Hoping for a nonviolence movement in Palestine (Jakarta Post)

19 01 2009

Achmad Munjid ,  Philadelphia   |  Sun, 01/18/2009 12:40 PM  |  Opinion

Since I was a small child, I have been taught that the powerless party
always deserves “affirmative action” in any unbalanced conflict before
a true resolution can be settled. As a Muslim who now lives in the
West, I keep trying very hard to understand why the mainstream West
always assumes that the much more powerful Israel is the “good guy”,
while the powerless Palestinian is the “bad guy” in the Palestinian
crisis.

Is it compensation by the West for their “guilty feeling” over the
Holocaust? Is it more about the power of Jewish money? Is it related to
skin-color? How are we to understand that 200 “home-made” rockets sent
by Hamas to Israel during the first week of the crisis deserve more
attention as a proof of terrorism than over 700 lives, mostly
Palestinian civilians, who were taken by sophisticated Israeli weapons
in the same week?

Many of my fellow Muslims and I have never agreed with Hamas who
perceives every single Jew as the villain and whose blood is halal
(permissible by God) to shed. We also disagree with some Muslims,
including Hamas and Iranian President Mahmoud Ahmadinejad, who want to
wipe Israel from the map. A true “two-state” solution is the most
reasonable option.

Moreover, I completely understand that any attack on the Jews should
remind all of us of the Holocaust as the most horrible crime against
humanity. Everyone should work to prevent that from happening again in
our history, not only to the Jews but also to every human being. And
surely, let us acknowledge that since 1948 the Palestinians have been
suffering from a deep wound as a displaced and dispossessed people for
a crime that neither they nor their ancestors have committed against
the Jews.  

However, in this satanic circle of violence, arguments for justified
killings by either side or why some people should support one party or
the other are both endless and useless, if not creating an even larger
crisis. Clearly, the situation in Gaza today is much more complicated.

The temptation to continue to use weapons on both sides is terribly
strong, either in the name of self-defense, justice, dignity, revenge
or even God. I have no capacity whatsoever to tell them what is the
right thing to do. For over 60 years, the use of weapons by the
Palestinians has only provided justification for the Israelis to kill
more and to grab more land.

If the Palestinians ceased using weapons, if Arab leaders and the
Muslim world in general could help Hamas and other radical groups to
stop the shooting, then Israel’s justification to kill would cease to
exist.

Let friends of the Israeli tell the same story. Only when Israel as the
more powerful group with many privileges stops using weapons, will
those Muslim radicals, including Hamas that was initially created by
Israel,  have no legitimacy and lose Palestinian support.  Israel
should stop calling Hamas “terrorist” and the Palestinians should stop
thinking of Israel as the “evil people” by definition. Both sides
should agree that the other can change substantially and that they can
change their perception of each other. They can talk and work together
to make peace. 

While every possible step for peacemaking should be taken by leaders
around the world, we — common global citizens — should share the
responsibility. Beside the various efforts that have been made thus
far, from prayer to humanitarian efforts, we Muslims especially need to
react more properly and strategically and let others do the same. So
far, many Muslims around the world have reacted in ways that increase
the violence. Yes, we have been sharing our responsibility through
prayers, fundraising, press releases, discussions, protests, art works
and news exchanges.

However, most actions are shaped within the framework of “justification argument”.  

For example, in Indonesia, the largest Muslim country and where I
come from, Muslim protesters shut down the only synagogue there last
week based on the assumption that there is an automatic connection
between Israel, Judaism and the Jews. Some Indonesian Muslim groups,
such as the Islamic Defender Front, (FPI) are even ready to send
untrained voluntary troops to Gaza to fight back.

Instead of helping the crisis, these kinds of reaction only spill
out and magnify the waves of hate, vengeance and atrocity from Gaza
globally. With Gaza as the epicenter of violence, many Muslims around
the world position themselves with the Palestinians. They identify
themselves as the oppressed Palestinian who is looking for the “evil
Israeli” and their friends to fight.

Whoever identifies as “the other” is the “Israel” and thus the enemy.

Condemnation of the massacre and helping the victims in whatever form
are very important. It is also equally important for Muslim leaders
around the world to present the Gaza crisis not primarily as a conflict
between “us” Muslims against “them” Jews.  Both the Israeli government
and Hamas deserve condemnation and both sides are responsible for the
increasing number of casualties, many of whom are children, women and
the elderly.

We need to speak and act not as a particular national or religious
group, but as an inter-religious global community. Instead of
suspecting every Jew and Christian around us, we Muslims outside of
Palestine need to collaborate with each and every morally concerned
individual — Muslim, Jew, Christian, black, white, color, female, male
and others — to take care of the victims and work effectively for the
same purpose: Peace.

By working together, not only can we isolate the Gaza violence mainly
around its epicenter, but we can also send our greater sympathy,
support and hope by pushing the message of peace from our side.

The writer is President of Nahdlatul Ulama Community in North
America and a PhD candidate in Religious Studies at Temple University,
Philadelphia.





Makhluk Dari Planet Mana Israel Ini?

16 01 2009

Oleh Emha Ainun Nadjib

Makhluk dari mana Israel ini, adigang adigung adiguna, boleh melakukan apa saja, pembunuhan massal, penggusuran besar-besaran, pemberangusan dan pemusnahan atas umat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, kapan saja dia mau, tanpa sanksi yang memadai dari pihak manapun di muka bumi.
Nama kelompok kebangsaannya disebut paling banyak di Alquran, bahkan dipakai sebagai nama Surah. Beberapa identifikator sejarah penciptaan oleh Tuhan menyimpulkan yang disebut ‘’Dajjal’’, perusak dunia kelas wahid, berasal dari suku Yahudi ini dan berambut keriting. Tapi orang tidak benar-benar berani mengutuknya karena mereka keturunan Nabi Besar yang amat kita takdzimi, yakni Ibrahim AS, entah dari beliau Ismail atau Ishaq. Dan kemah ajaran beliau, millah Ibrahim, adalah induk segala ajaran, teologi monotheisme, nama beliau kita sebut pada rakaat salat kita semulia kekasih Allah, Muhammad SAW junjungan kita semua.
Mayoritas aset moneter global dan segala jenis modal perekonomian, bank dunia dan institusi-institusi keuangan primer dunia dipegang oleh turunan beliau dan strategi pengelolaannya sampai ke Kongres Amerika Serikat berada di genggaman turunan yang lain dari beliau juga. Sejumlah futurolog ekonomi menganjurkan anak-anak kecil sekarang mulailah diajari berbahasa Arab karena akan menjadi bahasa utama dunia: pergilah cari kerja ke Negeri koalisi 16 Pangeran di Jazirah Arab. Bahasa Ibrani tak perlu dipelajari, karena para fungsionaris dari Israel mungkin lebih pandai berbahasa Arab dibanding Raja Saudi dan lebih mlipis berbahasa Indonesia dibanding orang Indonesia.
*
Anda tidak akan paham menemukan peta Indonesia Raya dijadikan center display di sebuah web Israel dan Amerika Serikat. Juga agak miris melihat tanda warna merah pada daerah tertentu dari Nusantara. Di Belanda, November 2008 saya ngobrol panjang dengan pemimpin Yahudi internasional Rabi Awraham Suttendorp yang sangat mengenal Indonesia lebih detail dari kebanyakan orang Indonesia sendiri, sebagaimana di kantor Perdana Menteri Israel Anda bisa dolan ke sana dan melirik ruangan khusus yang berisi segala macam data tentang Indonesia segala bidang yang di-update setiap pekan.
Israel juga punya situs berbahasa Indonesia. Kepada Rabi saya tanyakan kenapa disain tengah atas atau puncak mahkota keagamaan yang beliau pakai memimpin peribadatan di Synagoge sama dengan disain bagian atas rumah-rumah Pulau Jawa bagian utara. Kenapa ibukota Israel tidak Tel Aviv saja tapi Java Tel Aviv. Kenapa kantor-kantor Yahudi di berbagai negara pakai kata Java. Apa pula hubungan dua konsonan yang sama itu: J dan W. Jewish dan Jawa. Mana yang lebih tua: Jewish atau Jawa. Kalau Sampeyan keturunan Nabi Ibrahim, apakah nenek moyang kami manusia Nusantara yang seluruhnya berpuluh abad yang lalu disebut Jawa atau Jawi adalah ‘’keponakan’’-nya Ibrahim ataukah lebih tua dari Ibrahim.
Dari dunia Jawa dimunculkan sedikit informasi bahwa beberapa waktu yang akan datang akan terjadi hasil ‘’taruhan’’ antara Yahudi (Jewish) dengan Jawa (bukan Jawa non-Sunda non-Batak dalam pengertian 100 tahun terakhir): Kalau Yahudi yang memenangkan persaingan memimpin dunia, maka mereka akan ajak Jawa menjadi rekanan kerja. Kalau Jawa yang ‘’juara’’ mereka akan berguru kepada Jawa.
Apa-apaan itu? Dari bidang ilmu dan teknologi diberitakan bahwa revolusi invensi atau penemuan-penemuan baru akan mengubah geo-ekonomi, geo-politik dan kebudayaan dunia dari Cina, Brazil, Jepang dan Indonesia.
Bangsa Indonesia memasuki 2009 sebagai ‘’orang lugu’’ dan tidak perduli pada dirinya sendiri karena habis waktu dan enerjinya untuk urusan kotak suara. Padahal sejumlah makhluk Tuhan di luar manusia yang ditugasi menemani pertumbuhan peradaban ummat manusia sudah menyiapkan dibukanya sejumlah penemuan di bidang telekomunikasi, energi dan pertanian.
Sengaja saya tuturkan kepada sidang pembaca hal-hal yang ‘’tidak-tidak’’. Nanti kita akan sampai ke yang lebih ‘’tidak-tidak’’ lagi: Lemorian, banjir Nuh, Parikesit, terciptanya pulau-pulau Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dst. Dan akan saya sambung pada tulisan berikutnya pekan depan.
Tapi kita jangan bilang tidak masuk akal dulu sebelum kita bisa menjawab seberapa masuk akal kelakuan Israel sekarang ini: Dengan lancar dan mulus-mulus saja menghajar Palestina di depan rumah saudara-saudaranya sendiri sesama bangsa Arab, di depan hidung PBB.
Berdasarkan sejumlah ‘’khayalan’’ saya di atas, ucapkan: ‘’Ayo, Israel! Kalau berani jangan hanya berantem sama anak kemarin sore. Datang ke Indonesia, sini kamu, carok kita!’’.

(Sumber : Riau Pos, 09 Januari 2009)





A Paradigm Shift

15 01 2009

By. Dr. Chandra Muzaffar*

For the first time in history the human family as a single entity is faced with multiple global crises, each of which has far-reaching implications for the future of our species. These crises are not just the consequences of specific events or even systemic flaws in say the global economic architecture. They are related to fundamental values and deeply entrenched worldviews. The solutions to these crises may require an unprecedented paradigm shift— a radical shift in the way in which we look at ourselves, at others, and at the planet that we inhabit.

There is first the environmental crisis which has many dimensions to it. Global warming and climate change which is the current focus could lead to rise in sea levels and flooding and subsequent inundation of human habitats. There could also be changes in agricultural yields and droughts. The ranges of disease vectors could also increase as a result of global warming. Even certain species could go extinct.

Droughts, linked to climate change, have been cited as one of the reasons for the current food crisis. The conversion of food crops to bio-fuel on a massive scale in countries like Brazil and the United States is yet reason for the present food shortage. Neo-liberal capitalist policies which advocate the opening up of agricultural economies in the Global South to the importation of subsidised foods often from the Global North have also led to the decline of food production in various countries in Africa. The upshot of it all is the spread of hunger and malnutrition within the poorer segments of their population.

The ordeal of the global poor has become worse partly because of the energy crisis. As the price of fuel escalates, it is not just the abysmally poor that suffer but also sections of the middle-class who struggle to make ends meet. Speculation on fuel prices is undoubtedly one of the principal causes of the continuous increase in the price of the commodity, just as speculation on food prices, it is alleged, has played some role in their hike. The steep decline in the value of the US dollar is an equally valid explanation for the increase in the price of fuel. Increasing energy consumption among the expanding middle and upper classes in China and India would be yet another factor.

The decline of the US dollar is central to the global financial crisis, our fourth crisis. In fact, the dollar links our third and fourth crises. As we have hinted, the declining dollar with its adverse impact upon fuel and food prices has increased the cost of living in many parts of the world. More than the declining dollar, it is the dominance of speculative capital in global financial transactions which has brought misery and suffering to millions of people as economies are destroyed and livelihoods wrecked. This is borne out by the negative consequences of the rapid entry and exit of speculative capital into various markets in Southeast Asia, Latin America and Russia in the course of the last 15 or 20 years.

Apart from the four crises outlined here— environmental, food, energy and financial (EFEF)— there are other global crises that should also be highlighted. The possession and proliferation of nuclear weapons, and indeed of all weapons of mass destruction, is a blight upon the human race. Narrow, exclusive identity consciousness has become stronger and stronger in almost every nook and cranny of the planet. The family as an institution appears to have lost its inner cohesion and strength in many different cultures right across the globe.
The various crises that confront humankind at this stage of our history are, as we have observed, inter-linked and inter-connected. In some instances, wrong policies and distorted priorities explain the crises that challenge us. In other instances, the dominant ideology of the day is the primary cause. In this regard, neo-liberal capitalism, the unofficial credo of the planet, with its emphasis upon private gain as against the public good, has undoubtedly eroded the ethical foundation of contemporary civilization. It has legitimized greed and selfishness as no other ideology has in history. The earlier phases of capitalism were less centered on the self, compared to its present phase. It is largely because of the worldview, the structures of power and the notion of the self associated with neo-liberal capitalism that humankind today is faced with a whole spectrum of crises of global proportions.

Can the human family get out of this morass? We can of course tinker with the existing system, make some superficial changes here and there but the underlying causes of our myriad crises will persist. For instance, we can limit greenhouse emissions to check global warming in the present context but if we want to ensure a sustainable, livable environment for future generations, the upper stratum of society will have to alter dramatically its consumption pattern and opt for a modest lifestyle, devoid of extravagance and opulence. Similarly, we can check speculation through taxation and circuit-breakers but if we do not adopt concrete measures to curb the accumulation of wealth by a few, greed will continue to express itself as a destructive social force. We can eliminate nuclear weapons but if we do not build trust among nations and peoples and nurture a profound respect for the sacredness of life, our fears and our insecurities will compel us to invent new and more terrible weapons of mass annihilation.

To curb greed and selfishness, to cultivate trust and respect, society needs to develop a strong moral and spiritual foundation. The various crises that face us today reveal that contemporary civilization is in no position to achieve that spiritual and moral transformation that will lift us out of this morass. History has shown us that it is only when spiritual and moral values are firmly anchored in a transcendent force —— a force that goes beyond the human being —— that they will have the power and the potency to transform civilization. This is why in seeking solutions to the challenges of our time we should with all humility re-connect with the Transcendent, with the Divine. As the second Secretary-General of the United Nations, the late Dag Hammarskjold once put it, “On the bookshelf of life, God is a useful work of reference, always at hand but seldom consulted.”

*Dr. Chandra Muzaffar is President of the International Movement for a Just World (JUST) and Professor of Global Studies at Universiti Sains Malaysia





Bunda

22 12 2008
Sang senja dengan anggunnya menurunkan tirai jingganya menyapu cakrawala. Lalu perlahan wajah mentari berbinar cerah turut menghias senja.
Sosok yang bersahaja -yang di wajahnya ribuan peristiwa telah diurainya, di getar nadinya kisah kehidupan telah diejanya- itupun membuka penutup kendi dan mulai mengalirkan air bening -sebening cermin hatinya, sesuci kasih cintanya- pada telapak tangan, berkumur, mengusap hidung, wajah, tangan, sebagian rambut, telinga, kakinya, serta seluruh kekhilafan yang menghiasi kesehariannya. Hingga lunturlah semua noda bersama diturunkannya tirai senja. Sosok damai itupun membungkus dirinya dengan kafan, dan terbanglah ruhnya mi’raj mendaki titian langit, tinggalkan deru perang batin, mencandai kemesraan dan kerinduan yang mengharu biru. Seribu satu keluh kesah yang ditabungnya sejak pagi tadi, pun terlepas lugas teradu pada Sang Maha Pembuka hingga terangkat seluruh beban yang seharian mampir di pundak yang renta namun harum mewangi aromanya. Pun setelah bermesraan dengan Sang Kekasih Sejatinya, tangan yang terbalut kerja keras menyalakan lentera minyaknya yang apinya meliuk mesra mengikuti alunan irama hembusan angin berayun seolah melantunkan dzikir abadi. Dan sejurus kemudian, diiringi dengan tersenyumnya bintang gemintang, jemari yang beranjak keriput lincah menari memintal benang dan mulai merajut harapan dan doa tentang esok hari. Diselipkannya pula satu-satu, asa dan rasa syukur tak terhingga ke dalam sanubari buah hatinya demi memaknai kehidupan layaknya yang dijalaninya.
Hanya dengan satu pengharapan dan keinginan agar penglihatannya -yang mulai kabur, perih dan memerah- sempat menyaksikan sang buah hati tertempa laksana Dzulfiqar menebas keangkuhan diri yang membayangi setiap langkah manusia.

“Wahai anakku, merahnya mata ini dan mata air air matanya telah menyalakan segenap doaku untukmu. Bersucilah … lalu kenakanlah rajutan harapan yang bunda pintal dari benang-benang perjalanan melintasi ruang mengarungi waktu. Senantiasalah engkau bersyukur, sebab kehidupan ini adalah mensyukuri apa yang diberikanNya. Apa yang telah Dia berikan untukmu, selalu dan terus saja lebih dari apa yang kau minta. Kala engkau rasa asamu terhuyung di ujung terjalnya tebing, tetaplah bersyukur, dan cukuplah engkau berbahagia dengan tatapanNya.”

demikianlah bisikan lirih hati sang ibunda sembari ditatapnya paras lugu sang buah hati yang sedang tertidur lelap memeluk bantal dingin pinggiran masa, sesaat sebelum nyala lentera minyak beranjak meredup tergantikan sinar lembut mesra sang purnama yang saling bersahutan kilaunya dengan cahya gemintang di kubah angkasaNya.

Dan sepintas lalu, seuntai senyum tulus menghiasi bibir sang buah hati yang mengigau lirih,” Terima Kasih, Bunda.”

( 21.03.99 ; rewrite on 22.12.08 )





Cermin (refleksi atas tragedi zakat Pasuruan)

25 10 2008
Puluhan tahun lalu, mendengar dan menyaksikan ada puluhan orang tewas karena antri sembako dan bantuan hanya bisa disaksikan di TVRI, dengan latar belakang gambar danau yang mengering dan iringan suara dalam Iwan Fals menyanyikan lagunya, Ethopia. Tapi, Tuhan “memperkenankan” adegan itu berlangsung di depan hidung kita. 21 orang tewas terinjak-injak di Pasuruan dalam sebuah antrian pembagian zakat.

Maka, sebagaimana biasanya, para tokoh berbicara, media menurunkan timnya, para analis membeberkan analisanya. Di sebuah negeri dimana kambing hitam adalah makhluk yang paling dicari, sangatlah mudah menebak kelanjutan kisahnya. Ada yang menyalahkan si kaya yang membagikan zakat, ada yang menyudutkan si miskin yang “menggadaikan” harga diri dan nyawanya untuk uang 30 ribu rupiah, ada yang memojokkan amil zakat yang kurang profesional sehingga menimbulkan ketidakpercayaan para muzakki, ada yang menyalahkan para tokoh agama yang hanya sekedar memberikan ceramah-ceramah yang “kering, dangkal dan bersifat ritual”, ada yang mencorengkan arang ke muka pemerintah yang nyata-nyata gagal melaksanakan tugasnya menyejahterakan rakyatnya terlebih dahulu, baru dirinya.

Dan saya jadi latah, ikut-ikutan berbicara dan menulis.

Setelah bersimpati dan berbelasungkawa terhadap para korban, mendoakan mereka insyaAllah dihapus penderitaannya dan mendapat surga (tentunya setelah kita terlebih dahulu masuk ke dalamnya, bukan?), ijinkan saya menyelam lebih dalam lagi, sebab sudah terbukti nyata bahwa sehitam apapun yang namanya kambing hitam tak akan menyelesaikan persoalan, apalagi menghidupkan kembali para korban, atau sekedar mengusap air mata kesedihan mereka yang ditinggalkan.

Saya hanya sekedar mengajak untuk mendaftari peristiwa yang bisa menyebabkan peristiwa itu bisa terjadi. Ada si kaya yang alhamdulillah berlebih sehingga menggerakkan niatnya untuk berbagi kelebihannya itu. Ada si miskin yang jangankan 30 ribu, 5 ribu saja bisa menyebabkan sebilah pisau menancap di dada seorang miskin lainnya. Ada amil zakat yang sedang dalam proses menjadi tumbuh menjadi dewasa sehingga ada daerah-daerah yang tak mungkin dijangkaunya. Ada pemerintah yang, jujur saja, saya tak tahu apa yang dilakukannya –dalam pengertian sebuah aktivitas dan kebijakan langsung yang ada hubungannya dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat yang memberi amanah kepadanya.

Tapi tolong jangan berhenti di situ saja, sebab itu hanya sekedar “aktor-aktor” teater tragedi Pasuruan itu. Kita perluas cakrawalanya dengan melihat dekorasi dan tata panggungnya. Ada iklan di televisi dan koran. Ada baliho di sepanjang jalan. Ada poster dan spanduk di mulut-mulut gang. Menukiklah ke dalam “ruh” semua itu, niscaya akan kita temukan “provokasi” teramat sangat kuat yang mengajak untuk melampiaskan, untuk menghamburkan, untuk mengeluarkan. Anda bisa disebut tidak gaul jika anda tidak menggunakan hp merk A. Anda belum layak menyandang ‘alim kalau Anda belum mengikuti pelatihan X,Y,Z. Intelektualitas Anda belum cerdas jika Anda belum menjadi alumni training B. Spiritualitas Anda belum tercerahkan kalau Anda tidak berlangganan sms C. Anda belum afdhal berhari raya kalau Anda tidak mengenakan sarung D, baju E, jam tangan F. Belum sempurna lebaran Anda kalau di meja belum terhidang kue G, minuman H. Anda belum sukses ketika mudik belum mengendarai kendaraan I, J, K. Dan sebagainya, silahkan Anda daftari semuanya.

Maka, tragedi Pasuruan hanyalah sebuah letusan dari gunung api sejarah yang memendam dapur magma di bawah lipatan kelam hidupnya. Berapa banyak kita saksikan berjubel dan berdesakannya manusia pada antrian semacam di Pasuruan? Seberapa sering kita lihat semangat berapi-api para mustahiq yang sedang antri itu laksana mujahid di perang Afghanistan? Dan, 21 korban akhirnya menemui sang maut di Pasuruan.

Maka sangat tidak mudah mengambil keputusan apakah kesalahan pada tragedi Pasuruan adalah di pundak si kaya, si miskin, amil zakat, pemerintah atau milik kita bersama. Juga menjadi tidak gampang menelurkan diagnosa apakah itu sebuah “penyakit sistem”, “penyakit manusia” ataukah sebuah “penyakit kebudayaan” dari sebuah tatanan masyarakat yang terjebak dalam sebuah sistem dan keseharian yang sama gelapnya. Jika demikian adanya, tak adil untuk serta merta menyimpulkan bahwa tragedi Pasuruan adalah sebuah perkecualian –dalam artian ia berdiri sendiri, ataukah tragedi semacam itu telah memiliki janin dalam rahim kehidupan masyarakat kita. Janin semacam itu boleh jadi sudah menjadi peradaban, bukan lagi sekedar tatanan budaya. Janin yang “asupan gizi”nya adalah kebingungan yang absurd pada pola berfikir, cara memahami, cara pandang, cara merasakan dan bagaimana melaksanakan iman.

Maka apabila tragedi itu mencapai maqam yang canggih, rumit dan kompleks semacam ini, kita yang menyaksikan tragedi itu di layar televisi, membacanya di koran atau mendengarkannya di radio, tidak secara otomatis bebas dari kemungkinan bahwa kita juga adalah aktor-aktor dari tragedi semacam itu. Hanya saja, kita –saya paling tidak, sedang berada dalam posisi dimana saya sedang berkata,”kalau saya kaya nanti, saya akan begini .. begitu ..” sedang kenyataannya saya sedang terlilit hutang luar biasa besar, sementara saya sedang dikepung kata-kata persuasi untuk membeli, demokrasi, reformasi, bahkan ayat suci. Maka, dalam masyarakat yang begitu permisif seperti saat ini, “maklum” kalau saya menjadi kehilangan orientasi. Saya kehilangan arah, tak tahu dan mengerti lagi dimana atas, kanan, kiri, bawah. Keniscayaan semacam itu pasti akan melemparkan saya pada sebuah koordinat ruang dan waktu dimana saya adalah pak haji Syaikhoni yang membagikan zakat itu, saya adalah seorang anak kecil yang terjepit dalam antrian itu, saya adalah aparat yang terlambat datang, saya adalah amil zakat yang menyesal, saya adalah pak Pemrentah yang masih saja bingung musti ngapain.

Sementara banjir bandang kemewahan, hedonisme yang gebyar dan gemerlap masih belum surut, kita belum juga bersedia menancapkan jangkar dalam-dalam. Kita, adalah kita yang untuk membayar pajak saja membutuhkan “apa kata dunia … ?”, yang untuk tidak telanjang di depan umum membutuhkan Undang-Undang, hanyut dengan sukses oleh banjir bandang itu.

Maka, kalau Anda setuju dengan semua itu, maka inilah puasa. Puasa adalah mengasah kemampuan menahan diri. Maka puasa menjadi antitesis dari arus deras banjir bandang itu. Puasa adalah menahan diri bukan karena terpaksa. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Puasa adalah kemampuan menahan diri ketika seluruh syarat memungkinkan untuk melampiaskan. Puasa bukan memilih tidak makan dan minum karena tidak ada makanan atau minuman, melainkan karena kesadaran terdalam bahwa memang kita membutuhkan puasa, bahwa memang obat bagi penyakit kita adalah puasa. Maka, menjadi manusia puasa bukanlah ia yang tidak mau korupsi karena tidak ada kesempatan, melainkan karena sadar bahwa korupsi akan menghancurkannya. Bukanlah ia yang tidak bersedia menjadi seorang presiden karena tak ada partai dan dana yang cukup, melainkan karena ia bisa mengukur kadar kepantasan dirinya. Manusia puasa ialah Muhammad yang dengan santunnya “menolak” tawaran Tuhan untuk menjadikannya Raja dan meng-emas-kan bukit Uhud untuknya, meskipun semua syarat dan kepantasan ada pada pribadi beliau yang agung.

Dan ujian terakhir bagi pelaku puasa justru adalah di penghujung Ramadhan, ketika atmosfir Lebaran melambaikan lambaian tangannya dari pasar-pasar, mal-mal, plaza-plaza. Ketika wangi memabukkan suasana Lebaran berhembus dari iklan dan reklame.

27 ramadhan 1429 H