Teori Relativitas

28 04 2008

Maka satu hal yang sudah pasti dan sudah tentu, adalah: bahwa segala apa yang kuomongkan dan kutulis itu pasti dan tentu belum pasti dan belum tentu benar!

Absurd, toh ?





cerita menjelang tidur seorang petani

28 04 2008

Seorang petani, dengan kisah lusuh cemerlang hidupnya, dengan bersahaja mengantarkan buah hatinya pergi menjemput mimpi. Mimpi yang emnjadi kenyataan bukanlah mimpi yang sejati, tatapnya. Mimpi akan menghiasi tidurmu, buah hatiku. Menemanimu menghabiskan waktu tidurmu. Tidurlah tenang, tidurlah damai. Seseorang masih mampu tidur walau dalam himpitan duka, tapi ia yang menciptakan duka, tak kan pernah bisa tidur.

Lupakan Dewi Sri, anakku. Di tanah ini, sang dewi telah mencapai titik paling bingung dalam sejarah ke-dewi-annya. Telah ia tunaikan segala kewajibannya sebagai seorang dewi. Memberikan kesuburan, menjaga hamparan sawah dan padi, tersenyum kepada setiap petani. Namun, sebentuk makhluk yang tak kasat mata telah membenamkan pertanian di tanah ini. Petani tak lagi memiliki akses dan kebebasan terhadap sawah ladang miliknya. Ia tak bisa lagi menanam sesuai dengan apa yang dia inginkan, melainkan harus sesuai titah sang makhluk baru itu. Petani tak lagi bisa merasakan gurih harum padi yang ia tanam, melainkan makan hanya beras raskin, bahkan tak jarang nasi aking harus memasuki perutnya. Petani tak bisa lagi mensinergikan antara kerbau, tlethong, kerbau, tanah, dan batang padi, melainkan menyambut datangnya Urea, ZN, XXX, dan entah apalaagi namanya, sesuai titah sang makhluk baru itu.

Terkadang perih hati ini mengakui sebuah kenyataan bahwa kita, para petani, telah menjadi budak di sawah ladang kita sendiri.

Kalau di zaman sayyidina Umar, aku bisa pura-pura memasakkan batu dalam kuali dengan kayu bakar, maka maafkanlah anakku, untuk saat ini di tanah itu, semua itu hal yang mustahil kita lakukan. Batang kayu telah habis, air bersih menjadi komoditas perdagangan, batu material bawaan banjir bandang -pun telah menjadi kapling-kapling makhluk baru itu.

Tidur, tidurlah tenang anakku, lupakanlah sejenak makhluk baru yang bisa saja bernama kapitalisme, globalisme, demokrasi, dan sekian nama yang kedengarannya aneh dan asing di telinga kita itu. Sebab, hanya dalam dunia mimpi, engkau bisa melupakannya ….





Otak dan Hati Orang Indonesia

28 04 2008

Mengunjungi sebuah anekdot lama tahun 80-an tentang otak orang Indonesia …


Konon, di sebuah tempat loakan otak manusia, terjadi hal yang mengejutkan. Otak manusia-manusia macam Einstein, Abraham Lincoln, Al-Kindi, Ibnu Sina, maupun para ilmuwan yang lain ternyata tidak laku. Justru yang laris manis dan memiliki harga jual tinggi adalah otak manusia Indonesia. Dengarlah apa kata SPG-nya waktu menawarkan otak orang Indonesia ini. “Masih fresh, sir. Jarang dipakai !!


Namun, melihat proses reformasi setengah hati dan setengah tiang ini, anekdot diatas mungkin perlu kita revisi, yakni dengan menambahkan satu lagi organ, yakni hati. Hati orang Indonesia di dunia jual beli organ bekas mungkin hampir-hampir tidak memiliki nilai jual dan menjadi sampah. Bagaimana tidak ? Orang Indonesia lebih suka memakai hati daripada otaknya. Hati orang Indonesia selalu saja dipenuhi rasa tak rela tetangganya mendapat nikmat, tak rela kawannya mendapat jabatan, disesaki prasangka-prasangka, dijejali nafsu-nafsu kepemilikan yang tak habis-habis, dan ditanami rasa pamrih yang perih. Namun, tentulah tidak semuanya. Di ujung yang lain, hati orang Indonesia begitu pemaafnya, sehingga banyak kasus-kasus besar yang lenyap begitu saja. Begitu pemaafnya, sehingga koruptor lebih layak “dimaafkan” kemudian dilupakan dibanding dengan maling ayam yang “harus” diadili di tempat kejadian perkara, tentunya dengan pertimbangan bahwa dosa korupsi lebih besar dan karenanya lebih membutuhkan permaafan kita. Begitu pemaafnya sehingga pembuat kebijakan yang menjerat rakyat lebih pantas “dimaafkan” dan dipermaklumi dibanding menyebarkan paham-paham aneh (sesat ?), tentunya dengan pertimbangan bahwa rakyat yang wawasan berfikirnya terbuka dengan beredarnya paham-paham aneh lebih membahayakan daripada rakyat yang dimiskinkan dan dibodohkan oleh sistem kebijakan dan pendidikan yang (dibuat) salah.





4E

28 04 2008

4E, judul yang agak aneh rupanya. Sebab, memang gak dapet judul yang pas, biarlah berjudul 4E. 4E ini aku ambil dari lontaran salah dua E itu sendiri. 4E ini dia sebut untuk melabelkan empat orang yang di tahun 70an “hidup” bersama di salah satu kontrakan dr E tersebut. 4E ini yakni Ebiet G. Ade, EH Kartanegera, Eko Tunas dan Emha Ainun Nadjib. Dan lontaran 4E itu tadi dikemukakan oleh Ebiet dan Karta. Sebenarnya sudah sejak lama aku tahu bahwa 4E itu hidup se-”zaman” menggelandang di Malioboro, dan juga sejak lama tahu kedekatan Ebiet dengan Emha dan Karta melalui website Ebiet sendiri (http://www.ebietgade.com).

Namun, ada satu hal lagi yang baru aku ketahui lewat penuturan tiga tokohnya saat secara ajaibnya mereka bisa bertemu di Surabaya malam itu, setelah sekian lama terpisah. Emha dan Karta bertemu terakhir tahun 1977, sedangkan Ebiet bertemu Karta terakhir tahun 1978 sebelum masing-masing akhirnya menempuh hidupnya. Malam itu, sebenarnya ditambah lagi seorang tokoh (dia maunya disebut sebagai anak manusia), yakni Halim HD, salah seorang dari “zaman” itu juga.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ke-seniman-an Ebiet sangat dipengaruhi oleh tiga E yang lain ini semasa masih di Yogyakarta, sebagaimana diceritaka Ebiet sendiri di websitenya. Begitu “dimanja”nya Ebiet oleh tiga E yang lain, sampai-sampai yang lain rela kelaparan asal Ebiet bisa terus makan. Karta bercerita bahwa di tempat mereka dulu, hanya ada 2 piring dan 2 gelas. Setiap kali makan, Ebiet mendapat piring dan gelas sendiri, sedangkan yang lain menggunakan jurus sepiring bertiga (yang juga seporsi bertiga). Pendek kata, semuanya demi Ebiet. Sebabnya tidak lain adalah karena Ebiet ini “anak emas” dan klimis. Ebiet yang terhitung rajin mandi sedangkan yang lain yang terhitung rajin tidak mandi.

Mungkin kacamata demokrasi akan melihat perlakuan itu adalah perlakuan diskriminatif dan tidak adil. Tapi tidak, kata Emha, cinta tidak pernah mengenal diskriminatif dan seringkali definisi adil menjadi absurd di hadapan cinta, kata Jalaluddin Rumi. Semua yang mereka lakukan adalah sebuah keadilan dalam wajahnya yang mungkin agak kejam. Ebiet adalah yang paling memiliki talenta dan kemungkinan untuk “bersinar”. Dan mereka menyadari itu semua sehingga memberikan Ebiet ruang dan waktu untuk bisa mengaktualisasikan dirinya. Sebuah persahabatan yang indah.

Ada satu hal lagi yang aku sedikit gumun. Yakni konsistensi generasi ini pada apa yang diyakininya, dalam bentuk ekpresi dan aktualisasinya masing-masing. Orang-orang yang kutemui malam itu adalah “alumni” Malioboro di bawah presidennya di tahun 70an, Umbu Landu Paranggi. Emha, Karta, Eko Tunas, Ebiet, Linus AG, Halim HD, Toto Rahardjo adalah beberapa nama yang bisa kusebut. Dan konsistensi mereka bisa dilihat sampai saat ini. Emha sudah bisa kita lihat bersama, Ebiet pun demikian. Karta yang akhirnya meninggalkan jabatan salah seorang PimRed Republika dan “rela” menjadi penjual nasi di kampungnya di Pekalongan. Banyak yang bertanya tentang hal itu, dan dari kesimpulan subjektif yang bisa aku tangkap adalah mereka bisa dan tidak segan mencecap rasa sakit dalam kenikmatan.

Maka, mengalunlah malam itu Nobody (puisi Emily Dickinson) dan Kubakar Cintaku (puisi Emha), dua lagu pertama yang digubah Ebiet.





Commemoration Days -a contemplation way

27 04 2008

Beberapa hari terakhir ini, di Indonesia sedang memperingati beberapa hari penting dalam kehidupannya. Mulai dari Hari Kartini di tgl 21 April, kemudian Hari Bumi 22 April, 1 Mei dengan Hari Buruh, dan 2 Mei dengan Hari Pendidikan Nasional. Terlepas dari beragam sinisme dan skeptisisme tentang banyaknya hari-hari peringatan di Indonesia, aku mencoba untuk mencari kesibukan dengan mencoba kontemplasi (berlagak intelek, lebih tepatnya) di setiap hari-hari peringatan semacam itu, setidaknya sebagai tonggak-tonggak tertentu, mirip galangan-galangan di hamparan pematang sawah (tabun, bahasa maduranya). Hari Kartini, sebuah penghargaan jujur dan tulus sebuah bangsa terhadap kreativitas seorang wanita biasa dalam isolasi adat dan aristokrasi lingkungannya di Rembang, yang tak lelah menyuarakan nuraninya dan menjadi dirinya sendiri. Tidak demi cita-cita ke-Kartini-annya sendiri, melainkan lebih dari itu. Kemudian lagi Hari Bumi. Sebuah kebetulan, bahwa Bumi sering diidentikkan dengan perempuan, yang dalam bahasa Inggris kita sebut Mother Earth. Mungkin kemampuan dan kesabaran serta kelapangan bumi menampung manusia dan beragam tingkah polahnya yang begitu bengalnya, yang bahkan tak jarang menyakiti bumi itu sendiri. Bumi menjadi lebih sebagai sosok seorang Ibu yang begitu lapangnya memahami kekurangajaran anak-anaknya. dan terus menerus kita mendendangkan dan menarikan lagu dan tarian seorang anak durhaka.

Sebagaimana seorang Kartini yang tak jarang merasakan kepedihan, mungkin sedemikian pula bumi. Tapi hukum alam akan selalu membuktikan bahwa siapa yang menanam, dia pula yang mengetam. Tingkah laku (=akhlak) kita terhadap bunda bumi kita entah sudah separah apa, sehingga cuaca dan musim kehilangan momentumnya masing-masing. Kita terus menerus memaksa bnda bumi untuk memahami dan mengerti kita (atau lebih tepat, menuntut?), tanpa sekalipun kita sebagai anak-anaknya mencoba memahami bunda bumi kita. Mungkin sebagaimana Kartini memahami perempuan dan keperempuanan, yang terkadang perempuan enggan memahami Kartini sebagaimana Kartini adanya.