Serambi Madinah

20 11 2008

–sebuah tanda seru bagi masyarakat Madura

Jembatan Suramadu hanya tinggal menyelesaikan bentang tengahnya, cable-stayed bridge, jembatan berstruktur kabel. Jika sudah selesai dan rampung ia, terhubunglah dua pulau yang terpisah oleh selat Madura itu. Keterhubungan dua bagian yang sebelumnya terpisah tersebut bisa ditafsirkan adanya sebuah komunikasi dan transportasi dari dan ke masing-masing dua bagian itu. Dan pola komunikasi dan transportasi yang sehat adalah yang berimbang, yang memberi dan menerima, terus berusaha ke satu titik kesetimbangan.

Di sisi lain, saya sempat mendengar bahwa Madura akan menasbihkan dirinya menjadi Serambi Madinah, disamping Aceh yang telah mengklaim dirinya sebagai Serambi Mekkah. Jujur saja, saya –yang sempat 2 tahun tinggal di Aceh- dalam sebuah kebimbangan yang amat besar mendengar kabar semacam ini. Ada sebuah kebanggaan yang memuncak mendengarnya, atau mungkin dengan sedikit didramatisir, ada sebuah kerinduan akan tatanan individu sosial kemasyarakatan seindah dan sebersahaja al-Madinah al-Munawwarah. Namun, di sela-sela kebanggaan itu, terbayang jelas akan begitu besarnya beban dan tanggung jawab kesejarahan yang harus dipikul oleh tanah tercinta saya Madura –dengan segala pranata sosial materialnya- untuk menjadi Serambi Madinah. Dan ini cukup membuat saya secara tidak sadar harus melafalkan inna liLlah wa inna ilayhi raji’un.

Peradaban Madinah, sependek pengetahuan saya, adalah peradaban Islam dimana Islam sudah melangkah dan melompat jauh dari sekedar ritual dan upacara keagamaan. Di Madinah, Islam “menemukan” tempatnya untuk meniupkan ruh-nya ke dalam peradaban secara langsung, menjadi nyawa bagi segala kehidupan sosial kemasyarakatan. Berbeda dengan peradaban Islam di Mekkah, Kanjeng Nabi “hanya” memulai menjadi Islam untuk diri dan umatnya sendiri, kaum muslim di saat itu. Bisa Anda bandingkan ayat-ayat Madaniyah dan Makkiyah. Ayat-ayat Madaniyah lebih bersifat dialektis dan demokratis, berbicara tentang tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan. Berbeda dengan ayat Makkiyah yang “madhep-mantep”, tegas, padat, singkat dan jelas –dan mungkin lebih banyak yang bersifat dogmatis dan ideologis. Maka peradaban Islam era Madinah (yang dikenal dengan sebutan peradaban Madani), adalah sebuah peradaban Islam “lanjutan” dari peradaban Makkiyah. Pelaku-pelaku utamanya memang adalah kaum Muhajirin muslim dari Mekkah yang “bertugas” menjadi ruh peradaban Madinah, yang hal tersebut menuntut mereka untuk lebih mendayagunakan segala potensinya dengan bekal dogma dan ideologi pada peradaban Makkiyah. Dituntut pemahaman dan perilaku ke-Islam-an yang benar-benar bersifat rahamatan lil ‘alamin, sebagai aksentuasi dari ideologi Islam di era Makkiyah, namun dengan tetap mengakomodir kearifan lokal (local wisdom) dengan cara yang baik dan santun (mawidhatul hasanah, wa jadilhum billati hiya ahsan). Dan, dengan akhlaqul karimah, semua komponen di Madinah –baik itu muhajirin, anshar, muslim, musyrik- berhasil merumuskan apa yang disebut Piagam Madinah, sebuah traktat kemanusiaan tertulis pertama kali yang berbicara tentang demokrasi, jauh sebelum Declaration of Independence milik Amerika yang diagungkan sebagai piagam demokrasi. Anda bisa lihat kembali dan memaknai isi Piagam Madinah.

Maka peradaban Madinah mempersyaratkan pelakunya untuk lebih cerdas spiritual –yang di dalamnya harus terpenuhi syarat cerdas intelektual dan emosional-, sebab memahami –terlebih lagi mengaktualisasikan- ayat-ayat Madaniyah membutuhkan pemahaman yang lebih jauh hanya dari sekedar pemahaman dogmatis. Kewajiban ritual ibadah Islam (yang dirumuskan dalam Rukun Islam) harus ditemukan pemaknaannya dan dileburkan ke dalam tatanan kehidupan keseharian masyarakatnya, yang salah satunya sebagai sebuah pembuktian bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Hal ini berbeda dengan periode ketika Kanjeng Nabi dan para sahabat hidup di Mekkah. Kehadiran Kanjeng Nabi dan para sahabat di Mekkah dianggap hanya menjadi “pengacau stabilitas politik dan keamanan” bagi kaum musyrikin Mekkah, sehingga terjadilah apa yang disebut ‘amul hazn (tahun duka cita), boikot di Syi’b Ali, dan peristiwa Tha’if dan yang akhirnya berujung pada peristiwa hijrah. Ya, peradaban Madinah adalah peradaban hijrah, tonggak kalender Islam.

Inilah yang sebenarnya merisaukan saya, tentang tanggung jawab besar yang menanti jika benar-benar Madura akan “memproklamirkan diri” sebagai Serambi Madinah. Sebab, yang pertama dibutuhkan adalah keikhlasan dan kejujuran yang paling akar, akan keadaan diri sendiri. Apakah memang, -tanpa bermaksud meremehkan Madura- sudah sedemikian siapkah tanah Madura “memproklamirkan diri” sebagai Serambi Madinah?

Kanjeng Nabi dan para sahabat kaum Muhajirin datang ke Madinah, dengan sebuah harapan tentang bakal membaiknya kehidupan mereka, setelah sekian lama di Mekkah menjadi kaum tertindas dan termarjinalkan.

Sebab di Madinah –sependek pengetahuan saya-, Kanjeng Nabi dan para sahabat tidak menjadikan Islam sebagai dasar pedoman bermasyarakat dan berdialektika sosial secara de jure. Kanjeng Nabi dan para kaum Muhajirin hanya menjadi muslim dan mukmin. Tidak lebih. Hanya menjalankan Islam dengan kaaffaah, tanpa harus kehilangan identitas kemanusiaannya sebagai orang Arab, suku Quraisy. Hukum de facto yang berlaku di Madinah adalah hasil perjanjian kolektif dan demokratis antara komponen masyarakat Madinah yang tertuang dalam Piagam Madinah. Dan penerapan Islam oleh Kanjeng Nabi dan kaum Muhajirin terbukti mendatangkan maslahat, ketenangan dan kedamaian dalam struktur dan keseharian masyarakat disana. Tidak mengherankan, meskipun belum semua penduduk Madinah memeluk Islam, namun masyarakat Madinah secara sukarela mengadopsi cara bermasyarakat yang dijalankan Kanjeng Nabi dan kaum Muhajirin karena Islam sudah “membuktikan dirinya” menjadi cahaya dan ruh peradaban Madinah. Dan masyarakat Madinah yang majemuk dan plural menjadi satu tekad ketika menghadapi kaum musyrikin yang menyerang mereka saat Perang Badr. Semua masyarakat Madinah, baik Muslim maupun bukan, berdiri di barisan Kanjeng Nabi saat itu. Disamping karena rasa cinta yang melimpah ruah kepada Kanjeng Nabi, mereka sepenuhnya sadar bahwa gangguan terhadap Kanjeng Nabi adalah berarti juga gangguan terhadap kedamaian dan ketenangan kehidupan masyarakat Madinah.

Peradaban Madaniyyah bukan lagi peradaban yang menjadikan Islam sebagai sebuah ritual keagamaan saja, yang berhenti dalam pengertian bahwa shalat itu harus dilaksanakan karena berpahala atau mendatangkan dosa kalau tidak dikerjakan. Peradaban Madaniyyah bukan lagi peradaban yang menjadikan Islam sebagai bendera dan kubah masjid mewah belaka, dalam asrtian bahwa zina dan riba itu tidak dikerjakan karena haram dan mendatangkan dosa. Peradaban Madaniyyah adalah sebuah peradaban dimana shalat wajib dilakukan karena memang memang shalat sangat dibutuhkan sebagai sebuah terapi sosial untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang damai dan salam. Peradaban Madaniyyah adalah sebuah peradaban dimana zina dan riba secara sepenuhnya secara dijauhi karena tidak mendatangkan manfaat dan hanya mendatangkan mudharat. Singkatnya, peradaban Madaniyyah adalah sebuah peradaban dimana syari’at (dalam artian sempit dan definisi fiqh) tidak hanya sekedar sebuah kewajiban, melainkan sebuah kebutuhan bersama, sehingga tidak ada masalah apakah mau “diundang-undangkan” secara resmi maupun tidak. Masyarakatnya sudah berhasil merasakan salam dan nikmat dalam menjalankan syariat, bukan karena rasa takut –baik takut kepada MUI, FPI, NU, Muhammadiyah, UU, Perda ataupun Satpol PP.

Maka, ketika Madura sudah membulatkan tekadnya menjadi Serambi Madinah, menjadi sebuah kata perintah, menjadi ‘amr –bagi masyarakat Madura untuk kembali menengok Sirah Nabawiyyah, untuk menemukan kembali nilai dan siyasah yang diterapkan saat itu, yang kemudian bisa diaplikasikan dalam mempersiapkan diri menjadi Serambi Madinah. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah dan membutuhkan keikhlasan dan kelapangan dada.

Dan Jembatan Suramadu terus dibangun. Dan itu berarti, tidak banyak lagi waktu yang tersisa jika memang Madura menawarkan dirinya menjadi sebuah tanah “munawwarah” bagi semua makhluk Tuhan.


   — tulisan ini juga dimuat di Kabar Madura





Pesona Madura dari Udara

14 08 2008
dari Kompas

Foto dan Naskah :
Kompas / Iwan setiyawan

Madura selama ini telah dikenal dengan pesona budaya dan masyarakatnya. Mulai karapan sapi, berbagai jenis tarian dan musik tradisional, bekas-bekas kerajaan di Sumenep, dan sebutan sebagai pulau penghasil garam.

Wilayahnya yang menghadap langsung ke Laut Jawa menjadikan sebagian penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Hamparan puluhan pulau di ujung timur dan utara Pulau Madura menjadikan wilayah ini juga kaya pesona alam dan keragaman budaya oleh akulturasi budaya dari pelaut-pelaut tradisional yang menyinggahinya.

Pesona geografis Pulau Madura dan pulau-pulau di sekitarnya juga menarik jika dinikmati dari udara. Dari dalam pesawat nomad dari Skuadron Udara 800 Intai Taktis Wing Udara Komando Armatim, pesona tersebut dapat terekam jelas.

Pesawat yang biasa digunakan untuk tugas rutin patroli maritim TNI AL atau membantu SAR laut diterbangkan oleh pilot Kapten Laut (P) M Ramdhan dan kopilot Letda Indra Kurniawan. Karena terbang dengan kecepatan rata-rata 100 knot, ketinggian antara 50-200 feet, serta manuver patroli, membutuhkan ketahanan fisik dan mental untuk bisa menikmati penerbangan. Semua ketegangan terbayar sudah oleh keindahan pesona alam laksana karya seni tak ternilai.

Hamparan pantai di pesisir utara Pulau Madura, bentangan tanah berwarna merah di Pulau Puteran, dan petak-petak sawah pascapanen bagaikan lembaran permadani yang tergelar. Hamparan tambak garam seolah menguatkan sebutan Madura sebagai pulau garam. Deretan perahu-perahu nelayan dan dermaga yang menjorok ke laut menghiasi pesisir selatan Pulau Madura.

Puluhan pulau yang tersebar di sekitar Pulau Madura juga memiliki pesona tersendiri. Dari pulau-pulau yang besar seperti Kangean dan Sapudi hingga pulau-pulau kecil tanpa penghuni. Masih banyak pesona keindahan alamnya yang belum diungkap dan dimanfaatkan. Sungguh suatu potensi besar yang terabaikan di tengah kemiskinan yang masih melanda sebagian besar penduduknya.

Foto & teks : Iwan setiyawan





Kepulauan Masalembu

14 08 2008

from Kendari Pos

Kabupaten Selayar merupakan salah satu Kabupaten diantara 24 Kabupaten/Kota di Propinsi Sulawesi Selatan yang letaknya di Ujung Selatan dan memanjang dari Utara ke Selatan. Daerah ini memiliki kekhususan, yakni satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Selatan yang seluruh wilayahnya terpisah dari daratan Sulawesi Selatan dan lebih dari itu wilayah Kabupaten Selayar terdiri dari gugusan beberapa pulau sehingga merupakan wilayah kepulauan.

Kepulauan Masalembu adalah salah satu wilayah Ke camatan di Kabupaten Sumenep letaknya disebelah utara pulau Madura

Penduduk Pulau Masalembu merupakan campuran berbagai etnis, termasuk Suku Madura dan Suku Bugis. Di Pulau Masalembu terdapat fasilitas pendidikan hingga tingkat SLTA.

Secara ekologis-geografis, Pulau Masalembu terletak pada posisi lintang : 5 derajat 31 menit ? 5 derajat 35 menit LS. Dengan posisi ini, secara geografis kedudukan Pulau Masalembu mendekati posisi ekuatorial (garis khatulistiwa) dengan ciri-ciri lingkungan yang spesifik, yaitu mempunyai daya tampung yang sangat tinggi terhadap struktur biodiversitas habitat, seperti terumbu karang, mangrove, telu, pesisir litoral, rumput algae/seaweed dan daerah umbalan (upwelling area) yang menjadi penopang sumberdaya ikan dan non ikan dengan nilai ekonomis yang tinggi.

Lebih lanjut, dalam profil pesisir dan pulau-pulau kecil yang diterbitkan Departemen Kelautan dan Perikanan disebutkan, secara administratif Pulau Masalembu termasuk dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Masalembu ? Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Posisi Pulau Masalembu berada di bagian utara wilayah Kabupaten Sumenep dikelilingi oleh perairan (laut bebas), berjarak sekitar 112 mil dari Pelabuhan Kalianget (Sumenep Daratan). Kondisi ini menyebabkan Pulau Masalembu langsung berbatasan dengan perairan bebas (laut lepas).

Di bagian utara pulau Masalembu terdapat pulau Masakambing dan pulau Keramaian. Pulau Masakambing berjarak sekitar 10 mil dari arah utara pulau Masalembu. Luas wilayah pulau Masakambing adalah sekitar 3,18 km2 dihuni satu desa (desa Masakambing) dengan jumlah penduduk pada tahun 2000 mencapai 1.268 jiwa penduduk. Adapun pulau Keramaian berjarak sekitar 29 mil dari arah utara pulau Masalembu, mempunyai luas wilayah sekitar 9,79 km2 dan dihuni oleh satu desa, yaitu Desa Keramaian dengan jumlah penduduk pada tahun 2000 mencapai 3.287 jiwa.

Untuk menjangkau pulau Masalembu dapat ditempuh dari pelabuhan Kalianget (Sumenep Daratan) dengan menggunakan kapal perintis selama 12-13 jam (pada kondisi perairan laut tenang/normal atau tidak ada badai) yang melayani pelayaran dari dan menuju pulau Masalembu setiap 5 (lima) hari sekali. Selain itu, dapat pulau ditempuh dari Surabaya dengan menggunakankapal perintis dengan waktu tempuh sekitar 16-17 jam. Sarana transportasi laut merupakan urat nadi perekonomian masyarakat pulau Masalembu yang penting, terutama dalam kaitannya dengan akivitas arus lalu lintas barang dan penumpang. Dengan frekuensi pelayaran kapal perintis 5 hari sekali dinilai sebagaian besar masyarakat pulau Masalembu sudah mencukupi dan berharap pelayanan pelayaran kapal perintis ini dapat dipertahankan atau lebih ditingkatkan lagi.

Tinjauan posisi geografis pulau Masalembu yang mendekati garis khatulistiwa ke arah selatan, emberi ciri (karakteristik) pada pola iklim setempat yang cenderung kering (curah hujan rata-rata per tahun kurang dari 2000 mm/tahun).

Jumlah bulan basah (curah hujan lebih dari 200 mm per bulan) terdapat 3 bulan, yaitu pada bulan Desember, Januari dan Februari. Jumlah bulan lembab (curah hujan 100 ? 200 mm per bulan) tercatat sebanyak 5 bulan, yaitu pada bulan Oktober, November, Maret, April dan Mei. Sedangkan bulan kering (curah hujan kurang dari 100 mm per bulan) tercatat sebanyak 4 bulan, yaitu pada bulan uni, Juli, Agustus dan September.

Ketersediaan air tawar di tingkat lokal (dalam jumlah, kualitas dan penyebarannya) bagi penduduk di kawasan pesisir pulau-pulau kecil, seperti halnya di pulau Masalembu merupakan kebutuhan pokok dan memegang peranan penting dalam menunjang aktivitas domestik (rumah tangga) dan kegiatan sosial-ekonomi penduduknya.

Salah satu cara untuk mengetahui potensi air tawar (sumber air bersih) di pulau kecil adalah dengan melihat sumber air tawar yang digunakan penduduk sehari-hari, mengukur kedalaman sumur penduduk, melihat kualitas (sifat fisik dan kimia contoh air sumur penduduk) serta menanyakan ada tidaknya gangguan kesehatan yang dialami penduduk sebagai akibat dari mengkonsumsi air sumur (air tawar) penduduk, serta catatan lain berkenaan dengan kondisi air bersih yang mereka gunakan sehari-hari.

Pulau Masalembu mempunyai potensi air tanah yang relatif sedang hingga besar, yag diketemukan pada lapisan breksi dengan matriks kasar pada aliran lava atau pada daerah rekahan. Hampir seluruh penduduk pulau Masalembu yang berjumlah lebih dari 15 ribu jiwa, menggunakan sumur timba sebagai sumber air tawar (air bersih) bagi kegiatan MCK dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Ada sebagian kecil (sekitar 5%) penduduk pulau Masalembu yang memanfaatkan mesin pompa listrik (di tingkat local biasa disebut “sanyo”) untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya, terutama ada kelompok masyarakat yang tergolong mampu (berkecukupan) dan memiliki tenaga listrik (diesel) sendiri.

Kedalaman sumur penduduk bervariasi dari 5 m s/d 13 m. Di bagian selatan pulau Masalembu, seperti di Kp. Raas dan Kp. Baru kedalaman sumur penduduknya rata-rata kurang dari 10 m, sedangkan di bagian utara pulau Masalembu (Kp. Mandar) kedalaman sumurnya rata-rata berkisar dari 7 ? 13 m. Berdasarkan informasi penduduk ketersediaan air tawar dinilai mencukupi, artinya sumur penduduk pada musim kemarau masih belum kering, meskipun jumlahnya tidak sebesar pada musim penghujan. Disamping menggunakan air sumur, pada musim penghujan ada sebagian kecil penduduk pulau Masalembu juga ada yang memanfaatkan air hujan dengan cara menampung pada drum-drum kosong atau bak.

Selain itu, penduduk pulau Masalembu menginformasikan tidak ada gangguan kesehatan yang disebabkan oleh penggunaan air sumur. Namun demikian, pada beberapa daerah, (terutama di bagian timur dan barat P. Masalembu) diindikasikan adanya intrusi air laut yang menyebabkan beberapa sumur penduduk yang berjarak kurang dari 50 m dari garis pantai, rasanya terawa basa (payau), terutama pada musim kemarau.

Data pola penggunaan lahan saat ini (present land use) di wilayah pulau Masalembu dapat dikemukakakn bahwa sebagian besar areal di wilayah (daratan) pulau Masalembu didominasi oleh penggunaan lahan untuk ladang dan kebun campuran dengan cakupan areal sekitar 78,12%. Bentuk penggunaan lahan lain yang teridentifikasi di pulau Masalembu adalah lahan tambak, lahan pekarangan dan pemukiman penduduk, areal eks pengelolaan PT. ARCO dan sarana prasarana pelabuhan Masalembu, Kantor Kecamatan Masalembu, Kantor Desa Sukajeruk, pasar, Puskesmas, kantor pelayanan TELKOM, gedung sekolah, masjid, lapangan olah raga, areal bekas landasan pesawat terbang, serta penggunaan lainnya.

Aktivitas usaha tani penduduk Desa Masalima dan Sukajeruk banyak dilakukan pada musim penghujan yang jatuh pada periode bulan Oktober s/d Maret atau hampir bersamaan dengan datangnya periode musim angin barat. Pada periode musim angin barat, umumnya ditandai oleh banyak hujan, bahkan sering disertai dengan angin kencang dan badai, sehingga sebagian besar nelayan setempat pada periode musim angin barat tersebut umumnya tidak ?melaut?, dan alokasi waktu tenaga kerja dalam keluarga (rumah tangga) banyak dicurahkan untuk berladang, memperbaiki jaring, perahu, mesin perahu atau mencri lapangan usaha baru (mencari usaha sambilan) ke Sumenep daratan dan sekitarnya.

Komoditas usahatani yang banyak diusahakan penduduk pulau Masalembu adalah bertanam jagung, ubi kayu, kacang tanah, kedelai, pisang, pepaya, mangga, kelapa dan lain sebagainya. Usaha ternak yang menjadi andalan sebagian besar petani di pulau Masalembu adalah ternak sapi. Selain itu, ada sebagian petani yang mengusahakan ternak kambing/domba dan ayam. Sapi bagi petani Masalembu adalah “tabungan” yang mempunyai nilai penting, terutama untuk kebutuhan hajatan keluarga (perkawinan, sunatan anak, dsb), biaya pengobatan serta kebutuhan yang sifatnya mendesak.

Berdasarkan pengamatan lapangan dapat ditunjukkan pula bahwa potensi lahan kritis/rusak akibat abrasi (erosi) pantai, pengambilan pasir pantai untuk bahan bangunan, pembukaan areal mangrove untuk lahan tambak, tempat pendaratan kapal atau bentuk penggunaan lainnya, diprakirakan mencapai luasan sekitar 120,0 hektar tersebar hampir merata di wilayah pesisir pulau Masalembu. Dijumpai pula hamparan lahan tambak rakyat yang terlantar akibat keterbatasan modal dan penguasaan teknologi petani tambak/nelayan setempat, yang potensial dapat berkembang menjadi lahan kritis, yang pada gilirannya dapat berkembang menjadi permasalahan lingkungan yang harus diupayakan penanganan dan penanggulangannya.

Dalam konteks alokasi ruang dan pengembangan wilayah, di wilayah pulau Masalembu belum tersedia rencana penataan ruang yang dirumuskan dalam kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau-Pulau Kecil. Ketiadaan rencana penataan ruang yang jelas dan tegas ini menyebabkan aktivitas pemanfaatan sumber daya alam di kawasan pesisir dan perairan (laut) kurang memperhatikan aspek konservasi dan kelestarian lingkungan. Hal ini dicerminkan oleh aktivitas penambangan pasir pantai untuk bahan bangunan, pengambilan batu karang untuk pondasi bangunan, pembukaan areal mangrove untuk lahan tambak, pemukiman, pendaratan kapal dan kebutuhan lainnya, serta kegiatan penangkapan ikan dan biota laut lainnya dengan cara merusak lingkungan (penggunaan bom dan racun potassium).

DIKELILINGI LAUT JAWA

Wilayah pulau Masalembo dikelilingi perairan laut jawa sehingga pantainya berhadapan langsung dengan laut. Daerah perairan Masalembu didominasi oleh daerah karang yang banyak mengalami kerusakan akibat pengambilan batu karang (terumbu karang massive) untuk pondasi bangunan dan keperluan lainnya, serta penggunaan bom dan racun potassium dalam penangkapan ikan dan biota laut lainnya yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Kerusakan pada ekosistem terumbu karang ini dinilai mempunyai korelasi yang erat dengan laju abrasi (erosi pantai) yang terjadi di pesisir pulau Masalembu, terutama di pesisir bagian timur dan barat pulau Masalembu.

Dilihat dari posisi sumberdaya kelautan, jenis ikan yang banyak dihasilkan oleh nelayan di kepulauan Masalembu adalah jenis-jenis ikan pelagis (permukaan) seperti ikan layang (Decapterus russeli) dan ikan tongkol (Euthynnus sp). Jenis-jenis ikan pelagis lain yang pernah ditangkap nelayan Masalembu antara lain tengiri (Scomberomorus), kembung (Ratrelliger spp), lemuru (Sardinella longiceps), tembang (Sardinella fimbriata), selar (Selaroides spp), Cakalang (Katsuwonus pelamis), Japuh (Dussmeiria spp), layur (Trichiusrus spp) dan bawal hitam (Pampus argenteus). Selain ikan pelagis, perairan Masalembu juga mempunyai potensi jenis ikan karang (demersal) seperti peperek (Leiognathidae), bambangan (Lutjanus spp), bawal putih (Sphyraena spp), kakap (Lates calcarifer), kerapu (Ephinephelus spp), cucut (Carchahinidae), manyung (Tachysurus spp), belanak (Cypselurus spp), ekor kuning (Caesio spp) dan Tigawaja (Sciaenidae), juga cumi-cumi, rajungan (Portunus spp), kepiting (Scylla serrata), udang barong (Panulirus spp), udang windu (Paneus monodon) dan teripang.

Alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan Masalembu adalah jaring payang, gillnet dan pancing tonda. Sementara itu, armada yang banyak digunakan nelayan Masalembu adalah perahu mesin berkapasitas 2-4 GT dengan mesin perahu berkekuatan 12-16 PK. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir ini (1995 – 2000), alat tangkap jenis payang dan pancing menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. Pada tahun 1995 jaring payang di Masalembu teridentifikasi sebanyak 274 unit, kemudian meningkat menjadi 376 pada tahun 2000. Alat tangkap pancing pada tahun 1995 teridentifikasi sebanyak 2.060 unit, kemudian meningkat menjadi 9.622 unit pada tahun 2000. Armada perahu pun menunjukkan kecenderungan yang bertambah untuk kurun waktu yang sama. Jika pada tahun 1995 tercatat sebanyak 959 unit, maka jumlah perahu di perairan Masalembu tercatat sebanyk 1.098 unit.

Selain ikan pelagis, wilayah perairan Masalembu juga dihuni oleh berbagai jenis ikan karang (demersal), diantaranya yang potensial diusahakan nelayan setempat adalah ikan peperek (petek), bambangan, anyung, kakap merah, kerapu, kurisi, tigawaja dan belanak. Kondisi tersebut bagian yang berkarang dengan kedalaman 40 ? 60 meter. Potensi budidaya yang dapat dikembangkan di perairan Masalembu adalah usaha tambak (tambak udang atau bandeng, juga garam) dan usaha budidaya (pembesaran) kan kerapu dan lobster, serta budidaya rumput laut.

Aadapun usaha tambak rakyat yang terdapat di wilayah pesisir pulau Masalembu adalah tambak payau dengan jenis ikan yang dominan diusahakan adalah ikan mujair, udang, bandeng, dan usaha tambak garam dengan luas keseluruhan diprakirakan sekitar 6-8 hektar tersebar terutama di bagian utara pesisir pulau Masalembu.

Kondisi ekosistem terumbu karang di perairan Masalembu telah mengalami kerusakan dari tingkat rendah sampai sangat berat. Ekosistem terumbu karang di perairan Masalembu yang tergolong masih cukup baik diprakirakan kurang dari 25%.

Keadaan ini terutama disebabkan oleh masih berlangsungnya praktek pengeboman dan penggunaan racun potassium dalam penangkapan ikan-ikan karang serta pencemaran lingkungan perairan laut oleh sampah dan limbah oli dan ceceran minyak dari kapal-kapal yang beroperasi di perairan Masalembu. Wilayah penyebaran ekosistem terumbu karang yang mengalami kerusakan cukup berat sampai berat, terutama terdapat di perairan bagi selatan (dekat Kp. Raas), perairan bagian bara daya (dekat Kp. Baru), perairan bagian timur (dekat Kp. Labusada) dan perairan bagian utara (sekitar perairan eks kompleks PT. ARCO).

Terumbu karang di lokasi ini tergolong sedang yang dicirikan oleh nilai LCC (Living Coral Cover/Penutupan Karang Hidup) antara 22% s/d 45%. Kematian alami. Ini terlihat dari dominasi kerapatan tutupan dasar oleh subtrat/sedimen keras, dan tidak tampak adanya penggalian atau lobangan terumbu. Berdasarkan hasil temuan jenisnya, maka akan terlihat bahwa terdapat korelasi antara tutupan karang hidup dengan jumlah jenis yang ditemukan. Namun demikian pada tiap-tiap lokasi masih menunjukkan tingginya dominasi jenis-jenis tertentu terutama adalah Porites dan Acropora. Secara keseluruhan berdasarkan nilai indeks keanekaragaman yang ditemukan yaitu <2, sehingga berdasarkan kriteria Stoddart (1985) kondisi demikian memberikan indikasi terumbu karang yang ada kurang produktif.

Produktivitas perairan memberikan gambaran mengenai kemampuan biota untuk dapat melakukan aktivitas hidupnya. Kajian terhadap produktivitas perairan dapat didekati dengan mengkaji profil beberapa biota laut, terutama plankton, benthos dan nekton. Untuk menduga tingkat kesuburan (produktivitas) perairan laut dapat didekati dengan melakukan analisis fisika, kimia dan biologi perairan yang bersangkutan. Pendugaan kesuburan perairan dengan pendekatan ini akan lebih akurat bila diikuti dengan pengamatan langsung (visual) kondisi perairan di lapangan, terutama untuk mendukung hasil analisis parameter biologi perairan.

Bagi lingkungan perairan, phytoplankton merupakan faktor biologi yang mempunyai peranan sangat besar. Peran tersebut tidak saja berkaitan dengan fungsinya sebagai strata dasar dari perilaku makan di perairan tetapi juga mempunyai peran terhadap perubahan lingkungan. Oleh peran tersebut, maka organisme ini kerapkali dapat dipergunakan sebagai bio indikator terhadap kualitas lingkungan. Keistimewaan ini juga tidak lepas dari perilaku organisme ini sendiri yang cenderung tidak mampu bergerak atau mempunyai gerakan yang sangat lemah, sehingga perubahan lingkungan sangat mempengaruhi hidup dan perkembangbiakannya.

Strata kedua dari dasar dalam hirarki kehidupan akuatik adalah zooplankton. Kelompok ini dapat hidup selamanya sebagai plankton, juga dapat berkembang selanjutnya baik ukuran maupun perilakunya sebagai organisme non planktonik. Zooplankton yang ditemukan di perairan Masalembu antara lain adalah dari kelompok Cipepoda yang lebih menonjol keberadaannya dibandingkan dengan kelompok lain.





Bound to Wander

19 05 2008
from TIME magazine … August 21, 2000
by Anthony Spaeth

In Indonesia’s second city, the itinerant Madurese have found a place they can call home


If you stand at the harbor of Surabaya, Indonesia’s famed port and second-largest city, you can see the island of Madura only 4 km across the water. For a decade, there was a plan to connect the city and the island with a bridge, but financing never came through and the only progress was a few premature concrete pillars that now stand forlornly in the sea. A bridge would certainly be useful: every day, thousands of people from Madura cross by ferry to Surabaya, jammed in with livestock, cargo, cars and buses. The ferries run 24 hours a day. “I’ve been making this trip every day for 13 years,” says Hasmat Nabiri, 64, a Madurese day-laborer. The reason for the exodus is simple. “We come to work,” says Nabiri.

Madura is home to a unique language and culture that sets its natives apart from the people of Indonesia’s other islands. And yet it is barely home to its own people. Of an estimated 10 million Madurese, 6 million have relocated permanently to places that offer more work. Others, like Nabiri, spend a good part of their lives on ferries back and forth to Surabaya. This makes the Madurese the most itinerant of all Indonesian ethnicities, a people banished from their home by economic circumstance.

To a lesser extent, and for varying reasons, other Indonesian groups share that destiny. For decades, the central government in Jakarta has promoted large-scale “transmigration” to alleviate overcrowding. Java is the country’s most densely populated island, so its people have been officially moved across the map: to Sumatra, Sulawesi, Kalimantan and Irian Jaya. There were social engineering ambitions within the plan. Javanese culture was expected to take over, especially in troublesome spots like East Timor. In its defense, the concept could also have forged a common identity among Indonesia’s varied peoples.

It hasn’t worked that way. In West Kalimantan, brutal warfare between the local Dayaks and immigrant Madurese has flared intermittently for the past three years, claiming thousands of lives. East Timor has left the Indonesian fold entirely. The biggest challenge facing Indonesia is to quell various ethnic conflicts and hold together as a nation.

Surabaya contains the mix of people one would expect in a bustling port town: Javanese bureaucrats, Chinese traders, even a small Arab community descended from seafaring merchants. When the eye adjusts, one notices the Madurese and their place on the lowest rung of Surabaya’s employment ladder. They number about 800,000—a fourth of the city’s population. They peddle cigarettes, pimp for brothels, collect scrap metal and, with their fearsome celurits—a kind of machete—help the city’s underworld run smoothly. “Madurese work the jobs the Javanese don’t want,” says Hamad Mataji, one of the most prosperous figures in the Madurese community.

Mataji arrived here penniless 25 years ago. He dug trenches, pulled a pedicab and retreaded tires to make money. When he had enough, he bought a 3,000 sq m lot that has become the city’s central exchange for scrap metal. Now 50, Mataji carries a mobile phone, and his smile reveals a mouthful of teeth made from white gold. But he still works the yard every day, signing receipts from scrap-hauling scavengers—a great many of them fellow Madurese—and getting a different kind of visit from local politicians and cops. “Everyone these days is asking for a loan,” he laughs.

Many things have changed in 25 years, Mataji says. The Madurese have been driven out of the local gambling and prostitution businesses. (Those trades are now backed by Chinese-Indonesians and the Indonesian military and police.) But their reputation as proud and rough characters hasn’t diminished. “The Madurese would rather steal than beg,” says Mataji. Sapan, 42, used to run with a Madurese gang in the Surabaya underworld until the early ’80s, when thousands of suspected criminals were mysteriously murdered. Sapan says he has killed 20 men, mostly in disputes over women. “We are fearless,” he says. “We die when we are meant to die.” Sapan found religion after too many years in jail, he says, and has returned home to Madura to work as a farmer. But his story fits the Madurese stereotype: a people brave and clannish, with their own code of honor (known as carok)—and a propensity for violence. “Treat them well and they’ll be even nicer,” says Fachrul Rozi, a Madurese doctor. “But if you’re mean to them, they’ll be even meaner.” Dede Oetomo, an anthropologist at Surabaya’s Airlangga University, observes, “With the Madurese, it is a very thin line between gangsterism and normality.” That’s not all bad. Most of the city’s security guards are Madurese, and they’re known for protecting premises with fierce loyalty. Says Nazirman, who has Madurese guards at his office supply store, “What they bring is their courage and a will to work.”

In the center of the city is Surabaya’s largest red-light district, Dolly, named after a pioneering madam from the 1960s. Ronny, a native Madurese, has worked for the Wisma Jaya Indah brothel for 25 years. It’s the only job he has ever had. Ronny used to go to the countryside on recruiting missions for the brothel, but these days he spends his days on the pavement outside. “I mainly do security and try to bring guys in.” The night is slow, and a group of visiting Koreans are reluctant. “Only 50,000 rupiah [$6] an hour,” Ronny promises them. One of the Koreans takes the bait, the others move on.

In the industrial port of Gresik on the outskirts of Surabaya, Madurese work together to get by. The remains of a decommissioned Indonesian warship are sunk in shallow, oily waters close to the shore. For six months, a group of 20 Madurese have been carving it up for scrap. Covered in oil and up to their waists in sludge, the men use propane torches and heavy saws to disembowel the vessel. “There won’t be anything left of this ship when we’re done with it,” foreman Syaiful Bakri says proudly. The pieces will then find their way around the country, thanks to the extensive network of Madurese traders. That’s good for the scavengers: the process cuts out the middlemen who usually skim off so much profit in the Indonesian economy.

The Madurese network helps newcomers find jobs in Surabaya, too, whether it’s selling fruit or cigarettes on the street or collecting discarded plastic bottles and bald tires. The community is centered in the northern part of the city, where Madurese live together in tiny, makeshift houses. “They believe in coexistence, not assimilation,” says Daniel Sparingga, a sociologist at Airlangga University. Such aloofness can cause problems: in tough economic times such as these, Madurese are often blamed for increasing car thefts, pickpocketing and other petty crimes. That leads some to predict real friction if the economy continues to stagnate, not a happy thought considering the Madurese and their fearsome celurits. “We’re not afraid to use them if we have to,” says Sapan, the former convict. So far, though, the mix has worked. However humble, the Madurese have their place in Surabaya, where the ethnic balance remains far healthier than in many other troubled Indonesian cities—a land of millions of people living far from their homes.

Reported by Jason Tedjasukmana/Surabaya