Majelis Baradah Januari 2012

suasana majelis baradah di desa kedungsumur

( sebuah catatan )

Sebuah desa kecil di bibir Kali Porong di kaki Penanggungan, malam itu, larut dalam kehangatan paseduluran. Ribuan orang duduk dalam atmosfir kekhusyuk’an, kegembiraan dan jembar yang menenangkan. Rintik hujan yang sesekali datang menyapa tidak menyurutkan ribuan orang itu dalam bersama merajut kedekatan hati sesama manusia. Suasana yang aku dramatisir dalam diriku seolah aku berada di tepi sebuah bandar sungai yang cukup hangat, sebuah bandar dari sebuah imperium besar, Majapahit. Desa itu adalah Kedung Sumur, sebuah desa kecil yang hampir seluruh penduduknya adalah pembuat jajanan tradisional yang mensuplai pasar jajanan hingga ke Surabaya.


Dua orang di panggung yang berada di titik temu titik silang pertigaan bergantian menggembalakan seluruh jamaah shalawat demi shalawat. Cak Zainul KiaiKanjeng dan Gus Im menghamburkan kekayaan jenis shalawat yang dikenal, sampai ia yang ditunggu oleh jamaah, akhirnya tiba di tempat acara. Cak Nun terlambat datang di tempat karena kemacetan yang terjadi di ruas arteri Porong malam itu. Jarum jam hampir menyapa angka 21.30 ketika suara mistis Cak Nun (bahasa Ega Julaeha) menyapa setiap jamaah yang hadir malam itu. Dan ketika setiap niat dan rasa sudah tersambung, Cak Nun memberikan gambaran tentang kondisi pasar yang sudah sedemikian “memelaratkan” orang kecil. “Tetapi, kita harus terus bersyukur,” demikian lanjut Cak Nun. “Sebab melarat itu datang ketika kita menginginkan sesuatu seperti yang tetangga kita miliki. Tetapi, kalau kita bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki, maka tidak akan ada masalah dengan kemelaratan”. Berkaitan dengan desa Kedung Sumur sebagai sentra penghasil jajanan pasar, Cak Nun membuktikan kekayaan kreatifitas manusia Jawa (dalam artian luas) melalui beragamnya nama-nama jajanan pasar yang seringkali terdengar agak saru, seperti misalnya konthol kambing, turuk bintul, dan nama lainnya. “Hal ini,” urai Cak Nun “menjadi sebuah bukti bahwa segala sesuatu itu memiliki hubungan dengan yang lainnya, seperti halnya nama jajanan yang tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosio-psikologis masayarakat saat nama itu lahir”

Bersama Cak Zainul, Cak Nun kemudian berinteraksi dengan jamaah dengan membagi tiga jamaah yang hadir, yakni yang di kanan panggung, di kiri panggung, dan yang ada di depan panggung. Setiap kelompok jamaah tadi diminta memberi nama masing-masing kelompoknya sendiri-sendiri dengan nama jajanan yang dikenal, yang akhirnya muncul nama-nama kucur, onde-onde dan jemblem. Ketiga kelompok ini kemudian melantunkan shalawat “alhamduliLlah, wasysyukruliLlah, azka shalati wa salami li rasuliLlah” bergantian dan akhirnya bersama-sama. Dan di ujung simulasi ini, Cak Nun menyebut bahwa ini adalah salah satu upaya kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Kedekatan dengan Allah bisa menjadi alat kita untuk “menawar” fenomena alam yang terjadi, sebagai bentuk “jaminan” dari Allah atas hidup kita, seperti misalnya menghindarkan hama yg merusak dari sawah kita, atau hujan yg menyebabkan banjir dari sawah kita. Metode ini sebenarnya bukan barang baru, melainkan telah menjadi tradisi leluhur kita, tapi telah kita lupakan. Malah Amerika saat ini gencar membuka fakultas Metafisika di universitas2 disana.

Contoh yang lain lagi adalah soal santet, yang meskipun terkesan tidak masuk akal, namun diakui keberadaannya oleh dunia medis. Sebenarnya santet juga salah satu tradisi leluhur yang disalahgunakan oleh beberapa orang. Mahapatih Gajah Mada dalam setiap ekspedisi prajurit Majapahit keluar negeri, juga telah memperhitungkan masalah logistik (makanan) bagi para prajuritnya. Dari kepentingan ini, kemudian diciptakan teknologi pemadatan makanan, yakni berbagai jenis makanan dalam satu porsi dipadatkan sehingga ukurannya bisa sekecil tablet (kapsul), yang apabila prajurit nguntal kapsul ini, bisa merasa kenyang. Namun, lambat laun seiring semakin jauhnya ekspedisi, teknologi ini dirasa belum cukup. Maka, beliau Gajah Mada mengumpulkan orang-orang dengan kemampuan terpilih untuk “mengirimkan” makanan dari Majapahit langsung ke perut setiap prajurit. Ketika Majapahit surut, beberapa orang ini menyalahgunakan kemampuannya dengan tidak hanya “mengirimkan” makanan, tetapi juga mengirimkan paku, jarum, pasir, dll ke dalam tubuh orang lain, yang akhirnya kita kenal dengan santet.

Hipotesa yang disampaikan oleh Cak Nun memang belum bisa dibuktikan kebenarannya, sebagaimana juga tidak bisa dibuktikan ketidak-benarannya. “Jadi, yang bisa kita lakukan adalah terus menerus belajar, sebelum akhirnya bisa meng-iya-kan (membenarkan) atau men-tidak-kan (menyalahkan) sesuatu,” demikian urai Cak Nun. Dan berkaitan dengan banyaknya klaim sepihak akan kebenaran Islam, Cak Nun menegaskan bahwa yang paling dan pasti benar adalah Islam-nya Muhammad. Semua yang ada saat ini, Sunni, Syiah, NU, Muhammadiyah, LDII, Persis, dll adalah jalan menuju Islam-nya Muhammad. Yang tidak menjaga niat menuju Islam-nya Muhammad maka pasti akan kesasar. “Dan Muhammad tidak mati,” tegas Cak Nun lagi. “Al-Quran telah menyatakan bahwa mereka yang syahid tidaklah mati, melainkan masih hidup. Tetapi bukan lagi secara fisik. Sebab jika yang kita anggap hidup adalah secara fisik belaka, maka Allah dengan sifatnya Yang Maha Hidup pasti akan dianggap nisbi”

“Umat Islam sekarang sebenarnya sedang dijauhkan “sambungan hati“nya dengan RasuluLlah saw, dengan jalan dijauhkannya umat Islam dengan romantisme shalawat, baik melalui tradisi shalawatan maupun ziarah ke Madinah. Mekkah dan Madinah saat ini sejatinya telah dikuasai oleh Israel, ya dengan jalan “menjauhkan hati” dengan RasuluLlah saw. Yaitu melalui pemerintah Arab Saudi yang mengharamkan dan melarang kita untuk menangis di pusara RasuluLlah saw”, lanjut Cak Nun.

“Romantisme seorang hamba juga tampak dari “panggilan” kita saat meminta sesuatu kepada Allah. Secara umum, ada tiga panggilan yang kita gunakan saat meminta, yakni Ilahi, Rabbi/Rabbana, dan Allahumma. Ilahi, dari susunan hurufnya yang semuanya tegak berdiri, lebih tepat digunakan ketika mengakui kebesaran atau kegagahan Allah, yang artinya mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan kita sebagai hamba. Adapun Rabbi / Rabbana, yang dari susunan hurufnya yang seperti perahu, lebih pas dengan sifat Allah yang Rahman Rahim, berkaitan dengan ke-pengasuh-an Allah. Dan Allahumma bersifat komprehensif yang mencakup keduanya” urai Cak Nun. “Sedangkan pengajian bukanlah sekedar ngaji belaka, melainkan bagaimana memberikan manfaat yang lebih kepada para jamaahnya”

Sebelum memberikan kesempatan kepada Pak Camat, Pak Lurah dan Pak Kapolsek, Cak Nun juga menceritakan awal mula training pembuatan kue yang siangnya diadakan di desa ini. Bahwa pelatihan pembuatan kue sebenarnya berawal dari perbincangan Cak Nun dengan direksi Bogasari di Jakarta, yang akhirnya bisa berlanjut menjadi kegiatan pelatihan tersebut. Khusus untuk Pak Kepala Desa, Cak Nun menyarankan agar ada tindak lanjut dan upaya lebih jauh lagi dari pelatihan tersebut agar menjadi berkelanjutan dan nilai manfaatnya optimal.

Setelahnya, Pak Camat dipersilahkan untuk menyapa jamaah, yang kemudian dilanjutkan oleh Pak Kepala Desa, yang secara khusus berterima kasih kepada Cak Nun atas kegiatan pelatihan pmebuatan kue siang tadi. “Sebenarnya saya sudah berkali-kali mengirimkan proposal untuk kegiatan ini, tapi tak pernah berhasil. Dan hari ini, dengan bantuan Cak Nun, akhirnya kegiatan ini bisa terlaksana di desa kami”, demikian Pak Kepala Desa, yang sesudahnya dilanjutkan dengan Pak Kapolsek menyapa jamaah yang hadir.

Dengan demografi penduduk yang mayoritas adalah pembuat jajanan pasar, Cak Nun berbagi keprihatinannya tentang makin berkurangnya para pemuda kita yang mau menjadi petani. “Sebab masa depan Indonesia dan dunia adalah pada pertanian,” ungkap Cak Nun. “Maka, sudah saatnya kita beralih pada Islam Madinah yakni ‘alaykum bil-ghiratsah. Menanamlah kamu sekalian!. Demikian kata RasuluLlah ketika sampai di Madinah. Dan yang memilih tempat untuk tempat tinggal RasuluLlah juga adalah unta beliau, yang mana secara instingtif, unta akan menyukai daerah yang subur dan dekat sumber air.”

“Tidak perlu melihat segala teori-teori”, tambah Cak Nun “Bertani itu menanam, nanduro!. Teori itu lahir dari praktek. Bukan sebaliknya. Bisa kita lihat berjuta sarjana dan profesor pertanian yang ternyata mencangkul saja tidak bisa. Bagaimana menanam padi saja tidak tahu.” Kemudian Cak Nun sedikit menceritakan bahwa CNKK besok akan ikut mengenang seorang syahid pertanian Indonesia, Russ Dilts, di Jakarta.

“Sampeyan semua ini mulia dan besar derajatnya. Dengan bersahaja terus membuat jajanan pasar, tanpa perlu ikut-ikutan korupsi, sampeyan semua bisa menikmati hidup dan “berdamai” dengan penderitaan yang sampeyan alami setiap hari” pungkas Cak Nun membesarkan hati jamaah.

Shalawat ‘indal qiyam dipimpin Cak Zainul KK dan doa penutup oleh Gus Im kemudian menutup Majelis Baradah di Desa Kedung Sumur, Kecamatan Krembung, Sidoarjo, Jumat malam 20 Januari 2012 itu.

*) mohon maaf, foto2 hanya diambil melalui kamera HP yang pas2an :D

silahkan untuk mendownload versi pdf-nya disini

Durian Merah Banyuwangi

durian merah

Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa warna daging buah durian ada juga yang berwarna merah. Sebab yang umum dijumpai di pasaran adalah buah durian dengan daging berwarna kuning atau kuning pucat. Aku sendiri baru mengetahui durian berdaging merah ini saat ke pedalaman Kalimantan, namun tidak semerah warna daging buah durian di Banyuwangi ini.

Ya, Banyuwangi. Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini ternyata juga memiliki varietas buah durian dengan warna daging buahnya yang merah. Menurut Pengamat Holtikultura, Eko Mulyanto, durian jenis ini juga ditemukan di pedalaman Kalimantan (mungkin seperti yang pernah saya rasakan dulu). Namun rasa durian merah di Banyuwangi lebih manis dan legit.

Durian merah lebih mahal karena tanamannya tergolong langka. Hanya ada dua pohon yang tumbuh di Banyuwangi. Satu pohon dimiliki Sulaimi, warga Desa Balak, Kecamatan Songgon. Sementara lainnya tumbuh di halaman rumah Sirad, warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Tak heran, apabila kedua pohon durian ini berbuah, rumah Pak Sulaimi dan Pak Sirad pun kebanjiran tamu. Kedua pohon durian itu dipercaya berusia ratusan tahun. Sulaimi (75), menuturkan, pohon durian merahnya justru lebih unik. Dari dalam tanah, katanya, muncul dua pohon yang mirip percabangan. Satunya berwarna merah, lainnya berwarna putih. “Karena itu saya namain durian merdeka,” tuturnya sambil tertawa. Dalam satu pohon, tambahnya lagi, bisa menghasilkan sedikitnya 150 buah durian merah.

Begitu terkenalnya, peminat durian merah banyak yang datang dari luar Banyuwangi. Pantas saja Sirad hanya menyuguhkan sebuah durian merah untuk dimakan bersama. Alasannya agar semua pengunjung bisa menikmati durian merah. Jadi jangan harap bisa membawanya pulang. Biasanya pengunjung hanya membawa pulang biji durian untuk dijadikan benih.

Secara fisik, biji durian merah kecil tapi dagingnya tebal dan lembut. Harganya lebih mahal dibanding durian yang dagingnya berwarna kuning atau putih. Untuk durian merah kecil seberat 1 kilogram, harganya Rp 25 ribu. Paling besar dengan berat 2 kilo lebih, bias mencapai Rp 50 ribu.

Sepertinya memang pantas untuk dicoba. Yuk nyambangi Pak Sulaimi dan Pak Sirad

sumber:

http://kotaikan.blogspot.com/2011/06/durian-merah-menjadi-primadona.html

http://berita.liputan6.com

http://www.jurnalbesuki.com/

s u m e n e p

songennep

Sumenep adalah nama satu kabupaten (dari 4 kabupaten) yang berada di ujung paling timur Pulau Madura, yang asalnya merupakan salah satu kadipaten yang paling berpengaruh atas lahirnya Kerajaan Majapahit, berkaitan dengan sang Adipati, Aryo Banyak Wedi bergelar Arya Wiraraja.

Asal usul nama SUMENEP

Nama SUMENEP yang dikenal saat ini adalah perubahan pengucapan dari kata aslinya, yakni SONGENNEP. Perubahan nama ini ditengarai terjadi pada masa penjajahan Belanda, di permulaan abad 18 (sekitar tahun 1700-an). Beberapa enkripsi tentang nama Sumenep ini ditemukan pada beberapa kepingan mata uang kuno terbitan pemerintah Hindia Belanda. Perubahan nama ini, di

enkripsi sumenep pada mata uang kuno

enkripsi kata Sumenep dalam tulisan Arab yang ditemukan pada uang logam kuno terbitan Pemerintah Hindia Belanda

samping untuk kemudahan pengucapan, juga salah satu upaya Belanda menanamkan eksistensinya, seperti halnya Belanda mengubah nama kota Jayakarta menjadi Batavia.

Asal kata SONGENNEP

Kata SONGENNEP sebagai asal kata dari SUMENEP, bisa dilacak melalui sebuah naskah kuno, yakni Pararaton, yang menyebut kata Songennep untuk sebuah wilayah di Madura. Berdasarkan etimologis-nya, kata Songennep bisa berarti :

  1. Song (dalam bahasa Kawi berarti relung, rongga) dan Ennep (yang berarti mengendap / tenang)
  2. Song (yang berarti sejuk / rindang) dan Ennep (yang berarti mengendap / tenang)

Dari etimologis tersebut, beberapa ahli bahasa menyimpulkan bahwa Songennep berarti “lembah bekas endapan yang tenang”. Dari definisi ini, bisa diduga bahwa Songennep secara natural adalah endapan dari sebuah bentang alam yang sebelumnya pernah ada yang akhirnya membentuk bentang alam Sumenep yang ada sekarang. Jika benar demikian adanya, maka ada bentang alam otentik dan asli yang akhirnya “tertimbun” oleh material baru yang mengendap dengan tenang saat ini.

 

Bangbang Wetan (Januari 2012)

Forum pencerahan Bangbang Wetan di awal 2012 ini mengambil tema yang cukup unik dan (mungkin) bisa disebut provokatif, yaitu Belajar kepada Hitler.

Sebagaimana biasanya, setelah diawali dengan ayat suci Al-Quran dan shalawat, pengisi acara BBW, Sapto, mengisi dengan petikan gitar akustik dan gesekan biola yang cukup jernih.

Seusai Sapto menghibur hadirin, Cak Rahmat dan Cak Amin berduet menggembalakan acara malam ini. Cak Amin mengawalinya dengan memaparkan poin2 hasil workshop di Pendopo Kadipiro sebelumnya, terutama menggarisbawahi pesan Cak Nun untuk menambah porsi spiritualitas di tahun 2012 ini sekitar 30%-40% lebih intens daripada sebelumnya. Untuk itu, di samping “lagu kebangsaan” Maiyah, Shahibu Baytii, juga diwiridkan 2 yang lainnya, yakni “Hasbunallah” dan “Dhuh, Gusti”. Untuk itu, kemudian Cak Huda diminta “mengenalkan” wirid Hasbunallah ini kepada hadirin. Cak Rahmat kemudian meminta beberapa orang dari hadirin untuk maju ke depan berbagi pendapat dan pengalaman selama mengikuti BBW yang tahun ini menginjak tahun ke-6.

Duet maut Cak Rahmat dan Cak Amin kemudian meneruskan sharing pengalaman tadi menuju tema malam ini, yakni Belajar kepada Hitler. Beberapa pendapat dan opini hadirin tentang Adolf Hitler -pun dijaring. Seorang hadirin mendeskripsikan Hitler sebagai penjahat perang dan anti Israel, sementara yang lain menggambarkan sosok Hitler sebagai seseorang yang memiliki cita-cita besar dalam hidupnya dan berjuang mewujudkan cita-citanya tersebut. Ada pula yang menyebut Hitler sebagai sosok yang cerdas di jamannya, dengan melihat latar belakang keluarga Hitler yang merupakan orang kebanyakan, namun bisa menjadi seorang yang besar. Dan seorang jamaah yang lain, menguraikan bahwa Hitler adalah seorang visioner, dalam artian dia mengerti benar akan keunggulan bangsanya, dan dia benar2 memperjuangkan hal itu. Informasi lain yg disampaikan tentang Hitler adalah ia setelah kalah perang, masuk ke Indonesia melalui Sumbawa dengan nama dr.Poch, yg akhirnya meninggal di Surabaya dan dimakamkan di pemakaman Ngagel, Surabaya.

Beragamnya sudut dan jarak pandang terhadap sosok Hitler dari hadirin BBW adalah sebuah bukti universalitas forum ini. Demikian Cak Suko Widodo yang naik ke panggung kemudian bersama Joko Susanto (Unair) dan Heinrich (WNI asli Jerman), menyebut bahwa forum BBW ini adalah universitas yang sesungguhnya.

Menanggapi tema tentang Hitler, Sukowi yg juga seorang pengajar komunikasi di Unair, menyebut bahwa dari sisi ilmu komunikasi, Hitler bukan hanya seorang yg menguasai komunikasi massa, tetapi bisa jadi jg menguasai psikologi massa dengan sempurna. Meskipun secara fisik Hitler bertubuh kecil dan jauh dr kesan gagah, tapi dengan menerapkan teknik fokus yg sempurna, ia bisa menguasai massa. Mulai dari penataaan cahaya yg fokus kpd dirinya, penggunaan dingklik, dan pengeras suara, adalah beberapa teknik yg digunakan Hitler. Penggunaan lambang berupa swastika juga adalah bukti betapa Hitler memahami sebuah teori komunikasi tentang perlambang kebutuhan manusia atas kekuasaan.

Joko Susanto, salah satu dewan pembina Kuliah Kebangsaan HOS Cokroaminoto, mengapresiasi BBW dengan menyebut BBW telah naik kelas, yaitu dgn mengangkat tema Belajar kepada Hitler, sosok yg secara mainstream berada pada posisi yg negatif. Tangan yg terkuat di dunia, sebut Joko, adalah tangan Hitler. Jika Hitler sudah mengangkat tangannya, maka ribuan orang akan diam. Joko melanjutkan, meskipun Hitler dalam sejarah lebih sering ditampilkan sebagai sosok setan, namun yang sering dilupakan orang adalah kemunculan Hitler bukanlah tanpa alasan. Sosok Hitler adalah jawaban dari kondisi politik global saat itu yang digambarkan oleh JFK sebagai “jika demokrasi tidak bisa mensejahterakan rakyat banyak, maka demokrasi adalah bahaya bagi yang sedikit”. Bahkan Belanda dalam menjajah Indonesia juga belajar kpd sejarah Hitler, yakni melekatkan cap rasis dan fasis kepada tokoh2 pergerakan nasional di masa pergerakan dahulu, sehingga Belanda menolak diplomasi.

Untuk memberikan gambaran kondisi sosio-politik masyarakat, Joko menganalogikan 3 jenis masyarakat, yaitu (1) masy. Gajah (2) masy. Domba dan (3) masy. Kutu. Masyarakat ideal adalah masyarakat Gajah, yang memiliki ciri antara lain memiliki memori yang kuat, memiliki visi yang jelas dan mampu memilih pemimpinnya secara mandiri. Masyarakat Kutu adalah kebalikan dari masyarakat Gajah. Sedangkan masy domba, meskipun tidak memiliki memori dan visi yg kuat ataupun tidak mampu memilih pemimpinnya sendiri, masy domba akan menjadi kekuatan yg hebat manakala dia menemukan “penggembala” yang tepat. Dan penggembala ini adalah kekuatan sekaligus pula kelemahan dari masy domba. masy domba inilah masy Jerman dimasa Hitler berkuasa.

Dan sebelum Heinrich mendapat gilirannya berbicara, Sapto mempersembahkan “Ilir-ilir” dg akustik yg jernih

Dan Heinrich pun memulai paparannya. Sebagai seorang Jerman, dia menyebut bahwa cerita ttg keadaan masyarakat di masa Hitler diperoleh dr neneknya yang mengalami sendiri masa-masa tersebut. Heinrich kemudian sedikit mengulas masa lalu Hitler, dimana Hitler sendiri bukan asli Jerman, melainkan imigran dari Austria yang pindah disebabkan krisis ekonomi dunia yang dikenal dengan Black Friday. Untuk mempergakan bagaimana Hitler memobilisasi massa, Heinrich melakukan sebuah simulasi jenaka, yakni dgn mengajak (mungkin lebih tepat “menyuruh”) seluruh hadirin berdiri tegak, dan kemudian memberikan salut a la Hitler, yakni mengangkat satu tangannya. Ini untuk menunjukkan bahwa jika ada seorang pemimpin yg baik dan massa2 yg bersungguh-sungguh, maka akan ada perubahan besar yang bisa dilakukan. Dan Heinrich menutup paparannya dengan sebuah informasi ada sebuah buku menarik tentang Hitler ini, yakni “Hitler mati di Indonesia?” buah pena Ir. KGPH Soeryo Guritno, M.Sc

Paparan dari Heinrich ini kemudian ditanggapi oleh Suko Widodo dengan membandingkan Hitler dengan Soekarno dan Soeharto dengan menyebut bahwa keduanya dalam beberapa hal menggunakan metode yang sama dengan Hitler, namun kesadaran kolektif yang terbangun tidak sebesar yang berhasil dihimpun Hitler melalui ”Yahudi sebagai musuh bersama”. Heinrich pun kemudian menambahkan bahwa salah satu kekuatan terbesar Hitler adalah satunya kata dan perbuatan. Semua teori dan impian Hitler dalam bukunya ”Mein Kampf” tentang kesejahteraan rakyat Jerman, kemudian memang diwujudkannya ketika ia menjadi Fuhrer (Kanselir sekaligus Presiden)

Dan sebelum Cak Nun bergabung bersama narasumber lainnya, Joko Susanto menyebut bahwa datang ke BBW ini laksana membangunkan kesadaran pribadi menuju ketercerahan. Yang kemudian diamini oleh Suko Widodo yang menyebut bahwa BBW ini adalah the real university, dimana ada ruang dimana semua pemikiran dihormati.

Dan setelah sebuah lagu dari Sapto, Cak Nun memulai paparannya dengan mengkonfrontir satu hal kepada Heinrich berkenaan dengan Hitler ini, dengan menanyakan apakah Hitler pernah korupsi atau tidak. Dengan tegas, Heinrich menjawab tidak pernah. Bahkan korupsi saat itu, berapapun saja nilainya, hanya satu akibatnya, mati. Fakta ini kemudian ditegaskan oleh Cak Nun bahwa dalam hal ini Hitler jauh lebih terjaga moralnya daripada sebagian besar pejabat Indonesia. Beliau juga menegaskan bahwa tidak ada alasan kuat untuk turut membenci Hitler, toh Hitler tidak bersalah apapun terhadap diri kita sebagai bangsa. Justru kalau memang ada subyek yang harus dibenci karena kesalahannya, tentulah Belanda sebagai penjajah lebih layak untuk dibenci bangsa ini.

Kemudian Cak Nun juga meminta penegasan kepada Joko Susanto, tentang perbedaan Hitler dengan Stalin, mengingat awal kekalahan Jerman adalah ketika ia menyerang Soviet. Joko Susanto menjawab bahwa ada kesamaan antara Hitler dan Stalin, yang berbeda hanyalah Hitler berdasarkan pada ”bangsa/nation Jerman”, sedangkan Stalin pada ”kaum proletariat”, yang ini kemudian oleh Cak Nun diteruskan dengan melakukan review singkat terhadap Sosialisme, Komunisme, Liberalisme, Kapitalisme dan Naziisme. Di dalam Sosialisme, Komunisme dan Naziisme tidak ada hak milik individu, semuanya milik negara. Sedangkan dalam Kapitalisme dan Liberalisme hak individu sedemikian prioritasnya. Joko Susanto menambahkan bahwa secara kultural, mulai jaman kerajaan hingga pergerakan, Indonesia lebih dekat kepada sosialisme dan komunisme. Namun, karena sosialisme dan komunisme dicurigai habis-habisan sebagai ”tidak beragama”, maka Indonesia mengalami lompatan drastis menuju Liberalisme, dimana lompatan drastis ini menjadikan rakyat Indonesia menjadi ”gelandangan di kampung sendiri” (Joko Susanto menyitir salah satu buku Cak Nun). Cak Nun meneruskan dengan menimba sumur Joko Susanto mengenai fenomena kapitalisme global dan China, yang disebut bahwa kapitalisme global sebenarnya sudah mencapai titik kulminasinya pada thun 2008-2009 kemarin, dan saat ini grafiknya tengah menurun. Adapun mengenai China, meskipun secara negara menyebut sebagai komunis, tetapi komunis hanya menjadi ideologi saja, sebab kasunyatannya Chine juga telah menjadi raksasa kapitalis baru. Ketimpangan sangat jelas terlihat antara China bagian timur dan bagian barat, dimana China timur sangat kapitalis, dan China bagian barat yang sosialis harus menanggung ongkos yang besar bagi China bagian timur, demikian Joko Susanto.

Dari paparan tersebut, Cak Nun, menyitir teori Huntington tentang benturan peradaban, menyebut bahwa teori Huntington tidak sepenuhnya terjadi, khususnya tentang Islam. Huntington yang menyebut bahwa Islam akan menjadi kekuatan baru “menggantikan” komunis-sosialis Uni Soviet yang telah runtuh, ternyata tidak akan terjadi. Sebab umat Islam, ternyata tanpa diapa-apakan seudah berkelahi sesama umat Islam, sehingga tidak akan bisa menjadi kekuatan baru. Peta politik di Timur Tengah juga membingungkan umat Islam sendiri. Maka jika terjadi perbenturan antara Iran (Syi’ah) dengan Israel (yang akan didukung penuh oleh Arab Saudi), maka NU, Muhammadiyah, Persis, dll yang akan kebingungan memberikan fatwa harus mendukung yang mana.

Dan di sinilah, Maiyah memberikan sebuah tawaran, laa syarqiyyah wa laa gharbiyyah, tidak di timur juga tidak di barat. Hingga saat ini, Maiyah dalam perjalanannya mengatur irama dalam rentang waktu seperti yang dilakukan RasuluLlah, yakni 23 tahun. Meskipun saat ini, Maiyah masih membangun infrastruktur nilai-nilai yang bersifat lembut seperti nilai kemanusiaan, namun nilai-nilai dasar Maiyah sudah teruji sedikit-sedikit, seperti nilai paseduluran (persaudaraan), kerinduan, dan ikatan kemesraan antara satu sama lain, demikian urai Cak Nun. Dan dengan nilai-nilai dasar sedemikian, maka Maiyah tidak memberikan ruang bagi kebencian terhadap apapun dan siapapun, termasuk dalam melakukan pendekatan terhadap tokoh-tokoh semacam Hitler, Khadafy, Khomeini, dll.

Menanggapi uraian Cak Nun, Joko Susanto menghubungkannya dengan nilai2 dasar kebangsaan yang dahulu menjadi dasar pergerakan kebangsaan di Indonesia. Sekedar contoh, Sarekat Islam (dan bukan Budi Utomo) yang berangkat dan berbicara tentang Islam yang kemudian berkembang menjadi Indonesia. Namun sekarang, organisasi keagamaan, Islam khususnya, ke-Indonesia-an tereduksi menjadi hanya sekedar Islam an sich, yang akhirnya mengakibatkan sekat-sekat sosial dan ideologis yang mengkhawatirkan. Sedangkan mengenai organisasi massa dan kepemudaan, jika dahulu dari Jong Celebes, Jong Java, dll membesar menjadi Indonesia, namun sekarang bermunculan organisasi kedaerahan yang kental hanya dengan dirinya sendiri. Labilnya pegangan terhadap nilai2 dasar juga mendasari lahirnya fenomena bunuh diri, pembunuhan, tawuran, bentrokan yang sebenarnya disebabkan oleh depresi massal kehilangan orientasi.

Menjawab tentang depresi dan disorientasi massal, Cak Nun menyebut dua kata, yakni “sumeleh” dan “mupus”. Dua kata ampuh yang sangat bisa diandalkan menghadapi benturan peradaban dan bencana yang akan dihadapi. Sebagai informasi, Cak Nun menyebut ada dua bencana besar sekarang ini, yakni bencana yang diakibatkan dirinya sendiri, seperti yang terjadi di AS, Eropa dan China, dimana disebabkan oleh policy dan kebijakannya sendiri. Sedangkan satunya adalah bencana akibat perubahan2 besar dalam semesta, yang pasti akan berpengaruh terhadap bumi yang sangat kecil ini, apatah lagi terhadap manusianya, termasuk juga pergolakan magma gunung2 berapi di Indonesia.

Bersama Heinrich, Cak Nun kemudian melakukan simulasi tentang kemungkinan Hitler memimpin Indonesia, menjawab pernyataan Heinrich bahwa rakyat Indonesia yang dia kenal membutuhkan shock terapi seperti yang dilakukan Hitler terhadap bangsa Jerman saat itu. Dari simulasi kebutuhan Indonesia, terjawab bahwa Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang Satriyo Pinandhito Sinisihan Wahyu. Hitler hanya memenuhi satu kriteria saja, yakni Satriyo, ksatria. Tetapi ksatria saja tidak cukup untuk menjawab kebutuhan Indonesia, ia juga harus Pinandhito, minandhito, hidupnya harus sudah selesai dengan dirinya sendiri dan tidak lagi butuh terhadap keduniaan, sehingga bisa mandiri dan bebas dari kepentingan-kepentingan sesaat. Namun Satriyo Pinandhito juga tidak cukup, ia juga harus dituntun, dikawal dan diperjalankan oleh kehendak Tuhan, Sinisihan Wahyu. Penjelasan panjang Cak Nun disampaikan dengan emosi yang tumpah ruah, yang dipersaksikan dan dipamungkasi oleh lagu Kebyar-kebyar karya almarhum Gombloh, yang dibawakan oleh Sapto dengan manis yang juga menjadi penutup acara Bangbang Wetan Januari 2012 ini.

Silahkan klik disini untuk mendownload versi pdf

Iftitah : Ibunda

Ibumu adalah Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu, bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau, ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya, dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi jimat bagi rizki dan kebahagiaanmu

Tanah air adalah Ibunda alammu
Lepaskan alas kaki keangkuhanmu
Agar setiap pori-pori kulitmu menghirup zat kimia kasih sayangnya

Sentuhkan keningmu pada hamparan debu
Reguklah air murni dari kandungan kalbunya
Karena Ibunda tanah airmu itulah
pasal pertama setiap kata ilmu dan lembar pembangunan hidupmu

Rakyat adalah Ibunda sejarahmu
Rakyat bukan bawahanmu, melainkan atasanmu
Jangan kau tengok mereka ke bawah kakimu,
karena justru engkau adalah alas kaki mereka
yang bertugas melindungi kaki mereka dari luka-luka
Rakyat bukan anak buahmu
yang engkau berhak menyuruh-nyuruh dan mengawasi

Rakyat adalah Tuanmu,
yang di genggaman tangannya terletak hitam putih nasibmu
di hadapan mata Tuhan

Rakyat adalah Ibunda yang menyayangimu
Takutlah kepada air matanya,
karena jika Ibunda menangis karena engkau tusuk perasaannya,
Tuhan akan mengubah peranNya
dari Sang Penabur Kasih Sayang menjadi Sang Pengancam, Sang Penyiksa yang maha dahsyat

Ibunda darahmu
Ibunda tanah airmu
Ibunda rakyatmu
Adalah sumber nafkahmu, kunci kesejahteraanmu serta mata air kebahagiaan hidupmu

Pejamkanlah mata, rasakan kedekatan cintanya
Sebab ketika itu Tuhan sendiri yang mengalir dalam kehangatan darahnya
Kalau Ibunda membelai rambutmu
Kalau Ibunda mengusap keningmu, memijiti kakimu
Nikmatilah dengan syukur dan batin yang bersujud
Karena sesungguhnya Allah sendiri yang hadir dan maujud
Kalau dari tempat yang jauh engkau kangen kepada ibunda
Kalau dari tempat yang jauh ibunda kangen kepada engkau,
dendangkanlah nyanyian puji-puji untuk Tuhanmu
Karena setiap bunyi kerinduan hatimu
Adalah sebaris lagu cinta Allah kepada segala ciptaanNya

Kalau engkau menangis, Ibundamu yang meneteskan air mata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih, Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan

Menangislah banyak-banyak untuk Ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun Ibumu menangis karenamu
Kecuali engkau punya keberanian
untuk membuat Tuhan naik pitam kepada hidupmu
kalau ibundamu menangis,
para Malaikat menjelma jadi butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda
membuat para malaikat itu silau dan marah kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala menutup pintu sorga bagimu

Ibu kandungmu adalah ibunda kehidupanmu
Jangan sakiti hatinya, karena ibundamu akan senantiasa memaafkanmu
Tetapi setiap permaafan ibundamu atas setiap kesalahanmu
akan digenggam erat-erat oleh para malaikat
untuk mereka usulkan kepada Tuhan
agar dijadikan kayu bakar nerakamu

Rakyat negerimu adalah ibunda sejarahmu
Demi nasibmu sendiri jangan pernah injak kepala mereka
Demi keselamatanmu sendiri jangan curi makanan mereka
Demi kemashlahatan anak cucumu sendiri jangan pernah hisap darah mereka
Jangan pernah rampok tanah mereka
Sebab engkau tidak bisa menang atas Ibundamu sendiri
Dan ibundamu tidak pernah ingin mengalahkanmu
Sebab pemerintahmu tidak akan bisa menang atas rakyatmu
Sebab rakyatmulah, ibunda yang melahirkanmu
Serta ia pulalah yang nanti akan menguburkanmu sambil menangis,
karena ia tidak menjadi bahagia oleh deritamu
karena ibu sejarahmu itu tidak bergembira oleh kejatuhanmu

Ibundamu,
tanah airmu,
rakyatmu
Tak akan pernah bisa engkau kalahkan
Engkau merasa menang sehari semalam
Esok pagi engkau tumbang
Sementara Ibundamu,
tanah airmu, rakyatmu
Tetap tegak di singgasana kemuliaan

Emha Ainun Nadjib
Senin, 15.12.1992