Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

6 06 2008

Sebuah potret terhadap realitas masyarakat. Menyuguhkan sebuah
pemikiran yang begitu ndeso, namun dengan kearifan yang tersembunyi.
Paling tidak membuatku harus berfikir ulang tentang hitam dan putih,
terlebih tentang apa yang tak terlihat.

Pergulatan batin dan “pernyataan sikap” dari warga Dukuh Paruk sebagai
sebuah entitas dan debur ombak gelombang Srinthil, sang ronggeng,
adalah sebuah “sajian” cerdas Ahmad Tohari. Setidaknya untuk
“menyembunyikan” realitas sosial kemasyarakatan (politik juga?) di masa
65-an.

Novel yang begitu Indonesia namun dengan muatan nilai yang universal, yang hingga saat ini tak henti (coba) diperjuangkan.


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar

Anda dapat gunakan tag ini : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>