angin berayun seolah melantunkan dzikir abadi. Dan sejurus kemudian, diiringi dengan tersenyumnya bintang gemintang, jemari yang beranjak keriput lincah menari memintal benang dan mulai merajut harapan dan doa tentang esok hari. Diselipkannya pula satu-satu, asa dan rasa syukur tak terhingga ke dalam sanubari buah hatinya demi memaknai kehidupan layaknya yang dijalaninya.
Hanya dengan satu pengharapan dan keinginan agar penglihatannya -yang mulai kabur, perih dan memerah- sempat menyaksikan sang buah hati tertempa laksana Dzulfiqar menebas keangkuhan diri yang membayangi setiap langkah manusia.

“Wahai anakku, merahnya mata ini dan mata air air matanya telah menyalakan segenap doaku untukmu. Bersucilah … lalu kenakanlah rajutan harapan yang bunda pintal dari benang-benang perjalanan melintasi ruang mengarungi waktu. Senantiasalah engkau bersyukur, sebab kehidupan ini adalah mensyukuri apa yang diberikanNya. Apa yang telah Dia berikan untukmu, selalu dan terus saja lebih dari apa yang kau minta. Kala engkau rasa asamu terhuyung di ujung terjalnya tebing, tetaplah bersyukur, dan cukuplah engkau berbahagia dengan tatapanNya.”

demikianlah bisikan lirih hati sang ibunda sembari ditatapnya paras lugu sang buah hati yang sedang tertidur lelap memeluk bantal dingin pinggiran masa, sesaat sebelum nyala lentera minyak beranjak meredup tergantikan sinar lembut mesra sang purnama yang saling bersahutan kilaunya dengan cahya gemintang di kubah angkasaNya.

Dan sepintas lalu, seuntai senyum tulus menghiasi bibir sang buah hati yang mengigau lirih,” Terima Kasih, Bunda.”

( 21.03.99 ; rewrite on 22.12.08 )





ketakutan

22 11 2008

sebuah ketakutan terbesar yang akhir-akhir ini selalu menghantui aku adalah kalau apa yang sedang aku jalani adalah bukan kehendakNya, bukan mauNya. aku sangat ingin untuk tak ingin. ingin kubaringkan keinginanku di altar persembahan Ibrahim tatkala membaringkan cintanya pada Ismail di altar cinta Tuhan.
sebab jika semua karena inginku, aku tak punya apa-apa untuk menghidupinya.
dan jika semua ini karena inginku, aku tak punya kekuatan apa-apa untuk memanggulnya.

(ingin) kuserahkan semua hanya pada inginNya, sebab jika Ia yang menginginkan, dipinjamkannya pula kekuatan memanggulnya dan diamanahkannya cahaya untuk menghidupinya.
…. 

sungguh aku takut kalau ini hanya inginku,
inginMu … hanya inginMu …

( dzulhijjah )