meulaboh to takengon


Nanggroe Aceh Darussalam, berdasarkan geografisnya -menurutku, terbagi menjadi 3 bagian besar. Yakni Aceh pesisir utara/timur, Aceh Tengah, dan Aceh pesisir barat/selatan. Pesisir Utara/Timur membentang mulai dari Banda Aceh sampai Aceh Tamiang. Pesisir Barat/Selatan membentang mulai dari Aceh Jaya hingga Aceh Singkil. Dan Aceh Tengah membentang di punggung bukit barisan dari Aceh Tengah hingga Aceh Tenggara. Kemudian ada dua pulau yang memiliki wilayah administratif sendiri, yakni Pulau Weh dan Pulau Simeulue. Secara umum, suku bangsa yang hidup di NAD adalah Suku Aceh yang tersebar hampir di seluruh wilayah Aceh. Kemudian ada Suku Gayo dan Suku Alas di Aceh Tengah. Ada suku Tamiang di Aceh Tamiang. Ada suku Kluet, Aneuk Jamee, dan suku Singkil di pesisir barat/selatan. Dan suku Simeulue di pulau Simeulue.

Kali ini, aku berkesempatan ke kota Takengon, ibukota Kab. Aceh Tengah yang terletak di tepian Danau Lut Tawar, sebuah danau bekas kawah vulkanik di punggung bukit barisan. Karena waktu yang tersedia sangat sedikit, terpaksa berangkat pada Jumat malam. Setelah shalat maghrib, aku dan dua orang temenku berangkat dari Meulaboh (ibukota Kab. Aceh Barat). Jalan menuju Takengon dari Meulaboh adalah lewat Kabupataen Nagan Raya. Namun di simpang tiga Jeuram, lurus saja. Kalau ke kanan, ke arah Balng Pidie. Saat itu musim hujan. Awalnya langit cukup cerah, namun setelah melewati jembatan Krueng Isep (batas perkampungan terakhir), mendung mulai menutupi langit. Dan satu jam kemudian, hujan pun turun. Sekedar informasi, perjalanan dari pesisir barat Aceh ini (Meulaboh) ke Takengon adalah perjalanan naik ke bukit barisan. Jadi, kondisi jalannya selain menanjak, juga berkelok-kelok. Jadi, dengan motor sebagian besar hanya bisa bermain di gigi 1 dan gigi 2. Antara Krueng Isep dengan puncak Singgah Mata (puncak tertinggi antara Meulaboh-Takengon), jalanan sudah beraspal mulus, namun perlu ekstra hati-hati sebab di samping kalau tidak jurang, adalah tebing tinggi yang sebenarnya mungkin rawan longsor. Bahkan, menjelang Singgah Mata, jalanan aspal hampir seluruhnya tertutup oleh kerikil dan tanah dari longsoran tebing di sampingnya. Perjalanan dukup lambat, sebab di samping hujan, kabut juga turun menemani perjalanan kali ini. Dengan lampu motor yang masih baru pun, jarak pandang terbatas hanya sampai 10-20 meter. Di Singgah Mata sempat istirahat sejenak, kemudian meneruskan lagi perjalanan menuju Beutong Ateuh. Dari informasi yang didapat sebelumnya, kondisi jalan antara Singgah Mata dan Beutong Ateuh ini masih berupa tanah dan makadam, jadi harus lebih hati-hati. Ditambah lagi, kata orang lokal, jalur ini masih sering jadi perlintasan hewan liar di hutan Leuser ini. Gajah, beruang dan harimau sumatera masih sering terlihat di jalur ini. Maka pesan masyarakat  lokal, jangan pernah berhenti di jalur sejauh ± 15 km ini, apapun yang terjadi. Wah!


Selain belum beraspal, kondisi jalan juga menurun tajam dengan belokan-belokan yang tak terduga. Akhirnya, dengan mengerahkan keterampilan crosser, sampai juga di Beutong Ateuh jam 1 malem. Sekedar informasi, kalau pernah membaca Tempo / Gatra tentang pelanggaran HAM 1999 terhadap pesantren Tgk. Bantakiah oleh TNI, di Beutong Ateuh inilah tempatnya. Beutong Ateuh ini sendiri hanya sebuah desa dengan 4 dusun di tepi sebuah sungai besar. Dulu, Beutong Ateuh terkenal dengan daun surga-nya. Dari Beutong Ateuh pun, perjalanan diteruskan menuju Takengon. Kondisi jalan dari Beutong Ateuh hingga ke Takengon pada umummnya sudah beraspal bagus. Namun, ada beberapa titik dimana jalanan menyempit dan belum beraspal.

Akhirnya, dengan sekali tersesat (ditambah tidak ada orang yang bisa ditanya), sampai juga di Takengon pada jam 4 pagi. Di pintu masuk menuju Takengon ini, sempat ada pemeriksaan oleh polisi yang bersenjata lengkap. Setelah tahu kami baru melewati Beutong Ateuh, kami pun akhirnya “dilucuti”. Sebab, image Beutong Ateuh sebagai ladang ganja yang kualitas dan harganya cukup baik masih belum sepenuhnya hilang. Hasilnya, kami sukses menggigil jam 4 pagi di pintu masuk Takengon.

Sejenak kebingungan karena belum tahu jalan, akhirnya kami bersyukur karena kebaikan hati seorang teman yang “mengutus” adiknya untuk mengajak kami menginap di rumahnya. Setelah berbasa-basi sejenak dengan tuan rumah, kami sempatkan sebentar untuk istirahat. Setelah istirahat sekitar 3 jam, pagi itupun kami teruskan dengan mencoba berkeliling danau lut tawar. Asumsi awal kami, dengan waktu yang terbatas, maka hari Sabtu harus bisa kami manfaatkan dengan baik untuk menjelajahi Takengon dengan asumsi setengah hari berkeliling danau lut tawar, dan setengah hari berikutnya, menjelajahi Kota Takengon. Namun, Danau Lut Tawar rupanya sangat luas. Waktu setengah hari ternyata hanya benar-benar bisa cukup untuk berkeliling di tepian danau. Tidak ada waktu untuk berhenti dan menikmati panorama, apalagi untuk naik perahu menjelajahi danaunya sendiri. Kami hanya berhenti cukup lama untuk shalat dhuhur di mushalla di daerah Bintang.

 

Dalam pengamatan singkat, banyak keindahan yang ditawarkan oleh Danau Lut Tawar. Ada beberapa penginapan di tepi danau, seperti Hotel Rengganis. Selain keindahan panorama alamnya, kondisi sosial budaya masyarakat setempat, yang umumnya suku Gayo, sangat ramah dan menyenangkan. Inilah sebuah permata di pedalaman Nanggroe Aceh Darussalam. Setidaknya, butuh waktu minimal dua hari untuk bisa benar-benar menikmati keindahan Danau Lut Tawar ini. Dari kondisi morfologisnya secara umum, pasti menyenangkan melihat matahari terbit dari balik pengunungan. Kalau boleh mencari persamaan, mungkin sunrise disini mirip dengan sunrise di Ranu Kumbolo (Semeru). Namun, pasti akan lebih bagus disini, dengan danaunya yang mungkin 10 kali lebih luas dari Ranu Kumbolo. Danau Lut Tawar ini dikelilingi oleh beberapa perbukitan hampir di seluruh tepiannya, yang di beberapa titik, tebingnya seperti menyampaikan tantangan abadi untuk dipanjat. Danau ini adalah bekas kawah vulkanik yang terbentuk entah berapa juta tahun yang lalu, sama morfologisnya dengan Danau Toba. Dan danau ini benar-benar menjadi nyawa bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.

 


Kami kembali ke Takengon tepat jam 4 sore. Setelah makan siang dan shalat ashar, oleh keluarga tuan rumah yang sangat baik, kami diajak naik ke salah satu bukit di sisi kanan kota Takengon, untuk menikmati Kota Takengon dari atas. Sangat indah, benar-benar Tuhan sangat murah hati menganugerahi Indonesia dengan keindahan semacam ini. Dari bukit (yang kami semua tidak tahu namanya) ini, Kota Takengon tepat di hadapan kami, sedang Danau Lut Tawar ada di sisi kanan yang terhalang oleh punggung bukit. Dari sini, aku kira sunsetnya sangat bagus. Matahari yang berpamitan turun ke balik pegunungan akan mewarnai Kota Takengon dan Danau Lut Tawar dengan warna keemasan. Sayang, mendung cukup tebal senja itu.


Setelah shalat maghrib, kami sempatkan untuk sekedar ngobrol dengan keluarga tuan rumah. Setelah shalat isya’, kami sempatkan berkeliling Kota Takengon. Kotanya sendiri tidak terlalu besar, namun karena letaknya di daerah perbukitan, maka jalannya pun naik turun. Kota ini pada jaman penjajahan dulunya menjadi sebuah kota tempat peristirahatan bagi para perwira Belanda dan Jepang. Ini menjadikan tata kota Takengon sendiri jauh lebih baik dibandingkan dengan kota-kota lain yang ada di Aceh, setidaknya menurut pendapatku. Kotanya pun bersih dan teratur, dan memiliki kemiripan dengan Kota Sabang, mengingat keduanya sama-sama dimanfaatkan sebagai tempat peristirahatan.

Mungkin karena kelelahan, malam itu kami sukses tertidur lelap dan bangun kesiangan. Baru sekitar jam 9, kami benar-benar siap utnuk acara hari itu, hari terakhir kami di Takengon. Rencana awalnya sih, karena keterbatasan informasi, berkeliling kota dan mencoba kopi Gayo yang terkenal itu. Namun, rupanya tuan rumah kami kali ini (yang tidak ikhlas kalau kami nginap di hotel) sangat baik. Si tuan rumah ini menghadiahi kami dengan mengajak ke Pantan Terong untuk melihat Kota Takengon dan Danau Lut Tawar dari ketinggian. Jalan naik ke Pantan Terong ini cukup sempit tapi sudah teraspal dengan baik. Di sepanjang perjalanan, di sela-sela hutan hujan tropis, banyak kebun-kebun kopi yang bunga dan buahnya sudah mulai tersenyum lagi, setelah sekian lama terlantar karena konflik antara GAM dan TNI. Namun, sesampainya di Pantan terong, bukannya lansekap Kota Takengon dan Danau Lut Tawar yang terhidang, melainkan kabut dan mendung tebal yang membuat kami harus menghela nafas panjang. Pantan Terong ini sebenarnya adalah puncak salah satu bukit yang mengelilingi Kota Takengon, yang letaknya sangat strategis sebab tepat di depan terhampar Kota Takengon dan Danau Lut Tawar, sedangkan kanan kirinya terhampar kebun kopi. Mirip dengan daerah Payung di kota Batu, Malang, tempat kita biasanya menikmati kota Batu yang terhampar di bawah.


Kalau saja masih banyak waktu yang tersedia, kami akan tunggu kabut dan mendung berpamitan. Namun, rupanya kami yang harus terlebih dahulu berpamitan dari Pantan Terong. Kamipun turun untuk kembali ke Kota Takengon dan bersiap packing untuk kembali ke Meulaboh. Dan syukurlah, di tengah perjalanan turun, kabut dan mendung rupanya “mengizinkan” kami untuk mengintip keindahan lansekap Kota Takengon dan Danau Lut Tawar dari ketinggian ini. Benar-benar indah. Seharusnya kami menginap di Pantan Terong untuk menunggu sunrise, seperti halnya banyak orang yang rela menginap di Penanjakan untuk menunggu sunrise dari balik Semeru. Di tengah perjalanan, kami sempatkan untuk membeli kopi Gayo di pasar Kota Takengon.


Dan sesampai di rumah, setelah packing, kamipun berpamitan dengan tuan rumah. Terima kasih banyak, atas semuanya selama dua hari kami di Takengon. Kami harus benar-benar berterima kasih atas keramahan tuan rumah dan Kota Takengon ini.

Perjalanan kembali ke Meulaboh di siang hari rupanya menyingkapkan cadar yang menyelimuti keindahan bukit barisan ini. Sepanjang perjalanan dari Takengon ke Beutong Ateuh kami tak henti menikmati panorama alam yang dibentangkan Tuhan di ujung Sumatera ini. Begitupun dalam perjalanan dari Beutong Ateuh hingga ke Singgah Mata. Hutan hujan tropis yang masih perawan, pohon-pohon yang menjulang tinggi dengan diameter batangnya diatas 1 meter. Lumut dan anggrek di sekujur batangnya. Benar-benar sebuah anugerah. Sesampainya di Singgah Mata, kami sempatkan untuk beristirahat sebentar. Namun, rupanya kabut tebal sudah kembali menyapa kami, yang membuat jarak pandang hanya sekitar 50 meter, padahal saat itu masih jam 3 siang. Kata orang yang kami temui di Singgah Mata, jika kondisi cerah, dari Singgah Mata ini akan bisa terlihat Kota Meulaboh dan garis pantainya, serta Samudera Hindia. Bahkan, jika beruntung, jika pembiasan atmosfir bisa minimal, Kota Calang dan Blangpidie juga bisa terlihat dengan jelas. Mungkin mirip kalau kita melihat garis pantai Jawa Timur dan Pulau Madura dari puncak Gunung Welirang.


Akhirnya, kami sampai di Meulaboh sekitar jam 6 sore, dengan membawa kegembiraan dan rasa terima kasih tak terhingga. Kepada Tuhan tentunya yang telah menyediakan semua ini, untuk kita jaga dan dan kita nikmati. Juga kepada tuan rumah kami selama di Takengon.

Credits: Maiman’s family, Takengon; Mas Shuvchenko, Fadhlul

One thought on “meulaboh to takengon

  1. me says:

    hari rabu, 12 november ini, kami mau melintasi meulaboh-tekengon, apakah mobil kijang bisa melintasi jalan tersebut?.
    ada hal-hal lain yang perlu kami perhatikan?
    jam berapa sebaiknya kami bergerak?

    terima kasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s