Wajah Kemanusiaan (1)

27 12 2008

Damn, harus bangun pagi lagi. Bahkan harus lebih pagi dari biasanya. Hari ini bakal ada site visit dari pihak lembaga donor ke proyek yang sedang aku supervisi. So, pagi itu di kantor, langsung samber form mobil, mengisinya, dan langsung berangkat ke site. Tapi dasar “a truly ignorant”, sepanjang sisa hari itu, malah seneng aja bawaanku. This is the last day of my assignment, akhirnya kontrakku abis juga dan bisa cari lagi new place, new environment, meet new people. Can’t wait to end this day soon. Up till now, aku gak pernah nemuin jawaban kenapa aku gak bisa seperti yang lain, betah di satu kerjaan, menerima saja perpanjangan kontrak, kenaikan salary atau assignment baru. Samar namun berat kuakui, bahwa kemungkinan besar karena aku terlalu penakut dan pengecut.

Huff, at last. The dusk comes, embracing the silence of the night. It is always hard to say goodbye, and I hate it so much. Terima kasih untuk Nanggroe Aceh Darussalam, for letting me be there for an unknown reason. I just felt I had to go there, somehow, somewhat. And this is it, the end.

Sampai di Cengkareng, nungguin lagi pesawat ke Surabaya. Plus delay lagi (once my friend said,”makanya kalo mau naek angkutan, pake taksi jangan angkot, biar gak delay”. Miss you, dear … ). Dari jam 4 sore sampai jam 8 malem bukan waktu yang singkat, hanya karena delay. Untunglah, “ditemani” cangkrukan dengan personil Kiai Kanjeng yang baru dateng dr Abu Dhabi dan mau nerusin perjalanan ke Yogya di Cengkareng, cukup “membayar” delay pesawat itu. “Oleh-oleh” cerita dari perjalanan KiaiKanjeng di Belanda dan Uni Emirat Arab, mungkin lain kali saja aku ceritakan. Akhirnya, sampai juga di Surabaya jam 10 malem, go straight ke Bungurasih. Huff, rupanya delay menjadi sahabatku kali ini. Bis ke Madura yang biasanya 24 jam, eh … malem itu tidak ada sama sekali. Padahal penumpangnya lumayan juga untuk hitungan hari-hari biasa (bukan saat “toron” bagi orang Madura).

2 jam menunggu bus di sebuah terminal bus adalah sebuah klangenan tersendiri setelah 2 tahun menghabiskan waktu di Aceh. Teriakan kasar para makelar penumpang, yang mencari penumpang. Seret sana seret sini, teriak sana teriak sini, lontaran-lontaran khas Jawa Timur-an. Mohon maaf- jangkrik, juancuk, nggathel … menjadi amat sangat ngangeni. Ini jam 12 malem, dan begitu hidup suasana di terminal ini. Duh Gusti, bagaimana mungkin aku tak mensyukuri keberadaanku tengah malam disini, ditawan kelelahan fisik akibat perjalanan panjang.

Oh Allah, sekeras inikah hidup itu? Begitu susahkah menjadi manusia?

Lihatlah para sopir itu, keneknya, makelar yang berteriak-teriak mengalahkan suara para muazzin. Lihatlah malam itu, yang bukannya “peak hour” untuk transportasi. Kalau pasar penumpang sedang sepi seperti ini, para sopir, kernet dan para makelar itu dengan sopan merunduk-runduk mempersilahkan kita para calon penumpang untuk memilih bus yang disukai. Untuk jurusan Surabaya-Kalianget, silahkan naik meski hanya “numpang” sebentar sampai di Bangkalan. Dan di saat yang sama, mereka siap berkelahi setiap saat dengan sesama sopir, kernet dan makelar untuk mempertahankan penumpangnya. Dan sebaliknya, kalau penumpang sedang ramai-ramainya, mereka menjadi sejeli dan seteliti para auditor proyek. Jangan sampai ada calon penumpang yang lolos ke atas bus padahal tujuannya hanya “numpang” sampai Kamal atau bahkan Bangkalan. Kecuali kalau dia adik istri sendiri, boleh lah.

Lihatlah para pengamen yang masih memaksakan diri memainkan dawai gitarnya di tengah malam itu, sementara suaranya sendiri sudah tidak begitu jelas apakah bariton ataukah maraton. Maklum, sudah seharian suara itu dilepaskan ke udara bersama asap knalpot bus kota yang warnanya seringkali adalah jelaga dosaku jua. Saksikanlah para pedagang asongan yang barang dagangannya telah “sukses” laku terjual 5 biji sejak pagi tadi. Padahal harga satu dagangannya adalah 2000 rupiah. Atau juga ibu itu, yang setia menunggui gorengannya yang menggigil malam itu di belakang knalpot bus-bus yang antri.

Di tengah semuanya, sebuah kerinduan datang menghampiri dalam senyap. Sebuah kerinduan menyaksikan misalnya Tung Desem Waringin, Ary Ginanjar Agustian, Mario Teguh, dan sahabat-sahabat motivatorku datang kesini dan menyapa saudara-saudaraku di terminal ini. Sebab aku sendiri di sini adalah sampah, yang lemah, penakut, pengecut, dan tak memiliki secuilpun keberanian untuk sekedar tersenyum. Apalagi memberi motivasi. Aku menjadi tak ada artinya. Menjadi telanjang malam itu di emperan pool bus ke Madura di Bungurasih.

Malam itu, di terminal itu, tak terlihat satuan manusia dalam artian universal, kecuali hanya segelintir tegur sapa dan tawa keras dimana para penghuninya tetap berusaha bertahan hidup sebagai manusia di tengah “hukum terminal” yang seringkali meng a-manusia-kan.

Akan semakin jelas terasa ketika bus dengan tujuan yang sama, sopirnya ngebut tancap gas saling mendahului seolah-olah jalan di depannya adalah shirathal mustaqim, jalan yang lempang dan aman. Sebab bagi mereka, deretan calon penumpang yang mengalir ke dalam terminal dan yang sedang menunggu bus sepanjang perjalanan adalah deretan angka-angka rupiah (untuk membeli mimpi, mungkin?). Mungkin mirip denganku yang melihat proyek sebagai deretan angka-angka mata uang, sehingga tak pernah ada kata cukup untuk terus-terusan memasukkan penawaran dan mendapatkan proyek.

Tak usah marah. Jadi sopir, kernet, makelar penumpang, pengamen, asongan sudah amat sangat susah. Apalagi menjadi manusia !!! Mungkin sah-sah saja aku merasa lebih bersih dan suci karena tak perlu sampai berkelahi seperti para makelar yang berebut penumpang, atau bahkan menancapkan sebilah pisau sesama asongan hanya karena ada penumpang yang lebih memilih membeli barang dagangan kawannya yang hanya berselisih harga 200 rupiah saja.

Begitulah kalau manusia musti bersaing. Begitulah kalau manusia adalah makhluk kompetitif, dan menjadi pemenang dan harus lebih baik dari manusia lainnya. Mustinya persaingan bebas hanya boleh terjadi antar mahasiswa teladan, pedagang, olahragawan, atau kuda. Jangan manusia.

Sopir mengkalkulasi dan menjadi estimator atas jumlah setoran hari itu. Maka penumpang adalah tingkat-tingkat penawaran. Sopir mengatur berapa km/jam sampai Pelabuhan Ujung, dan seberapa cepat antara Bangkalan dan Sampang. Berapa yang harus disediakan untuk kas negara yang sudah siap di beberapa tikungan tertentu. Apakah hari ini bisa memenuhi janji tadi pagi untuk membayar uang sekolah anaknya. Itulah sopir.

Sedangkan manusia, bernyanyi sunyi mendendangkan kata-kata penuh keterharuan: kebersamaan, toleransi, tolong-menolong, kebaikan hati, tenggang rasa …

Itu baru sopir. Belum lagi kalau kita jadi teroris, anggota mafia atau yakuza. Kita sering di fet a kompli untuk bertindak tak manusiawi di tengah pertentangan-pertentangan nilai sejarah. Karena kepepet, terpaksa maling ayam atau jemuran pakaian atau apa saja sekenanya. Jangankan yang terpaksa, yang tak terpaksa saja pun korupsi.

Tidak, aku tidak sedang mengajak untuk terpojok dan murung kemudian melihat dunia ini sebagai sebuah jelaga yang hitam legam, kelabu dan busuk baunya. Justru di terminal seperti ini, segalanya terasa begitu manusiawi. Keterhimpitan, keterpaksaan, kelemahan, ke-apabolehbuat-an, perkelahian, kecurigaan, kecemasan, keterburuan, kebingungan, mabuk dan kepasrahan.

Mohon maaf kepada sahabat-sahabatku di terminal itu, aku benar-benar tidak sedang menjadikan keadaan buruk itu sebagai sebuah ‘reason to excuse’. Justru keindahan yang ingin kutangkap malam itu. Aku menatap kalian, sahabat, saling tersenyum, berkelakar, bersenda gurau, tertawa berkepanjangan, sesekali menyumpah –justru dalam sebuah situasi paradoksal –yang menurutku, mustahil untuk selalu kuat tersenyum.

Mungkin sebabnya adalah karena kemanusiaan manusia tak pernah bisa sungguh-sungguh hilang.





air mata lahar

22 11 2008


ketika aku titipkan bait sajak para pengangguran
pengangguran … yang termangu meraba nasib
kuselipkan diantara desau angin
maka angin pun …
menjelma puting beliung

ketika aku titipkan baris puisi para petani
petani … yang menjadi budak di sawahnya sendiri
kuselipkan diantara gemericik air
maka air pun …
menjelma tsunami

dan saat aku bisikkan isak tangis para buruh
buruh … yang nafsunya bergemuruh
kubisikkan ke telinga bumi
maka bumi pun …
mengguncang menjelma gempa

maka berlarilah aku membawa tangisan
yang tak kutahu ia datang dari mana
kubasahi itu pangkuan gunung dengan air mata
dan gunung hanya terdiam …

air mata itu diserapnya hingga mengering

dan duh Gusti ………………………

gunung memuntahkan air mata itu …
air mata itu merah kuning warnanya …
air mata itu menjelma menjadi lahar !!!





Junun (2)

16 10 2008

Di atas meja di depanku masih ada terhidang kue dan panganan kecil sisa Lebaran kemarin. Sambil ringan mengunyahnya, di layar televisi dan di hamparan koran masing-masing berurutan menampilkan krisis keuangan global yang diramalkan bisa memicu krisis ekonomi, krisis kepercayaan dimana-mana dari kepercayaan pasar sampai kepercayaan suami istri. Krisis moral yang kian parah. Semuanya saling bergantian tampil di panggung televisi dan media.

Dan aku tetap tenang mengunyah panganan kecil sisa lebaran kemarin.

Tiba-tiba saja ada suara menggelegar, kue kecil dan panganan berserakan, televisi menggigil dan koran menciut nyalinya menjadi seonggok sampah.

“Sialan,” umpatku dalam hati. “Pasti dia lagi”.

“Krisis, krisis dan krisis lagi,” begitu suara itu menggelegar. Dan kemudian dilanjutkan dengan tertawanya yang keras. Suara tertawa inilah yang menerbangkan kue dan panganan kecil itu, membuat televisi menggigil dan koran menciut menjadi seonggok sampah.

“Tidakkah kau lihat betapa sangat disiplinnya Tuhan? Setelah kau diperkenankan untuk mengikuti pelatihan sebulan penuh bernama Ramadhan, Dia mempersilahkanmu untuk mengikuti ujiannya. Krisis ‘alaa krisis, krisis demi krisis, krisis murakkab, diijinkanNya datang menyapamu untuk menguji apa yang kau dapat selama pelatihan sebulan penuh bernama Ramadhan itu”

Sambil berkata demikian, Junun dengan lahapnya menghirup semua udara, dan menyisakanku sesak nafas saja.

“Kau telah ber-idul fitri. Telah saling mendoakan taqabbalallahu minna wa minkum, minal ‘aidin wal faizin. Telah saling memohon maaf dan meminta ridha. Maka sama sekali tak layak kau ketakutan oleh hal-hal yang sebenarnya tak pantas kau takuti. Ke-fitri-anmu telah meniadakan segalanya, sehingga Tuhan menjadi jelas bagimu. Bahwa Ia yang hanya pantas kau takuti, pantas kau bergantung. Bukan yang lain!,” sembur Junun laksana Bung Tomo di 10 November 1945.

Dan sambil mengeplak ndhasku dengan kupluk bututnya itu, dia pergi entah kemana dengan menyisakan gaung,”kecuali kau selama sebulan penuh kemarin hanya bermain-main saja”





Junun (1)

24 09 2008

Jujur, sebenarnya tidurku tak nyenyak malam itu. Pre-installed program di otakku yang sebenarnya berkata aku harus tidur.

Dan ia tiba-tiba datang, si Junun itu. Besar badannya bagai Bima menghalangi sinar rembulan sampai ke wajahku, serak dalam suaranya menghunjam laksana jangkar di tengah samudera.
Sehingga belum sempat ia bersuara, kedatangannya saja sangat menyakitkan. Seolah-olah setiap kedatangannya disertai aji-aji kedigadayaan. Kedatangannya membuat bintang gemintang memilih menyembunyikan diri, arakan awan dan mendung pergi entah kemana, dan hanya meninggalkan rembulan pucat yang menggigil sendirian.

“Bukalah matamu. Matamu !!. Ya, matamu itu! Lihatlah kenyataan di sekelilingmu, pembalakan liar, penambangan liar, kasus-kasus korupsi, pembunuhan, penculikan, nuklir Iran, perang Iraq, Afghanistan, Irlandia Utara, Pakistan. Afalaa tatafakkarun? Afalaa yatadabbaruun? Tidakkah kamu berfikir? Tidakkah kamu renungkan? Tak kau gunakan itu matamu !!! Pantas saja kalau Tuhan mengijinkan 21 orang tewas terinjak-injak pada pembagian zakat itu, tepat di depan matamu !!!”

“Tidakkah kau lihat bahwa semua kenyataan itu bermuara pada satu hal, bahwa jelas-jelas bahwa manusia begitu tak bisa menahan diri? Butuh berapa banyak lagi korban?”

Bagai banjir bandang, kata-kata si Junun ini deras membanjir tak tertahankan

“Bukankah ini Ramadhan? Bukankah ini “alamat” dari puasa? Apa karena Tuhan berkata bahwa ibdaha puasa khusus untukNya, lalu kau pikir bisa sesukamu memperlakukan puasa? Lantas kau anggap kau tak perlu memetik mutiara puasa, karena toh ibadah puasa untuk Tuhan? Besar kepala-mu tak tertanggungkan lagi! Kau berlapar-dahaga sambil cengengesan mengubur kesucian makna puasa!”

Si Junun kumat!. Ia sudah tak terbendung lagi. Sialnya, semakin ia kumat semakin pucat rembulan, dan aku terjungkal lagi.

“Kau! Kau memang pantas bersyukur tidak ada diantara kerumunan orang-orang itu. Aku berani jamin bahwa kau tidak akan pernah ada disana. Kepandaian otakmu tak memerlukanmu untuk berdesak-desakan disana. Penghasilanmu tak kan membuatmu terlempar ke kolam keringat dan keluh kesah mereka. Kesibukanmu memberikan upeti buat pemilik proyek, menyisihkan uangmu untuk koleksi gadget, membeli baju lebaran, memuaskan lidahmu untuk hidangan berbuka dan sahur. Itu semua aku jamin tak akan memberikan waktu dan kesempatan bagimu untuk menjadi pak Haji yang membagikan zakatnya itu. Kau telah bersekolah tinggi, sehingga kau menjadi pandai dan mampu mengelola kehidupan secara lebih rasional. Sedang mereka itu! Dalam kekalutan hidupnya, mereka lari ke kuburan, kau tuduh syirik dalam ceramah-ceramahmu. Mereka pergi ke dukun, kau tuduh murtad! Dan salahkah kalau mereka pergi ke pembagian zakat itu? Setelah mereka datang kepadamu dan tak mendapatkan apa-apa kecuali ceramah-ceramah dan khotbah-khotbah?”

Sialan! Kurang ajar betul si Junun ini. Tak bisakah ia lihat aku sudah menggigil dan gemetaran? Tak punya perasaan dia! Celanaku sudah basah pula!

“Tadarrus !!! tadarrus ! Iqra’! Khatamkan tadarrus kehidupanmu sendiri! Kehidupanmu sendiri! Pandanglah kisah hidupmu, lihatlah bagaimana apa yang kau punya saat ini kau dapatkan! Ejalah catatan hidupmu, bagaimana engkau menggusur, membongkar, menindas, mendhalimi tidak hanya orang lain melainkan dirimu sendiri!. Kalau kau beruntung, kelak kau akan bertanya,”Kenapa aku ternyata sedemikian tidak mampu menahan diri?” Tadarrus!”

“Jangan kau gede rumongso hanya kau yang puasa. Ketika Allah mengatakan ibadah puasa khusus untukNya, Allah sudah melakukannya. Beliau sudah sejak lama berpuasa menahan diri!!! Dengan dosa-dosamu yang sedemikian bertumpuk -baik dosa individual maupun dosa sosialmu, tak pantaskah kalau sejak dulu Allah murka dan menghancurkanmu laksana bukit di hadapan Musa ketika Musa khalwat di bukit Katrina (Jabal Catherine)? Tidak! Allah tetap memperkenankanmu menghirup udaraNya, meminum airNya. Mengizinkanmu tertawa-tawa cengengesan –seolah-olah Ia menutup mripatNya pada tingkah polahmu yang begitu maling, begitu munafik dan begitu kufur?”

Setelah kalimatnya yang terakhir itu, nafasnya tersengal-sengal menemani nafasku yang sedari tadi sudah tersengal-sengal. Aku jadi berfikir, siapakah yang sebenarnya lebih pantas menyandang “junun” ini sehingga disebut “majnun”. Ia atau aku?

“Nun,”ujarku sambil tetap tersengal-sengal. “Maaf. Tak adakah peluang untukku …!”

Dan banjir bandang terus saja menerjang. Dan rembulan pucat masih terus menggigil. Sendirian.

(24 ramadhan 1429)





:kerak ramadhan

5 09 2008

:Ramadhan telah tiba

Barangsiapa yang bergembira
Dengan datangnya Ramadhan
Maka sorgalah baginya

Dan aku bergembira, benar-benar bergembira. Sebab setan dan iblis dibelenggu dan diborgol. Maka itu artinya aku lebih bebas bergerak, dan mendayagunakan semua potensiku. Sebab saingan utamaku, setan dan iblis, sedang Tuhan belenggu. Aku lebih bebas mengunyah hidup saudara-saudaraku. Aku lebih leluasa mengerjakan hobiku. Tapi, satu hal yang membuatku agak bersedih hati. Kalau setan dan iblis dibelenggu, siapa lagi yang bisa kujadikan kambing hitam?

Dan aku bergembira, benar-benar bergembira. Sebab hanya dalam bulan inilah aku bisa makan yang enak-enak. Kolak buah, es teler, gado-gado, semua terhidang lengkap di ujung senja. Inilah bulan dimana aku bisa dengan sah dan meyakinkan menghamburkan uangku untuk makanan. Tapi, satu hal yang membuatku agak bersusah hati. Kalau aku bisa makan apa saja, bagaimana nasib kolesterol dan lemak di badanku?

Dan aku bergembira, benar-benar bergembira. Sebab acara islami yang kuproduseri di media menjadi dagangan laris. Sebab di bulan ini aku sejenak tak perlu pusing memikirkan pekerjaan kantor, melainkan sibuk berfikir nanti buka dimana dan dengan siapa, atau nanti sahur dengan makanan apa.

Para tokoh agama berkata,
10 hari pertama adalah rahmat Tuhan
Maka inilah Tuhan,
Daftar permintaanku padaMu
Berilah aku rahmat
Berilah anak istriku rahmat
Berilah perusahaanku rahmat
Berilah kroni-kroniku rahmat
Kalau bisa, ya Tuhan
Mobilku tambah satu
Rumahku tambah tinggi
Sawahku tambah luas
Proyekku tambah untung
Dua tiga kali lipat dari pendapatanku bulan kemarin dong
Masa segitu saja Kau tak bisa?

Para penegak syariat berpidato,
10 hari kedua adalah ampunan Tuhan
Maka inilah Tuhan,
Daftar permintaanku padaMu
Ampunilah dosaku
Atas 10 milyar korupsi dua tahun lalu
Atas aborsi yang kusuruh sekretarisku melakukannya
Atas hak anak buahku yang sedikiit saja kuambil
Atas sumpah serapahku pada pengemis di perempatan jalan itu
Ya, atas ceramah dan khotbahku yang tak pernah kuamalkan
Atas ancaman “pecat”ku pada pekerja yang tak mau bermain angka
Pasti Kau bisa kan? Ah, masa segitu aja Kau tak bisa?
Gampang lah,
Abis lebarang ini aku umroh, kuteruskan dengan haji deh.
Atau ziarah sekalian ke semua tempat sejarah Islam
Bisa diatur itu

Buku dan ceramah Ramadhan bilang,
10 hari ketiga adalah pembebasan dari api neraka
Maka pasti akan Kau bebaskan aku dari neraka, kan?
Aku tahu pasti Tuhan,
Sorga dan neraka adalah milikMu
hakMu mutlak menentukannya
jadi bebaskan saja aku dari nerakaMu
toh, Kau tak kan rugi apa-apa
gampang …,
nanti kubantu panti asuhan di ujung jalan sana
nanti kedermakan sedikit hartaku untuk kubah masjid
nanti kuundang fakir miskin untuk kubagi sarung dan sembako
nanti kuundang ustadz dan kyai kondang ibukota
untuk mengisi pengajian di kantor
aku kan punya akses luas, toh …

jangan cemberut dong …
engkau kayak gak tahu aja

(banda aceh | 5 ramadhan 1429)