Generasi Larva

25 05 2008
KOMPAS Cetak : Generasi Larva: Memulai 100 Tahun Kedua

Generasi Larva: Memulai 100 Tahun Kedua

Minggu, 18 Mei 2008 | 01:40 WIB

Noe Letto

Salah satu produk populer di ”dunia gaul” dari 100 tahun kebangkitan bangsa kita adalah idiom ”Indonesia banget!”. Bahasa tubuh dan mimik yang mengungkapkan istilah itu mengungkapkan konotasi negatif.

Mungkin sekali saya salah, tetapi sering kali saya merasakan bahwa ”Indonesia banget” adalah kata ganti untuk semacam perilaku negatif, yang sehari-hari atau bahkan untuk kasus-kasus dalam skala yang lebih besar. Misalnya, buang sampah sembarangan, melanggar peraturan lalu lintas, merokok di no smoking area, tidur saat rapat atau sidang, koruptor tak terhukum, umbar janji pemilihan, bahkan pada kasus tertentu: ngiler bisa dikomentari ”Indonesia banget lu!”.

”Output” cinta

Sampai umur 29 tahun sekarang, tidak saya peroleh ”peluang menjadi pahlawan”, misalnya, dengan berjuang melawan Jepang atau Belanda. Tidak mengalami secara langsung Sumpah Pemuda, Kebangkitan Nasional, juga Proklamasi Kemerdekaan.

Ketika Reformasi terjadi, saya kesepian kuliah di Edmonton Kanada Utara tanpa seorang teman Indonesia pun. Bisa nama para menteri saja kurang dari 10 persen yang saya tahu. Tapi, saya yakin tidak ada satu pun para pendiri Indonesia yang menginginkan kata ”Indonesia” dilibatkan dalam idiom negatif ”Indonesia banget!”. Mereka pasti sedih kalau hidup cukup lama dan tahu hal ini.

Tapi, tolong jangan bilang saya tidak sedih, meskipun saya belum pernah menjadi ”aktivis nasionalisme” secara ”formal”. Juga jangan berani bilang saya tidak cinta Indonesia—meskipun, terus terang, memang saya menemukan masalah serius dalam hal ”mencintai Indonesia”.

Kalau mencintai seorang perempuan, sedikit mudah mencerna apa yang sebenarnya saya alami: suka bentuk tubuhnya, sikapnya, prinsipnya, kecerdasannya, hatinya, atau gabungan semuanya. Setelah mempelajari dan memperoleh kejelasan latar belakang orang yang saya cintai itu, akan saya tindak lanjuti dengan langkah berikutnya: mendapatkan cintanya, me-maintain cintanya, dan memastikan bahwa output dari semuanya adalah keluarga yang sakinah mawaddah warohmah, kalau perlu, keluarga madani.

Itu semua frame yang relatif sederhana. Akan tetapi, cintaku kepada Indonesia itu jenis yang mana? Kalau tahap itu belum jelas, mau menindaklanjuti dengan cara bagaimana? Output bagaimana yang saya harapkan?

Bagaimana agar Indonesia bisa dicintai

Terkadang ada satu hal fundamental yang saya selalu pertanyakan: ”diri”-ku yang primer itu ”diri” yang mana? Diri ”Noe”, diri ”anak band”, diri ”penikmat fisika dan matematika”, diri ”Muslim”, dan banyak dimensi identitas lainnya. Bahkan mana yang lebih utama aku sebagai diri ”anak ibuku” atau diri ”anak ayahku”.

Untung itu bukan pertanyaan check-point seperti dalam ujian nasional. Itulah kekayaan dinamis proses kehidupan setiap orang. Dan kalau kita bicara Indonesia dengan kebangkitannya, langsung saja terasa yang paling nyata adalah bahwa diriku adalah bagian dari Indonesia. Dan cara berpikir yang saya pilih bukan bagaimana cara mencintai Indonesia, tapi bagaimana agar Indonesia bisa dicintai. Minimal oleh diri Indonesia sendiri. Di situlah wilayah kontribusi ”bagian dari Indonesia” kepada ”Indonesia”. Subyek utamanya, tujuannya, output-nya adalah ”Indonesia”, sedangkan si ”bagian dari Indonesia” hanya kontributor.

Seratus tahun yang lalu, 20 Mei 1908, yaitu tanggal berdirinya Budi Oetomo, dikenang sebagai tonggak kebangkitan nasional. Merefleksikannya ke zaman ini, pertanyaan pertama (dan cliché) adalah: setelah seratus tahun, apakah kita sudah benar-benar bangkit?

Saat itu, membaca dari buku sejarah, dua kata kunci yang memicu semangat kebangkitan bisa ditarik langsung dari dua kata kunci: eksploitasi dan diskriminasi. Waktu itu diskriminasi termanifestasi dengan adanya kesenjangan dengan obyek : pribumi-nonpribumi. Eksploitasi terutama terdefinisikan (secara kasuistik) dengan tindakan Pemerintah Hindia-Belanda yang menggunakan uang orang Indonesia untuk merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya. Hal ini direspons oleh Ki Hadjar Dewantoro dengan artikelnya Als ik Nederlander was (seandainya saya orang Belanda), yang membawanya langsung ke penjara. Sebuah simbol perjuangan yang menebalkan polaritas dan membangkitkan semangat bersama.

Siklus alam dan lingkaran setan

Saat ini: untuk mengukur langsung tingkat kesuksesan semangat Kebangkitan Nasional, akan akurat jika mengukur dari dua kata kunci tersebut. Apakah di zaman sekarang masih ada yang namanya eksploitasi dan diskriminasi (negatif)?

Kita semua sadar pentingnya semangat kebangkitan, kita sadar kita ingin keluar dari stigma tersebut. Tapi, terlihat secara nyata dari pengalaman seratus tahun ini bahwa ada sebuah proses (bisa kita sebut lingkaran setan) dan dengan kedua ”setan” ini terpelihara dan justru terkembangbiakkan. Tidak hilang, tapi malah terlestarikan.

Contohnya dalam dunia pendidikan: ketidaksadaran akan pentingnya pendidikan (kesejahteraan guru, dana pendidikan tidak maksimal)—pendidik tidak mampu bekerja maksimal—murid terdidik dengan tidak maksimal—generasi/SDM lemah—ketidaksadaran akan pentingnya pendidikan, dan seterusnya. Diskriminasi terhadap hak pendidikan membawa degradasi generasi.

Kalau salah satu nilai yang dijunjung tinggi demokrasi adalah persamaan hak berkompetisi untuk setiap individu, padahal modal pendidikan (menjadi terdidik) adalah syarat utama untuk mampu berkompetisi tidak dapat terpenuhi (diskriminasi terjadi saat ada korelasi antara ”biaya pendidikan” dan ”kualitas pendidikan”), kita harus menyelesaikan persoalan ini dahulu sebelum berhak bicara banyak soal demokrasi.

Contoh lain dalam lalu lintas informasi: informasi tidak lengkap—salah persepsi—salah reaksi—salah sasaran—salah konklusi—disinformasi/informasi tidak lengkap. Eksploitasi disinformasi akan memperpanjang disinformasi, dan secara langsung memperpanjang kesempatan eksploitasi.

Beberapa generasi terlewati, tetap dalam lingkaran ini dan tetap tertunggangi oleh stigma-stigma ini. Yang kemudian melahirkan banyak masalah turunan yang begitu luas, akut, dan semakin sulit teridentifikasi akar masalahnya (apalagi pemecahannya). Belum ditambahi dengan budaya kita yang lebih suka menggariskan kebenaran dari norma dan bukan nilai.

Nyamuk dan generasi larva yang mandiri

Telur-larva-pupa-nyamuk-telur-larva.
itulah lingkaran hidup nyamuk. Untuk memberantas nyamuk dibutuhkan cara yang efektif untuk memotong lingkaran hidup nyamuk ini sehingga lingkaran itu tidak bisa berputar secara komplet. Begitulah yang saya pelajari di SD.

Sepertinya tidak terlalu far fetched kalau kita mengadopsi cara berpikir yang sama. Dibutuhkan sebuah metode untuk memecahkan lingkaran setan ini. Masalah utamanya ternyata adalah ketidaksadaran posisi kita sebenarnya ada di mana. Mungkin sebenarnya kita sudah masuk di lingkaran tersebut. Mungkin lebih santun disebut: generasi saya, generasi muda. Sebentuk generasi larva yang terdesain sedemikian rupa untuk menjadi nyamuk di masa depannya.

Ketika beribu demo sudah dilakukan, ketika tenggorokan sudah kering berteriak tuntutan, ketika kita bingung sendiri kita baru saja menuntut apa, ketika sudah kehabisan orang yang dituntut untuk melakukan perubahan, ketika kita capai sendiri dan dengan sukarela memilih jadi salah satu dari yang dulu pernah kita benci. Sepertinya tidak ada pilihan lain: setelah larva adalah pupa dan jika berumur sedikit lebih panjang, kita akan menjadi nyamuk. Selesai.

Selesai?

Mungkin tidak kalau saja kita memulai sedikit berani. Kalau saja semua larva memutuskan untuk tidak mau menjadi bagian dari lingkaran hidup nyamuk. Kalau saja generasi larva ini beramai-ramai mendeklarasikan bahwa dirinya bukanlah larva dan tentu saja tidak menganut sifat-sifat ”kenyamukan”. Demo kali ini bukanlah berpawai ribuan orang dengan tuntutan-tuntutan yang diteriakkan. Demo yang ini adalah menyatakan jati diri dan sikap bahwa kita bukanlah larva. Kita adalah generasi baru dengan sikap dan pemikiran yang baru. Generasi ini menolak menjadi nyamuk, generasi ini generasi yang mandiri dan memilih menjadi garuda.

Seharusnya dengan sikap dan pemikiran antitesis dari permasalahan selama ini.

Adalah dibutuhkan sebuah generasi mandiri (bukan hanya kontinuasi dari generasi sebelumnya) yang mau dan mampu mengubah dirinya sendiri, dan lepas dari lingkaran-lingkaran setan. Tak perlu menuntut nyamuk untuk berubah menjadi sapi. Tapi, kita pastikan kita tidak akan menjadi nyamuk, tapi menjadi generasi garuda yang sakti. Siapa tahu tahun 2008 sekarang ini adalah awal dari 100 tahun kedua dengan paradigma kebangkitan yang sudah berbeda dan tak kalah kreatif dari perintis 100 tahun pertama.

”Tidak mudah” itu pasti. ”Tidak mungkin” itu salah persepsi.

Deklarasi, petisi, hanya salah satu cara untuk memberi ”bendera” pada kebersamaan. Deklarasi menjadi mentah jika ia hanya menjadi simbol. Deklarasi akan menjadi sangat kuat bila ia menjadi ruh dari sebuah tekad yang ditanggungjawabi dalam bentuk sikap/tindakan secara bersama-sama. Tindakan adalah refleksi dari sikap. Sebelum ada tindakan semestinya datang dari pemikiran yang cermat, bersih dan obyektif. Sebuah pemikiran semestinya dilandasi sebuah nilai (tidak selalu norma) yang kita sepakati bersama sebagai sebuah kebenaran. Tanpa ada pernyataan nilai yang disepakati dan diusung bersama, ruh tindakan tidak akan hidup cukup panjang untuk membuat sebuah perubahan.





Menimbang Uang

25 05 2008
Mungkin aku tidak dalam kapasitas yang tepat untuk menulis tentang hal ini. Mengingat bahwa meletakkan uang diatas semua timbangan saat ini, adalah sangat jelas hasilnya. Anak timbangan dimana terletak uang akan memberat dan melambungkan anak timbangan lainnya hingga lenyap. Timbangan itu yang paling utama tentunya adalah timbangan akal sehat, common sense, sebuah piranti lunak yang dianugerahkan khusus oleh Tuhan untuk mengangkat derajat manusia menjadi diatas segalanya, bahkan diatas uang. Tentunya banyak dasar dan pedoman lainnya untuk bisa dijadikan timbangan, misalnya kepentingan, kebutuhan, dan lain lain.

Mungkin aku tidak dalam kapasitas yang tepat untuk berada dalam posisi menimbang uang. Yang bisa dan terus kucoba lakukan hanya mencoba untuk jujur -sebab kata ibuku, jujur lebih mahal dari nyawamu-, terutama untuk jujur menyapa hati nurani dan akal kita sendiri, dan kemudian dengan jujur pula mengakui hal-hal yang sebenarnya sangat tidak kita harapkan.

Dan satu hal yang aku dapatkan, bahwa -entah secara sadar atau tidak- ada sebuah lingkaran setan dimana uang menjadi “ruh”nya. Dimana uang sudah dalam posisi begitu primernya dalam melandasi segala macam proses dalam lingkaran setan itu sendiri.

Air laut menguap, menggumpal menjadi awan, diterbangkan angin ke daratan, turun kembali menjadi hujan, diserap tanah, kembali lagi ke laut, menguap lagi, dan seterusnya. Sebuah siklus yang tidak terputus. Keterputusan siklus ini di satu mata rantai saja akan menghentikan siklus ini. Maka coba aku bayangkan siklus ini didasari sebuah alsan bernama “uang”. Bahwa air laut enggan menguap kalau tidak ada uang, enggan menjadi hujan kalau belum jelas uang-nya. Siklus ini bisa kita cari masing-masing di setiap detik hembusan nafas kita. Mulai dari sarapan, sekolah, pekerjaan, pemberdayaan masyarakat, pekerjaan karikatif, proyek dan tender, demo kenaikan BBM, keputusan menaikkan BBM, pemberian ijin usaha, dan berjuta dialektika sejarah keseharian manusia sekarang ini.

Ada sedikit “sindiran” mungkin. Cak Nun mengatakan pergeseran “paradigma” pelaku teater kita. tahun 70-an awal, para pemain teater rajin berlatih, tanpa reserve. Tahun 70-an, hanya rajin berlatih jika ada kejelasan pentasnya kapan. Tahun 80-an, hanya rajin berlatih jika ada kejelasan pentas dan honornya. Tahun 90-an, hanya rajin berlatih jika sudah jelas berapa besar jumlah honornya. Tahun 2000-an, hanya akan berlatih jika honornya “diatas UMR”.

Tentu bukan hakku dan kapasitasku untuk menafikan uang. Kebudayaan dan agama-pun menganjurkan agar kita tidak kekurangan dan menjadi kuat ekonomi (yang mungkin terjemahan bebas-nya: menjadi kaya dan banyak uang). Tidak. Silahkan kaya, kemudian amal shalihkanlah, dan tempatkan uang pada posisi fithrahnya.

Menjadi tersenyum sendiri seandainya Tuhan sekali-kali bermain komedi (Divine Comedy, kata Dante). Mbok ya sekali-kali Tuhan itu membuat siklus hidrologi tadi, tapi dengan uang menjadi causa primanya. Jadi, siklus hidrologi itu dibuat oleh Tuhan agar tunduk kepada “kehendak” uang, dan bukannya tunduk kepada kehedak Tuhan. Sekali-kali saja, gitu lho.

Atau memang sudah sedemikian adanya???

(banda aceh, 25 May 2008)





Visit Indonesia 2008

19 05 2008


Kunjungilah Indonesia
, sebab begitu banyak fenomena yang akan membuat Tujuah Keajaiban Dunia menjadi bukan lagi keajaiban. Saksikan penawaran dan atraksi kami.
  1. Demokrasi yang begitu cemerlang, sehingga tiada hari tanpa demonstrasi, yang kemungkinan terbesarnya adalah 5% didengarkan
  2. Setelah anda mendarat di Pelabuhan Udara Cengkareng, anda kami suguhi dengan Pelabuhan Air Cengkareng sepanjang jalan tol
  3. Para petani yang menjadi buruh tani, di sawahnya sendiri
  4. Lihatlah itu, begitu tertibnya negeri kami, sehingga budaya antri benar-benar berhasil. Lihatlah antrian minyak goreng, minyak tanah, bensin, BLT hingga antrian panjang untuk melamar menjadi presiden
  5. Silahkan anda para tamu kami terhormat, anggaplah seperti di rumah anda sendiri. Silahkan anda nikmati suguhan ala kadarnya ini. Bumi, air dan kekayaan alam disini.
  6. Silahkan anda kagumi kesuburan lahan pertanian kami, seperti anda mengagumi balita-balita kami yang menderita busung lapar
  7. Ooooo, tak perlu anda heran dengan berita Reuters dan BBC yang menyebutkan rekor negeri kami menggunduli hutan. Karena sebenarnya kemampuan kami jauh lebih hebat dari itu.
  8. Mohon maaf kami tidak dapat menyebutkan semua fenomena dan keanehan di negeri kami, sebab kami sendiri tidak pernah membayangkan kemampuan kami akan sehebat ini.

ttd,

- panitia -





Bound to Wander

19 05 2008
from TIME magazine … August 21, 2000
by Anthony Spaeth

In Indonesia’s second city, the itinerant Madurese have found a place they can call home


If you stand at the harbor of Surabaya, Indonesia’s famed port and second-largest city, you can see the island of Madura only 4 km across the water. For a decade, there was a plan to connect the city and the island with a bridge, but financing never came through and the only progress was a few premature concrete pillars that now stand forlornly in the sea. A bridge would certainly be useful: every day, thousands of people from Madura cross by ferry to Surabaya, jammed in with livestock, cargo, cars and buses. The ferries run 24 hours a day. “I’ve been making this trip every day for 13 years,” says Hasmat Nabiri, 64, a Madurese day-laborer. The reason for the exodus is simple. “We come to work,” says Nabiri.

Madura is home to a unique language and culture that sets its natives apart from the people of Indonesia’s other islands. And yet it is barely home to its own people. Of an estimated 10 million Madurese, 6 million have relocated permanently to places that offer more work. Others, like Nabiri, spend a good part of their lives on ferries back and forth to Surabaya. This makes the Madurese the most itinerant of all Indonesian ethnicities, a people banished from their home by economic circumstance.

To a lesser extent, and for varying reasons, other Indonesian groups share that destiny. For decades, the central government in Jakarta has promoted large-scale “transmigration” to alleviate overcrowding. Java is the country’s most densely populated island, so its people have been officially moved across the map: to Sumatra, Sulawesi, Kalimantan and Irian Jaya. There were social engineering ambitions within the plan. Javanese culture was expected to take over, especially in troublesome spots like East Timor. In its defense, the concept could also have forged a common identity among Indonesia’s varied peoples.

It hasn’t worked that way. In West Kalimantan, brutal warfare between the local Dayaks and immigrant Madurese has flared intermittently for the past three years, claiming thousands of lives. East Timor has left the Indonesian fold entirely. The biggest challenge facing Indonesia is to quell various ethnic conflicts and hold together as a nation.

Surabaya contains the mix of people one would expect in a bustling port town: Javanese bureaucrats, Chinese traders, even a small Arab community descended from seafaring merchants. When the eye adjusts, one notices the Madurese and their place on the lowest rung of Surabaya’s employment ladder. They number about 800,000—a fourth of the city’s population. They peddle cigarettes, pimp for brothels, collect scrap metal and, with their fearsome celurits—a kind of machete—help the city’s underworld run smoothly. “Madurese work the jobs the Javanese don’t want,” says Hamad Mataji, one of the most prosperous figures in the Madurese community.

Mataji arrived here penniless 25 years ago. He dug trenches, pulled a pedicab and retreaded tires to make money. When he had enough, he bought a 3,000 sq m lot that has become the city’s central exchange for scrap metal. Now 50, Mataji carries a mobile phone, and his smile reveals a mouthful of teeth made from white gold. But he still works the yard every day, signing receipts from scrap-hauling scavengers—a great many of them fellow Madurese—and getting a different kind of visit from local politicians and cops. “Everyone these days is asking for a loan,” he laughs.

Many things have changed in 25 years, Mataji says. The Madurese have been driven out of the local gambling and prostitution businesses. (Those trades are now backed by Chinese-Indonesians and the Indonesian military and police.) But their reputation as proud and rough characters hasn’t diminished. “The Madurese would rather steal than beg,” says Mataji. Sapan, 42, used to run with a Madurese gang in the Surabaya underworld until the early ’80s, when thousands of suspected criminals were mysteriously murdered. Sapan says he has killed 20 men, mostly in disputes over women. “We are fearless,” he says. “We die when we are meant to die.” Sapan found religion after too many years in jail, he says, and has returned home to Madura to work as a farmer. But his story fits the Madurese stereotype: a people brave and clannish, with their own code of honor (known as carok)—and a propensity for violence. “Treat them well and they’ll be even nicer,” says Fachrul Rozi, a Madurese doctor. “But if you’re mean to them, they’ll be even meaner.” Dede Oetomo, an anthropologist at Surabaya’s Airlangga University, observes, “With the Madurese, it is a very thin line between gangsterism and normality.” That’s not all bad. Most of the city’s security guards are Madurese, and they’re known for protecting premises with fierce loyalty. Says Nazirman, who has Madurese guards at his office supply store, “What they bring is their courage and a will to work.”

In the center of the city is Surabaya’s largest red-light district, Dolly, named after a pioneering madam from the 1960s. Ronny, a native Madurese, has worked for the Wisma Jaya Indah brothel for 25 years. It’s the only job he has ever had. Ronny used to go to the countryside on recruiting missions for the brothel, but these days he spends his days on the pavement outside. “I mainly do security and try to bring guys in.” The night is slow, and a group of visiting Koreans are reluctant. “Only 50,000 rupiah [$6] an hour,” Ronny promises them. One of the Koreans takes the bait, the others move on.

In the industrial port of Gresik on the outskirts of Surabaya, Madurese work together to get by. The remains of a decommissioned Indonesian warship are sunk in shallow, oily waters close to the shore. For six months, a group of 20 Madurese have been carving it up for scrap. Covered in oil and up to their waists in sludge, the men use propane torches and heavy saws to disembowel the vessel. “There won’t be anything left of this ship when we’re done with it,” foreman Syaiful Bakri says proudly. The pieces will then find their way around the country, thanks to the extensive network of Madurese traders. That’s good for the scavengers: the process cuts out the middlemen who usually skim off so much profit in the Indonesian economy.

The Madurese network helps newcomers find jobs in Surabaya, too, whether it’s selling fruit or cigarettes on the street or collecting discarded plastic bottles and bald tires. The community is centered in the northern part of the city, where Madurese live together in tiny, makeshift houses. “They believe in coexistence, not assimilation,” says Daniel Sparingga, a sociologist at Airlangga University. Such aloofness can cause problems: in tough economic times such as these, Madurese are often blamed for increasing car thefts, pickpocketing and other petty crimes. That leads some to predict real friction if the economy continues to stagnate, not a happy thought considering the Madurese and their fearsome celurits. “We’re not afraid to use them if we have to,” says Sapan, the former convict. So far, though, the mix has worked. However humble, the Madurese have their place in Surabaya, where the ethnic balance remains far healthier than in many other troubled Indonesian cities—a land of millions of people living far from their homes.

Reported by Jason Tedjasukmana/Surabaya





ah, dasar gila !

8 05 2008

Menjadi aneh, terasing, unik, berbeda dari yang lain. Atau –jangan-jangan- gila? Mungkin hal-hal itu yang lebih tepat untuk menggambarkan apa yang aku rasakan belakangan ini. Setelah aku memutuskan resign dari pekerjaan sekarang, yang bagi sebagian banyak orang, bergaji besar, maka asumsi yang hinggap di kepala setiap orang adalah bahwa aku mendapatkan tempat dan pekerjaan yang bergaji lebih besar dari yang aku dapatkan sekarang ini. Dan ketika akhirnya aku lakukan hal yang sebenarnya agak malas aku lakukan, yakni menjelaskan (alasan) resign ini, tatapan ketidakpercayaan dan keheranan yang aku dapatkan. Bahwa aku resign hanya semata-mata karena aku ngerasa bahwa ini saatnya resign, adalah alasan yang tidak masuk akal. Bahwa aku berkali-kali katakan bahwa aku untuk sementara menjadi pengangguran (dalam definisi yang umum), juga menjadi tidak masuk akal kuadrat. Seolah-olah menjadi pengangguran (dalam definisi yang umum, lagi) adalah sebuah dosa besar, lebih aneh dan tidak masuk akal dibanding korupsi atau membunuhi pepohonan di hutan, mengencingi sungai-sungai, menyumpah-serapahi udara. Mungkin resiko paling besar yang dihadapi penganggur adalah tidak tersedianya duit untuk melakukan panggilan jarak jauh baik dengan program talkmania, tarif murah, dan apapun namanya itu. Mungkin saja.

Maka, di hadapan tatapan penuh tanda tanya dan pertanyaan penuh keheranan dari orang-orang tersayang di keseharianku, aku menjadi terdakwa. Maka, sekalian deh, sekalian melengkapi perasaan “gila”ku, aku tambah di sana sini dengan senyum misterius, seperti senyum Alpa Cino di Devil’s Advocate.

Tapi, benar kok. Berkali-kali juga aku mencoba mencari alasan yang lebih masuk akal, marketable, atau layak tayang, tapi tak juga kutemukan. Sekali lagi, aku hanya dan hanya ngerasa bahwa ini sudah saatnya berhenti. Bukan karena apa-apa, hanya karena memang sudah waktunya. Seperti matahari yang harus terbit di pagi hari atau tenggelam di sore hari. Seperti saat aku makan. Jika sudah kenyang, maka sudah menjadi kewajiban untuk berhenti makan, bahkan ketika meja di depanku terhidang beraneka menu makanan yang lain. Bukan karena menolak makanan yang tersedia, bukan juga karena ada makanan lain di luar sana. Tapi semata-mata memang sudah waktunya berhenti makan. Dan untuk berhenti makan, cukup perut yang memberitahukannya. Jangan lidah, sebab lidah tak mengenal batas, kecuali lidah sudah bertulang. Bukankah Rasul juga pernah mengatakan, makanlah hanya jika engkau lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Dan mungkin karena aku gila tadi, entah kenapa aku juga menfasirkan dawuh Rasul tadi bukan hanya sekedar makan, tapi juga kepemilikan ekonomi, kekuasaan, jabatan, atau segala apapun dalam sisi kehidupan. Bagiku, ini sebuah kesadaran batas, menyadari batas-batas. Sebab bagiku, kelebihan manusia adalah kemampuan dirinya membatasi segala sesuatu pada garis batas yang sepantasnya. Manusia bisa menjadi kaya dan lebih kaya lagi, namun kekuatannya sebagai manusia adalah saat ia bisa “berhenti” menjadi lebih kaya lagi ketika terbuka kemungkinan baginya untuk menjadi lebih kaya, sebab ada batas yang harus dipatuhi, entah itu sebuah kepantasan sosial, sebuah hutang sejarah atau apapun namanya. Makan dan minum yang kurang dan atau melebihi batas menyebabkan sakit. Menebangi kayu di hutan kurang dari batasnya, menyebabkan terganggunya keseimbangan ekologis yang ada, karena pepohonan yang besar akan “menghabiskan” jatah nutrisi pepohonan dan vegetasi yang lebih kecil. Menebangi kayu di hutan melebihi batasnya, juga menyebabkan terganggunya keseimbangan ekologis yang ada, mulai banjir bandang sampai banjar banding. Menjadi seorang presiden (baca: berkuasa) kurang dari batas ruang dan waktu yang ditentukan akan menyebabkan kurang terurusnya negara (baca: pemerintahan), rakyat apalagi. Melebihi batas ruang dan waktunya juga akan menghancurkan negara (baca: pemerintahan), rakyat apalagi.

Ah, dasar gila !

Ada seorang yang begitu aku hormati yang kepadanya aku banyak belajar, terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama,”pindah kerja kemana sih?” atau “dapat kerjaan dimana sih”. Dan berkali-kali pula aku jawab bahwa masih banyak kerjaan (dalam artian banyak yang bisa dikerjakan), tapi tidak ada yang mau membayar. Tergantung dari pertanyaannya juga, golek kerjo (mencari kerja) atau golek bayaran (mencari bayaran)? Kalau aku mencari kerja, insyaAllah pasti banyak lowongan pekerjaan. Tapi akan lain lagi permasalahannya, jika aku mencari bayaran, haqqul yakin bin percaya binti fulanah, takkan tersedia lowongan pembayaran. Mungkin ini sekedar gurauan dan guyonan semata. Dan (sekali lagi), karena aku gila tadi, aku memperluasnya (atau mentransformasikannya) menjadi bukan lagi guyonan. Sebab nawaitu mencari kerja atau mencari pembayaran bisa mempengaruhi atmosfir udara dan gerak badanku. Kalau mencari kerja, insyaAllah (seharusnya) aku akan terus menerus belajar memperbaiki kualitas dan kuantitas pekerjaanku, tanpa henti. Dan bayaran otomatis menjadi sekunder, menjadi sebuah konsekuensi moral dari pekerjaan itu. Kalau mencari bayaran, sangat terbuka kemungkinan aku menjadi malas untuk terus memperbaiki kemampuan demi kualitas dan kuantitas pekerjaanku. Selama bayaran itu terus ada, maka kemungkinan aku bekerja hanya untuk menjaga keamanan dan ketertiban serta stabilitas pembayaran itu saja. Bahkan, terus terang saja, jujur manjur, aku akan sangat menjadi senang kalau aku terus dibayar tanpa aku harus melakukan pekerjaan apapun. Maka, posisi bekerja di galaksi batinku menjadi persis seperti posisi Tuhan. Kuseret Tuhan hanya ketika aku rasa aku membutuhkannya. Dan terus terang saja, jujur manjur hancur lebur jadi bubur, asal aku bisa terus makan enak, sehat, istriku bisa terus shopping atau anakku bisa terus sekolah, ada biaya untuk ke dokter jika sekali-kali sakit, niscaya Tuhan aku gadaikan di Pegadaian, baik yang umum maupun syariah. Itupun kalau Pegadaian masih mau menerimanya. Dan kalau tidak, paling-paling kuletakkan Tuhan persis seperti letak mushalla di sebuah supermall, yakni di sebuah sudut kecil, yang tidak ada dalam denahnya, berhimpitan dengan selang AC, pipa air, dan kabel listrik.

Ah, dasar gila !

Tuh kan, masih ada pekerjaan yang bisa kulakukan yakni berdiri di perempatan jalan, berorasi seperti kerasukan roh Bung Karno atau Bung Tomo, berteriak-teriak bahwa Kiamat Sudah Dekat atau berpidato panjang lebar tentang degradasi moral maupun degradasi kupu-kupu!! jadi, tak perlu aku khawatir aku akan jadi pengangguran …..

Ah, dasar gila !