Junun (1)

24 09 2008

Jujur, sebenarnya tidurku tak nyenyak malam itu. Pre-installed program di otakku yang sebenarnya berkata aku harus tidur.

Dan ia tiba-tiba datang, si Junun itu. Besar badannya bagai Bima menghalangi sinar rembulan sampai ke wajahku, serak dalam suaranya menghunjam laksana jangkar di tengah samudera.
Sehingga belum sempat ia bersuara, kedatangannya saja sangat menyakitkan. Seolah-olah setiap kedatangannya disertai aji-aji kedigadayaan. Kedatangannya membuat bintang gemintang memilih menyembunyikan diri, arakan awan dan mendung pergi entah kemana, dan hanya meninggalkan rembulan pucat yang menggigil sendirian.

“Bukalah matamu. Matamu !!. Ya, matamu itu! Lihatlah kenyataan di sekelilingmu, pembalakan liar, penambangan liar, kasus-kasus korupsi, pembunuhan, penculikan, nuklir Iran, perang Iraq, Afghanistan, Irlandia Utara, Pakistan. Afalaa tatafakkarun? Afalaa yatadabbaruun? Tidakkah kamu berfikir? Tidakkah kamu renungkan? Tak kau gunakan itu matamu !!! Pantas saja kalau Tuhan mengijinkan 21 orang tewas terinjak-injak pada pembagian zakat itu, tepat di depan matamu !!!”

“Tidakkah kau lihat bahwa semua kenyataan itu bermuara pada satu hal, bahwa jelas-jelas bahwa manusia begitu tak bisa menahan diri? Butuh berapa banyak lagi korban?”

Bagai banjir bandang, kata-kata si Junun ini deras membanjir tak tertahankan

“Bukankah ini Ramadhan? Bukankah ini “alamat” dari puasa? Apa karena Tuhan berkata bahwa ibdaha puasa khusus untukNya, lalu kau pikir bisa sesukamu memperlakukan puasa? Lantas kau anggap kau tak perlu memetik mutiara puasa, karena toh ibadah puasa untuk Tuhan? Besar kepala-mu tak tertanggungkan lagi! Kau berlapar-dahaga sambil cengengesan mengubur kesucian makna puasa!”

Si Junun kumat!. Ia sudah tak terbendung lagi. Sialnya, semakin ia kumat semakin pucat rembulan, dan aku terjungkal lagi.

“Kau! Kau memang pantas bersyukur tidak ada diantara kerumunan orang-orang itu. Aku berani jamin bahwa kau tidak akan pernah ada disana. Kepandaian otakmu tak memerlukanmu untuk berdesak-desakan disana. Penghasilanmu tak kan membuatmu terlempar ke kolam keringat dan keluh kesah mereka. Kesibukanmu memberikan upeti buat pemilik proyek, menyisihkan uangmu untuk koleksi gadget, membeli baju lebaran, memuaskan lidahmu untuk hidangan berbuka dan sahur. Itu semua aku jamin tak akan memberikan waktu dan kesempatan bagimu untuk menjadi pak Haji yang membagikan zakatnya itu. Kau telah bersekolah tinggi, sehingga kau menjadi pandai dan mampu mengelola kehidupan secara lebih rasional. Sedang mereka itu! Dalam kekalutan hidupnya, mereka lari ke kuburan, kau tuduh syirik dalam ceramah-ceramahmu. Mereka pergi ke dukun, kau tuduh murtad! Dan salahkah kalau mereka pergi ke pembagian zakat itu? Setelah mereka datang kepadamu dan tak mendapatkan apa-apa kecuali ceramah-ceramah dan khotbah-khotbah?”

Sialan! Kurang ajar betul si Junun ini. Tak bisakah ia lihat aku sudah menggigil dan gemetaran? Tak punya perasaan dia! Celanaku sudah basah pula!

“Tadarrus !!! tadarrus ! Iqra’! Khatamkan tadarrus kehidupanmu sendiri! Kehidupanmu sendiri! Pandanglah kisah hidupmu, lihatlah bagaimana apa yang kau punya saat ini kau dapatkan! Ejalah catatan hidupmu, bagaimana engkau menggusur, membongkar, menindas, mendhalimi tidak hanya orang lain melainkan dirimu sendiri!. Kalau kau beruntung, kelak kau akan bertanya,”Kenapa aku ternyata sedemikian tidak mampu menahan diri?” Tadarrus!”

“Jangan kau gede rumongso hanya kau yang puasa. Ketika Allah mengatakan ibadah puasa khusus untukNya, Allah sudah melakukannya. Beliau sudah sejak lama berpuasa menahan diri!!! Dengan dosa-dosamu yang sedemikian bertumpuk -baik dosa individual maupun dosa sosialmu, tak pantaskah kalau sejak dulu Allah murka dan menghancurkanmu laksana bukit di hadapan Musa ketika Musa khalwat di bukit Katrina (Jabal Catherine)? Tidak! Allah tetap memperkenankanmu menghirup udaraNya, meminum airNya. Mengizinkanmu tertawa-tawa cengengesan –seolah-olah Ia menutup mripatNya pada tingkah polahmu yang begitu maling, begitu munafik dan begitu kufur?”

Setelah kalimatnya yang terakhir itu, nafasnya tersengal-sengal menemani nafasku yang sedari tadi sudah tersengal-sengal. Aku jadi berfikir, siapakah yang sebenarnya lebih pantas menyandang “junun” ini sehingga disebut “majnun”. Ia atau aku?

“Nun,”ujarku sambil tetap tersengal-sengal. “Maaf. Tak adakah peluang untukku …!”

Dan banjir bandang terus saja menerjang. Dan rembulan pucat masih terus menggigil. Sendirian.

(24 ramadhan 1429)





Sajak orang lapar

17 09 2008

:WS Rendra

kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam

o Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan

seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

o Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin

o Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca

o Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam

o Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu

| turut berduka atas Tragedi Pasuruan |





meulaboh to takengon

15 09 2008

Nanggroe Aceh Darussalam, berdasarkan geografisnya -menurutku, terbagi menjadi 3 bagian besar. Yakni Aceh pesisir utara/timur, Aceh Tengah, dan Aceh pesisir barat/selatan. Pesisir Utara/Timur membentang mulai dari Banda Aceh sampai Aceh Tamiang. Pesisir Barat/Selatan membentang mulai dari Aceh Jaya hingga Aceh Singkil. Dan Aceh Tengah membentang di punggung bukit barisan dari Aceh Tengah hingga Aceh Tenggara. Kemudian ada dua pulau yang memiliki wilayah administratif sendiri, yakni Pulau Weh dan Pulau Simeulue. Secara umum, suku bangsa yang hidup di NAD adalah Suku Aceh yang tersebar hampir di seluruh wilayah Aceh. Kemudian ada Suku Gayo dan Suku Alas di Aceh Tengah. Ada suku Tamiang di Aceh Tamiang. Ada suku Kluet, Aneuk Jamee, dan suku Singkil di pesisir barat/selatan. Dan suku Simeulue di pulau Simeulue.

Kali ini, aku berkesempatan ke kota Takengon, ibukota Kab. Aceh Tengah yang terletak di tepian Danau Lut Tawar, sebuah danau bekas kawah vulkanik di punggung bukit barisan. Karena waktu yang tersedia sangat sedikit, terpaksa berangkat pada Jumat malam. Setelah shalat maghrib, aku dan dua orang temenku berangkat dari Meulaboh (ibukota Kab. Aceh Barat). Jalan menuju Takengon dari Meulaboh adalah lewat Kabupataen Nagan Raya. Namun di simpang tiga Jeuram, lurus saja. Kalau ke kanan, ke arah Balng Pidie. Saat itu musim hujan. Awalnya langit cukup cerah, namun setelah melewati jembatan Krueng Isep (batas perkampungan terakhir), mendung mulai menutupi langit. Dan satu jam kemudian, hujan pun turun. Sekedar informasi, perjalanan dari pesisir barat Aceh ini (Meulaboh) ke Takengon adalah perjalanan naik ke bukit barisan. Jadi, kondisi jalannya selain menanjak, juga berkelok-kelok. Jadi, dengan motor sebagian besar hanya bisa bermain di gigi 1 dan gigi 2. Antara Krueng Isep dengan puncak Singgah Mata (puncak tertinggi antara Meulaboh-Takengon), jalanan sudah beraspal mulus, namun perlu ekstra hati-hati sebab di samping kalau tidak jurang, adalah tebing tinggi yang sebenarnya mungkin rawan longsor. Bahkan, menjelang Singgah Mata, jalanan aspal hampir seluruhnya tertutup oleh kerikil dan tanah dari longsoran tebing di sampingnya. Perjalanan dukup lambat, sebab di samping hujan, kabut juga turun menemani perjalanan kali ini. Dengan lampu motor yang masih baru pun, jarak pandang terbatas hanya sampai 10-20 meter. Di Singgah Mata sempat istirahat sejenak, kemudian meneruskan lagi perjalanan menuju Beutong Ateuh. Dari informasi yang didapat sebelumnya, kondisi jalan antara Singgah Mata dan Beutong Ateuh ini masih berupa tanah dan makadam, jadi harus lebih hati-hati. Ditambah lagi, kata orang lokal, jalur ini masih sering jadi perlintasan hewan liar di hutan Leuser ini. Gajah, beruang dan harimau sumatera masih sering terlihat di jalur ini. Maka pesan masyarakat  lokal, jangan pernah berhenti di jalur sejauh ± 15 km ini, apapun yang terjadi. Wah!


Selain belum beraspal, kondisi jalan juga menurun tajam dengan belokan-belokan yang tak terduga. Akhirnya, dengan mengerahkan keterampilan crosser, sampai juga di Beutong Ateuh jam 1 malem. Sekedar informasi, kalau pernah membaca Tempo / Gatra tentang pelanggaran HAM 1999 terhadap pesantren Tgk. Bantakiah oleh TNI, di Beutong Ateuh inilah tempatnya. Beutong Ateuh ini sendiri hanya sebuah desa dengan 4 dusun di tepi sebuah sungai besar. Dulu, Beutong Ateuh terkenal dengan daun surga-nya. Dari Beutong Ateuh pun, perjalanan diteruskan menuju Takengon. Kondisi jalan dari Beutong Ateuh hingga ke Takengon pada umummnya sudah beraspal bagus. Namun, ada beberapa titik dimana jalanan menyempit dan belum beraspal.

Akhirnya, dengan sekali tersesat (ditambah tidak ada orang yang bisa ditanya), sampai juga di Takengon pada jam 4 pagi. Di pintu masuk menuju Takengon ini, sempat ada pemeriksaan oleh polisi yang bersenjata lengkap. Setelah tahu kami baru melewati Beutong Ateuh, kami pun akhirnya “dilucuti”. Sebab, image Beutong Ateuh sebagai ladang ganja yang kualitas dan harganya cukup baik masih belum sepenuhnya hilang. Hasilnya, kami sukses menggigil jam 4 pagi di pintu masuk Takengon.

Sejenak kebingungan karena belum tahu jalan, akhirnya kami bersyukur karena kebaikan hati seorang teman yang “mengutus” adiknya untuk mengajak kami menginap di rumahnya. Setelah berbasa-basi sejenak dengan tuan rumah, kami sempatkan sebentar untuk istirahat. Setelah istirahat sekitar 3 jam, pagi itupun kami teruskan dengan mencoba berkeliling danau lut tawar. Asumsi awal kami, dengan waktu yang terbatas, maka hari Sabtu harus bisa kami manfaatkan dengan baik untuk menjelajahi Takengon dengan asumsi setengah hari berkeliling danau lut tawar, dan setengah hari berikutnya, menjelajahi Kota Takengon. Namun, Danau Lut Tawar rupanya sangat luas. Waktu setengah hari ternyata hanya benar-benar bisa cukup untuk berkeliling di tepian danau. Tidak ada waktu untuk berhenti dan menikmati panorama, apalagi untuk naik perahu menjelajahi danaunya sendiri. Kami hanya berhenti cukup lama untuk shalat dhuhur di mushalla di daerah Bintang.

 

Dalam pengamatan singkat, banyak keindahan yang ditawarkan oleh Danau Lut Tawar. Ada beberapa penginapan di tepi danau, seperti Hotel Rengganis. Selain keindahan panorama alamnya, kondisi sosial budaya masyarakat setempat, yang umumnya suku Gayo, sangat ramah dan menyenangkan. Inilah sebuah permata di pedalaman Nanggroe Aceh Darussalam. Setidaknya, butuh waktu minimal dua hari untuk bisa benar-benar menikmati keindahan Danau Lut Tawar ini. Dari kondisi morfologisnya secara umum, pasti menyenangkan melihat matahari terbit dari balik pengunungan. Kalau boleh mencari persamaan, mungkin sunrise disini mirip dengan sunrise di Ranu Kumbolo (Semeru). Namun, pasti akan lebih bagus disini, dengan danaunya yang mungkin 10 kali lebih luas dari Ranu Kumbolo. Danau Lut Tawar ini dikelilingi oleh beberapa perbukitan hampir di seluruh tepiannya, yang di beberapa titik, tebingnya seperti menyampaikan tantangan abadi untuk dipanjat. Danau ini adalah bekas kawah vulkanik yang terbentuk entah berapa juta tahun yang lalu, sama morfologisnya dengan Danau Toba. Dan danau ini benar-benar menjadi nyawa bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.

 


Kami kembali ke Takengon tepat jam 4 sore. Setelah makan siang dan shalat ashar, oleh keluarga tuan rumah yang sangat baik, kami diajak naik ke salah satu bukit di sisi kanan kota Takengon, untuk menikmati Kota Takengon dari atas. Sangat indah, benar-benar Tuhan sangat murah hati menganugerahi Indonesia dengan keindahan semacam ini. Dari bukit (yang kami semua tidak tahu namanya) ini, Kota Takengon tepat di hadapan kami, sedang Danau Lut Tawar ada di sisi kanan yang terhalang oleh punggung bukit. Dari sini, aku kira sunsetnya sangat bagus. Matahari yang berpamitan turun ke balik pegunungan akan mewarnai Kota Takengon dan Danau Lut Tawar dengan warna keemasan. Sayang, mendung cukup tebal senja itu.


Setelah shalat maghrib, kami sempatkan untuk sekedar ngobrol dengan keluarga tuan rumah. Setelah shalat isya’, kami sempatkan berkeliling Kota Takengon. Kotanya sendiri tidak terlalu besar, namun karena letaknya di daerah perbukitan, maka jalannya pun naik turun. Kota ini pada jaman penjajahan dulunya menjadi sebuah kota tempat peristirahatan bagi para perwira Belanda dan Jepang. Ini menjadikan tata kota Takengon sendiri jauh lebih baik dibandingkan dengan kota-kota lain yang ada di Aceh, setidaknya menurut pendapatku. Kotanya pun bersih dan teratur, dan memiliki kemiripan dengan Kota Sabang, mengingat keduanya sama-sama dimanfaatkan sebagai tempat peristirahatan.

Mungkin karena kelelahan, malam itu kami sukses tertidur lelap dan bangun kesiangan. Baru sekitar jam 9, kami benar-benar siap utnuk acara hari itu, hari terakhir kami di Takengon. Rencana awalnya sih, karena keterbatasan informasi, berkeliling kota dan mencoba kopi Gayo yang terkenal itu. Namun, rupanya tuan rumah kami kali ini (yang tidak ikhlas kalau kami nginap di hotel) sangat baik. Si tuan rumah ini menghadiahi kami dengan mengajak ke Pantan Terong untuk melihat Kota Takengon dan Danau Lut Tawar dari ketinggian. Jalan naik ke Pantan Terong ini cukup sempit tapi sudah teraspal dengan baik. Di sepanjang perjalanan, di sela-sela hutan hujan tropis, banyak kebun-kebun kopi yang bunga dan buahnya sudah mulai tersenyum lagi, setelah sekian lama terlantar karena konflik antara GAM dan TNI. Namun, sesampainya di Pantan terong, bukannya lansekap Kota Takengon dan Danau Lut Tawar yang terhidang, melainkan kabut dan mendung tebal yang membuat kami harus menghela nafas panjang. Pantan Terong ini sebenarnya adalah puncak salah satu bukit yang mengelilingi Kota Takengon, yang letaknya sangat strategis sebab tepat di depan terhampar Kota Takengon dan Danau Lut Tawar, sedangkan kanan kirinya terhampar kebun kopi. Mirip dengan daerah Payung di kota Batu, Malang, tempat kita biasanya menikmati kota Batu yang terhampar di bawah.


Kalau saja masih banyak waktu yang tersedia, kami akan tunggu kabut dan mendung berpamitan. Namun, rupanya kami yang harus terlebih dahulu berpamitan dari Pantan Terong. Kamipun turun untuk kembali ke Kota Takengon dan bersiap packing untuk kembali ke Meulaboh. Dan syukurlah, di tengah perjalanan turun, kabut dan mendung rupanya “mengizinkan” kami untuk mengintip keindahan lansekap Kota Takengon dan Danau Lut Tawar dari ketinggian ini. Benar-benar indah. Seharusnya kami menginap di Pantan Terong untuk menunggu sunrise, seperti halnya banyak orang yang rela menginap di Penanjakan untuk menunggu sunrise dari balik Semeru. Di tengah perjalanan, kami sempatkan untuk membeli kopi Gayo di pasar Kota Takengon.


Dan sesampai di rumah, setelah packing, kamipun berpamitan dengan tuan rumah. Terima kasih banyak, atas semuanya selama dua hari kami di Takengon. Kami harus benar-benar berterima kasih atas keramahan tuan rumah dan Kota Takengon ini.

Perjalanan kembali ke Meulaboh di siang hari rupanya menyingkapkan cadar yang menyelimuti keindahan bukit barisan ini. Sepanjang perjalanan dari Takengon ke Beutong Ateuh kami tak henti menikmati panorama alam yang dibentangkan Tuhan di ujung Sumatera ini. Begitupun dalam perjalanan dari Beutong Ateuh hingga ke Singgah Mata. Hutan hujan tropis yang masih perawan, pohon-pohon yang menjulang tinggi dengan diameter batangnya diatas 1 meter. Lumut dan anggrek di sekujur batangnya. Benar-benar sebuah anugerah. Sesampainya di Singgah Mata, kami sempatkan untuk beristirahat sebentar. Namun, rupanya kabut tebal sudah kembali menyapa kami, yang membuat jarak pandang hanya sekitar 50 meter, padahal saat itu masih jam 3 siang. Kata orang yang kami temui di Singgah Mata, jika kondisi cerah, dari Singgah Mata ini akan bisa terlihat Kota Meulaboh dan garis pantainya, serta Samudera Hindia. Bahkan, jika beruntung, jika pembiasan atmosfir bisa minimal, Kota Calang dan Blangpidie juga bisa terlihat dengan jelas. Mungkin mirip kalau kita melihat garis pantai Jawa Timur dan Pulau Madura dari puncak Gunung Welirang.


Akhirnya, kami sampai di Meulaboh sekitar jam 6 sore, dengan membawa kegembiraan dan rasa terima kasih tak terhingga. Kepada Tuhan tentunya yang telah menyediakan semua ini, untuk kita jaga dan dan kita nikmati. Juga kepada tuan rumah kami selama di Takengon.

Credits: Maiman’s family, Takengon; Mas Shuvchenko, Fadhlul





senandung sang fakir

10 09 2008

duhai,
apa yang kupunya untuk mengundangMu hadir ?
bukanlah aku, ya Kekasih, yang bersayap jubah kesabaran
bukanlah aku, ya Kekasih, yang berselendang raja’ dan khauf
bukanlah aku, ya Kekasih, yang bermahkota tawaddhu’
langkahku tersandung-sandung
dan suaraku masih tersendat-sendat
sedang jiwaku …
oh Kekasih, jiwaku dihunjam rindu pendam
remuk redam

aku hanyalah seorang fakir, ya Kekasih
fakir papa tak punya apa dan siapa
bahkan juga kecerdasan
di negeri ini, ya Kekasih
kecerdasan bukanlah harta orang fakir
kecerdasan intelektual
kecerdasan emosional
kecerdasan spiritual
hanya bisa menjadi khayal

jiwaku yang dihunjam rindu pendam
masih saja terjerat kesementaraan
terhijab oleh penjara yang kubuat sendiri

aku hanyalah seorang fakir, ya Kekasih
kekayaanku satu-satunya adalah kefakiran
itupun kalau masih boleh kuakui sebagai milikku

maka apakah yang membuat seorang fakir
pantas mendekat dan berbaring di sejuk cahaya cintaMu
selain hanya berharap pada sejuk cahaya cintaMu jua

{ banda aceh | 10.09.08 }





puasa dan per(maaf)an [2]

5 09 2008

Saya punya seorang teman baik. Teman ini yang sukses memprovokasi saya hingga menyukai kegiatan naik turun gunung. O’ik namanya. Pengalamannya naik turun gunung rupanya menjadi provokasi yang cukup jitu. Salah satu hal yang amat saya berterima kasih pada teman satu ini adalah melihat cara dia packing, mengemas semua barang dalam sebuah rucksack / carrier, tas yang biasanya digunakan untuk naik turun gunung itu. Masih jelas waktu pertama kali saya “nekat” ikut ke Semeru, teman saya ini yang mencarikan sebagian besar perlengkapan yang dibutuhkan. Dan tidak hanya berhenti disitu saja, dia juga memberi workshop gratis cara packing barang-barang bawaan ke dalam rucksack. Dengan kata lain, dia juga yang mengemas semua barang bawaan ke dalam rucksack. Dan satu hal yang aku pelajari, bahwa untuk sebuah pendakian, packing menjadi sebuah kata kunci, karena packing yang baik tidak hanya berhenti tentang memeilih mana yang perlu dibawa atau tidak, namun juga mengaturnya sedemikian rupa sehingga mempermudah penggunaan (fungsional) dan kenyamanan (comfort). Benar bahwa mendaki gunung itu adalah “art of packing”. Persiapan yang benar sudah berarti 50% keberhasilan pendakian.

Ternyata ‘seni’ memilih (atau menyeleksi tepatnya) sesuatu yang perlu dan tidak perlu bukan hanya masalah packing untuk naik gunung. Tapi untuk pengecoran beton pun demikian. Agregat kasar dan halus idealnya adalah dicuci sebab kandungan lumpur dan bahan organik di dalamnya tidak perlu ikut berperan serta dalam mortar beton. Kalau terjadi, maka kekuatan beton tidak akan bisa mencapai yang diharapkan. Atau merencanakan sebuah struktur misalnya, mereduksi faktor-faktor yang akan menyebabkan pertambahan beban yang sebenarnya tidak perlu juga akan memberikan hasil yang lebih hemat dan efisien.

dan bagi yang pernah merasakan naik turun gunung, hanya ada dua efek sampingnya. Ketagihan atau kapok. Tapi yang ketagihan, maka ada jaminan bahwa ia akan bergembira kalau akan naik turun gunung lagi.

Maka dalam konteks Ramadhan pun, saya paling tidak, menemukannya demikian. Ramadhan adalah sebuah gunung tinggi, terjal nan curam. Namun di puncaknya Tuhan dengan tersenyum bersabda, ”ibadah puasa khusus untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya”. Hati siapa yang tak akan terpana dengan puncak ibadah di bulan Ramadhan ini? Maka, persiapan mendaki ketinggian dan kesucian nilai-nilai yang dikandung Ramadhan adalah kunci keberhasilan “merayu” Tuhan kekasih kita untuk mengizinkan kita mencapai puncak Ramadhan. Reach the summit. “the art of packing” dalam memilih bekal pendakian Ramadhan ini adalah sama dan sebangun dengan art of packing pada mountaineering. Kita memilih dan memilah apa yang memang perlu dan penting untuk kita bawa, dan apa yang sebenarnya tidak penting dan hanya akan menambah beban pendakian ini. Mungkin adagium “begitu banyak orang yang berpuasa ketika bulan Ramadhan, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga belaka” adalah sebuah papan peringatan untuk tidak membawa hal-hal yang hanya akan menjadi tambahan beban. Pendakian ini tidaklah mudah, jangan menambah beban yang akan menghambat langkah-langkah kita sendiri, demikian yang tertera di pintu masuk Ramadhan.

Silahkan Anda mengembarai ufuk Ramadhan dengan cinta yang tulus. Kita sendiri yang mengetahui mana yang memang harus dan pantas kita bawa dan mana yang tidak. Namun, satu hal yang saya tahu pasti adalah, bahwa segala khilaf dan kesalahan saya yang menyebabkan orang yang saya salahi tidak ridha –yang dengan demikian Tuhan juga tidak ridha- adalah beban teramat berat yang sebenarnya bisa saya tanggalkan.

Maka saya mohon maaf sebesar-besarnya atas segala khilaf dan kesalahan saya. Dan kalau memang ada “harga” yang harus saya bayar, tolong sebutkanlah. insyaAllah akan saya bayar semampu saya, kalau tidak mampu saya bayar lunas, ijinkan saya membayar dengan mencicilnya. Tapi yang pasti, tolong ringankanlah beban di pundak saya dengan memberikan saya maaf.

Sebab, saya sudah menjadi “korban” dari merasakan nikmatnya sebuah pendakian yang diprovokasi oleh teman saya diatas. Dan doakanlah bahwa saya termasuk yang beruntung dengan bergembira menyambut datangnya Ramadhan.