… memoar tsunami

26 12 2008


Izinkan kuhaturkan rangkaian bunga ini saudaraku
Di tiga tahun setelah kepergianmu

Tiga tahun setelah tsunami, kepergianmu
Kata dan janji ditabur
Membanjiri keseharian
Janji membangunkan rumah
Janji membuatkan jembatan
Janji memperbaiki sekolah
Janji melicinkan jalanan
Janji untuk bertaubat
Janji untuk berubah dari kufur menjadi syukur
Janji untuk berubah dari serakah menjadi qanaah
Janji untuk kembali menjadi hamba Tuhan, setelah sekian lama menjadi hamba uang
Janji untuk ilaihi raji’un
Janji untuk inna liLlahi

Janji yang dihamburkan di hadapan air laut hitam bernama tsunami
Janji yang dipersaksikan guncangan gempa

Namun, saudaraku …
Tsunami janji-janji
Banjir kata-kata
Hingga detik ini, saudaraku
Masih saja membanjiri hari-hari
Menggenangi rawa menjadi kubangan
Yang kian busuk saja baunya

Sepulang menziarahimu, saudaraku
Aku terus merapal mantra
Tiga tahun yang lalu
Tiga tahun yang lalu
Tiga tahun yang lalu
Tiga tahun yang
Lalu … ?

(meulaboh; 30.12.07 … rewrite 26.12.08)





Bunda

22 12 2008
Sang senja dengan anggunnya menurunkan tirai jingganya menyapu cakrawala. Lalu perlahan wajah mentari berbinar cerah turut menghias senja.
Sosok yang bersahaja -yang di wajahnya ribuan peristiwa telah diurainya, di getar nadinya kisah kehidupan telah diejanya- itupun membuka penutup kendi dan mulai mengalirkan air bening -sebening cermin hatinya, sesuci kasih cintanya- pada telapak tangan, berkumur, mengusap hidung, wajah, tangan, sebagian rambut, telinga, kakinya, serta seluruh kekhilafan yang menghiasi kesehariannya. Hingga lunturlah semua noda bersama diturunkannya tirai senja. Sosok damai itupun membungkus dirinya dengan kafan, dan terbanglah ruhnya mi’raj mendaki titian langit, tinggalkan deru perang batin, mencandai kemesraan dan kerinduan yang mengharu biru. Seribu satu keluh kesah yang ditabungnya sejak pagi tadi, pun terlepas lugas teradu pada Sang Maha Pembuka hingga terangkat seluruh beban yang seharian mampir di pundak yang renta namun harum mewangi aromanya. Pun setelah bermesraan dengan Sang Kekasih Sejatinya, tangan yang terbalut kerja keras menyalakan lentera minyaknya yang apinya meliuk mesra mengikuti alunan irama hembusan angin berayun seolah melantunkan dzikir abadi. Dan sejurus kemudian, diiringi dengan tersenyumnya bintang gemintang, jemari yang beranjak keriput lincah menari memintal benang dan mulai merajut harapan dan doa tentang esok hari. Diselipkannya pula satu-satu, asa dan rasa syukur tak terhingga ke dalam sanubari buah hatinya demi memaknai kehidupan layaknya yang dijalaninya.
Hanya dengan satu pengharapan dan keinginan agar penglihatannya -yang mulai kabur, perih dan memerah- sempat menyaksikan sang buah hati tertempa laksana Dzulfiqar menebas keangkuhan diri yang membayangi setiap langkah manusia.

“Wahai anakku, merahnya mata ini dan mata air air matanya telah menyalakan segenap doaku untukmu. Bersucilah … lalu kenakanlah rajutan harapan yang bunda pintal dari benang-benang perjalanan melintasi ruang mengarungi waktu. Senantiasalah engkau bersyukur, sebab kehidupan ini adalah mensyukuri apa yang diberikanNya. Apa yang telah Dia berikan untukmu, selalu dan terus saja lebih dari apa yang kau minta. Kala engkau rasa asamu terhuyung di ujung terjalnya tebing, tetaplah bersyukur, dan cukuplah engkau berbahagia dengan tatapanNya.”

demikianlah bisikan lirih hati sang ibunda sembari ditatapnya paras lugu sang buah hati yang sedang tertidur lelap memeluk bantal dingin pinggiran masa, sesaat sebelum nyala lentera minyak beranjak meredup tergantikan sinar lembut mesra sang purnama yang saling bersahutan kilaunya dengan cahya gemintang di kubah angkasaNya.

Dan sepintas lalu, seuntai senyum tulus menghiasi bibir sang buah hati yang mengigau lirih,” Terima Kasih, Bunda.”

( 21.03.99 ; rewrite on 22.12.08 )





air mata lahar

22 11 2008


ketika aku titipkan bait sajak para pengangguran
pengangguran … yang termangu meraba nasib
kuselipkan diantara desau angin
maka angin pun …
menjelma puting beliung

ketika aku titipkan baris puisi para petani
petani … yang menjadi budak di sawahnya sendiri
kuselipkan diantara gemericik air
maka air pun …
menjelma tsunami

dan saat aku bisikkan isak tangis para buruh
buruh … yang nafsunya bergemuruh
kubisikkan ke telinga bumi
maka bumi pun …
mengguncang menjelma gempa

maka berlarilah aku membawa tangisan
yang tak kutahu ia datang dari mana
kubasahi itu pangkuan gunung dengan air mata
dan gunung hanya terdiam …

air mata itu diserapnya hingga mengering

dan duh Gusti ………………………

gunung memuntahkan air mata itu …
air mata itu merah kuning warnanya …
air mata itu menjelma menjadi lahar !!!





‘idul fitri

25 10 2008

jika idul fitri kita jelang dan ramadhan kita lepaskan …

kemanakah itu larinya sregep ibadah ?
kemanakah itu perginya air mata dan sesenggukan ?
kemanakah itu kaburnya kesediaan menahan lapar dan haus ?

jika idul fitri menjelang dan ramadhan terlepas …

ke ujung mana debur tadarus tergerus ?
di sudut manakah kesabaran ngumpet ?
di koordinat yang mana kemampuan menahan diri berada ?

lalu bagian yang manakah
dari keseharian sejarah kita
yang pantas untuk kita merasa fitri ?

lalu onderdil batin sebelah mana
dari mesin ruhani kita
yang pantas untuk kita menyandang minal ‘aidin wal faizin ?

sudahkah kita fitri … jika frekuensi hubungan kita tak menemukan Allah ?
sudahkah kita fitri … jika tadarus akan hidup masih tersandung-sandung ?
sudahkah kita fitri … jika kesementaraan belum kita khatamkan ?
sudahkah kita fitri … jika belum liLlah seluruh keakuan, kekitaan kita ?
sudahkah kita fitri … jika belum mudik raji’un kita ke inna ilayhi ?

lalu izinkan ya rabb al ‘alam …
kupinjam mantra suci kekasihMu Muhammad
jadikanlah bagiku setiap bulan itu ramadhan
setiap jengkal waktuku ramadhan
setiap desah nafasku ramadhan
setiap kreteg tersunyi diamku adalah ramadhan
ramadhan kupanggul menuju cakrawala keabadian

biar kujumpai itu fitri setiap saat

(sumenep, 01 syawwal 1429 h)





senandung sang fakir

10 09 2008

duhai,
apa yang kupunya untuk mengundangMu hadir ?
bukanlah aku, ya Kekasih, yang bersayap jubah kesabaran
bukanlah aku, ya Kekasih, yang berselendang raja’ dan khauf
bukanlah aku, ya Kekasih, yang bermahkota tawaddhu’
langkahku tersandung-sandung
dan suaraku masih tersendat-sendat
sedang jiwaku …
oh Kekasih, jiwaku dihunjam rindu pendam
remuk redam

aku hanyalah seorang fakir, ya Kekasih
fakir papa tak punya apa dan siapa
bahkan juga kecerdasan
di negeri ini, ya Kekasih
kecerdasan bukanlah harta orang fakir
kecerdasan intelektual
kecerdasan emosional
kecerdasan spiritual
hanya bisa menjadi khayal

jiwaku yang dihunjam rindu pendam
masih saja terjerat kesementaraan
terhijab oleh penjara yang kubuat sendiri

aku hanyalah seorang fakir, ya Kekasih
kekayaanku satu-satunya adalah kefakiran
itupun kalau masih boleh kuakui sebagai milikku

maka apakah yang membuat seorang fakir
pantas mendekat dan berbaring di sejuk cahaya cintaMu
selain hanya berharap pada sejuk cahaya cintaMu jua

{ banda aceh | 10.09.08 }