puasa dan per(maaf)an [1]

31 08 2008

Begitu banyak hal yang menjadi “laris” justru setelah Ramadhan tiba. Salah satunya adalah taburan ayat, hadits, atsar dan i’tibar tentang Ramadhan. Dan ada dua kutipan hadits yang menjadi “favorit” dan santapan saya ketika Ramadhan tiba untuk terus dikunyah dan difermentasi hingga menjadi makanan yang lezat. Salah satu dari yang dua itu adalah “monopoli “ Tuhan atas ibadah puasa. Tuhan mengatakan bahwa ibadah puasa itu adalah untuk-Ku. Dari satu firman Tuhan mampu melahirkan ribuan jilid buku, jutaan jam tayang untuk ustadz A dan kyai B.

Tapi, bagi saya secara pribadi, monopoli Tuhan ini adalah sebuah romantisme Tuhan. Sebuah lambaian Tuhan memanggil-manggil kekasih-kekasihnya untuk mengembarai Ramadhan, tadarus kehidupan.

Sejak saya memiliki handphone, setiap menjelang Ramadhan, selalu penuh dengan sms-sms permohonan maaf karena akan memasuki Ramadhan. Saling meminta maaf dan memohon ridha sebelum memasuki Ramadhan, bagi saya, bukanlah hal yang aneh. Sejak kecil di kampung di ujung timur Pulau Madura itu, sebelum memasuki Ramadhan –pada 15 Sya’ban tepatnya- sebagian besar orang sehabis maghrib melaksanakan shalat sunnah tasbih, dilanjutkan dengan membaca Yasin tiga kali, kemudian shalat Isya’. Dan setelah shalat Isya’ 15 Sya’ban itu, suasanya akan mirip Idul Fitri. Semua orang saling berkunjung untuk bertatap muka, meminta maaf dan ridha. Pokoknya mirip Idul Fitri lah. Dan 15 hari yang tersisa menuju Ramadhan lebih disibukkan dengan mulai membiasakan diri untuk menambah kuantitas –dan diharapkan kualitas juga- ibadah mahdhah.

Maka, sms-sms permohonan maaf yang saling membanjiri piranti kecil yang sekarang menjadi nyawa peradaban bernama handphone itu, sangat saya syukuri karena berarti Ramadhan akan berkilau sebab para shaimin (pelaku puasa) sudah bersih dari khilaf dan salah. Namun, ada juga semacam kebingungan –kekhawatiran lebih pantasnya. Ketika saya kembali membalas sms tersebut, atau mengirimkan sms permohonan maaf, ada semacam rasa jengah karena semua hanya terkesan basa-basi dan forward sana forward sini. Juga ada semacam perasaan aneh ketika di-maaf-kan adalah semata-mata menjadi tujuannya. Bukan maksud saya mengecilkan maaf-memaafkan ini. Sebab, buat apa kita memohon maaf jika tidak kita raih per-maaf-annya, bukan? Tapi, yang saya maksudkan adalah jika banyaknya khilaf dan kesalahan yang menjadi mesin pendorong permohonan maaf ini, maka bagi saya, yang paling pantas untuk saya mintai –mengemis, tepatnya- permohonan maaf-nya adalah Tuhan sendiri, yang menggenggam puasa di lipatan kekuasaanNya sendiri. Khilaf dan kesalahan kepada Tuhan mungkin sudah terlampau tak terhitung, baik jumlah dan kualitasnya.

Namun, Tuhan pasti akan berkata,”pasti Kuampuni semua khilaf dan salahmu, asalkan engkau sudah mendapatkan ridha dari sesama manusia yang pernah engkau sakiti hati dan hidupnya”. Maka, pergilah kita berkeliling kehidupan meminta ridha dan maaf sesama manusia. Bukan demi permohonan maaf itu sendiri, melainkan agar Tuhan mengampuni dan memberikan maafNya. Sebab, jika langkah kita terhenti pada permaafan kepada sesama manusia saja, lalu bagaimana pertanggungjawaban atas khilaf dan kesalahan kepada Tuhan? Atau memang per-maaf-an Tuhan tidaklah lebih penting dibandingkan per-maaf-an atasan kita, pasangan kita, atau bahkan orang tua kita? Ataukah karena Tuhan itu sudah pasti Maha Pengampun, sedangkan manusia tidak? Sehingga sedemikian pastinya saya merasa akan diampuni dosa dan khilaf saya oleh Tuhan, tanpa perlu “membayar” sesuatu sebagai “mahar”nya? Toh, Tuhan tidak butuh apa-apa kan?





sabang (lagi)

31 08 2008

Sebenernya perjalanan ke Sabang kali ini bukan yang pertama kalinya. Mungkin sama seperti yang lain yang belum pernah ke Sabang, dialam kepalaku Sabang adalah dimana titik 0 km Indonesia dimulai. Maka, asosiasinya adalah selalu tugu 0 kilometer. Tidak salah memang. Namun, bagi yang sudah pernah ke Sabang dan benar-benar mengetahui kecantikannya, pasti akan ada keiniginan untuk kembali, setidaknya sampai puas menikmati kecantikan itu. Sebagaimana tempat lain yang lokasi geografisnya berbatasan dengan laut, maka kecantikan Sabang adalah kecantikan laut dan pesisirnya. Sabang sendiri sebenarnya adalah nama sebuah kota. Sedangkan pulaunya bernama Pulau Weh.

Untuk mencapai Sabang, yang merupakan salah satu kabupaten/kota dalam wilayah administrasi propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dari Banda Aceh harus ditempuh dengan menyeberangi laut. Ada dua jenis kapal laut yang melayani rute penyeberangan dari Banda Aceh-Sabang. Yang pertama adalah dengan kapal cepat, dan yang kedua adalah dengan ferry (atau orang disana lazim menyebutnya kapal lambat). Kedua jenis kapal ini sama-sama berangkat dari Pelabuhan Ulhee Lheue yang nampak cukup bersih dan bagus setelah tidak terlihat bentuknya dihantam tsunami 2004 silam. Sementara di Pulau Weh, pelabuhan tempat merapatnya kapal penyeberangan ini adalah Pelabuhan Balohan. Sesuai dengan namanya, kapal cepat membutuhkan waktu tempuh yang singkat, yakni antara 45 – 60 menit. Sedangkan kapal lambat membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai Pelabuhan Balohan. Keuntungan kapal lambat adalah kita bisa membawa kendaraan sendiri, sedangkan kapal cepat hanya khusus melayani penumpang saja. Apabila beruntung, kita akan bisa melihat sekelompok ikan lumba-lumba.

Sesampainya di Balohan, sudah banyak angkutan yang akan membawa ke tempat yang akan kita tuju. Untuk mencapai Kota Sabang sendiri, hanya dibutuhkan waktu 30-60 menit saja dari Pelabuhan Balohan. Kondisi kotanya sendiri ada di tepi sebuah teluk, teluk Sabang namanya. Kotanya cukup kecil, namun tertata cukup baik dan bersih. Rindangnya pepohonan besar di pinggir jalan seolah menjadi kanopi alam yang menaungi jalanan di Kota Sabang. Kota Sabang dibagi menjadi dua bagian, yakni Kota Atas dan Kota Bawah, yang sesuai namanya, satu terletak di atas dan yang satunya terletak di bawah di tepi teluk Sabang. Di Kota Sabang ini ada sebuah pantai yang disebut Paradiso. Dari sini, bisa dinikmati panorama sunset yang cukup indah.

Tujuanku kali ini adalah langsung ke Iboih. Iboih ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam perjalanan dari Kota Sabang. Iboih sendiri terletak antara Kota Sabang dan tugu 0 km itu. Kondisi jalanannya sendiri cukup menanjak, mirip kondisi jalan ke Ranupane (Semeru) atau ke Penanjakan (Bromo). Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi hutan tropis di sebelah kiri dan lautan lepas di sisi sebelah kanan. Di tengah jalan menuju Iboih ini, ada sebuah area yang disebut tanjakan monyet. Disebut tanjakan monyet karena di sepanjang tanjakan ini adalah habitat bagi spesies monyet. Usahakan mencari pisang untuk makan monyet-monyet ini. Sebelum sampai di Iboih, kita melewati dulu kawasan pantai Gapang. Gapang ini adalah sebuah kawasan resort yang sudah lebih tertata dibandingkan dengan Iboih. Penginapan dan tempat makan di Gapang juga lebih lengkap dari Iboih. Letaknya juga pas di pinggir jalan menuju 0 km. Dengan tarif sekitar 250rb, kita sudah bisa mendapatkan cottage yang cukup bagus dan bersih dengan kamar mandi di dalam dan dua bed. Tentunya, banyak juga kamar yang tarifnya lebih murah dari cottage tersebut. Posisi penginapan dan cottage di Gapang ini terletak tepat di pantai, karena morfologi pantai di Gapang cukup landai.

Berbeda dengan Iboih. Iboih terletak agak jauh dari jalan utama Sabang-0 km. Lebih terisolasi daripada Gapang dan baru berkembang beberapa tahun belakangan ini. Iboih ini terletak di teluk dan garis pantai yang sama dengan Gapang. Namun, morfologi pantai di Iboih adalah berupa bukit terjal. Jadi, penginapan di Iboih pada umumnya terletak di lereng perbukitan ini. Dan cottage yang aku tempati selama kunjungan kali ini adalah Iboih Inn. Dari gerbang masuk kawasan Iboih, aku berjalan kaki sekitar 300 m dengan melalui track yang sudah ada. Lumayan buat pemanasan. Cottage di Iboih Inn juga bersih dan bagus, 2 bed dengan kamar mandi di dalam. Cottage ini bisa disewa dengan tarif 250rb, termasuk breakfast. Di cottage ini juga ada cafe yang bernama Camoe Restaurant. Juga menyewakan alat-alat snorkelling. Posisinya yang strategis sangat tepat sebagai untuk kontemplasi dan meredakan diri dari rutinitas. Kondisi terumbu karang di depan Iboih Inn cukup bagus dengan beragam jenis ikan karang. Sekitar 100 meter di depan Iboih ini ada sebuah pulau, Rubiah, yang terkenal dengan taman lautnya. Dengan tinggal di Iboih Inn, kita bisa memanjakan diri dengan snorkelling di daerah depan penginapan sendiri. Atau kalau mau, kita bisa berenang menyeberang ke Pulau Rubiah. Kondisi terumbu karang dan ikan-ikan di sepanjang pesisir Pulau Rubiah sangat menakjubkan. Kedalamannya yang cukup dangkal adalah sebuah berkah sekaligus bencana. Berkah karena dengan snorkelling sudah bisa melaihat dengan jelas terumbu karang dan ikan-ikan yang ada. Bencana karena kita harus sigap bermanuver menghindari terumbu karangnya. Selain dikhawatirkan merusak terumbu karangnya, kita juga bisa terluka. Seperti yang aku alami, hehehe. Beberapa jenis ikan yang aku temui selama snorkelling disini antara lain, angelfish (dori), lionfish, lobster, clownfish (nemo),. Ada juga cumi-cumi tutul dan ular laut. Sedangkan untuk terumbu karangnya, khususnya yang di Pulau Rubiah, adalah laksana taman Jepang/Cina yang ada di bawah laut. It is real breathtaking. Airnya yang bening menyebabkan tingkat vsisbilitas di tempat ini cukup bagus, bahkan bisa mencapai 20 m. That is why I plan to find an underwater housing for my camera … hehehe

Dengan kondisi seperti itu, tentu daerah ini juga menjadi surga bagi pecinta scuba diving. Di Iboih, sepanjang aku tahu, hanya ada satu operator diving. Sedangkan di Gapang, ada tiga operator diving.

Oh iya, jalan ke Iboih dan Gapang sudah jauh lebih baik kondisinya daripada 3 tahun lalu.

Kali ini, aku berkesempatan menyusuri lagi perjalanan 3 tahun yang lalu. Aku juga kembali ke daerah pesisir timur Pulau Weh. Kali ini ke Sumur Tiga, Benteng Jepang, dan Anoi Itam. Ketiga tempat ini sebenarnya masih satu garis pantai. Morfologi Sumur Tiga adalah pantai berpasir putih yang lembut dan landai yang bentangannya cukup panjang. Benteng Jepang dan Anoi Itam terletak berdampingan. Benteng Jepang adalah bangunan tua bekas benteng tentara Jepang pada masa penjajahan. Letaknya yang diatas tebing, cukup strategis untuk mengamati lautan lepas Selat Malaka. Sedangkan Anoi Itam adalah pantai berpasir, yang meskipun tidak seputih dan selembut Sumur Tiga menawarkan pemandangan yang cukup bagus. Anoi Itam sendiri bermakna Pasir Hitam. Dari kondisi pantai dan airnya, aku menduga kalau agak ke tengah, kondisi terumbu karangnya masih bagus. Namun, minimnya informasi dan tidak adanya orang yang snorkel dan diving disini membuatku berfikir dua kali untuk mencoba hehehe. Daerah pesisir timur Pulau Weh ini letaknya cukup dekat dengan Kota Sabang. Jadi, dengan menginap di Kota Sabang, kita bisa berkeliling pesisir timur Pulau Weh ini.

pelabuhan balohan

iboih inn

beranda kamarku

pagi di depan kamarku

bintang laut dan seekor angelfish (bening aernya bikin ketagihan nyebur) – di depan kamar nih

seekor cumi-cumi yang mampir pagi itu (aernya bening kali) – di depan kamar nih

kamarku

camoe restaurant

sumur tiga

anoi itam





marriage and nationality orgasm

17 08 2008

Katanya sih, nikah itu lebih banyak enaknya daripada nggaknya. Padahal kan orang nikah itu kan seperti bersatunya dua orang yang jelas-jelas berbeda. Yang satu laki-laki, yang satu wanita. Belum lagi sifat, kondisi keluarga, sosial ekonomi, dst … dst. Tapi kok ya bisa akur ? Malah bisa lebur dalam artian yang sebenarnya. Mungkin karena itu Allah menghalalkan jima’ (hubungan seks) antara suami istri, yang katanya gak enak, tapi uenakk (iki jarene lho ya). Bahkan kata Shamsuddin Tabriz, orgasme seks ini bisa mengantarkanmu membaui wewangian surga dan mendzikirkan Allah. Bagaimana tidak ? Bukankah dalam proses pencapaian orgasme ini adalah hampir semuanya “kerjaan” Allah ? Manusia disini (sang suami dan istri) hampir-hampir tidak memiliki saham. Yang menciptakan semua physical equipment untuk itu adalah Allah, manusia tinggal terima jadi. Yang memasukkan pengetahuan tentang jima’ ini juga naluri alamiah yang diinstall Allah sejak zaman azali. Yang memasukkan plug-ins non-physical equipment-nya juga Allah (untung kita dikasih piranti ruhani yang bisa merasakan orgasme ini). Coba bayangin kalo suatu saat Allah “iseng” dengan memutus “transportasi” syaraf kita untuk bisa ngerasain rasa enak. Udah gitu, jika jima’ (antar suami istri) ini dilakukan dengan ikhlas, Allah sudah menyiapkan benih generasi yang avant garde, garda depan. Lah, kalo udah gini, kurang apa Allah ? Bukannya kita aja yang sebegitu teganya “mengeluarkan” Allah dari kamar pengantin di malam pertama? Wedi diintip paling yo. Belum lagi, pernikahan juga menjadikan ’hidup lebih hidup’. Keberadaan pendamping setia membagi cerita, membagi suka duka, membagi hari-hari.

Eh, kalo semua itu bener, itu semata-mata dari Allah. Kalo salah, yo maklum ae, lha wong aku blom pernah nikah kok …..

Cuma, ada satu hal yang aku herankan. Kan tadi udah dibilang kalo nikah itu bersatunya dua unsur yang jelas-jelas berbeda, tapi kok yo bisa match, bisa klop, dan bisa akur ? Dimana ya rahasianya ? (mbok ya bagi yg udah nikah, tolong aku di-share), soale terus terang aku masih nyari jawaban ini.
Bicara lagi soal nikah, kalo memang sebanyak itu daftar enak-nya pernikahan, maka terus terang, jiwaku ereksi menginginkan pernikahan antar komponen bangsa. Pernikahan antara penguasa dengan rakyatnya. Pernikahan antara buruh dengan majikannya, antara dosen dengan mahasiswanya, antar tetangga, antar pemeluk agama, antar suku, dan antar kepentingan. SubhanaLlah jika hal ini memang benar-benar terjadi di negeri seribu mimpi ini. Aku dengan sangat bangga akan mengadakan pesta besar-besaran, mabuk dan hanyut dalam kegembiraan tiada tara. Aku ikhlas untuk ‘hilang’ merayakan malam pertama pernikahan kebangsaan ini. Kunanti-nantikan dengan segenap harap dan cemas orgasme kebangsaan dari hasil persetubuhan ini, dimana dua mempelai ‘hilang diri’, larut dalam sebuah kegembiraan bersama.

Indahnya semua ini. Dua mempelai tidak saling memaksa untuk menjadi ini atau menjadi itu, melainkan dengan sadar diri saling menerima perbedaan itu. Yang penguasa tidak lantas menindas rakyat, dan rakyat tidak terus-terusan menyalahkan penguasanya. Begitu pula dengan buruh dan majikannya, dan antar komponen bangsa yang lain. Layaknya pasangan pengantin baru, yang ada hanya keindahan.

Bukankah selama ini kita sudah mengeluarkan ongkos yang begitu besar demi sebuah kerinduan, kerinduan akan pernikahan kebangsaan ini ? Ongkos material yang tak terhitung banyaknya, ongkos non material yang tak terkirakan luka dan perihnya. Letih jiwa lelah raga sudah kita alami bersama. Bukankah energi ini harusnya kita eman-eman untuk malam pertama kebangsaan nanti ?

Kalau pernikahan antar dua anak manusia saja menghasilkan begitu banyak manfaat dan ke-enak-an yang subhanaLlah, maka tak terbayangkan-lah manfaat pernikahan kebangsaan ini, dan ke-enak-an yang bisa dirasakan pun pastilah maha subhanaLlah ….

(re-write : 17 agustus 2008)






Indonesia Raya

16 08 2008

Gonjang ganjing dan heboh lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza yang ada di situs You Tube memang sudah sekian waktu berlalu. Polemik dan perdebatan keaslian video yang ada di situs tersebut juga sudah mulai mereda. Jadi, bukan maksud saya untuk mengangkat kembali perdebatan tentang keaslian tersebut. Dari gonjang ganjing berita itu, saya teringat guru bahasa daerah saya semasa saya sekolah SD, yang pernah mengajarkan saya lagu Indonesia Raya 3 stanza itu pertama kali. Jadi, gonjang ganjing itu malah membawa saya kembali bernostalgia ke masa kecil saya. Dan di tulisan ini, ijinkan saya menuliskan kembali teks dari Indonesia Raya 3 stanza itu. Mohon bersabar, bukan maksud saya menghabiskan jatah tulisan ini. Sebab, nanti kita bersama-sama mencoba belajar dari WR.Supratman tentang Indonesia.

Versi 1

Indonesia, tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negeriku
Bangsaku, rakyatku, semuanya

Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka merdeka
Tanahku, negeriku yang kucinta
Hiduplah Indonesia Raya

Versi 2

Indonesia tanah yang mulya
Tanah kita yang kaya
Disanalah aku berdiri
Untuk selama-lamanya

Indonesia tanah pusaka
Pusaka kita semuanya
Marilah kita mendoa
Indonesia bahagia

Suburlah tanahnya
Suburlah jiwanya
Bangsanya rakyatnya semuanya

Sadarlah hatinya
Sadarlah budinya
Untuk Indonesia Raya

Versi 3

Indonesia tanah yang suci
Tanah kita yang sakti
Disanalah aku berdiri
Menjaga ibu sejati

Indonesia tanah berseri
Tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji
Indonesia abadi

Slamatlah rakyatnya
Slamatlah putranya
Pulaunya, lautnya, semuanya

Majulah negerinya
Majulah pandunya
Untuk Indonesia Raya

Terus terang, sejak gonjang ganjing Indonesia Raya 3 stanza itu, saya sering rengeng-rengeng –menggumam sendiri, lagu Indonesia Raya 3 stanza itu. Pada versi 1, versi yang sering kita nyanyikan, saya lebih merasa seperti seorang pejuang era kemerdekaan, clash fisik dengan Belanda. Rangkaian kata dari WR.Supratman pada versi 1 lebih bermakna sebagai sebuah ikrar dan janji sejarah seorang anak bangsa terhadap bunda pertiwi, tanah airnya. Janji dan ikrar sejarah untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Atau lebih singkatnya, sebagai sebuah ideologi yang dogmatis. Catatlah kata-kata “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku” seolah-olah menyiratkan sebuah kesaksian seorang anak bangsa atas bangsanya, sebuah kata seru untuk kaum penjajah,”disini aku dilahirkan, maka akan aku perjuangkan kemerdekaan atas bangsaku hingga darahku tumpah”. Saya merasa susunan bait ini lebih tepat dan menemukan momentumnya dinyanyikan sebelum bangsa ini meraih kebebasannya dari belenggu penjajahan Belanda. Entahlah kalau darah yang terus kita tumpahkan hingga saat ini, mulai dari Malari, Tanjung Priok, Kedungombo, Waduk Nipah, Papua, Alas tlogo, Aceh, Jakarta 1998, juga adalah sebuah ‘bentuk’ lain dari janji kita.

Pada versi 2, saya seolah-olah menjadi seorang murid, yang begitu bodoh di hadapan seorang WR.Supratman. Pada susunan bait di versi ini, WR.Supratman saya bayangkan sedang tersenyum arif sedang membukakan cakrawala berfikir saya, sedang melepas selubung kebodohan saya. WR.Supratman sedang menceritakan bagaimana kayanya tanah air saya ini. “Indonesia tanah yang mulya, Tanah kita yang kaya, Disanalah aku berdiri, Untuk selama-lamanya”. Bagaimana tidak berdiri untuk selama-lamanya, sedang ia begitu mulya dan kaya. Namun, WR.Supratman pula yang mengajari saya dengan arif bijaksana agar memanfaatkan kekayaan tanah air ini sebaik-baiknya (bukan dengan memperkosanya) demi kebahagiaan bersama. “Indonesia tanah pusaka, Pusaka kita semuanya, Marilah kita mendoa, Indonesia bahagia”. Dan tidak hanya berhenti disini. WR.Supratman juga memaparkan kesadaran ekologis terhadap lingkungan dengan “suburlah tanahnya, suburlah jiwanya, bangsanya, rakyatnya semuanya”, hingga pentingnya untuk berperilaku santun dan terpuji dengan “sadarlah hatinya, sadarlah budinya, untuk Indonesia Raya”. Tapi, sekarang? Bagaimana kesuburan tanah kita? Bagaimana pula kesuburan jiwa (baca: ketentraman batin, kedamaian hati) rakyatnya sebagai pemilik sah ? Adakah kesuburan tanah ini mendatangkan pula kesuburan jiwa bagi bangsa dan rakyatnya? Atau malah mendatangkan kesuburan bagi bangsa dan rakyat yang lain? Jangankan lagi kesadaran hati dan budi (baca: akhlaq komponen bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara), yang kian lama kian pantas dipertanyakan.

Dan pelajaran berikutnya dari WR.Supratman, adalah tentang masa depan bangsa ini. “Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti” adalah sebuah papan peringatan (warning sign) bagi siapapun yang mencoba-coba untuk berbuat sesuatu yang menodai kesuciannya. “Di sanalah aku berdiri, menjaga ibu sejati” adalah sebuah ungkapan cinta tanah air. Bangsa ini adalah seorang ibu bagi segenap rakyatnya, seluruh anak bangsa. Seorang ibu akan memberikan segalanya demi kebahagiaan sang anak. Namun, sudah kewajiban sang anak untuk tegak berdiri menjaga kehormatan dan keselamatan ibunya. Sebab kalau tidak, maka durhakalah ia sebagai anak. “Marilah kita berjanji, Indonesia abadi” adalah sebuah cita-cita luhur tentang kedaulatan sebuah bangsa, yang di dalamnya terikat erat semua unsur hidupnya sebagai bangsa. Hal ini berarti “slamatlah rakyatnya, slamatlah putranya, pulaunya, lautnya semuanya”. Lalu, bagaimana rakyat dan putra bangsa ini yang kelaparan di rumahnya sendiri? Bagaimana rakyat dan putra bangsa ini saling sikut, saling serobot, saling iri saling dengki, memperebutkan sesuatu yang sebenarnya milik ibu sejarah-nya sendiri? Bagaimana rakyat dan putranya yang seolah ‘terusir’ mencari penghidupan dan pendidikan yang layak di ‘bangsa seberang’? Adakah selamat itu rakyat dan putranya? Lalu, pulau-pulau terluar yang tidak terurus (atau tidak diurus?)? Kapal-kapal nelayan Kupang yang dibakar Australia karena laut tempat mereka mencari ikan adalah wilayah Australia, katanya? Adakah selamat itu pulau dan lautnya?

Saya sempat menyaksikan cuplikan musikalisasi puisi Gus Mus diiringi nada-nada minor yang mengejutkan dan menghunjam dari gesekan biola Idris Sardi. Dan merinding kesadaran saya, membayangkan Idris Sardi berduet dengan WR.Supratman memainkan nada-nada minor mengiringi lagu kebangsaan kita ini, Indonesia Raya lengkap 3 stanza., di peringatan 63 tahun kemerdekaan Indonesia ini. Saya juga merinding membayangkan jutaan anak sekolah serempak menyanyikan lagu kebangsaan ini.

Dan dari 3 stanza Indonesia Raya itu, saya hanya merapal mantra:

Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Marilah kita mendoa
Indonesia bahagia
Marilah kita berjanji
Indonesia abadi

Memang benar, harus “kita” yang berseru, mendoa dan berjanji. Bukan hanya aku, atau kami.





Pesona Madura dari Udara

14 08 2008
dari Kompas

Foto dan Naskah :
Kompas / Iwan setiyawan

Madura selama ini telah dikenal dengan pesona budaya dan masyarakatnya. Mulai karapan sapi, berbagai jenis tarian dan musik tradisional, bekas-bekas kerajaan di Sumenep, dan sebutan sebagai pulau penghasil garam.

Wilayahnya yang menghadap langsung ke Laut Jawa menjadikan sebagian penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Hamparan puluhan pulau di ujung timur dan utara Pulau Madura menjadikan wilayah ini juga kaya pesona alam dan keragaman budaya oleh akulturasi budaya dari pelaut-pelaut tradisional yang menyinggahinya.

Pesona geografis Pulau Madura dan pulau-pulau di sekitarnya juga menarik jika dinikmati dari udara. Dari dalam pesawat nomad dari Skuadron Udara 800 Intai Taktis Wing Udara Komando Armatim, pesona tersebut dapat terekam jelas.

Pesawat yang biasa digunakan untuk tugas rutin patroli maritim TNI AL atau membantu SAR laut diterbangkan oleh pilot Kapten Laut (P) M Ramdhan dan kopilot Letda Indra Kurniawan. Karena terbang dengan kecepatan rata-rata 100 knot, ketinggian antara 50-200 feet, serta manuver patroli, membutuhkan ketahanan fisik dan mental untuk bisa menikmati penerbangan. Semua ketegangan terbayar sudah oleh keindahan pesona alam laksana karya seni tak ternilai.

Hamparan pantai di pesisir utara Pulau Madura, bentangan tanah berwarna merah di Pulau Puteran, dan petak-petak sawah pascapanen bagaikan lembaran permadani yang tergelar. Hamparan tambak garam seolah menguatkan sebutan Madura sebagai pulau garam. Deretan perahu-perahu nelayan dan dermaga yang menjorok ke laut menghiasi pesisir selatan Pulau Madura.

Puluhan pulau yang tersebar di sekitar Pulau Madura juga memiliki pesona tersendiri. Dari pulau-pulau yang besar seperti Kangean dan Sapudi hingga pulau-pulau kecil tanpa penghuni. Masih banyak pesona keindahan alamnya yang belum diungkap dan dimanfaatkan. Sungguh suatu potensi besar yang terabaikan di tengah kemiskinan yang masih melanda sebagian besar penduduknya.

Foto & teks : Iwan setiyawan